"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Arfan Menyamar
Pintu besi ruang IGD terbuka dengan bunyi yang memecah keheningan koridor. Seorang dokter paruh baya dengan stetoskop yang masih melingkar di lehernya keluar sambil melepas masker bedahnya. Wajahnya tampak serius, menyiratkan kelelahan sekaligus beban yang berat.
Seketika, Aura dan Bima bangkit dari duduknya secara bersamaan. Bahkan Arfan, yang sedari tadi hanya terdiam di kejauhan, ikut berdiri tegak dengan tangan yang terkepal kuat di samping tubuhnya.
"Dokter, gimana kondisi Bunda?" tanya Bima dengan suara parau, nyaris memburu.
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Bima dan Aura bergantian. "Keluarga Ibu Syakirah?"
"Iya, Dok. Saya anak pertamanya," jawab Bima cepat.
"Ibu Syakirah mengalami serangan jantung ringan akibat tekanan batin dan stres yang sangat berat. Sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya belakangan ini hingga fisiknya tidak kuat menahan beban itu lagi," jelas Dokter tersebut dengan nada tenang namun tegas.
Aura merasa dunianya seakan runtuh. Tekanan batin? Ia tahu betul apa penyebabnya.
"Lalu... sekarang gimana, Dok?" tanya Aura lirih, air matanya kembali menggenang.
"Saat ini kondisinya sudah sedikit stabil, tapi beliau masih belum sadarkan diri. Kami harus memindahkan Ibu Sarah ke ruang ICU untuk observasi lebih lanjut selama 24 jam ke depan. Beliau butuh ketenangan total. Jangan ada yang membuat beliau terkejut atau terbebani pikiran lagi, karena itu bisa sangat fatal."
Mendengar kata ICU dan fatal, tangis Aura kembali pecah. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya.
Bima hanya terpaku, wajahnya pucat pasi. Ia merasa sangat berdosa karena tadi lebih memilih menuruti egonya daripada berada di samping Bunda. Namun, di sudut koridor, Arfan mendengarkan penjelasan dokter itu dengan tatapan yang sangat kompleks. Ada rasa bersalah yang melintas di matanya, namun ada juga kilat tekad yang semakin gelap.
Arfan tahu, kondisi Bunda yang lemah adalah peluang sekaligus beban baginya. Jika ia benar-benar ingin Aura bahagia, ia harus pergi. Tapi melihat Aura yang sehancur itu, keinginan untuk melindungi dengan caranya sendiri justru kembali muncul.
"Terima kasih, Dok. Lakukan yang terbaik buat Bunda saya. Masalah biaya... saya akan usahakan," ucap Bima dengan suara bergetar.
"Soal administrasi dan biaya, sudah ada yang menyelesaikan di depan," sahut Dokter itu sambil melirik singkat ke arah Arfan sebelum kembali masuk ke dalam.
Bima membeku. Ia menoleh perlahan ke arah Arfan. Rasa terima kasih dan kemarahan berperang hebat di dalam dadanya. Sementara itu, Aura hanya bisa menatap pintu ICU yang tertutup, merasa bahwa mimpinya ke London kini benar-benar terasa sejauh bintang di langit.
Bima mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Penjelasan dokter soal biaya yang sudah lunas bukannya membuat Bima lega, justru malah menghantam harga dirinya sebagai anak laki-laki. Baginya, Arfan sedang mencoba membeli nyawa Bundanya.
Dengan langkah lebar dan napas yang memburu, Bima menghampiri Arfan yang masih berdiri mematung di sudut koridor.
"Brengsek lo!" geram Bima. Ia mencengkeram kerah kemeja Arfan dengan kasar, mengangkatnya hingga Arfan terpaksa berjinjit. "Siapa yang suruh lo bayar semuanya, hah?! Lo pikir keluarga gue semiskin itu sampai harus pakai uang haram lo?!"
Arfan tidak melawan. Ia hanya menatap Bima dengan tatapan kosong dan pasrah. "Gue cuma mau Bunda selamat, Kak. Nggak ada maksud lain."
"Bohong! Lo cuma mau pamer kan? Lo mau bikin Aura ngerasa berutang nyawa sama lo?!" Bima sudah menarik tangannya ke belakang, siap melayangkan pukulan keras ke wajah Arfan yang tampak tak punya daya itu.
