NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 - Akhirnya Kita Memilih Nama

...Kadang, kita tidak butuh pengakuan yang besar—hanya keberanian untuk memberi nama pada perasaan....

Happy Reading!

...----------------...

Rumah Nara malam itu terasa hangat. Tawa dan suara ramai saling tumpang tindih, bercampur dengan bunyi sendok beradu piring. Aroma makanan masih menggantung di udara, sementara bungkus plastik berserakan di meja—sebagian sudah tinggal sisa, sebagian sengaja belum dibereskan, seperti malam yang ingin terus berlanjut.

Shaira duduk di karpet, bersandar ke sofa, lutut ditarik ke dada, menikmati kebersamaan yang terasa biasa namun istimewa. Raven duduk agak menjauh, tidak mengganggu, tapi selalu cukup dekat agar Shaira menyadari keberadaannya tanpa harus menoleh. Setiap kali Raven tertawa, setiap kali suaranya menyelip di antara obrolan yang lain, Shaira selalu tahu.

Ia benci fakta itu. Ia juga tidak bisa menyangkalnya.

Obrolan berpindah dari film, ke sekolah, ke cerita lama yang entah siapa yang mulai lebih dulu.

“Eh Sha,” Arkan bersuara sambil menyandarkan kepala ke sofa. “Lo masih kontak Arga nggak?”

Nama itu jatuh ringan, tapi tubuh Shaira menegang sesaat. Napasnya tersendat, sekadar sepersekian detik sebelum ia menanggapi.

Nama itu jatuh begitu saja.

“Arga yang mana?” tanya Keno bingung.

“Hah? Siapa?” Fadly ikut menoleh.

Arkan baru sadar semua mata beralih padanya. Ia tertawa kecil.

“Temen lama kami. Satu SMP,” katanya santai.

Hanya itu penjelasannya.

Tapi cara ia bilang kami membuat udara di sekitar Shaira terasa berubah.

“Udah lama nggak ngobrol,” jawab Shaira cepat. Terlalu cepat.

Arkan menyeringai. “Padahal dulu lengket banget.”

Shaira langsung menoleh tajam. “Arkan.”

Nada suaranya pelan, tapi jelas peringatan.

Arkan mengangkat tangan pura-pura menyerah. “Ya ampun, bercanda.”

Tawa kecil muncul dari yang lain—tawa orang yang tidak benar-benar mengerti konteksnya, hanya ikut arus candaan.

Raven tetap diam, tidak ikut tertawa. Shaira bisa merasakan pergeseran kecil di udara, seolah suhu ruangan turun sekejap. Perubahan itu halus, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak.

Beberapa detik kemudian, Raven bersuara.

“Temen deket ya berarti.”

Nada suaranya datar. Netral. Terlalu netral. Shaira akhirnya menoleh.

Raven tidak sedang menatapnya. Pandangannya lurus ke depan, tapi rahangnya sedikit mengeras. Tangannya saling bertaut longgar, seolah ia sengaja menahan sesuatu agar tetap terlihat santai.

“Dulu satu circle,” jawab Arkan sebelum Shaira sempat bicara.

“Arkan,” ulang Shaira lebih tegas.

Arkan berhenti. Ia melirik wajah Shaira, lalu tertawa kecil lagi, kali ini lebih canggung.

“Oke, oke. Sensitif banget.”

Yang lain tidak menangkap apa pun selain candaan biasa. Obrolan langsung bergeser ke topik lain—film lama, guru SMP yang galak, hal-hal remeh yang tidak berbahaya.

Tapi Shaira tidak bisa ikut sepenuhnya.

Karena sejak itu, Raven menarik diri sedikit.

Tidak mencolok. Ia tetap duduk di tempatnya. Tetap menjawab kalau diajak bicara. Tapi ada jarak yang tiba-tiba muncul—tipis, hampir tak terlihat, tapi terasa.

Dan Shaira merasakannya setiap detik.

