Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 25: Ketimpangan kutukan [5]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Pagi itu berjalan dengan ritme yang dipaksakan normal.
Suara air mengalir di kamar mandi, bunyi lemari dibuka, dan langkah kaki yang sengaja dibuat biasa-biasa saja menjadi latar yang menutupi ketegangan tersisa. Namun di balik rutinitas itu, masing-masing dari mereka terus mengamati Zack secara diam-diam.
Zack terlihat… terlalu tenang.
Ia duduk di tepi ranjang sambil mengikat tali sepatunya, gerakannya rapi dan presisi. Tidak ada tremor. Tidak ada napas berat. Tetapi justru ketepatan gerakannya itulah yang membuat Rakes waspada. Ada efisiensi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—seolah tubuh Zack mulai menyederhanakan setiap tindakan menjadi sesuatu yang lebih terstruktur.
“Lo oke?” tanya Kale, berusaha terdengar santai.
Zack mengangguk. “Lebih ringan dari tadi malem.”
Ia berdiri, menatap mereka satu per satu. “Gue ngerasa… kayak ada yang kebuka, tapi gak sesak lagi.”
Saka merasakan sensasi aneh di dadanya lagi. Bukan sakit, melainkan getaran halus yang muncul ketika Zack berbicara tentang “terbuka.” Seolah ada resonansi yang tidak terlihat, menghubungkan sesuatu di antara mereka.
Hamu memperhatikan dengan tajam. “Kebuka gimana?”
Zack berpikir sejenak. “Kayak lo nemuin ruangan yang selama ini lo kira kosong. Ternyata isinya ada, cuma gelap.”
Kalimat itu membuat Rakes menegang.
Kutukan itu bukan lagi hanya menekan. Ia mulai memberi jalur untuk meresapi setiap inci pikiran inangnya.
Rakes melangkah mendekat. “Dengerin gue baik-baik,” katanya dengan nada serius namun terkendali.
“Kalo lo mulai ngerasa pikiran lo bukan sepenuhnya milik lo, langsung bilang. Jangan labil.”
Zack mengernyit sedikit. “Lo ngomong kayak gue kerasukan.”
“Bukan itu,” jawab Rakes cepat. “Ini soal kebaikan buat lo juga.”
Zack terdiam. Ia bisa merasakan maksud di balik kata itu, meski belum sepenuhnya memahaminya.
Beberapa detik kemudian, tanpa peringatan, Zack memegang pelipisnya. Gerakan kecil, tapi cukup untuk membuat semua orang berhenti.
“Ada apa?” tanya Saka, satu langkah mendekat.
Zack menutup mata. Napasnya tidak sesak, tetapi lebih dalam dari biasanya. “Barusan… ada bayangan lagi.”
“Kayak apa?” suara Hamu stabil.
“Tempat luas. Tanah merah. Terus… suara orang debat. Dua kubu.”
Ia membuka mata perlahan. “Dan gue tau itu bukan mimpi.”
Rakes tidak perlu bertanya lebih jauh. Ia tahu persis fase itu. Ketika ingatan tidak lagi terasa asing, melainkan dikenali.
“Demar dan Kartaswiraga,” gumam Kale pelan penuh kekhawatiran.
“Belum tentu,” jawab Rakes, meski ia sendiri tidak yakin.
Zack menatap mereka, sedikit frustasi. “Kenapa gue ngerasa kayak lagi di tengah sesuatu yang bukan hidup gue?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena pertanyaan itu adalah inti dari semuanya.
Saka berdiri tepat di depan Zack sekarang. “Kalo lo di tengah,” katanya pelan, “berarti lo bukan penonton.”
Zack terdiam, lalu menghela napas panjang. “Gue ngga minta ini.”
Rakes menatapnya lurus. “Enggak ada yang minta.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Namun kali ini bukan keheningan rapuh. Ini adalah keheningan sebelum keputusan.
