NovelToon NovelToon
Selamat, Dan Selamat Tinggal

Selamat, Dan Selamat Tinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Awanbulan

Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Sudut Pandang Rian

​Ding dong, ding dong.

​Minggu pagi, suara bel pintu berdering nyaring ke seluruh rumah. Sepertinya ada tamu. Jam menunjukkan pukul 11 siang, waktu yang mulai hangat sebelum makan siang. Karena orang tua sedang pergi, pilihannya cuma dua: aku atau Rina yang membukakan pintu.

​“Yah, pasti Rina yang pergi,” gumamku malas sambil tetap terpaku di depan layar game.

​Aku sama sekali nggak bergerak. Alasanku sederhana: game ini sedang seru-serunya. Yah, setidaknya itu alasanku pada diri sendiri, padahal ini game RPG turn-based yang bisa di-pause kapan saja.

​Tok, tok, tok.

​“Ya?” tanyaku tanpa menoleh. Ada ketukan di pintu kamar. Pasti Rina. Kalau bukan dia, berarti hantu. Dan kalau memang rumah ini berhantu, mulai sekarang aku mau tidur bareng Rina saja.

​“Rian, boleh masuk sebentar?” tanya Rina dari balik pintu.

​“Kakak?” jawabku sambil menoleh.

​“Ibu dan Ayah nggak ada, ya siapa lagi kalau bukan aku?” balas Rina dengan nada ketus.

​“Kupikir hantu,” jawabku datar.

​Rina membuka pintu dengan wajah kaget. “Apa sih yang kamu omongin?”

​“Begini saja, kalau hantu itu beneran ada, mulai hari ini aku tidur di kamarmu ya,” kataku sambil tersenyum tipis.

​Rina menggelengkan kepala. “Kalau dipikir-pikir, rumah ini memang terasa angker karena ada kamu.”

​“Baguslah,” jawabku santai.

​“............”

​“Oh, dan lain kali nggak perlu ketuk pintu, ya?” tanyaku sambil kembali fokus ke layar.

​“Aku nggak kayak kamu. Setidaknya aku punya sopan santun buat ketuk pintu,” balas Rina sambil menyilangkan tangan.

​“Meskipun kamu sebenarnya brandal?” godaku.

​“Apa aku harus nendang pintunya sampai jebol lain kali?” tantang Rina sarkas.

​“Nah, itu baru jati dirimu yang sebenarnya!” seruku sambil tertawa kecil.

​“Cepatlah... jangan biarkan tamunya menunggu,” kata Rina sambil menunjuk ke arah pintu depan.

​“Oke, oke, aku pergi sekarang! Sialan!” seruku sambil bangkit berdiri dengan malas dan sedikit mengumpat.

​“Sikapmu buruk banget! Kenapa tiba-tiba marah-marah!” protes Rina kesal.

​Sambil terus menggerutu, aku melangkah keluar kamar. Namun, tepat sebelum sampai di pintu depan, sebuah pikiran buruk melintas. Aku berhenti dan menoleh ke arah Rina yang mengekor di belakang.

​“Jangan-jangan... Sari?” tanyaku was-was.

​“Bukan. Aku nggak kenal dia,” jawab Rina menggeleng.

​“Cewek atau cowok?”

​“Cewek.”

​“Siapa namanya?” tanyaku lagi, mendesak.

​“Aduh, sudah sana cepat!” bentak Rina sambil mendorong punggungku.

​Setidaknya tanya namanya dulu, dong! Kalau bukan Sari, siapa lagi? Pasti bukan Naya, kan? Sial, kenapa harus cewek? Aku lebih suka kalau tamunya cowok saja.

​Aku melangkah ke pintu depan dengan baju santai seadanya.

​──────

​“...Kenapa kamu di sini?” tanyaku dingin begitu pintu terbuka sedikit.

​“Um, anu... aku cuma mau mengobrol sebentar,” jawabnya pelan sambil menunduk dalam.

​Ternyata Laras.

​Dia adalah gadis yang ikut ditolak bersama Naya di hari saat aku mulai kehilangan kepercayaan pada perempuan. Dia berdiri di sana mengenakan gaun biru muda dan topi jerami. Penampilannya rapi, seperti gadis normal pada umumnya.

​Begitu menyadari siapa dia, aku mengernyit jijik. Memang lebih baik daripada Sari atau Naya yang datang, tapi tetap saja aku muak melihat siapa pun yang terlibat dalam insiden hari itu. Aku ingin mengusirnya secepat mungkin.

​“Nggak ada yang perlu dibicarakan. Lagian kamu siapa?” tanyaku dingin dengan tatapan tajam.

​“...Laras... namaku Laras,” jawabnya pelan, kepalanya makin tertunduk.

​“Sudah perkenalannya? Kalau sudah, silakan pulang,” kataku sambil mulai menutup pintu.

​“Tunggu! Tolong... dengarkan aku sebentar saja,” mohonnya sambil membungkuk dalam.

​Sesaat sebelum dia menunduk, aku melihat wajahnya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Wajah cantiknya tak lagi bersinar seperti dulu. Dia mencengkeram roknya erat-erat, tubuhnya gemetar hebat. Ternyata dia benar-benar terpukul setelah aku menolaknya waktu itu; mentalnya hancur sampai pulang sambil menangis.

​Aku jadi bertanya-tanya, sebesar apa keberanian yang dia kumpulkan untuk datang jauh-jauh ke rumahku setelah kejadian itu?

​“...Ugh, ini nggak adil,” gumamku lirih.