Setiap kali Arkan tanpa sengaja menyebut SMP lagi, bahu Raven sedikit menegang. Setiap kali tawa pecah, Raven ikut tersenyum seperlunya, tapi matanya tidak benar-benar ikut.

Seperti ada sesuatu yang ia simpan.

Dan justru karena ia menyimpannya, dada Shaira ikut terasa sesak.

Arga bukan siapa-siapa lagi.

Hanya bagian kecil dari masa lalu yang sudah selesai tanpa drama, tanpa penyesalan. Shaira bahkan jarang mengingatnya.

Tapi melihat Raven terganggu oleh sesuatu yang sudah lama tidak berarti… membuatnya gelisah.

Ia ingin menjelaskan.

Bukan karena ditanya. Bukan karena dituduh.

Tapi karena ia tidak tahan melihat jarak itu tumbuh dari hal yang baginya sudah mati sejak lama.

Beberapa kali mata mereka bertemu.

Setiap kali itu terjadi, Raven selalu mengalihkan pandangan lebih dulu. Dan entah kenapa, itu terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata.

Obrolan masih berjalan. Tapi bagi Shaira, suara-suara di ruang itu mulai terasa jauh, seperti terdengar dari balik kaca.

Arkan tiba-tiba tertawa lagi.

“Eh tapi serius,” katanya sambil menunjuk Shaira. “Arga itu dulu paling protektif loh sama dia.”

Shaira langsung membeku.

“Arkan,” katanya pelan.

Terlambat.

“Protektif gimana?” Nara langsung tertarik.

Arkan sudah terlanjur menikmati perhatian. “Ya gitu lah. Kalau ada yang ganggu, dia duluan yang maju. Pernah hampir ribut cuma gara-gara ada anak kelas lain ngajak Shaira pulang bareng.”

Tawa pecah.

“Anjir romantis juga,” kata Fadly.

Shaira ingin menghilang. Ia tidak berani menoleh ke Raven.

Tidak perlu.

Ia bisa merasakan perubahan itu seperti tekanan di udara. Sunyi kecil jatuh di tempat Raven duduk.

Ketika akhirnya Shaira memberanikan diri melirik, Raven sedang tersenyum tipis. Senyum sopan. Senyum orang yang berusaha terlihat tidak terpengaruh.

“Setia juga ya,” katanya ringan.

Ringan. Terlalu ringan.

Tangannya meraih gelas di meja, tapi jari-jarinya sedikit terlalu kaku saat menggenggam. Ia minum bukan karena haus—hanya untuk memberi dirinya jeda.

“Aduh itu zaman bocah,” potong Shaira cepat. “Nggak usah dibesar-besarin.”

Arkan mengangkat alis. “Bocah apanya. Kalian hampir tiap hari bareng.”

Raven mengangguk pelan, seolah hanya mencatat informasi biasa.

“Hm,” katanya singkat.

Satu kata. Tapi rahangnya mengeras lagi.

Obrolan kembali pecah ke arah lain, tapi Raven tidak ikut masuk kali ini. Ia bersandar lebih dalam ke sofa, menatap langit-langit sejenak sebelum menurunkan pandangan.

Dan saat matanya bertemu Shaira—tidak ada marah di sana.

Tidak ada tuduhan. Hanya sesuatu yang jauh lebih berbahaya: cemburu yang ditahan rapi.

Seolah ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak berhak merasa apa-apa.

Dan justru itu yang membuat dada Shaira semakin sesak.

Karena ia tahu—Raven peduli.

Sangat peduli. Dan ia memilih diam.

...----------------...

Beberapa detik terasa lebih panjang dari seharusnya.

Shaira memalingkan wajah lebih dulu, pura-pura ikut tertawa saat Nara mengeluh soal tugas sekolah. Tapi fokusnya sudah pecah. Setengah dari dirinya masih terjebak di tatapan Raven barusan.

Nafiz yang duduk selonjoran di ujung karpet tiba-tiba bersuara, nada bicaranya ringan, tanpa beban.

“Ngomong-ngomong protektif,” Nafiz bersuara sambil melirik Raven, “lo dulu juga gitu kan sama Raena?”

