NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: LANGKAH SANG PERWIRA DI TANAH SIMLA

BAB 16: LANGKAH SANG PERWIRA DI TANAH SIMLA

Udara pegunungan Simla pagi itu terasa lebih menggigit dari biasanya, seolah alam sendiri sedang memberi peringatan akan datangnya badai emosi yang tak terelakkan. Di stasiun kereta api, uap putih mengepul dari cerobong lokomotif yang baru saja berhenti. Pintu gerbong kelas utama terbuka, dan dari sana muncul seorang pria dengan wibawa yang sanggup membungkam kebisingan sekitarnya.

Rayhan turun dengan langkah yang sangat terukur. Ia mengenakan jaket kulit cokelat tua di atas kemeja yang rapi, kacamata hitamnya menutupi sorot mata tajam seorang perwira. Di belakangnya, beberapa ajudan militer berpakaian preman membawa koper-koper kulit berkualitas tinggi. Rayhan tidak terlihat seperti pria yang sedang menuju pesta pertunangannya; ia lebih terlihat seperti seorang komandan yang sedang menuju medan perang.

"Mayor, mobil dari Tuan Hendra sudah menunggu di depan," lapor salah satu ajudannya.

Rayhan hanya mengangguk pelan. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap puncak-puncak gunung yang tertutup kabut. "Simla... jadi di sinilah gadis itu tinggal," gumamnya dalam hati. Ada rasa hambar di lidahnya. Baginya, pernikahan ini hanyalah perintah atasan—dan dalam hidupnya, ibunya, Suman, adalah atasan tertingginya.

Di saat yang bersamaan, di jalan menanjak menuju pasar, Arlan sedang berjuang dengan motor tuanya yang sarat muatan susu. Napasnya terengah, keringat mengucur di pelipisnya meski udara dingin. Baginya, setiap tetes susu yang terjual adalah tabungan untuk masa depannya bersama Vanya.

Arlan berhenti di pinggir jalan saat sebuah iring-iringan mobil mewah melintas dengan kecepatan sedang. Mobil paling depan adalah SUV hitam mengkilap dengan bendera kecil di depannya. Saat mobil itu melewati Arlan, kaca jendela belakang terbuka sedikit.

Rayhan menoleh ke arah jendela, dan pada detik itulah mata mereka bertemu.

Arlan melihat seorang pria yang tampak sangat berkuasa, bersih, dan tak tersentuh. Sementara Rayhan melihat seorang pemuda jalanan yang berantakan, namun memiliki binar mata yang sangat keras kepala dan penuh harga diri. Ada sebuah getaran aneh yang merayap di tulang belakang Rayhan—sebuah perasaan familiar yang sangat kuat namun tidak masuk akal.

"Berhenti sejenak," perintah Rayhan tiba-tiba.

Mobil berhenti. Rayhan menatap Arlan dari balik kaca. "Siapa pemuda di pinggir jalan itu?" tanya Rayhan kepada sopir kiriman Hendra.

"Oh, itu hanya Arlan, Mayor. Dia anak dari Sujati, pengantar susu lokal. Dia sering membuat masalah dengan mengganggu putri Tuan Hendra. Anda tidak perlu mempedulikannya," jawab sopir itu dengan nada menghina.

Rayhan terdiam. Ia menatap Arlan sekali lagi sebelum memerintahkan mobil untuk jalan kembali. "Namanya Arlan..." bisik Rayhan. Nama itu terasa seperti gema dari masa lalu yang tidak pernah ia alami.

Di kediaman Kashyap, Vanya sedang berada dalam kurungan yang menyiksa. Ia berdiri di depan cermin besar, sementara beberapa pelayan sedang memasangkan kain sari mewah berwarna emas dan merah. Wajah Vanya tampak pucat, matanya sembab. Di sudut ruangan, Hendra berdiri dengan tangan bersedekap, menatap putrinya seperti seorang pedagang yang sedang memeriksa barang dagangannya.

"Tersenyumlah, Vanya," perintah Hendra dengan suara rendah yang mengancam. "Pria yang datang hari ini adalah seorang Mayor. Dia tampan, kaya, dan memiliki kehormatan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh pengantar susu sialan itu padamu."

