NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - Tamparan Aura

Pintu kamar rawat kembali terbuka, kali ini memunculkan sosok Mawar yang datang dengan wajah sedikit pucat dan napas yang agak teratur. Aura yang sedang menyuapi Bunda langsung menoleh, matanya berbinar senang melihat sahabatnya datang.

"Mawar! Akhirnya kamu dateng juga," seru Aura riang. Ia mengedarkan pandangannya ke arah pintu, mencari satu sosok lagi. "Zahra mana? Kok kamu sendirian?"

Mawar mendekat, ia menyalami Bunda Syakirah dengan sopan sebelum beralih menatap Aura. Ada keraguan di matanya saat ia menjawab, "Zahra... dia lagi di ruang IGD, Ra. Dia lagi jenguk Rio."

"Rio? Rio kenapa?" Aura terkejut, sendok di tangannya hampir saja terlepas.

"Tadi pas mau pulang, Rio kecelakaan di depan sekolah. Katanya jalanannya licin banget sampai dia jatuh nabrak tiang. Kabarnya... tangannya patah cukup parah, jadi harus langsung dilarikan ke sini," jelas Mawar dengan nada pelan.

Di sudut ruangan, Bima yang sedari tadi hanya menyimak mendadak membeku. Begitu matanya tak sengaja beradu dengan tatapan Mawar, jantung Bima serasa berhenti berdetak sesaat. Cowok yang biasanya meledak-ledak itu mendadak jadi kikuk. Ia buru-buru memalingkan wajah, mengusap tengkuknya yang tidak gatal dengan salah tingkah.

"Ehm... Ra, Bun... Bima keluar bentar ya," ucap Bima dengan suara yang agak serak. "Tiba-tiba laper banget, belum makan dari pagi. Mau cari makan di kantin bawah."

"Lho, tadi kan katanya udah makan pas nunggu Aura?" tanya Bunda heran.

"Laper lagi, Bun! Perut Bima kan karet," sahut Bima asal sambil melangkah cepat keluar kamar tanpa berani menoleh lagi ke arah Mawar.

Aura hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh kakaknya. Namun, pikirannya kembali ke Rio. Ia merasa bersalah, apakah Rio celaka karena tadi menolongnya? Sementara itu, Mawar hanya bisa terdiam, menyimpan rahasia besar tentang Arfan yang mulai terasa mencekik dadanya.

Setelah Bima keluar, suasana kamar menjadi sedikit lebih tenang. Aura meletakkan mangkuk bubur Bunda di nakas, lalu duduk di kursi samping tempat tidur, tepat di sebelah Mawar. Wajahnya tampak mendung, jemarinya gelisah memilin ujung kerudungnya.

"War," bisik Aura pelan, suaranya sarat akan beban pikiran. "Tadi pas di sekolah... pas aku mau lari ke Kak Bima, aku hampir jatuh karena licin. Terus Rio nolongin aku. Dia... dia sempat megang aku supaya nggak tersungkur ke aspal."

Mawar mendengarkan dengan saksama, matanya tetap menatap Aura dengan lembut tanpa menyela sedikit pun.

"Aku syok banget denger dia kecelakaan sampai patah tulang kayak gitu," lanjut Aura, matanya mulai berkaca-kaca. "Apa mungkin ini karma? secepat itu, War? Karena dia menyentuhku yang bukan mahramnya? Tapi kan dia niatnya cuma menolong... kenapa hukumannya harus sesakit itu?"

Mendengar curhatan Aura, Mawar tidak langsung menjawab. Ia hanya memberikan senyum yang sangat tenang, senyum yang selama ini menjadi ciri khasnya sebagai sosok yang religius dan kalem. Namun, jauh di lubuk hatinya, Mawar merasa sesak. Ia tahu ini bukan karma dari Tuhan, melainkan hukuman buatan manusia yang terobsesi pada Aura.

Mawar mengusap punggung tangan Aura perlahan. "Ra... hidup itu memang penuh misteri. Kadang hal buruk terjadi tanpa kita tahu apa penyebab sebenarnya. Tapi kamu jangan menyalahkan diri sendiri ya? Rio niatnya baik, dan soal kecelakaan itu... mungkin memang sudah takdirnya."

Aura menatap Mawar, mencari kekuatan dalam tatapan sahabatnya itu. "Tapi tetep aja aku ngerasa nggak enak, War."

"Sudah, lebih baik kita doakan saja semoga Rio cepat sembuh dan tangannya nggak kenapa-kenapa. Sekarang fokus ke Bunda dulu ya?" ucap Mawar dengan nada lembut dan tenang.

Aura mengangguk pelan, meski rasa ganjil di hatinya belum sepenuhnya hilang. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum tenang Mawar, gadis itu sedang bertekad untuk mencari tahu seberapa jauh Arfan akan bertindak gila demi menjaga Aura.

...****************...

Malam semakin larut, keheningan rumah sakit hanya dipecah oleh suara langkah kaki Aura yang menggema di koridor. Saat hendak menuju apotek untuk mengambil obat Bunda, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung lorong yang temaram, sosok Arfan berdiri dengan sangat tenang, seolah memang sudah menunggunya di sana.