Sunyi jatuh, tidak total, tapi cukup menimbulkan ketegangan di dada Shaira.

Namanya jatuh begitu saja.

Raena.

Shaira tidak bergerak. Bahkan bernapas pun terasa harus diingatkan.

Raven menoleh pelan ke Nafiz.

“Apaan sih,” katanya datar.

Nafiz nyengir. “Ya ampun, orang kita satu SMP bertiga. Semua orang tau kali dia nempel terus sama lo.”

“Itu urusan dia,” jawab Raven singkat.

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.

Dan justru karena itu, dada Shaira terasa mengencang.

“Dia masih nyari lo kan sekarang?” Fadly ikut nimbrung, polos. “Gue sering liat.”

Raven mendecak pelan.

“Nanya ke dia, jangan ke gue.”

Jawaban itu cepat. Tegas. Seperti pintu ditutup tanpa dibanting.

Seharusnya cukup.

Tapi nama itu sudah terlanjur menggantung di udara.

“Kasihan juga sih,” tambah Arkan sambil tertawa kecil. “Ngejar orang yang nggak peduli.”

Raven terkekeh pendek.

“Dia telat.”

Tawa pecah.

Semua orang menganggap itu bercandaan biasa.

Kecuali Shaira.

Karena di tengah tawa itu, Raven sempat meliriknya sepersekian detik. Dan tatapan itu bukan bercanda. Tatapan itu seperti mengatakan: aku nggak peduli.

Seharusnya Shaira lega. Tapi yang datang justru panas di dada. Tajam. Menggigit.

Cemburu yang tidak punya hak.

Ia benci perasaan itu. Dan lebih benci lagi karena ia tidak bisa menghentikannya.

“Eh tapi serius,” lanjut Nafiz santai, jelas tidak sadar sedang mengorek sesuatu. “Raena tuh nggak pernah berhenti ya. Dari SMP sampai sekarang masih aja, padahal dia nolak Raven, giliran Raven moveon malah dikejar balik.”

“Fanatik,” celetuk Arkan.

“Setia,” koreksi Fadly sambil ketawa.

Kata-kata itu kecil. Ringan. Tapi satu per satu menumpuk di dada Shaira seperti batu.

Tangannya mengepal di atas lutut tanpa sadar.

Raven menggeleng. “Kalian ribet banget sih. Orang gue nggak peduli.”

Nada itu lebih tegas sekarang. Lebih tajam. Tapi anehnya, itu tidak membuat Shaira tenang. Karena semua orang masih tertawa.

Nama Raena masih disebut. Masih hidup di ruangan itu.

“Udah bahas orang mulu,” potong Shaira tiba-tiba.

Nada suaranya tidak keras. Tapi cukup tajam untuk memutus tawa.

Semua kepala menoleh.

Ia langsung menyesal sepersekian detik kemudian. Terlalu kelihatan. Terlalu jelas bahwa ia terganggu.

“Apaan sih Sha,” Nafiz tertawa. “Cuma cerita.”

“Ya nggak usah diulang-ulang,” jawab Shaira cepat. “Nggak penting.”

Sunyi kecil jatuh. Raven menatapnya. Bukan kaget. Bukan marah. Tapi seperti baru menyadari sesuatu.

Dan tatapan itu justru membuat wajah Shaira panas. Ia memalingkan wajah. Menatap dinding. Apa saja asal bukan Raven.

Karena kalau ia menatapnya lebih lama, semua orang di ruangan itu mungkin akan tahu.

Bahwa ia cemburu. Dan ia tidak punya hak untuk itu.

Beberapa menit setelahnya, obrolan benar-benar pindah. Tapi kerusakan sudah terjadi. Shaira tidak bisa kembali santai.

Setiap kali Raven bergerak sedikit, ia sadar. Setiap kali Raven tertawa, ia mendengar.

Tanpa sengaja, bahu mereka bersentuhan saat duduk bergeser. Tubuh Shaira langsung tegang. Raven menarik tangannya pelan, memberi ruang dengan sopan, sebuah gerakan kecil yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya.

