Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Sudut Pandang Rina
Sehari setelah melihat adikku berinteraksi dengan gadis asing itu, aku langsung bergerak. Rencananya, aku ingin membereskan masalah tentang ibu terlebih dahulu, tapi karena beliau baru kembali akhir pekan nanti, aku memutuskan untuk mendatangi kelas gadis itu saat jam istirahat. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“--Ini dia kelasnya.”
Dia anak kelas satu... tapi siapa namanya? Naya? Kelas berapa ya?
“Um, permisi...?” suara seseorang memanggilku.
“...Hah? Ada apa?” sahutku ketus sambil menoleh.
Seorang siswi berambut pirang mencolok menatapku dengan ekspresi antusias. Kalau dia mengenaliku, berarti dia bukan siswi biasa, kan?
“...Apakah kamu benar Rina? Kudengar kamu pernah terlibat pertarungan maut berantai melawan rangga dari SMA Harapan...”
“...Hentikan. Jangan bahas itu.”
“M-maaf!! Aku lancang!!”
Begitu kutatap tajam, dia langsung menciut dan meminta maaf. Siswa-siswa lain yang melihat kejadian itu tampak merinding; mereka menyaksikanku membungkam seorang berandal hanya dengan satu kalimat.
(Sial, kenapa wajahku selalu diingat untuk hal-hal aneh seperti itu?) Aku sebenarnya hanya ingin menjadi gadis pendiam, tapi kejadian-kejadian tak terhindarkan ini terus membuat rumor buruk tentangku menyebar tanpa henti.
“...Sudahlah, lupakan. Kebetulan ada yang ingin kutanyakan. Kamu tahu Naya ada di kelas mana? Ada sesuatu yang perlu kubicarakan dengannya.”
“Eh? Ah! Si seksi itu? Dia ada di halaman!”
Jawabannya cukup informatif meski deskripsinya—cewek seksi—terasa agak berlebihan. Tapi sudahlah.
“Terima kasih. Sampai jumpa... dan tolong, jangan sebarkan rumor aneh-aneh lagi, ya?”
“I-iya...”
“Diamlah... Itu yang kumaksud.”
“???????????”
Dia memasang ekspresi bingung, tapi aku tak peduli. Aku segera bergegas menuju halaman sekolah. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan sekelompok siswi yang sedang tertawa keras.
“Naya makan sendirian lagi, tuh.”
“Kasihan, nggak punya teman... tapi itu kan berkat rumor yang kita sebar!”
“Benar banget! Kesal aku melihatnya sok populer di depan cowok-cowok padahal pendek! Bahkan cowok yang kutaksir malah menembak dia!”
“Hei... kalau dia makin terisolasi, ayo kita mulai bully beneran! Lagipula dia sudah putus dari Miko, kan? Nggak ada lagi yang melindunginya.”
“Setuju! Tapi kita tetap harus waspada sama cewek dari Laras itu. Dia tipe yang berbahaya, bisa-bisa dia mendatangi kita dan bilang: 'Kalau mau bicara, langsung di depan orangnya'.”
“Iya, cewek itu mengerikan, aku nggak berani cari masalah dengannya... Hih, menyebalkan. Ngomong-ngomong, bagaimana kalau sekarang kita siram air saja ke Naya?”
“Hahaha! Ide bagus!”
Aku berhenti melangkah. Dasar orang-orang membosankan.
Tadinya aku hanya ingin bertanya pada Naya mengapa dia bersama adikku hari itu, tapi sepertinya rencanaku sedikit berubah.
Sudut Pandang Naya
“…………”
Hari ini, aku kembali makan sendirian di halaman. Sudah menjadi kebiasaan karena aku memang tidak punya teman. Duduk di bangku panjang yang seharusnya untuk dua orang membuat rasa sepi ini semakin menyesakkan.
“Aku sudah melakukan hal yang sangat jahat pada Rian...”
Aku tidak bisa terus bersembunyi di balik alasan 'tidak sadar'. Aku telah bersikap buruk, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan... Padahal saat aku mencoba meminta maaf tadi...