"Kehormatan?" Vanya berbalik, menatap ayahnya dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan. "Kau menyebut ini kehormatan? Menjual putrimu sendiri kepada orang asing hanya karena kau malu dengan Arlan? Ayah, Rayhan mungkin seorang pahlawan di perbatasan, tapi jika dia mengambilku darimu, dia hanyalah seorang pencuri bagi Arlan."

PLAK!

Hendra menampar pipi Vanya dengan keras. "Jaga bicaramu! Hari ini, di depan Nyonya Suman dan Rayhan, kau akan menjadi putri yang paling berbakti di dunia. Jika kau meneteskan satu tetes air mata atau menyebut nama Arlan, aku bersumpah... aku akan mengirim orang untuk memastikan Arlan tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidupnya."

Vanya memegang pipinya yang panas. Air mata menggenang, namun ia menelannya kembali. "Kau bisa mengikat tanganku, Ayah. Kau bisa memakaikan cincin di jariku. Tapi kau tidak akan pernah bisa memberikan hatiku pada pria itu."

Jamuan makan siang dimulai. Ruang tamu Hendra didekorasi dengan sangat megah. Suman duduk di kursi utama, tampak sangat puas. Ketika Rayhan masuk ke ruangan, suasana menjadi sangat formal. Hendra membungkuk dengan sangat hormat, seolah-olah seorang pelayan menyambut rajanya.

"Selamat datang, Mayor Rayhan! Sebuah kehormatan besar bagi rumah sederhana ini untuk menerima kedatanganmu," ucap Hendra dengan tawa lebar yang dibuat-buat.

Rayhan menjabat tangan Hendra dengan sopan namun formal. "Terima kasih atas sambutannya, Tuan Hendra. Ibu sudah banyak bercerita tentang Anda."

"Mana Vanya? Gani, panggil adikmu sekarang!" perintah Hendra.

Vanya muncul dari balik tirai. Ia berjalan dengan kepala tertunduk. Saat ia berdiri di hadapan Rayhan, Suman berdiri dan menarik tangan Vanya. "Rayhan, lihatlah. Inilah Vanya. Bukankah dia secantik yang Ibu ceritakan?"

Rayhan menatap Vanya. Ia tertegun. Ia telah melihat banyak wanita cantik di pesta-pesta militer di Delhi, namun Vanya memiliki kecantikan yang murni, namun sangat rapuh. Rayhan menyadari ada sesuatu yang salah. Ia melihat mata Vanya yang merah dan tangan yang gemetar.

"Senang bertemu denganmu, Nona Vanya," ucap Rayhan lembut.

Vanya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Rayhan mengerutkan kening. Ia merasa ada tembok besar yang dibangun gadis ini di sekelilingnya.

Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar suara motor yang menderu keras. Suara itu berhenti tepat di depan gerbang, diikuti oleh suara keributan para penjaga.

"Tuan! Anda tidak boleh masuk! Tuan Hendra sedang ada tamu penting!" teriak salah satu penjaga.

"Minggir! Aku punya susu segar untuk Mayor dari Delhi!" suara itu menggelegar, sangat akrab di telinga Vanya.

Hendra memucat. Suman menoleh dengan heran. Rayhan berdiri, menatap ke arah pintu masuk. Arlan muncul di sana, membawa dua kaleng susu besar di bahunya. Pakaiannya kotor, namun dagunya terangkat tinggi. Ia masuk ke tengah ruangan yang mewah itu tanpa rasa takut.

"Arlan! Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak Hendra sambil gemetar karena amarah.

Arlan menatap Rayhan. "Aku mendengar ada tamu agung dari Delhi yang datang untuk membeli 'kebahagiaan' di rumah ini. Aku datang untuk memastikan susunya segar, karena di rumah ini, semuanya penuh dengan basi dan kebohongan."

Arlan berjalan mendekati meja makan, meletakkan kaleng susunya dengan suara dentuman keras di atas lantai marmer yang bersih. Ia kemudian menatap Vanya, memberikan tatapan yang seolah berkata: Aku di sini, jangan takut.