Tapi entah kenapa itu terasa seperti ditarik menjauh. Dada Shaira langsung kosong.

Bagus, pikirnya pahit.

Jauh aja sekalian.

Ia benci bahwa yang paling mengganggunya bukan Raena.

Tapi kemungkinan—bahwa Raven bisa saja suatu hari memilih orang lain dengan mudah. Dan ia tidak akan bisa melakukan apa-apa selain tersenyum dan pura-pura ikut senang.

Pikiran itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Shaira ingin pulang.

...----------------...

Shaira benar-benar pulang lebih cepat dari yang lain.

Alasannya sederhana—capek, katanya. Bahkan Nara tidak curiga. Semua orang masih terlalu sibuk bercanda.

Kecuali Raven.

Ia melihat cara Shaira menghindari matanya saat pamit. Melihat senyum yang terlalu cepat. Terlalu rapi. Seperti ditempel paksa.

Dan Raven tidak suka itu.

Lima belas menit setelah Shaira pergi, ia masih duduk di sana, tapi pikirannya sudah tidak ikut di ruangan. Tawa teman-temannya terdengar jauh. Semua terasa ramai, tapi kosong.

Akhirnya ia berdiri.

“Gue duluan,” katanya singkat.

“Lah ikut-ikutan capek?” goda Nafiz.

Raven cuma mengangkat bahu. “Iya.”

Ia tidak menjelaskan apa-apa lagi.

Begitu keluar, langkahnya langsung cepat. Udara malam dingin, tapi dadanya lebih ribut dari angin. Ada gelisah yang tidak mau diam kalau ia tidak mengejar Shaira sekarang.

Dan ia menemukannya di ujung gang.

Jalan sendirian. Kepala sedikit menunduk. Tangannya masuk ke lengan jaket.

“Shaira!”

Langkah itu berhenti. Ia berbalik pelan. Ekspresinya netral. Terlalu netral.

“Kok balik?” tanyanya.

Raven berhenti dua langkah di depannya. Napasnya masih sedikit terengah, tapi matanya fokus hanya ke satu orang.

“Kamu kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kamu tau maksud aku.”

Sunyi jatuh di antara mereka. Lampu jalan berdengung pelan di atas kepala.

Shaira menggeleng kecil.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Bohong.

Terlihat dari cara rahangnya menegang. Dari matanya yang tidak mau tinggal lama di mata Raven.

Raven menghembuskan napas pelan.

“Karena Raena?”

Nama itu membuat Shaira berkedip cepat.

Kena.

“Enggak,” jawabnya terlalu cepat.

Raven mendekat setengah langkah. Tidak memojokkan. Hanya cukup dekat untuk membuat suaranya terasa lebih pelan.

“Jangan bohong.”

Bukan tuduhan. Lebih seperti permintaan jujur. Dan justru itu yang meruntuhkan pertahanannya.

“Aku cuma…” suaranya terhenti. “Aku nggak suka dibahas terus.”

“Aku juga nggak suka,” jawab Raven. “Makanya aku jawab pendek.”

“Ya tapi semua orang ngomong seolah—”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Raven mengerti.

Seolah ada kemungkinan. Seolah ada cerita yang belum selesai.

Raven menatapnya lama. Tatapannya lurus, tenang, penuh sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.

“Denger aku,” katanya pelan. “Raena nggak ada apa-apanya buat aku.”

Tidak defensif. Tidak meyakinkan berlebihan. Hanya jujur. Dan kejujuran itu terasa lebih berat dari penjelasan panjang.

Shaira mengangkat mata perlahan. Dadanya masih penuh, tapi hangat mulai masuk di sela-selanya.

“Aku tau harusnya aku nggak peduli,” katanya lirih. “Aku nggak punya hak buat—”

“Punya.”

Ia terdiam.

Raven bahkan tidak ragu.

“Kamu punya hak,” ulangnya lebih pelan. “Kalau itu soal aku.”

Jantung Shaira berdetak keras.

“Kenapa?” bisiknya.

