Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Dia
Perempuan itu membuka mata—bukan seperti seseorang yang bangun dari tidur, seperti selimut yang perlahan disibakkan atau lampu yang dinyalakan dalam gelap, tidak ada proses yang lembut dan peralihan yang wajar tapi ia dipaksa untuk melihat.
Putih.
Segalanya putih—tanpa bayangan, tanpa tepi, tanpa warna lain yang bisa dijadikan pegangan. Ini bukan putih kamar rumah sakit yang menyengat ingatan, bukan pula putih langit berawan yang dulu ia tatap dari jendela ruang ICU sambil menggenggam tangan laki-laki itu.
Ini adalah cahaya tanpa batas tanpa dinding, lantai dan langit. Atau mungkin semuanya adalah lantai dan langit sekaligus.
Ia berdiri—atau merasa berdiri—di tengah kekosongan yang justru terasa penuh, hampa yang memiliki bobot dan sunyi yang berdengung.
Ia menatap ke bawah tanpa menyadari tubuhnya dan yang tersisa hanyalah sebuah kesadaran—jiwa dalam wujud tak dikenalnya, seperti kabut bercahaya: terlihat, namun tak bisa disentuh. Ada, tapi tak memiliki bentuk yang pasti.
Dan kemudian—ingatan itu datang menyergap laki laki itu, wajahnya basah oleh tangisan, tangannya mencengkeram terlalu erat, seakan dengan kekuatan itu ia bisa menahan kematian, suaranya pecah berulang-ulang, doa yang menabrak dinding takdir.
“Sayang… jangan pergi. Jangan pergi. Jangan…”
Kalimat itu terus menggema bukan di telinganya —karena ia tak punya telinga, bukan didalam pikirannya—melainkan di dalam suatu tempat lebih dari jiwa
Lalu ia mengingat momen terakhir langit-langit di ruang ICU, bau antiseptik, mesin yang berbunyi tak teratur. Dunia yang tetap berjalan, bahkan ketika tubuhnya berhenti.
Ia telah pergi jauh, dipanggil Rabb meninggalkan laki laki itu sendiri di tengah badai kehidupan tak peduli pada siapa jatuh dan kembali.
\=\=\=
Tak ada jantung yang berdetak di dadanya sekarang, tarikan napas yang terengah atau
mata untuk menangis. Namun rasa itu—kehancuran itu—lebih nyata dari apa pun yang pernah ia rasakan saat masih ada.
Ini bukan sakit fisik, tapi perginya jiwa. Perpisahan dari orang paling dicintai,
kehilangan yang tak memiliki obat karena tak ada resep untuk kematian, dan tak ada pelukan bagi mereka yang tak lagi bisa dipeluk.
“Mas Raka…”
Nama itu keluar bukan sebagai suara, melainkan getaran pikiran yang berubah menjadi nada, jeritan yang menjelma menjadi musik yang didalamnya ada rasa rindu menggumpal, cinta yang dalam dan penyesalan yang tak terhitung.
Ia pergi meninggalkannya, meninggalkan
janji untuk menua bersama, cita cita membuka kebun bunga kecil di halaman rumah, memiliki anak yang akan mewarisi senyuman, dan menjadi kakek-nenek berdebat soal garam dalam masakan suatu saat kelak.
Ia pernah berjanji dan mengingkarinya—bukan karena keinginan melainkan takdir yang tak pernah meminta izin, suratan Tuhan.
\=\=\=
“Mas Raka…”panggilan itu mengguncang ruang putih tanpa batas karena tak ada fisik untuk diguncang—tetapi sesuatu berubah . cahaya berdenyut keheningan bergetar seakan cintanya terlalu kuat untuk diabaikan seolah tempat ini tak sepenuhnya kebal terhadap rindu.
Dan kemudian—ternyata ia tidak sendirian.
seorang wanita tua ada di hadapannya tidak muncul dari pintu, atau turun dari cahaya. Ia hanya… ada seakan sejak awal ia memang berada di sana, dan dirinya baru cukup sadar untuk melihat.
Wanita itu dipenuhi garis-garis waktu, kertas yang dilipat berulang kali. Rambutnya putih, panjang, mengalir tanpa angin bagaikan untaian cahaya yang memudar.