Rakes tahu fase berikutnya akan segera datang. Kutukan itu akan menguji batas Zack—bukan hanya secara fisik, tetapi secara identitas. Ia akan memancing respons. Ia akan mencari celah di mana Zack ragu pada dirinya sendiri.
Dan jika celah itu terbuka terlalu lebar, bukan hanya Zack yang akan terseret. Saka akan ikut merasakan dampaknya. Kale dan Hamu akan terdorong untuk memilih sisi lebih cepat dari yang seharusnya. Dan dirinya sendiri—Rakes—akan dipaksa menggunakan sesuatu yang selama ini ia tahan mati-matian.
Zack akhirnya berdiri tegak, menarik napas, lalu berkata pelan namun tegas,
“Gue ngga bakal kabur.”
Rakes menatapnya beberapa detik sebelum menjawab,
“Bagus. Karena ini juga gak bakal berhenti.”
Ucapan Zack menggantung di udara, bukan sebagai keberanian yang lantang, melainkan sebagai keputusan yang masih rapuh namun tulus.
Rakes menatapnya lama, mencoba membaca apakah kalimat itu lahir dari dirinya sendiri—atau dari dorongan yang lebih tua dan lebih gelap. Namun yang ia lihat hanyalah tekad yang bercampur kebingungan. Itu masih Zack. Masih.
“Kita gak gerak sendiri-sendiri mulai sekarang,” ucap Rakes akhirnya, suaranya tenang tapi tidak memberi ruang untuk bantahan. “Apa pun yang lo rasain, kita evaluasi bareng.”
Kale mengangguk. “Berarti kita mulai nyatet.”
Zack mengernyit. “Nyatet?”
Hamu menjawab dengan nada terstruktur. “Setiap kejadian. Mimpi. Bayangan. Reaksi fisik. Waktunya, situasinya. Kita cari polanya.”
Saka menambahkan pelan, “Kalo ada koneksi antara Bang Zack sama Saka, itu juga bakal keliatan.”
Zack menghembuskan napas pendek. “Jadi gue bahan penelitian sekarang?”
“Bukan,” potong Rakes tegas. “Lo pusatnya. Beda.”
Nada itu membuat Zack terdiam.
Rakes melanjutkan dengan lebih terukur, seperti menyusun strategi di kepalanya sambil berbicara. “Kutukan ini bergerak bertahap. Dia buka akses lewat tekanan. Malam hari. Kondisi lelah. Situasi emosional. Kita kurangi celahnya.”
Kale menyilangkan tangan. “Lo maksudnya jaga kondisi mental dia?”
“Dan fisik,” jawab Rakes. “Dia gak boleh kelelahan berlebihan. Gak boleh sendirian terlalu lama.”
Hamu memandang Zack tajam. “Lo harus jujur Bang, kalo mulai ngerasa beda.”
Zack mengangguk pelan, meski jelas ia belum sepenuhnya nyaman dengan posisi itu. “Gue bakal bilang.”
Keheningan singkat kembali muncul, tetapi kali ini lebih terarah. Bukan ketakutan, melainkan persiapan.
Namun tanpa diduga, Zack kembali terdiam. Pandangannya mengarah kosong ke depan, fokusnya terlepas dari ruangan. Tangannya mengepal perlahan.
“Zack?” suara Saka berubah tegang.
Zack tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu ia berbicara, tetapi nadanya berbeda. Lebih dalam. Lebih mantap.
“Bukan cuma dua kubu,” katanya pelan. “Ada yang ketiga.”
Rakes langsung menegang.
“Bharata Jengga,” gumam Kale.
Zack berkedip beberapa kali, seolah baru tersadar. Ia mengangkat tangan ke pelipisnya lagi, napasnya sedikit lebih berat.
“Gue… gue tau mereka ngga netral,” lanjutnya pelan. “Mereka nunggu.”
Udara terasa berubah.
