NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Di ruang keluarga yang hangat, cahaya matahari sore menyelinap masuk memberikan nuansa tenang. Vania, duduk di sofa empuk, kaki terlipat rapi sambil menatap ponsel di tangannya . Di sampingnya, Laras asyik dengan majalah mode terbaru, sesekali tertawa kecil membaca artikel ringan. Di pojok lain, Rika tengah sibuk melipat tumpukan pakaian yang wangi, hasil cucian pagi itu.

Tiba-tiba, Vania menghela napas panjang, matanya menerawang jauh. "Aku sedang berpikir, apa aku melanjutkan studi di universitas aja ya?" gumamnya, lebih kepada diri sendiri. Laras dan Rika menoleh, kejutan terpancar dari wajah mereka.

"Serius, mbak? Tapi kan jadwalmu itu loh, apa gak repot nantinya?" sahut Laras, khawatir. Wajahnya menunjukkan rasa cemas, takut jika Vania tidak dapat mengatur waktu dan akhirnya kelelahan.

Rika yang masih memegang tumpukan pakaian, berdiri mendekati Vania, "Iya, Van. Kami hanya khawatir kamu akan terlalu lelah. Kesehatanmu juga penting," ucapnya lembut, matanya penuh kekhawatiran.

Vania mengangguk perlahan, menghargai kepedulian kedua asistennya itu. "Aku mengerti, kalian khawatir, dan aku sangat menghargai itu. Tapi, ini juga penting untuk masa depanku. Aku akan coba susun jadwal yang lebih teratur, dan pastikan semuanya seimbang, lagi pula jadwalku sekarang gak terlalu padat" jelasnya, mencoba menenangkan kedua hati yang sedang resah di hadapannya.

Suasana ruang keluarga itu kembali hening, hanya suara halaman majalah yang sesekali dibalik oleh Laras dan desah napas Rika yang terdengar. "Ya itu sih terserah kamu aja,Van. Asalkan kamu bisa membagi waktu dan menjaga kesehatan kamu."

Vania mengangguk, kemudian dia kembali fokus pada ponselnya. Tiba-tiba ia menoleh begitu mendengar suara sering telepon berbunyi.

"Sebentar ya, mbak ada telepon." Uajar Laras kemudian beranjak ke tempat lain.

Tak lama kemudian, Laras kembali sambil menggaruk rambutnya. Terlihat wajahnya seperti sedang kebingungan. Vania yang melihat ekspresi salah satu asistennya itu berkata."kamu kenapa? Kok kelihatannya kayak yang lagi bingung gitu?"

Laras menoleh kepada Vania."Aku emang lagi bingung, mbak." Ujarnya seraya duduk kembali di samping Vania.

"Bingung kenapa?" Vania mengubah posisinya, ia duduk tegak dan tubuhnya sedikit condong mengarah ke arah Laras.

Laras menarik nafas panjang. "Anu mbak, ayahku barusan nelepon. Beliau ngabarin aku kalau ibuku lagi sakit di kampung. Jadi aku diminta oleh ayahku untuk pulang . Sebisa mungkin besok aku harus berangkat dari sini. Aku sudah pesan tiketnya dan kemungkinan besok aku juga berangkat ke sana. Gimana mbak, aku boleh kan izin buat pulang kampung?"

"Pulang aja toh, orang tuamu lebih penting. Ayah pasti berharap kamu pulang. Kalau sudah sampai sana jaga baik-baik mereka ya, mumpung orang tuamu masih ada."

Wajah Laras terlihat berbinar." Beneran mbak?"

Vania mengangguk.

Tapi sedetik kemudian wajah Laras kembali berubah."Tapi aku nggak tahu akan balik lagi ke sini kapan. Soalnya aku nggak bisa memprediksi kesembuhan ibuku, terus kerjaanku di sini gimana?"

"Kamu gak perlu khawatir. Ada aku sama mbak Laras, nanti kalau butuh bantuan masih ada Bu Isni kok. Udah sekarang kamu fokus aja sama kesembuhan ibu kamu, semoga cepat sembuh ya. Ini ada sedikit rezeki buat kamu dan orang tua kamu di kampung."

"Terima kasih banyak, mbak. Kalau ibuku sudah sembuh aku pasti balik lagi ke sini," Laras terharu lantas memeluk Vania.

Vania tiba-tiba teringat akan kedua orangtuanya." Aku jadi kangen sama papah dan mamah."

Melihat suasana yang tiba-tiba menjadi sedih, Rika mendekat dan ikut memeluk Vania dan Laras. Hubungan ketiganya bukan hanya sekedar asisten dan atasan, melainkan sudah seperti sahabat. Bertahun-tahun mereka bekerja sama tentu saja akan membuat hubungan mereka sedekat itu.

