NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - BAYANGAN MASA LALU

Dara bertahan di dalam lemari selama dua jam... dua jam paling menyiksa dalam hidupnya yang baru. Mendengar suara-suara yang membuatnya ingin keluar dan mencekik mereka berdua. Tapi dia menahan diri. Menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, mengepalkan tangan sampai kukunya menancap di telapak tangan.

Sabar... Tunggu waktu yang tepat.

Baru setelah Arkan pergi dan Lenna tertidur, Dara menyelinap keluar. Kakinya kebas, tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan terlalu lama.

Dia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, lalu ambruk di lantai kamar mandi.

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh Kiara, dia menangis. Bukan tangisan lemah Kiara yang dulu. Tapi tangisan Dara yang frustrasi, marah, trauma.

Kenapa ini terjadi lagi? Kenapa dia harus menghadapi pengkhianatan lagi? Kenapa orang-orang selalu berpura-pura baik lalu menusuk dari belakang?

Air matanya jatuh, bercampur dengan air keran yang mengalir. Tangannya gemetar saat dia mencuci wajah, mencoba menenangkan diri.

Tapi begitu dia menutup mata, ingatan kehidupan lama membanjir.

Flashback - Enam Tahun Lalu

Ruang kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dara Alvarino, dua puluh enam tahun, sedang mengikuti ujian praktik bedah.

Tangannya stabil, pisau bedah bergerak dengan presisi. Dia yang tercepat menyelesaikan seperti biasa.

"Bagus, Dara. Kamu selalu yang terbaik," puji dosennya.

Dara tidak tersenyum, dia tidak pernah merasa bangga dengan pujian. Yang dia tahu, dia harus jadi yang terbaik. Karena di luar sana, ayahnya sakit keras. Ibunya bekerja tiga pekerjaan untuk biayai kuliahnya. Dia tidak punya pilihan selain jadi yang terbaik.

"Dar!"

Suara ceria itu. Salma berlari menghampiri, memeluknya dari belakang.

"Kamu hebat banget sih! Aku sampai deg-degan nonton kamu bedah tadi!"

"Biasa aja, Sal."

"Biasa aja apanya? Kamu ini jenius, tahu nggak?" Salma merangkul bahunya. "Makanya aku bangga punya sahabat kayak kamu."

Saat itu, Dara percaya. Dia percaya Salma tulus. Karena Salma selalu ada saat ayahnya meninggal, saat ibunya jatuh sakit, saat Dara hampir putus asa.

"Sal, makasih ya udah jadi sahabatku."

"Sama-sama, Dar. Kita kan sehidup semati."

Sehidup semati.

Kata-kata yang kemudian jadi lelucon paling menyakitkan.

Flashback - Empat Tahun Lalu

Dara dan Salma lulus kedokteran bersamaan. Tapi tidak ada rumah sakit yang mau menerima mereka. Padahal IPK mereka bagus, tapi tidak punya koneksi, tidak punya uang untuk "pelicin", jadi mereka harus tersingkirkan.

"Dar, aku dapet tawaran."

Dara menoleh dari laptopnya. "Tawaran apa?"

"Kerja jadi dokter, gajinya gede banget. Tapi... agak riskan sih."

"Riskan gimana?"

Salma mendekat, berbisik. "Kerja untuk kelompok... kamu tahu lah. Yang hitam-hitam gitu."

Dara tersentak. "Mafia?"

"Ssshh! Jangan keras-keras!" Salma melihat sekeliling. "Mereka butuh dokter bedah, gaji sebulan setara gaji dokter setahun di rumah sakit biasa. Kita bisa bantu keluarga kita, Dar."

"Tapi itu illegal..."

"Emang rumah sakit yang minta pelicin itu legal? Emang sistem yang bikin kita susah ini adil?" Salma menatapnya. "Dar, ibumu sakit, butuh biaya besar. Ini kesempatan kita."

Dara terdiam, ibunya memang sakit. Butuh operasi, butuh uang yang tidak dia punya.

"Aku... aku perlu mikir."

"Oke! Tapi jangan lama-lama, mereka perlu jawaban minggu ini."

Seminggu kemudian, Dara setuju. Bukan karena dia mau, tapi karena dia tidak punya pilihan.

Dan Salma tersenyum... senyum yang saat itu terlihat seperti senyum sahabat yang peduli. Padahal itu senyum manipulator yang berhasil menjebak mangsa.

Flashback - Tiga Tahun Lalu

Ruang operasi bawah tanah, Dara sedang mengangkat peluru dari dada seorang anggota mafia tingkat menengah. Tangannya sudah tidak gemetar lagi, sudah terbiasa dengan darah, luka tembak, luka bacok.

"Bagus, Dok. Kamu emang yang terbaik," puji Bos Rendra sambil mengisap cerutunya.

Dara tidak menjawab, dia hanya membersihkan tangannya, merapikan peralatan.

"Sal, kamu tahu kan kalau bulan depan ada 'pekerjaan besar'?"

Salma mengangguk. "Tahu, Bos."

"Aku butuh kalian berdua siap siaga, mungkin ada banyak yang terluka."

"Siap, Bos."

Setelah Bos Rendra pergi, Dara menghampiri Salma.

"Sal, aku capek."

"Capek kenapa?"

"Capek dengan semua ini. Darah, kekerasan, pembunuhan... aku jadi dokter untuk menyelamatkan orang, bukan untuk membantu para penjahat."

Salma menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Tapi kamu sudah terlanjur basah, Dar. Kita berdua sudah..."