Rakes melangkah mendekat. “Nunggu apa?”
Zack menelan ludah. “Nunggu salah satu jatuh. Biar mereka bisa masuk.”
Saka merasakan sensasi yang sama di dadanya lagi—lebih kuat kali ini. Seperti gema yang menyambut pernyataan itu.
Hamu berdiri tegak. “Berarti selama ini mereka bukan hilang.”
“Cuma diam,” sambung Kale.
Rakes menatap Zack dalam-dalam. Kutukan Demar memang membuka memori konflik lama, tetapi jika Bharata Jengga mulai muncul dalam penglihatan itu, artinya fase yang lebih dalam sudah disentuh.
Zack akhirnya menatap mereka semua, napasnya kembali stabil, tetapi sorot matanya berubah. Bukan kosong—melainkan sadar.
“Gue bukan cuma inang,” katanya pelan. “Gue titik.”
Kalimat itu membuat ruangan membeku.
Rakes tahu itu bukan sepenuhnya kalimat yang lahir spontan. Itu adalah kesimpulan. Dan kesimpulan berarti kesadaran mulai menyusun dirinya sendiri.
Jika Zack adalah titik, maka semua garis akan bertemu padanya.
Dan ketika garis-garis itu bertabrakan, tidak ada lagi ruang untuk sekadar bertahan.
Pagi itu, tanpa perlu deklarasi besar, mereka semua menyadari satu hal yang sama, karena ini bukan lagi soal menunggu kutukan bergerak tapi ini tentang bersiap ketika seluruh sejarah akhirnya memilih untuk bergerak bersamaan.
................
Ruangan terasa lebih sempit setelah kalimat itu.
“Gue bukan cuma inang. Gue titik.”
Tidak ada yang langsung menanggapi. Bahkan Kale yang biasanya paling cepat bereaksi pun hanya berdiri diam, mencoba mencerna makna di balik kesadaran yang baru saja diucapkan Zack.
Rakes memandangnya lekat-lekat.
“Lo sadar penuh waktu ngomong itu?” tanyanya akhirnya, tenang namun tajam.
Zack mengangguk perlahan. “Iya. Ini bukan kayak barusan… bukan potongan. Lebih kayak kesimpulan.”
Ia menarik napas dalam. “Kalo Mahaniyan itu kunci buat ngelepas, berarti gue ini simpul yang nahan semuanya tetep nyambung.”
Hamu menatap lantai sebentar, lalu berkata pelan, “Simpul bisa dilepas. Tapi juga bisa dikencengin.”
Saka merasakan getaran yang lebih jelas di dadanya kali ini—bukan nyeri, bukan sesak, tetapi tarikan halus yang sinkron dengan ucapan Zack. Ia memegang sisi bajunya tanpa sadar.
“Lo ngerasa juga?” tanya Zack tiba-tiba, menatap Saka.
Saka terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Kayak… tiap lo dapet potongan, gue dapet gema.”
Kale menghembuskan napas pelan. “Berarti koneksi kalian makin jelas.”
Rakes berpikir cepat. Jika Zack adalah titik pusat dan Saka adalah resonansi, maka keseimbangan mereka bergantung pada kestabilan keduanya. Jika salah satu terguncang terlalu keras, yang lain tidak akan bertahan utuh.
“Mulai sekarang,” kata Rakes dengan nada yang lebih terstruktur, “kita bagi peran.”
Semua menoleh padanya.
“Zack fokus jaga kesadaran lo. Jangan nolak potongan yang dateng, tapi jangan juga ditarik masuk terlalu dalam.”
Ia menoleh ke Saka. “Lo jadi indikator. Kalo lo mulai ngerasa tekanan tanpa Zack bilang apa-apa, itu berarti ada pergerakan.”
Kale menyilangkan tangan. “Gue sama Hamu?”
“Kalian observasi,” jawab Rakes. “Bukan cuma mereka. Tapi lingkungan. Orang-orang. Perubahan kecil.”