"Udah ah, jangan sedih-sedih kayak gini. Kita bantu Laras buat beresin barang aja," ujar Vania sembari menyeka air matanya yang hampir menetes.

Baru saja akan beranjak, ponsel Vania berdering menandakan ada telepon masuk dari managernya. Vania mengatur napasnya kemudian ia menerima panggilan itu.

"Halo mbak, ada apa?"

"Kamu sudah tidur? Aku ganggu kamu gak?" Tanya managernya.

"Belum mbak, aku lagi santai aja. Ada apa ya mbak?"

"Aku mau menyampaikan sesuatu. Ini kesempatan emas buat kamu, aku saranin kamu jangan sampai melewatkan hal ini. Tadi ada brand fashion Erisco meminta kamu buat jadi model mereka," jelas managernya.

Vania terperanjat seolah tidak percaya jika dia dipilih sebagai model untuk brand ternama." Brand Erisco? Mbak serius? Itu brand terkenal loh, mbak."

" Akus serius Vania, kesempatan ini gak datang dua kali loh. Nanti aku kirim salinan email-nya ke kamu supaya kamu percaya. Tim management ikut senang loh karena kamu bisa mewakili management kita untuk jadi model brand terkenal."

"Aku masih gak percaya, mbak. Kira-kira acaranya kapan ya?"

"Acaranya tiga hari lagi, jadi kamu harus persiapkan semuanya. Tempatnya di perusahaan mereka, nanti aku kirim alamatnya."

"Iya mbak, terimakasih."

"Sama-sama Vania, kalau bisa kamu jaga pola makan dan kesehatan kamu. Supaya badan dan kulit kamu terjaga dengan baik sebelum acara nanti."

"Iya mbak."

"Yasudah aku tutup teleponnya ya, selamat malam."

Vania memutuskan sambungan teleponnya dengan managernya. Ia menutup mulutnya tidak percaya karena ia terpilih menjadi model dari brand ternama. Saking bahagianya, ia menghampiri kedua asistennya dan mengguncang bahu mereka kemudian melompat-lompat.

"Ada kabar baik untuk kita, Mbak?" tanya Laras dengan mata berbinar penasaran.

Vania memberi anggukan penuh semangat, "Kalian nggak akan percaya! Aku baru saja dipilih sebagai model brand Erisco!"

Mata Laras membesar, penuh kekaguman. "Erisco? Serius, Mbak? Itu kan brand yang super top!"

Vania tersenyum lebar, "Serius, aku sendiri masih terkejut dan berdebar! Bayangkan, aku yang dipilih mewakili management dalam brand sebesar itu."

Rika yang selama ini mendengarkan dengan antusias, menyahut penuh kegirangan, "Wow,  Vania! Menjadi model untuk Erisco itu luar biasa! Aku yakin ini akan membuka banyak pintu dan peluang baru untukmu. Selamat ya, semoga kariermu makin melesat!"

Vania merasakan kehangatan mendalam, terharu dengan dukungan kedua asistennya. "Iya, ini benar-benar mimpi yang jadi kenyataan. Menjadi bagian dari brand besar seperti Erisco, aku benar-benar tak bisa menahan rasa bahagiaku. Semoga ini adalah awal dari sesuatu yang spektakuler." Kegirangan dan harapan bersinar di wajah mereka, menyaksikan langkah baru yang akan dilalui Vania. Perjalanan karier Vania sebagai influencer kini benar-benar dimulai dengan sorotan yang gemilang.

Vania tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Matanya berkaca-kaca sambil membayangkan menjadi model dan berjalan di panggung fashion show nantinya. Perjalanannya menjadi influencer kecantikan tidak sia-sia dan membuahkan hasil yang tidak terduga. Ia menjadi semangat untuk kembali fokus pada masa depan karirnya.

" Tapi maaf aku gak bisa nemenin mbak ke sana," kata Laras.

Vania merangkul Laras." Nggak apa-apa, Ras. Doa dan dukungan dari kamu untuk aku saja sudah cukup. Kalau kamu mau lihat, bisa lihat aku di sosial media. Nanti aku akan minta tolong sama Mbak Rika buat dokumentasikan kegiatan aku di sana. Untuk sekarang kamu fokus aja sama pengobatan ibumu."

Laras mengangguk."Aku senang deh akhirnya Mbak Vania makin terkenal, aku yakin pasti para fans juga ikut senang dan mendukung mbak Vania."

1
Wayan Suryani
sombong smg kamu ilcehjan lzgi
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!