"Aku tahu, makanya aku mau keluar pelan-pelan. Mungkin kita bisa cari kerja lain..."

"Keluar?" Salma tertawa. "Dar, orang yang kerja untuk mafia tidak bisa keluar begitu saja. Kamu tahu terlalu banyak."

"Tapi..."

"Lupakan, Dar. Ini sudah jadi hidup kita, terima saja."

Saat itu, Dara sudah merasa ada yang aneh dengan Salma. Tapi dia mengabaikannya, dan itu adalah kesalahan terbesarnya.

Flashback - Hari Kematian

"Maafin aku, Dar. Bos Rendra mau kamu mati, kamu tahu terlalu banyak."

Racun menjalar di tubuhnya. Salma berdiri di atas, menatapnya tanpa emosi.

"Kenapa... kamu..."

"Uang, Dar. Aku dapat uang banyak. Lagian, kita memang tidak punya masa depan di sini."

Dara merasakan tubuhnya mati rasa. Tapi yang paling sakit bukan racun, yang paling sakit adalah pengkhianatan.

"Kamu... bohong... semua... bohong..."

"Bukan semuanya bohong, kok. Aku memang anggap kamu sahabat, di awal-awal." Salma berjongkok, menyentuh rambutnya. "Tapi kemudian aku sadar di dunia ini, tidak ada yang lebih penting dari uang dan bertahan hidup. Maaf ya, Dar kamu terlalu naif."

"Aku... percaya... padamu..."

"Nah, itu masalahmu. Terlalu percaya."

Salma bangkit, berjalan ke pintu.

"Selamat tidur, sahabatku."

Pintu tertutup. Dara sendirian di lantai dingin, tubuhnya kejang, napasnya sesak.

Dia tidak takut mati. Dia takut mati karena percaya pada orang yang salah. Dia takut mati dengan sesak di dada bukan karena racun, tapi karena hatinya remuk.

Gelap... Semuanya gelap.

Dan kemudian...

Terang... Tapi bukan surga.

Ini neraka versi lain, neraka bernama kehidupan Kiara Adisaputra.

Dara membuka mata, kembali ke masa kini. Tubuhnya basah keringat, napasnya terengah.

Kamar mandi, dia masih di kamar mandi. Masih hidup, masih di tubuh Kiara.

Dia menatap pantulannya di cermin wajah Kiara yang pucat, mata merah bengkak, tapi tatapannya keras.

"Tidak akan lagi," bisiknya pada pantulannya sendiri. "Aku tidak akan percaya lagi, aku tidak akan bodoh lagi."

Trauma masa lalu mengajarkannya satu hal. Di dunia ini, kepercayaan adalah kelemahan. Dan Dara tidak akan lemah lagi.

Dia bangkit, mencuci wajah, merapikan diri. Sudah hampir pagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya jernih.

Lenna, Arkan, Nyonya Devi... Mereka semua seperti Salma, manipulator, pengkhianat. Orang-orang yang hanya peduli pada diri sendiri.

Dan Dara akan menggunakan setiap pelajaran dari kehidupan lamanya untuk menghancurkan mereka.

Tidak dengan cara cepat.

Tapi dengan cara yang menyakitkan, perlahan... Seperti racun yang bekerja di dalam tubuh, tidak langsung membunuh, tapi merusak dari dalam sampai tidak ada yang tersisa.

Dia membuka ponselnya, menatap foto-foto Lenna dan Rio yang sudah dia ambil tadi malam sebelum keluar dari kamar Lenna.

Ini baru permulaan.

Dia akan kumpulkan lebih banyak bukti, lebih banyak senjata. Dan saat waktunya tepat, dia akan meledakkan semuanya.

Tapi untuk sekarang, dia harus bermain aman. Bermain peran sebagai Kiara yang berubah tapi tidak terlalu mencurigakan.

Dara tersenyum tipis pada pantulannya di cermin. "Selamat pagi, Kiara," bisiknya. "Waktunya kerja."

1
Dewi Sri
author nya jenius
asih
saya ikut tegang bacanya
Dewi Sri
ceritanya bagus tp masih sepi koment, semangat kak author
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
pilihan yang sulit tapi aq yakin dara pintar dan cerdas pasti ada jalan keluar nya tanpa harus membunuh keduanya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow
Dew666
👍👍👍👍
asih
pilihan yg sangat sulit,harus pintar bermain licik Dara
Ma Em
Dara kamu wanita cerdas mantan dokter mafia , kalahkan Viktor juga Rendra dgn siasat licikmu Dara jgn sampai mau di perbudak lagi sama Rendra juga Viktor mereka pasti punya titik lemahnya .
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Wulan Sari
ceritanya dari bab perbab semakin menarik dan selalu buat penasaran semoga cerita di akhir akan bahagia, trimakasih Thor semangat buat karya lain salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ . Incha
kira ada cakaran rambut atau apa kek
Erchapram: Puasa Kak, mode kalem. Pembalasam intelektual bukan kek preman 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
vj'z tri
Lo , w end 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 penipu yg tertipu
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
coba km hidup baik-baik len nasib km g bakalan sprti ini
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bilang cinta sama arka sekarang bilang cinta sama rio, jd sebenarnya yg mn nih lenna, wah pemain juga si lenna
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna trlalu jahat sampe sampe nggak sadar kl dya di jahatin🤣🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
author kapan penyelidikan calon istri regan di mulai? hehehe...
lupita namanya siapa ya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: lupita itu lupa thor aq plesetin🤭🤣
total 2 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
tarik satu nafas... dan cuma satu kata wow 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!