Hamu mengangguk setuju. “Kalo Bharata Jengga beneran nunggu, mereka pasti gak pasif.”
Zack mengerutkan kening. “Maksudnya… ada orang lain?”
Rakes tidak menjawab langsung. Ia tahu kemungkinan itu ada. Jika sejarah benar-benar bergerak, maka tidak mungkin hanya berhenti pada satu asrama.
“Yang jelas,” lanjut Rakes akhirnya, “fase ini bukan lagi pembuka. Ini transisi.”
Kale menatapnya. “Transisi ke apa?”
Rakes terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Ke titik di mana kutukan berhenti jadi beban pasif dan mulai jadi pilihan.”
Ucapan itu membuat Zack membeku. “Pilihan gimana?”
“Antara lo terus jadi simpul yang nahan semuanya,” ujar Rakes pelan, “atau lo jadi pemicu yang bikin semuanya pecah.”
Hening kembali turun.
Namun kali ini tidak ada kepanikan. Hanya kesadaran bahwa garis mereka sudah terlalu jauh untuk diputar balik.
Zack berdiri lebih tegak. Wajahnya masih muda, masih manusia biasa, tetapi ada bayangan tanggung jawab yang mulai menetap di sana.
“Kalau gue titik,” katanya pelan namun jelas, “berarti gue juga bisa nentuin arah garisnya.”
Rakes menatapnya lama.
Itulah hal yang paling berbahaya—dan paling menentukan.
Karena jika Zack benar-benar memahami posisinya sebagai titik, maka kutukan Demar tidak lagi sepenuhnya mengendalikan. Ada kemungkinan, sekecil apa pun, bahwa ia bisa membentuk ulang jalur yang diwariskan padanya.
Dan jika itu terjadi, bukan hanya sejarah yang akan berubah.
Seluruh keseimbangan tiga kerajaan akan dipaksa menghadapi bentuk baru yang belum pernah mereka antisipasi.
Kesadaran itu tidak langsung membawa keberanian, melainkan kehati-hatian yang dalam. Rakes tahu, momen seperti ini sering kali disalahartikan sebagai titik balik yang heroik, padahal sejatinya justru fase paling rapuh. Ketika seseorang mulai merasa bisa memilih, di situlah dorongan lama akan menguji seberapa besar kendali yang benar-benar dimiliki.
Rakes melangkah mendekat ke Zack, berhenti pada jarak yang cukup dekat untuk menunjukkan kehadiran, namun tidak menekan. “Punya pilihan bukan berarti bebas,” katanya pelan. “Dan nentuin arah bukan berarti semua jalur aman.”
Zack mengangguk. “Gue ngerti. Tapi selama ini gue ngerasa cuma dibawa arus. Sekarang… setidaknya gue tau arusnya ke mana.”
Saka menatap mereka bergantian. Ia bisa merasakan ketegangan yang lebih halus sekarang, seperti senar yang ditarik kencang tapi belum dipetik. Di dalam dirinya, gema itu tidak lagi acak. Ia mulai bisa membedakan mana tekanan yang berasal dari dirinya sendiri, dan mana yang datang bersamaan dengan perubahan pada Zack.
“Kalau Bharata Jengga nunggu,” ucap Saka pelan, “berarti mereka nunggu momen ketika keseimbangan goyah.”
Hamu mengangguk. “Dan momen itu biasanya muncul saat seseorang mulai percaya diri.”
Kale mendengus pelan. “Atau saat capek.”
Kalimat itu membuat Rakes menghela napas pendek. Ia tahu betul bahwa kelelahan—fisik maupun mental—adalah celah paling sering dieksploitasi. Kutukan tidak selalu menyerang dengan kekuatan. Kadang ia hanya menunggu seseorang lengah.