Aura memberanikan diri menghampirinya. Tatapannya tajam, penuh selidik. "Ngapain kamu ada di sini, Kak?" tanya Aura dingin.

Arfan berbalik, wajahnya tetap tenang seperti air di permukaan sumur tua. "Aku hanya ingin memastikan Bunda dan kamu baik-baik saja, Ra. Apa salah kalau aku peduli?"

Aura mendengus sinis. "Peduli? Atau mau menyamar lagi? Perawat yang di UKS tadi siang itu kamu, kan? Aku tahu itu kamu, Kak. Berhenti berpura-pura!"

Bukannya panik karena penyamarannya terbongkar, Arfan justru menyunggingkan senyum tipis yang membuat bulu kuduk Aura meremang. "Kamu memang sangat mengenal saya, Aura. Bahkan dari balik masker pun, matamu tetap bisa menemukan saya."

"Berhenti!" teriak Aura tertahan, suaranya bergetar karena marah. "Berhenti menggangguku! Menjauhlah dariku, Kak! Aku tidak butuh perhatianmu yang mengerikan ini!"

Kemarahan Aura memuncak saat melihat Arfan justru melangkah maju mendekatinya. Tanpa sadar, tangan Aura melayang dan

PLAK!

Suara tamparan itu menggema keras di lorong sepi. Napas Aura tersengal, telapak tangannya terasa panas. Arfan terdiam, wajahnya tertoleh ke samping.

Perlahan, Arfan kembali menatap Aura. Bukannya marah, matanya justru berkilat aneh. Ia menyentuh pipinya yang memerah dengan ujung jarinya, lalu menatap telapak tangannya sendiri.

"Kamu... menyentuhku, Ra?" bisik Arfan. Ada nada kaget sekaligus kesenangan yang menyimpang dalam suaranya.

Arfan merasa senang karena akhirnya ada kontak fisik dari Aura, sebuah sentuhan yang selama ini ia dambakan meski berupa tamparan. Namun di saat yang sama, hatinya terasa perih. Ia sedih karena sentuhan pertama dari wanita yang ia puja adalah sebuah bentuk kebencian, sebuah tanda bahwa Aura ingin ia pergi jauh-jauh.

"Sentuhanmu hangat," gumam Arfan dengan tatapan kosong yang menyedihkan, "meskipun tujuannya untuk menyakitiku."

Aura mundur beberapa langkah, merasa ngeri melihat reaksi Arfan yang sama sekali tidak normal. Ia segera berbalik dan berlari sekuat tenaga kembali ke kamar rawat, meninggalkan Arfan yang masih berdiri mematung sambil meresapi rasa panas di pipinya, sebuah memori yang bagi Arfan, terasa seperti anugerah sekaligus kutukan.

Aura sudah lama menghilang di balik tikungan lorong, tapi Arfan masih mematung di tempat yang sama. Keheningan malam rumah sakit seolah ikut menertawakan kehancurannya. Perlahan, lutut Arfan terasa lemas. Ia luruh, bersimpuh di atas lantai koridor yang dingin.

Arfan menatap telapak tangannya sendiri, lalu beralih menyentuh pipinya yang masih terasa berdenyut akibat tamparan Aura. Air mata mulai mengalir deras membasahi wajahnya. Ia menangis sesenggukan, tapi bukan karena rasa sakit di pipinya.

"Astaghfirullah... Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan?" bisiknya dengan suara yang pecah.

Hatinya hancur berkeping-keping. Dalam logika Arfan yang sudah bengkok, ia merasa telah gagal menjaga kesucian Aura. Ia begitu terobsesi pada aturan mahram, sampai-sampai ia merasa berdosa besar karena telah memancing Aura untuk menyentuhnya, meskipun sentuhan itu adalah sebuah tamparan penuh kebencian.

"Maafkan aku, Ra... maafkan aku," isaknya sambil menunduk dalam. "Seharusnya tangan suci itu tidak menyentuh kulitku yang penuh dosa ini. Aku sudah membuatmu melakukan kesalahan... aku sudah gagal menjagamu."

Arfan merasa sangat bersalah. Di satu sisi, ia memuja sentuhan itu karena itu berasal dari Aura, tapi di sisi lain, jiwanya yang fanatik merasa tersiksa karena ia menjadi penyebab Aura berdosa karena kontak fisik tersebut.

Ia memukul lantai dengan kepalan tangannya, mencoba mengalihkan rasa sakit di dadanya. Tangisannya terdengar pilu, seperti seseorang yang baru saja kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya. Bagi Arfan, kebencian Aura adalah hukuman, tapi membuat Aura menyentuhnya adalah sebuah kegagalan fatal dalam misinya untuk menyucikan gadis itu.

Malam itu, di bawah lampu rumah sakit yang berkedip redup, Arfan bersumpah dalam tangisnya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Aura lagi, termasuk dirinya sendiri, sampai ia bisa memastikan Aura benar-benar menjadi miliknya secara sah dan suci di matanya.

Bersambung.....

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!