NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20: gerhana di lapangan upacara

Senin pagi di SMA Gwangyang seharusnya menjadi rutinitas yang membosankan. Ratusan siswa berdiri berbaris di lapangan upacara di bawah terik matahari yang mulai menyengat. Kepala sekolah sedang memberikan pidato panjang tentang kedisiplinan, sementara para guru berkeliling memeriksa kerapian seragam. Arkan berdiri di barisan paling belakang kelas 1-A, kepalanya menunduk, matanya tersembunyi di balik lensa kacamata yang memantulkan bayangan aspal.

Namun, di balik ketenangan itu, sistem syaraf Arkan sedang berdenyut kencang. Melalui jaringan *Blood-Link*, ia merasakan getaran yang sangat masif dari kedalaman tiga ratus meter di bawah kaki mereka.

'Julian, lapor!' perintah Arkan secara telepatis.

'Ayah, ini buruk. Sangat buruk,' suara Julian terdengar pecah karena interferensi mana yang luar biasa. 'Monster Abyss tingkat SSS yang kita pantau semalam... dia tidak merayap. Dia melakukan teleportasi ruang-massa tepat ke koordinat sekolah ini. Namanya "Abyss Heart-Eater". Dia mengincar energi Sanguine yang Ayah lepaskan saat menghancurkan London!'

Arkan mengencangkan rahangnya. 'Berapa lama lagi?'

'Tiga... dua... satu... SEKARANG!'

BOOOOMMM!!!

Lapangan upacara SMA Gwangyang meledak. Bukan karena bom, melainkan karena tanah yang amblas sedalam sepuluh meter. Ratusan siswa berteriak histeris saat lubang hitam raksasa menganga di tengah lapangan. Dari dalam lubang itu, muncul tentakel-tentakel merah berduri yang besarnya melebihi gedung sekolah. Sebuah mata raksasa yang dikelilingi ribuan gigi tajam muncul dari kegelapan bawah tanah.

"MONSTER! TINGKAT SSS!" teriak salah satu guru Hunter yang langsung ambruk karena tekanan aura monster tersebut.

Alice Pendragon, yang berdiri tidak jauh dari Liora, segera mencabut pedang pendeknya. "Mundur, semuanya! Ini bukan monster biasa! Ini adalah bencana level kepunahan!"

Liora terjatuh di aspal yang retak, kakinya gemetar. Ia menatap monster itu, lalu mencari sosok Arkan di tengah debu yang beterbangan. "Arkan! Arkan, kau di mana?!"

Arkan berdiri di tepi retakan. Di sekelilingnya, kepanikan massal terjadi. Siswa-siswa berlarian, saling injak, dan menjerit. Para agen rahasia yang menyamar sebagai guru mencoba melakukan perlawanan, namun satu kibasan tentakel monster itu membuat mereka hancur menjadi bubur daging dalam seketika.

'Vanguard, Phantom, Plague, Seer! Muncul sekarang!' perintah Arkan dengan suara Sovereign yang menggelegar di frekuensi Blood-Link.

Seketika, empat kilatan cahaya merah menghantam lapangan sekolah. Bastian mendarat tepat di depan mulut monster, menahan tentakel raksasa itu dengan tangan kosongnya. Hana muncul di udara, memotong ribuan proyektil duri yang melesat ke arah siswa. Rehan menyebarkan kabut ungu untuk menetralisir gas beracun dari Abyss. Elara berdiri di atap gedung, memberikan navigasi tembakan.

"Lihat! Crimson Eclipse!" teriak para siswa yang masih hidup. "Mereka datang menyelamatkan kita!"

Namun, "Abyss Heart-Eater" itu terlalu kuat. Ia mengeluarkan gelombang kejut energi hitam yang mementalkan Bastian sejauh seratus meter menabrak gedung laboratorium. Hana terlempar ke udara, dan kabut Rehan tersapu bersih oleh raungan monster tersebut.

"Tuanku! Kami tidak bisa menahannya tanpa kekuatan penuh!" teriak Bastian melalui komunikasi darah.

Arkan menatap Liora. Gadis itu sedang terpojok oleh salah satu tentakel monster yang siap menghujamnya. Alice Pendragon mencoba membantu, namun ia sendiri sudah terluka parah di bahunya.

Sial, batin Arkan. Jika aku bergerak, identitasku selesai. Tapi jika aku diam, Liora mati.

Arkan melangkah maju. Ia melepas kacamatanya dan menjatuhkannya ke tanah. Krak. Kaca itu pecah, dan di saat yang sama, seluruh aura "murid lemah" Arkan menguap.

"Cukup," ucap Arkan.