“Nggak apa-apa. Aku memang kaget, tapi keadaanmu sekarang terlihat lebih buruk dariku... jadi jangan khawatirkan aku.”
Itu yang Rian katakan padaku. Dia orang yang sangat baik, dan aku malah mempermainkannya. Aku benar-benar merasa pantas masuk neraka.
Keinginan untuk sekolah rasanya lenyap. Aku tahu apa yang dibicarakan siswi-siswi lain di belakangku, tapi aku sempat melupakan semua itu saat aku mengejar Rian. Ternyata benar, orang-orang yang mendekatiku biasanya punya motif terselubung.
“Tapi, Rian berbeda... Ah, tidak, tidak!”
Aku teringat padanya dan hampir menangis. Aku mencoba menahan diri dan mulai memakan bekal buatan ibuku. Lauk favoritku ada di sana, tapi hari ini rasanya hambar. Aku harus memaksakan setiap suapan.
“...Kamu... Naya, kan?”
“...Hah?... Ah.”
Mendengar namaku dipanggil, aku mendongak. Jantungku seakan berhenti saat melihat siapa yang berdiri di depanku.
Aku mengenalnya, meski kami tidak pernah bicara. Seketika wajahku pucat pasi dan aku refleks memejamkan mata.
(Itu kakaknya Rian... Dia pasti datang untuk memarahiku. Kabarnya dia orang yang sangat menakutkan... Apa yang akan dia lakukan padaku? Tapi ini salahku. Aku harus menerima apa pun yang dia katakan—)
“I-iya... Saya Naya... Saya benar-benar minta maaf atas hal buruk yang saya lakukan kemarin...”
“Eh? Oh, aku ke sini bukan untuk meminta pertanggungjawabanmu. Ternyata kamu mengenalku, ya? Baiklah, langsung saja—bisa geser sedikit?”
“...Eh? Ah, iya.”
Sesuai instruksi Rina, aku memberi ruang di bangku yang tadinya kutempati sendiri. Tanpa kuduga, dia duduk di sampingku dan mulai membuka bekalnya.
“……Huh?”
“Habisnya aku merasa kesepian kalau makan sendirian... Karena kamu kenal adikku, mau menemaniku sebentar?”
“Eh... Ah, iya!”
Aku mengangguk bingung. Rina dikenal sebagai kakak yang sangat protektif, berandal, dan ditakuti. Meski tidak terlalu populer di kalangan anak kelas satu, karena dia adalah kakak Rian, aku tahu reputasinya. Kupikir dia tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang menyakiti adiknya. Aku sudah siap dimaki habis-habisan.
“Bekalmu buatan ibumu?”
“Oh, iya! Benar sekali!”
“Hmm... kelihatannya enak.”
“Terima kasih……”
Kenyataannya jauh dari bayanganku. Cara bicaranya memang santai dan blak-blakan, tapi dia sama sekali tidak merendahkanku meski aku adik kelasnya. Penampilannya sangat berbeda dari rumor yang beredar. Dia terlihat... baik.
(Seragamnya mungkin agak berantakan, tapi rambutnya hitam alami, tanpa riasan tebal atau aksesori aneh... bulu matanya panjang. Dia cantik sekali.)
──Ding dong ding dong.
“Oh, bel sudah bunyi... Ayo pulang?” ajak Rina.
“Ahaha, ini baru bel masuk kelas setelah makan siang, Kak.”
“Apa? Oh... ternyata kamu bisa tertawa juga.”
“Eh... ah... iya.”
Aku tertawa tanpa sadar. Tapi, kenapa dia makan bersamaku? Dia tidak perlu bersikap sebaik ini setelah apa yang kulakukan pada adiknya. Ah, dia sudah mau pergi! Aku harus berterima kasih!
“Kak! Um, terima kasih sudah mau makan bersamaku hari ini!”
“Hmm... Sampai jumpa besok.”
“Iya... Hah? Eh, besok?!”
Dia bilang akan datang lagi besok. Tapi kenapa harus aku?
Mungkinkah... dia sedang mencoba menyemangatiku?
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