“Makanya,” ujar Rakes, nadanya kembali tegas dan terstruktur, “kita atur ritme. Zack gak boleh dipaksa ngerti semuanya sekarang. Potongan itu bakal datang sendiri, tapi kita tentuin kapan berhenti.”
Zack menatapnya. “Dan kalo gue kebablasan?”
Rakes tidak ragu. “Gue tarik lo keluar.”
Tidak ada ancaman dalam kalimat itu. Hanya kepastian.
Zack menelan ludah, lalu mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa tidak sendirian menghadapi tekanan itu.
Waktu terus berjalan. Pagi beranjak siang, aktivitas di luar asrama mulai terdengar. Dunia tetap bergerak dengan normalitas yang hampir kejam, seolah tidak peduli bahwa di dalam satu ruangan kecil, keseimbangan lama sedang disusun ulang.
Namun Rakes tahu, ketenangan ini bersifat sementara.
Transisi selalu punya jeda. Dan di jeda itulah, sejarah biasanya memilih caranya sendiri untuk kembali mengetuk—entah melalui mimpi berikutnya, melalui pertemuan yang tampak kebetulan, atau melalui satu keputusan kecil yang tampak sepele.
Zack berdiri di dekat jendela, menatap keluar. Cahaya siang menyentuh wajahnya, memperjelas ekspresi yang kini lebih fokus, lebih sadar.
Di dalam dirinya, kutukan Demar tidak berhenti bergerak. Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya memimpin.
Dan Rakes, yang mengamati dari belakang, tahu satu hal dengan kejelasan yang dingin:
fase berikutnya tidak akan dimulai dengan ledakan, melainkan dengan godaan halus—godaan untuk percaya bahwa mereka sudah cukup kuat.
Di situlah ujian sesungguhnya akan dimulai.
Cahaya siang yang masuk dari jendela tidak lagi terasa hangat. Ia memantul di lantai keramik, membelah ruangan menjadi dua sisi—terang dan bayangan—seolah memberi gambaran visual tentang apa yang sedang mereka hadapi: kesadaran dan warisan, pilihan dan takdir.
Zack masih berdiri di sana, tapi kali ini bukan sekadar menatap keluar. Ia mencoba merasakan ke dalam.
Potongan-potongan itu tidak datang seperti kilatan gambar lagi. Mereka berubah menjadi sensasi: tekanan di pelipis kiri, tarikan di dada, dan suara samar yang tidak bisa disebut suara—lebih seperti gema ingatan yang belum sepenuhnya miliknya.
“Ini bukan cuma tentang Mahaniyan,” ucap Zack perlahan, tanpa menoleh. “Bukan cuma tentang Evangelin Arkozia yang ngebunuh dia.”
Semua terdiam.
Zack menelan napas. “Kalau Mahaniyan itu kunci buat ngelepas kutukan Demar, berarti pembunuhan itu bukan cuma kesalahan. Itu… pengalihan jalur.”
Rakes memperhatikan dengan saksama. “Pengalihan ke mana?”
“Ke garis yang lebih panjang.” Zack akhirnya menoleh. Matanya tidak kosong, tapi juga tidak sepenuhnya tenang. “Kutukan ini gak berhenti karena kuncinya hilang. Ia pindah. Nempel. Nyari medium baru.”
Saka merasakan sensasi itu kembali—lebih jelas sekarang. Seperti dua nada yang mulai selaras. Bukan benturan, tapi sinkronisasi yang perlahan menguat.
“Makanya gue dapet gema,” gumam Saka, lebih ke dirinya sendiri. “Kalian simpulnya… gue resonansinya.”
Rakes mengangguk pelan. “Simpul dan resonansi. Satu nahan struktur, satu nyebarin getaran.”
Hamu mengangkat wajahnya. “Berarti kalau simpulnya ditarik keras, resonansinya bakal pecah duluan.”
Saka tidak menjawab, tapi ia tahu kalimat itu bukan asumsi kosong.