Raven menatapnya seperti seseorang yang akhirnya berhenti lari.

“Karena aku suka kamu,” kata Raven, nada pelan tapi tegas. Sunyi jatuh, padat dan nyata. Dunia terasa berhenti sesaat di antara mereka.

Shaira tidak langsung menjawab. Hanya menatapnya seperti dunia baru saja bergeser satu inci.

“Kamu… serius?” suaranya gemetar kecil.

Raven tertawa napas. Gugup, tapi matanya tidak main-main. “Aku ngejar kamu selama ini buat bercanda menurut kamu?”

Tawa kecil lolos dari Shaira. Setengah lega, setengah tidak percaya. Matanya panas.

“Aku capek nebak,” katanya pelan.

“Aku juga,” jawab Raven. “Makanya aku berhenti nebak sekarang.”

Tangannya bergerak pelan, menggenggam jari Shaira.

Hangat. Nyata.

Dan Shaira tidak menarik tangannya.

“Jadi pacar aku,” kata Raven pelan.

Kalimat sederhana. Tapi dunia seperti diam menunggu jawabannya.

Semua cemburu, semua takut, semua ribut di dada Shaira—jatuh tenang.

“Iya,” bisiknya.

Senyum Raven muncul pelan. Tidak besar, tapi sampai ke mata. Seperti seseorang yang akhirnya menemukan rumah.

Genggamannya menguat sedikit.

Malam terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah tadi, Shaira bisa bernapas penuh.

Mereka tidak langsung melepas tangan.

Diam beberapa detik, hanya berdiri di bawah lampu jalan, membiarkan kenyataan baru itu menetap.

Shaira tertawa kecil lebih dulu.

“Kita resmi sekarang ya?”

Raven mengangguk.

“Iya. Resmi.”

Kata itu terasa aneh sekaligus pas. Lalu Raven menyempitkan mata sedikit.

“Aku boleh jujur nggak?”

Shaira langsung curiga. “Kenapa nadanya gitu?”

“Aku kesel sama satu hal.”

“Apa?”

“Arga.”

Nama itu jatuh pelan.

Jantung Shaira ikut tersentak, tapi kali ini tidak menyakitkan—hanya kaget.

“Apa hubungannya Arga?”

Raven menghela napas kecil.

“Aku tau dia masa lalu. Aku tau kamu udah nggak ada apa-apa. Tapi tiap orang nyebut nama dia… aku tetap nggak suka.”

Shaira menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Cemburu?”

“Iya,” jawab Raven tanpa malu.

Jawaban jujur itu membuat dada Shaira melunak. Ia melangkah sedikit lebih dekat.

“Arga udah selesai dari lama,” katanya pelan. “Bahkan sebelum kamu masuk hidup aku. Aku nggak nyimpen apa-apa lagi di situ.”

Raven menatapnya, memastikan.

“Kamu juga tau kan,” lanjut Shaira,

“Raena buat kamu juga udah selesai.”

Raven mengangguk.

“Dari dulu nggak pernah mulai.”

Mereka tertawa kecil bersamaan.

Tidak ada bayangan orang lain di antara mereka sekarang. Tidak ada sisa masa lalu yang ikut berdiri di bawah lampu jalan itu.

Raven mengangkat tangan mereka sedikit.

“Aku nggak suka bayangin kamu sama dia,” katanya jujur.

Shaira membalas genggaman itu.

“Aku juga nggak suka bayangin kamu sama siapa pun.”

Bukan larangan. Bukan posesif. Hanya pengakuan sederhana bahwa mereka saling peduli lebih dari yang aman.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, cemburu tidak terasa seperti ancaman.

Tapi bukti bahwa mereka sudah benar-benar di sini.

Bareng.

Lampu jalan berdengung pelan di atas kepala mereka. Malam berjalan seperti biasa, tapi bagi Shaira, dunia telah berubah diam-diam, tanpa suara, penuh kehangatan dan ketenangan baru.

...----------------...

...“Shaira – Awal dari kita”...

1
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!