Rayhan melangkah maju, berdiri di depan Arlan. "Jadi, kau adalah pemuda yang tadi kulihat di jalan. Arlan, bukan?"

"Benar, Mayor," jawab Arlan dengan senyum menantang. "Dan kau pasti Rayhan. Pria yang katanya ahli strategi di medan perang. Tapi katakan padaku, Mayor, apakah strategimu juga termasuk menikahi wanita yang dipaksa ayahnya sendiri untuk tersenyum padamu?"

Suasana menjadi sangat panas. Suman berdiri dengan wajah angkuh. "Hendra, siapa pemuda kurang ajar ini? Kenapa dia dibiarkan masuk dan menghina keluarga kami?"

"Dia hanya orang gila, Nyonya! Penjaga! Seret dia keluar!" teriak Hendra.

Namun Rayhan mengangkat tangannya, menghentikan para penjaga. "Tunggu. Biarkan dia bicara." Rayhan menatap Arlan dengan saksama. "Kau punya keberanian yang besar, Arlan. Tidak banyak orang yang berani berdiri di depanku dan bicara seperti itu. Tapi kau harus tahu, aku di sini karena sebuah komitmen keluarga."

"Komitmen?" Arlan tertawa sinis. "Komitmen itu dibangun di atas cinta, Mayor. Bukan di atas ancaman. Tanyakan pada istrimu—maksudku, calon istrimu ini—siapa pria yang dia temui setiap malam di bukit Simla. Tanyakan padanya, siapa nama yang dia sebut dalam setiap doanya."

Vanya menatap Arlan dengan ketakutan luar biasa. "Arlan, kumohon... pergilah," bisik Vanya dengan bibir gemetar. Ia tahu jika Arlan terus bicara, ayahnya akan benar-benar membunuh Arlan.

Arlan menatap Vanya dengan pedih. "Kau memintaku pergi, Vanya? Setelah semua yang kita lalui?"

"PERGI, ARLAN!" teriak Vanya dengan air mata yang akhirnya pecah. "Aku akan menikah dengan Rayhan! Aku mencintainya! Dia adalah seorang Mayor, dan kau... kau hanyalah pengantar susu! Pergilah dari hidupku!"

Kata-kata itu seperti belati yang menusuk jantung Arlan. Ia terhuyung mundur. Ia tahu Vanya berbohong demi melindunginya, namun mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Vanya di depan Rayhan dan Suman adalah penghancuran total bagi harga dirinya.

Rayhan menatap Vanya, lalu menatap Arlan. Sebagai pria yang cerdas, ia tahu ada drama besar di sini. Ia melihat pengorbanan di mata Vanya dan rasa sakit di mata Arlan.

"Kau dengar itu, Arlan?" ucap Rayhan dengan nada yang kini terdengar dingin. "Nona Vanya sudah menentukan pilihannya. Sekarang, silakan keluar dari rumah ini sebelum aku menggunakan otoritas militerku untuk mengusirmu."

Arlan menatap Rayhan dengan dendam yang membara. "Kau menang hari ini, Mayor. Kau menang karena kau memiliki seragam itu. Tapi ingat satu hal... darah lebih kental daripada air, dan suatu hari nanti, kebenaran akan menyeretmu turun dari takhtamu."

Arlan berbalik dan berjalan keluar dengan langkah berat. Di dalam ruangan, Vanya jatuh terduduk sambil terisak, sementara Hendra mencoba tertawa untuk mencairkan suasana. Rayhan tetap berdiri mematung, menatap pintu tempat Arlan keluar. Ia merasakan sebuah ikatan yang sangat aneh dengan pemuda itu—sebuah perasaan yang belum bisa ia jelaskan, namun ia tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Suman mendekati Rayhan, memegang bahunya. "Jangan dipikirkan, Sayang. Dia hanya sampah desa. Mari kita lanjutkan pembicaraan pertunangan kita."

Rayhan hanya mengangguk, namun pikirannya melayang pada mata Arlan. Di dalam kepalanya, ia bertanya-tanya: Siapa sebenarnya pemuda itu? Dan kenapa hatiku terasa sangat sakit melihatnya pergi?

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!