Zack mengerutkan kening. “Enggak. Kalau gue simpulnya, berarti tekanan paling besar ada di gue.”
“Belum tentu,” potong Rakes tegas namun tetap tenang. “Simpul itu pusat, tapi pusat bukan selalu titik terlemah. Kadang justru yang di sekelilingnya yang retak lebih dulu.”
Hening kembali turun, tapi kali ini bukan karena kebingungan. Melainkan karena semua mulai melihat pola yang sama.
Kutukan Demar bukan sekadar hukuman turun-temurun. Ia adalah mekanisme. Ia bertahan dengan berpindah, dengan mengikat ulang dirinya pada garis keturunan dan peristiwa-peristiwa kunci. Dan kematian Mahaniyan bukan akhir—itu justru pembukaan babak baru.
“Kalau Evangelin ngebunuh Mahaniyan,” ujar Kale pelan, “berarti leluhur Liorlikoza itu sadar apa yang dia lakuin.”
Rakes mengangguk sekali. “Dan itu berarti ada niat.”
Hamu menyambung, “Niat buat mencegah kutukan lepas?”
“Atau,” Rakes memperjelas, “niat buat memastikan kutukan tetap punya peran.”
Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.
Zack merasakan sesuatu bergetar lebih kuat di dalam dirinya—bukan rasa sakit, tapi pemahaman yang tidak nyaman.
“Kalau gitu… gue bukan cuma korban,” katanya perlahan. “Gue bagian dari desain.”
Saka menatapnya tajam. “Desain siapa?”
Pertanyaan itu menggantung.
Rakes berjalan mendekat ke meja, menaruh kedua tangannya di permukaan kayu, seolah sedang merapikan pikirannya sendiri.
“Tiga kerajaan,” ujarnya pelan. “Demar, Bharata Jengga, dan garis Liorlikoza. Kalau Mahaniyan adalah kunci, berarti dia ancaman buat satu pihak. Dan kalau Evangeline membunuhnya, berarti dia memilih sisi.”
Kale menyilangkan tangan. “Sisi mana?”
“Sisi yang percaya bahwa keseimbangan lebih aman kalau tetap terkutuk.”
Saka mengernyit. “Keseimbangan kayak apa yang butuh kutukan?”
Rakes menatapnya. “Keseimbangan yang takut perubahan.”
Zack memejamkan mata sebentar.
Ia bisa merasakan tekanan itu berubah. Bukan lagi seperti dorongan untuk kehilangan kendali, tapi seperti dorongan untuk mengerti. Potongan-potongan yang tadinya terpisah mulai menyusun diri menjadi pola: wajah-wajah asing, ruang istana yang sunyi, keputusan yang dibuat bukan karena emosi, tapi karena strategi.
“Evangeline ngga cuma bunuh Mahaniyan,” ucap Zack lirih. “Dia milih masa depan.”
Saka merasakan dadanya ikut bergetar saat kalimat itu keluar.
Dan untuk pertama kalinya, mereka semua menyadari sesuatu yang lebih besar dari sekadar kutukan pribadi.
Ini bukan hanya tentang membebaskan garis keturunan Demar.
Ini tentang meruntuhkan sistem yang sengaja membiarkan kutukan itu tetap ada.
Rakes berdiri tegak. Suaranya rendah, jelas, dan tidak tergesa.
“Kalau lo bisa nentuin arah garisnya, Zack, berarti lo gak cuma punya pilihan pribadi.”
Zack membuka mata.
“Lo punya potensi buat ngerombak struktur yang selama ini dijaga.”
Ruangan kembali hening. Tapi hening kali ini bukan rapuh.
Ia berat.
Jika simpul benar-benar memilih untuk berubah, maka resonansi yang menyebar tidak hanya mengguncang satu garis keturunan..
Dan di titik itulah, pilihan bukan lagi soal keberanian.
Melainkan soal konsekuensi.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...