Matanya biru jernih seperti mata bayi dari samudra laut menyimpan ribuan kenangan
“Selamat datang, Kinan.”Gema doa yang menemukan wujud.“Aku adalah penjaga ruang tunggu ini.”
Ia menatapnya tanpa rasa takut karena itu membutuhkan tubuh.Dan yang ia rasakan adalah kebingungan… samar-samar terasa akrab.
“Kamu… Siapa?”
Ia seolah tersenyum membingkai partikel yang terurai “Aku tak tahu siapa aku ” jawabnya pelan. “Aku sama seperti dirimu.”
Cahaya berdenyut pelan menunjuk ke arah yang tak memiliki arah.
Di sana, Ia melihat jiwa- cahaya kabur seperti dirinya, ada yang diam, berjalan tanpa arah, dan ada yang hanya menunduk, menatap kearah yang tak terlihat dari tempat ini.
Semua dengan ekspresi yang sama, menunggu.
“Mereka ada disini ” ucapnya lirih. “Karena ada urusan yang belum selesai saat didunia, bisa juga karena cinta tak bisa dilepaskan.”
Kinan melihat seorang pria muda dengan cahaya redup menatap ke bawah kerinduan nyaris merobek keberadaannya.
“Berapa lama mereka di sini?.
“Waktu tak berjalan di Ruang Tunggu,” jawabnya, " tidak seperti di alam manusia karena aku tidak berhak untuk mengatakan, mungkin puluhan tahun, ratusan tahun itu semua tergantung kepada izinnya Tuhan
“Aku… juga akan seperti itu?”
Ia mendekat—atau mungkin jarak memang tak pernah ada.
“Kamu sudah ada disini, Kinan,” ucapnya lembut. “Cintamu terlalu kuat untuk dilepaskan dan memilih untuk menunggu.”
Menunggu siapa ? Raka ? Mungkin di alam sana secara perlahan ia akan belajar hidup tanpa dirinya, dapat tersenyum lagi. Atau ia sudah melupakan mencintai orang lain, dan itu sudah sunatullah
“Apakah aku bisa melihat Mas Raka ? Atau adakah cara untuk kesitu?”
Hening, sunyi dan mati menunggu jawaban.
“Aku juga pernah menunggu,” katanya akhirnya. “Aku meninggalkan suamiku. Aku tak bisa pergi ingin memastikan dia baik-baik saja.”
“Untuk berapa lama?”
“Aku tidak ingat yang tersisa hanyalah perasaan cinta itu sendiri.”
“Dan dia?”
“Dia telah pergi tanpa menunggu," Suaranya retak untuk pertama kalinya. “Aku terlalu sibuk menunggu dan sudah tak bisa kutemui.”
Keheningan menyelimuti.
Kinan melihat masa depan mungkin menantinya—menjadi penjaga kesedihan orang lain, sementara cintanya sendiri menguap bersama waktu.
“Tapi kamu masih di sini,” bisiknya.
“Aku memilih membantu,” jawabnya “Mungkin dengan begitu penantianku memiliki arti.”
Perempuan itu terdiam.Lalu sesuatu menyala di dalam dirinya—bukan cahaya, melainkan tekad.
“Aku tidak akan menjadi seperti itu,” katanya pelan namun pasti. “Aku tidak akan menunggu sampai lupa. Aku akan membantu Raka sekarang sebelum terlambat.”
Wanita tua itu menatapnya senyuman mengandung harapan.
“Ada cara,” katanya akhirnya. “Tapi setiap kali kamu menyentuh dunia sana, kamu akan kehilangan sesuatu dari dirimu, energi, kenangan bahkan mungkin… dirimu sendiri.”
Kinan tak ragu.
“Jika itu harga yang harus kubayar, aku siap.”
“Demi dia?”
“Selalu demi dia.”
Ruang putih itu berdenyut pelan.Dan untuk sesaat—sesaat yang tak bisa diukur waktu—cahaya di sekeliling mereka terasa lebih hangat lebih hidup.
Dua jiwa berdiri di antara cinta dan keabadian.Satu telah menunggu terlalu lama.
dan satu menolak untuk terlambat.
Dan Ruang Tunggu, yang selama ini hanya dipenuhi kesunyian, merasakan sesuatu yang berbeda yaitu, Harapan.
mampir 🤭