"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Konferensi Pers (The Show Time)
"Tolong mundur! Beri jalan! Jangan mendesak!"
Suara teriakan kepala keamanan tenggelam di antara riuh rendah ratusan wartawan yang memadati Grand Ballroom Hotel Ritz Grey.
Kilatan lampu blitz menyambar-nyambar gila-gilaan, mengubah ruangan megah itu menjadi lautan cahaya putih yang membutakan mata. Udara terasa panas dan sesak, penuh dengan bau keringat dan ambisi para pencari berita.
Di tengah kekacauan itu, Cayvion Alger melangkah masuk ke atas panggung dengan ketenangan seorang raja yang sedang menginspeksi rakyatnya.
Dia terlihat sempurna. Terlalu sempurna. Jas Armani hitam custom-made seharga ratusan juta membalut tubuh tingginya, tidak ada satupun lipatan yang salah. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mempertegas rahang tegasnya yang kini dipasang dalam mode 'Ayah Berwibawa'.
Cayvion berhenti di tengah panggung, lalu menoleh ke belakang, mengulurkan tangan.
Hara muncul dari balik tirai beludru merah.
Napas Cayvion tercekat. Selama dua detik penuh, dunia seolah berhenti berputar baginya.
Wanita itu... apakah itu benar asistennya yang biasanya cuma pakai kemeja membosankan dan kacamata tebal? Hara malam ini terlihat memukau. Gaun midi warna champagne yang elegan membalut tubuh rampingnya, rambutnya digerai bergelombang, dan riasan wajahnya flawless, menyembunyikan mata pandanya akibat begadang semalaman mengurus Elia.
"Pak? Tangan Bapak nganggur tuh," bisik Hara pelan, menyadarkan Cayvion yang masih bengong dengan tangan terulur di udara. "Jangan melotot begitu. Saya tahu saya cantik."
Cayvion mengerjap, buru-buru menguasai diri. Dia menyambar tangan Hara, menggenggamnya erat—mungkin sedikit terlalu erat untuk menutupi kegugupannya. "Jangan geer. Make-up artist sewaan saya yang hebat, bukan kamu."
Mereka duduk di kursi narasumber. Di pangkuan Cayvion, duduk Elio yang tampak gagah (dan tersiksa) dengan dasi kupu-kupunya. Di pangkuan Hara, ada Elia yang terlihat manis dengan gaun rendanya, meski wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya.
"Pak Cayvion! Pak Cayvion!"
Seorang wartawan wanita dengan kacamata merah langsung menyerobot, menodongkan mik. "Rumor beredar bahwa pernikahan ini hanya settingan untuk menyelamatkan saham Alger Corp! Apa benar anak-anak ini hanyalah anak adopsi yang Bapak sewa untuk pencitraan family man?"
Suasana menegang. Tim PR di belakang panggung menahan napas.
Cayvion mendekatkan mik ke bibirnya. Dia tidak marah. Dia justru tersenyum tipis—senyum yang dilatihnya semalaman di depan cermin.
"Pencitraan?" Cayvion terkekeh pelan, suara baritonnya menggema lewat speaker, membuat beberapa wartawan wanita merinding. "Logika yang menarik. Tapi coba kalian lihat baik-baik."
Cayvion menunduk, menatap Elio yang duduk tenang di pangkuannya. "Elio, lihat ke depan."
Elio mengangkat wajahnya. Bocah empat tahun itu menatap lurus ke arah lensa kamera wartawan wanita tadi. Tatapannya dingin, datar, dan menusuk. Alisnya menukik tajam, bibirnya membentuk garis lurus yang angkuh. Dia tidak takut pada kilatan kamera, dia justru terlihat bosan dan menghakimi.
Itu adalah tatapan yang sama persis dengan yang biasa Cayvion berikan saat memecat karyawan tidak kompeten.
"Wow..." gumam wartawan itu, menurunkan kameranya sedikit. "Valid. Itu fotokopian Bapak. Nggak mungkin adopsi."