Satu kata itu merambat seperti gelombang tsunami di seluruh lapangan. Seluruh monster, siswa, dan pahlawan Crimson Eclipse mendadak membeku. Arkan tidak lagi menunduk. Ia berdiri tegak, jubah Sanguine-nya muncul secara perlahan, membungkus tubuhnya dengan cahaya merah yang begitu agung hingga mengalahkan sinar matahari.

"Arkan...?" bisik Liora, matanya membelalak lebar melihat pemuda yang selama ini ia lindungi kini memancarkan aura dewa kematian.

Alice Pendragon tertegun, air mata jatuh di pipinya. "Jadi benar... kau adalah Sovereign. Kau adalah orang yang menghancurkan kakakku."

Arkan tidak mempedulikan mereka. Ia melayang ke udara, menuju tepat di depan mata raksasa monster Abyss tersebut.

"Kau datang ke tempatku belajar, mengganggu kedamaianku, dan mencoba menyentuh orang-orangku," suara Arkan bergema di seluruh Seoul, terdengar oleh jutaan pasang telinga. "Hari ini, kau akan belajar bahwa darah adalah milik sang Raja, bukan milik kegelapan."

Arkan merentangkan kedua tangannya. Seluruh darah yang tumpah dari para korban dan monster di lapangan itu mulai melayang. Cairan merah itu berkumpul di atas kepala Arkan, membentuk sebuah sabit raksasa yang panjangnya mencapai seratus meter.

"Sanguine Art: Final Judgment – Reaper’s Harvest!"

Arkan mengayunkan tangannya. Sabit darah itu menebas tubuh Abyss Heart-Eater dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh kamera atau mata Hunter mana pun.

SLAAAASH!!!!

Monster tingkat SSS itu terbelah menjadi dua. Tidak ada ledakan. Tubuhnya seketika berubah menjadi partikel merah dan terserap masuk ke dalam jubah Arkan. Langit yang tadinya gelap mendadak menjadi sangat cerah dengan semburat warna merah yang indah.

Arkan mendarat kembali di depan Liora. Jubahnya perlahan menghilang, namun aura keagungannya masih tersisa. Ia menatap Liora yang masih terduduk di tanah dengan wajah penuh ketakutan dan kekaguman.

"Arkan... kau... kau Crimson Sovereign?" tanya Liora dengan suara gemetar.

Arkan tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangannya, menyentuh dahi Liora dengan lembut. "Maafkan aku, Liora. Sepertinya kita tidak bisa belajar bersama lagi besok."

'Julian,' panggil Arkan.

'Ya, Ayah?'

'Fase persembunyian selesai. Aktifkan protokol pembersihan ingatan massal untuk seluruh kota Seoul, kecuali Liora dan Alice. Aku ingin dunia tahu Crimson Eclipse menang, tapi mereka harus tetap buta terhadap wajahku... setidaknya untuk sementara.'

'Melaksanakan, Sovereign!'

Cahaya merah menyilaukan meledak dari tubuh Arkan, menelan seluruh sekolah. Saat cahaya itu meredup, Arkan sudah menghilang bersama seluruh bawahannya.

Satu jam kemudian.

Seluruh siswa SMA Gwangyang terbangun di lapangan yang kini sudah rata kembali, seolah-olah ledakan tadi tidak pernah terjadi. Mereka ingat ada monster, mereka ingat Crimson Eclipse datang menyelamatkan mereka, namun mereka tidak ingat siapa yang mengalahkan monster itu di detik-detik terakhir. Memori mereka tentang Arkan yang melayang telah dihapus oleh Julian.

Kecuali Liora.

Liora berdiri di tengah lapangan, memegang sisa bingkai kacamata Arkan yang pecah. Ia menatap langit, air matanya mengalir. Ia tahu kebenarannya. Ia tahu siapa yang selama ini duduk di sampingnya.

Di sampingnya, Alice Pendragon berdiri dengan wajah yang hancur. "Dia membiarkan kita ingat, Liora. Dia ingin kita menjadi saksi atas kekuasaannya."

Di sebuah puncak gedung di pinggiran Seoul, Arkan berdiri menatap sekolahnya untuk terakhir kalinya. Di belakangnya, kelima bawahannya berlutut dengan hormat yang lebih dalam dari sebelumnya.

"Tuan, apa rencana selanjutnya?" tanya Bastian.

Arkan memakai jubah Sanguine-nya kembali secara permanen. Ia tidak akan pernah kembali ke sekolah itu sebagai murid. "Dunia sudah melihat taring kita. Sekarang, saatnya kita menjemput 'biji-biji' baru di benua lain. Crimson Eclipse tidak akan lagi bersembunyi. Kita akan membangun kekaisaran di atas reruntuhan Abyss."

Fase kedua berakhir. Sang Sovereign telah menampakkan dirinya, dan kini, tidak ada satu pun sudut di bumi yang aman dari tatapannya yang merah.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!