​Melihat kondisinya, aku nggak tega untuk mengusirnya dengan kasar. Untuk pertama kalinya, rasa ibaku mengalahkan rasa tidak percayaku pada perempuan.

​“...Baiklah, aku akan dengarkan apa yang mau kamu sampaikan,” kataku akhirnya sambil membuka pintu lebih lebar.

​“...!!” Laras mendongak dengan mata berkaca-kaca.

​Meski aku belum bilang memaafkannya, hanya dengan diberi kesempatan bicara, wajahnya langsung cerah seperti bunga yang mekar. Tapi sedetik kemudian, tangisnya pecah.

​“Rian... t-terima kasih banyak... hiks... terima kasih... waaaah!” Dia menangis tersedu-sedu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

​“Aduh, jangan berisik,” kataku pelan sambil menghela napas panjang.

​“Maaf... aku benar-benar minta maaf... kupikir aku nggak akan pernah bisa bicara sama kamu lagi. Aku nggak bermaksud menyakitimu, Rian... Aku memang bodoh,” ratapnya di sela tangis.

​“............”

​Aku membuang napas perlahan. Sejujurnya, melihatnya membuatku teringat kejadian dua hari lalu dan membuatku gugup, tapi rasa cemas itu perlahan memudar. Lagipula, mana ada siswi SMA yang berani menangis sekencang ini di depan pintu rumah orang?

​Di saat yang sama, aku mulai merasa bersalah karena sudah terlalu ketus padanya. Sebenarnya Laras tidak melakukan kesalahan yang fatal, dia hanya terbawa suasana saat berargumen dengan Naya. Sepertinya aku hanya melampiaskan amarahku padanya.

​“...Maafkan aku juga,” kataku pelan.

​“...?” Laras mendongak, bingung.

​“Aku sudah bilang jangan bicara denganku dan bersikap kasar... aku sadar aku keterlaluan,” lanjutku sambil menunduk.

​“Eh? Ah, nggak! Kamu nggak perlu minta maaf, Rian! Aku yang salah karena sudah memprovokasi Naya sampai semuanya jadi kacau!” Laras panik dan berusaha memintaku mengangkat kepala.

​“...Kamu anak yang baik ya,” gumamku sambil tersenyum tipis.

​Melihat tingkahnya, aku tidak bisa menahan senyum. Aku kagum. Laras tidak pernah mencoba membela diri atau merasa tidak bersalah. Dia mengakui semuanya dengan tulus. Ketulusan itulah yang membuat perasaanku padanya sedikit membaik.

​“Ditertawakan itu rasanya kejam lho... Kamu nggak tahu seberapa besar keberanian yang aku kumpulkan buat ke sini,” kata Laras sambil tersenyum meski air mata masih mengalir.

​“Maaf, maaf. Aku cuma merasa bersalah karena sudah melampiaskan amarahku pada gadis sebaik kamu. Sejujurnya, aku sudah tidak membencimu lagi,” jawabku jujur.

​“Ah, benarkah?” tanya Laras sambil mengusap air mata.

​“Iya. Terima kasih sudah datang hari ini. Perasaanku jadi jauh lebih tenang,” kataku sambil tersenyum tulus.

​Meskipun aku belum sepenuhnya percaya padanya seperti aku percaya pada Rina, setidaknya dendamku sudah hilang. Di antara gadis-gadis lain, mungkin dia yang paling bisa kupercaya untuk saat ini, setelah Tina.

​“...Tampan.”

​“Hah? Apa?” tanyaku bingung.

​“Wah, senyummu mempesona banget... kamu cowok paling keren yang pernah kutemui,” kata Laras menatapku penuh kekaguman.

​“Paling keren?” aku menaikkan alis.

​Aku tahu aku lumayan, tapi kalau dibilang paling keren, rasanya berlebihan. Apa dia mau menipuku? Atau mau menyuapku?

​“Kalau kamu nggak keberatan, aku ingin memberikan kompensasi—” Laras mulai merogoh dompetnya.

​“Nah, ini dia! Kamu mau menamparku dengan setumpuk uang itu, kan?!” seruku waspada.

​“Eh? Nggak mungkinlah aku melakukan itu!” jawab Laras kaget sambil menarik tangannya kembali.

​“Kamu bisa menjamin kalau kamu nggak akan menyuapku?” tanyaku serius.

​“Iya, aku janji nggak akan melakukan hal seperti itu!” jawab Laras sambil mengangguk cepat.

​“...Ya sudah kalau begitu. Dan tolong, jangan terlalu dekat. Aku masih nggak nyaman kalau ada cewek selain Rina yang mendekatiku,” kataku sambil mundur satu langkah.

​“I-iya... bisa bicara begini saja sudah lebih dari cukup. Ah—itu Kakakmu sedang mengintip di belakang ya?” Laras menunjuk ke arah belakangku.

​“Apa?” Aku menoleh.

​Benar saja, Rina sedang bersembunyi di balik bayangan, menguping pembicaraan kami. Saat matanya bertemu denganku, dia langsung bersiul sok polos seolah baru saja lewat.

​“Jangan mengintip, dasar mesum!” bentakku sambil menunjuknya.

​Rina terlonjak kaget dan langsung lari terbirit-birit kembali ke kamarnya.

​“Hehehe,” Laras tertawa kecil.

​Dulu, suara bel pintu saja sudah membuatku cemas setengah mati. Tapi melihat situasi sekarang, aku sadar bahwa kedatangannya hari ini adalah hal yang baik. Akhirnya, aku bisa tertawa lagi.

1
Awanbulan
bintang 5
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!