"DNA tidak bisa bohong," tambah Cayvion santai, mengusap kepala Elio (Elio langsung merapikan rambutnya lagi karena tidak suka berantakan). "Mereka darah daging saya. Saya menyembunyikan mereka selama ini demi privasi. Tapi karena kalian sudah terlanjur tahu, ya sudah. Inilah keluarga kecil saya."
Tepuk tangan riuh terdengar. Saham Alger Corp di layar bursa efek pasti sedang merangkak naik detik ini juga.
Namun, di kursi sebelah, situasi tidak seindah itu.
Hara merasakan tubuh Elia di pangkuannya makin panas. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di pelipis anak itu. Elia gelisah, kakinya menendang-nendang pelan.
"Mami... silau..." rengek Elia lirih, membenamkan wajahnya ke dada Hara. "Lampunya goyang-goyang..."
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi selesai," bisik Hara cemas. Dia meraba kening Elia. Panasnya naik lagi. Efek obat penurun panas tadi pagi sepertinya sudah habis, ditambah stres karena keramaian dan sorot lampu yang panas.
"Pak," Hara menyenggol lengan Cayvion dengan sikunya. "Sudahi acaranya. Elia nggak kuat."
Cayvion menoleh, melihat wajah putrinya yang pucat pasi. Tapi moderator acara baru saja menunjuk wartawan lain untuk bertanya. Dia tidak bisa kabur begitu saja.
"Tahan lima menit lagi," desis Cayvion tanpa mematikan miknya, lalu buru-buru tersenyum lagi ke audiens. "Ya, pertanyaan selanjutnya?"
Elia tidak tahan lagi di pangkuan Hara. Di posisi Hara, sorot lampu spotlight jatuh tepat di wajahnya. Panas. Sementara di posisi Cayvion, ada hembusan angin sejuk dari standing AC besar yang berdiri tepat di samping podium.
"Mau Papa..." rengek Elia, tangannya terulur ke arah Cayvion. "Mau sama Papa..."
Para wartawan yang melihat itu langsung heboh. "Aww! Lihat itu! Putrinya manja sekali sama Papanya! Manis banget!"
Cayvion mau tidak mau harus menyambut uluran tangan itu demi citra ayah idaman. Dia menyerahkan Elio ke pengasuh yang siaga di samping panggung, lalu mengambil alih Elia dari pangkuan Hara.
"Sini, Tuan Putri Papa," kata Cayvion, mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di pangkuannya, di atas jas Armani mahalnya.
Posisi itu memang lebih sejuk kena AC, tapi guncangan saat pindah posisi membuat perut Elia yang sedang masuk angin bergejolak hebat.
Cayvion tersenyum lebar ke arah kamera, satu tangan melingkar protektif di perut Elia, tangan lain memegang mik. Dia terlihat seperti sampul majalah edisi Ayah Tahun Ini. Sempurna.
Elia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Cayvion. Napasnya pendek-pendek.
"Papa..." bisik Elia tepat di telinga Cayvion.
Cayvion menoleh sedikit, masih mempertahankan senyum maskulinnya. "Ya, Sayang?"
Wajah Elia sudah sehijau lumut. Bibirnya gemetar.
"Papa... Elia mual..."
Senyum di wajah Cayvion retak sedikit. Matanya membelalak. Dia tahu arti nada bicara itu. Dia pernah mendengarnya kemarin di mobil. Itu adalah kode siaga satu.
"Tahan," bisik Cayvion panik, suaranya tercekat. Dia mencoba menjauhkan tubuh Elia sedikit dari jasnya, tapi kamera terus menyorot. Dia tidak bisa terlihat jijik pada anaknya sendiri. "Jangan sekarang, Elia. Telen lagi. Telen!"
"Nggak bisa... uwek..."
Pipi Elia menggembung.
Dan Cayvion tahu, jas Armani seharga tiga ratus juta rupiah itu akan segera menjadi kenangan.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri