NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Pertemuan di perpustakaan sepi

Siang itu, perpustakaan sekolah tampak lebih lengang dari biasanya. Hanya ada beberapa siswa di pojok ruangan, tenggelam dalam buku masing-masing. Bara memilih meja yang paling tersembunyi, di balik deretan rak buku tebal yang jarang disentuh. Ia butuh oksigen. Ia butuh ruang di mana ia tidak perlu melihat Brian yang terus-menerus memanjakan Aluna.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Suara langkah kaki yang ragu mendekat ke arah mejanya. Bara mendongak dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

Aluna berdiri di sana, memegang sebuah buku referensi sejarah yang sebenarnya hanya alasan agar dia bisa masuk ke area itu.

Bara segera membereskan bukunya, hendak beranjak. "Gue udah selesai. Lo duduk aja di sini," ucapnya dingin tanpa menatap mata Aluna.

"Bar, sampai kapan?" Aluna menahan lengan Bara, suaranya pelan namun bergema di antara rak-rak buku yang sunyi. "Sampai kapan kamu mau lari dan pura-pura nggak kenal aku?"

Bara menghentikan gerakannya, tapi ia tetap membelakangi Aluna. "Gue nggak lari, Lun. Gue cuma kasih ruang buat lo sama Brian. Bukannya itu yang lo mau? Lo udah bahagia sama dia, kan?"

"Bahagia?" Aluna tertawa getir, setetes air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. "Gimana aku bisa bahagia kalau setiap kali aku lihat kamu, aku ngerasa bersalah? Gimana aku bisa bahagia kalau aku tahu semua perhatian Brian itu sebenarnya hal yang pengen aku dapet dari kamu, Bar!"

Bara berbalik dengan cepat, wajahnya mengeras. "Jangan gila, Lun! Brian sahabat gue. Dia tulus sama lo. Dia kasih semua yang nggak bisa gue kasih!"

"Tapi dia bukan kamu!" Aluna setengah berteriak, lalu segera menutup mulutnya karena teringat mereka sedang di perpustakaan. Ia melangkah maju, memaksa Bara menatap matanya. "Kenapa kamu sejahat ini, Bar? Kamu yang buka jalan buat dia, kamu yang dorong aku ke dia, dan sekarang kamu siksa aku dengan tatapan benci itu."

Bara terdiam, napasnya memburu. Di ruang sesempit ini, di antara aroma buku tua, ia bisa merasakan aroma parfum Aluna yang masih sama. Perasaan yang ia bendung mati-matian mulai retak.

"Aku nggak benci kamu, Lun," bisik Bara, suaranya serak dan penuh keputusasaan. "Aku benci diri aku sendiri. Aku benci karena aku terlalu pengecut buat bilang kalau aku cinta sama kamu sebelum Brian datang. Sekarang semuanya udah berantakan. Aku nggak mungkin mengkhianati Brian."

Aluna terpaku. Itu adalah pengakuan pertama Bara yang paling jujur sejak hubungan mereka merenggang. Air mata Aluna mengalir semakin deras. "Kenapa baru sekarang, Bar? Kenapa nggak dari dulu?"

"Karena sekarang jarak itu bukan lagi cuma gengsi aku, Lun," Bara menyentuh rak buku di sampingnya dengan tangan gemetar. "Jarak itu sekarang Brian. Dan aku nggak punya hak buat dekat sama kamu, lagi."

Keheningan yang menyakitkan menyergap mereka. Di perpustakaan yang sepi itu, kebenaran akhirnya terungkap, namun tidak mengubah keadaan apa pun. Mereka hanya dua orang yang saling mencintai, namun terjebak dalam situasi yang mereka ciptakan sendiri.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu perpustakaan terbuka dan suara akrab memanggil nama mereka.

"Luna? Bara? Kalian di dalem?"

Itu suara Brian. Bara dan Aluna tersentak, segera menjaga jarak satu sama lain dengan wajah yang pucat pasi.

Brian melangkah masuk dengan kening berkerut. Suara langkah sepatunya yang beradu dengan lantai kayu perpustakaan terdengar seperti detak jantung Bara yang sedang berpacu. Saat Brian berbelok di antara rak buku sejarah, ia berhenti mendadak.

Matanya menangkap pemandangan yang tak pernah ia duga: Aluna berdiri dengan bahu yang bergetar dan wajah yang basah oleh air mata, sementara Bara berdiri hanya satu meter di depannya dengan wajah pucat dan raut yang kacau.

"Luna? Bar?" Brian bertanya pelan, namun suaranya sarat akan kecurigaan. "Kalian... ngapain di sini berduaan?"

Aluna tersentak, ia segera membuang muka dan mengusap pipinya dengan kasar. Bara mencoba mengatur napasnya, berusaha menarik kembali topeng "sahabat baik" yang baru saja ia lepaskan.

"Oh, Bri. Lo di sini juga?" Bara menjawab dengan suara yang dipaksakan stabil, meski matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.

Brian tidak membalas sapaan Bara. Ia berjalan mendekat, melewati Bara begitu saja dan langsung meraih pundak Aluna. Ia menatap wajah kekasihnya itu dengan intens. "Luna, kamu nangis lagi? Tangan kamu sakit lagi? Atau ada apa?"

Aluna hanya menggeleng pelan, ia tidak berani menatap mata Brian yang begitu tulus. "Enggak, Bri. Tadi... tadi aku cuma kelilipan, terus karena perih aku kucek, jadi keluar air mata terus."

Brian beralih menatap Bara dengan tatapan tajam yang jarang ia tunjukkan. "Kelilipan sampai kayak gini, Bar? Sampai segininya? Tadi gue cariin di kelas nggak ada, katanya lo mau ke perpustakaan. Tapi kok bisa barengan sama Luna di pojokan sini?"

Bara menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Gue tadi emang mau cari referensi tugas, terus nggak sengaja ketemu Aluna di sini. Dia tadi emang ngeluh matanya sakit, gue cuma nanya kenapa."

Brian terdiam cukup lama, matanya menyipit memperhatikan gerak-gerik kedua orang di depannya. Atmosfer di antara mereka terasa sangat berat dan kaku. Brian merasa ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang disembunyikan darinya oleh dua orang yang paling ia percayai.

"Gitu, ya?" tanya Brian singkat. Ia lalu menarik Aluna ke dalam pelukannya, seolah sedang menegaskan hak miliknya di depan Bara. "Lain kali kalau ada apa-apa, langsung cari aku, Lun. Bukan malah mojok berduaan sama cowok lain, sekalipun itu Bara."

Bara mengepalkan tangannya di balik saku celana. Kalimat Brian barusan bukan sekadar teguran, melainkan peringatan keras.

"Ya udah, yuk balik ke kelas. Udah mau bel," ajak Brian sambil merangkul, pinggang Aluna.

Saat mereka berjalan melewati Bara, Brian sempat berhenti sejenak dan menepuk bahu Bara dengan keras—terlalu keras untuk sebuah tepukan persahabatan. "Gue duluan ya, Bar. Jangan kelamaan di tempat sepi, ntar pikiran lo ke mana-mana."

Bara hanya bisa mematung, menatap punggung mereka yang menjauh. Ia tahu, mulai detik ini, Brian tidak lagi memandangnya hanya sebagai sahabat, melainkan sebagai ancaman.

Bersambung.......

Jangan lupa like dan beri rating lima ya kakak 😌 🙏 supaya aku bisa lebih semangat lagi 🙏 Terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲 🤲 🤲 ♥️

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!