"Kak Bima, jangan!" Aura berteriak, ia berlari dan langsung memeluk lengan Bima, menahan sekuat tenaga agar pukulan itu tidak mendarat. "Jangan di sini, Kak! Ini rumah sakit!"
"Lepasin, Ra! Dia harus dikasih pelajaran! Dia udah bikin Bunda stres sampai kayak gini!" Bima berteriak penuh emosi, suaranya menggema di sepanjang lorong sunyi.
"Bima! Cukup!" Aura menangis, mencoba menghalangi tubuh Arfan dengan badannya sendiri. "Jangan bikin keributan lagi, aku capek! Bunda butuh ketenangan, Kak!"
Tepat saat Bima hendak meronta, dua orang satpam rumah sakit datang dengan langkah cepat. "Mas! Tolong tenang! Ini rumah sakit, bukan tempat berkelahi!" tegur salah satu satpam dengan nada tegas, sambil memegang pundak Bima untuk menjauhkannya dari Arfan.
"Lepasin gue! Dia yang cari masalah!" Bima masih berusaha berontak, namun satpam itu menatapnya dengan sangat serius.
"Mas, kalau Mas masih bikin keributan, terpaksa kami minta Mas keluar dari area rumah sakit sekarang juga. Tolong hargai pasien lain yang sedang istirahat," ancam satpam tersebut.
Bima akhirnya melonggarkan cengkeramannya pada kemeja Arfan. Ia menghempaskan pria itu ke dinding dengan kasar. Napasnya masih tidak beraturan, matanya merah karena amarah dan air mata yang ia tahan.
Aura berdiri di antara mereka, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Bima dengan tatapan memohon, lalu melirik Arfan dengan tatapan dingin yang seolah meminta pria itu untuk segera pergi sebelum semuanya menjadi lebih buruk.
"Pergi, Kak Arfan," bisik Aura tanpa suara, namun gerakan bibirnya sangat jelas.
Arfan merapikan kemejanya yang kusut. Ia menatap Aura sekali lagi, tatapan penuh luka yang dalam lalu beralih menatap Bima yang masih dijaga oleh satpam. Tanpa sepatah kata pun, Arfan berbalik dan berjalan menjauh menyusuri koridor, meninggalkan Aura yang terduduk lemas di lantai dan Bima yang tertunduk menyesali ketidaksanggupannya.
Arfan berbalik, tapi dia tidak benar-benar meninggalkan rumah sakit. Rasa takut kehilangan Aura dan rasa bersalahnya pada Bunda justru memicu sisi gelapnya yang manipulatif. Dia tidak bisa membiarkan Aura sendirian, dia harus memastikan miliknya tetap berada dalam jangkauannya.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat pria dengan masker medis yang menutupi sebagian besar wajahnya dan topi bedah yang menekan rambutnya, berjalan tenang melewati pos satpam. Dengan seragam putih yang ia dapatkan entah dari mana, Arfan berhasil menyelinap kembali ke area ICU.
Dari balik kaca kecil pintu ICU, Arfan menatap Aura yang sedang duduk sendirian di bangku tunggu, sementara Bima sedang pergi mengurus sisa berkas.
Aura tidak menyadari bahwa perawat yang baru saja masuk ke ruangan Bunda adalah Arfan.
Arfan berdiri di samping ranjang Bunda. Suara mesin heart rate monitor yang berbunyi bip-bip teratur menjadi satu-satunya suara di sana. Ia menatap wajah pucat Bunda Sarah. Tangannya yang terbungkus sarung tangan medis gemetar saat ia merapikan selimut Bunda.
"Maafkan aku, Bunda," bisik Arfan di balik maskernya, suaranya sangat lirih hingga nyaris tak terdengar. "Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Aura pergi."
Ia mengambil papan catatan medis di ujung ranjang, berpura-pura memeriksa cairan infus, padahal matanya terus tertuju ke arah luar memperhatikan Aura yang tampak begitu rapuh. Di dalam kepalanya, Arfan mulai menyusun rencana baru. Jika dengan menjadi malaikat ia ditolak, maka ia akan menjadi bayangan yang tidak akan pernah bisa Aura usir.
Tiba-tiba, pintu ICU terbuka sedikit. Aura masuk dengan langkah ragu, ingin melihat kondisi Bundanya dari dekat. Arfan mematung, kepalanya tertunduk dalam, berpura-pura sibuk menyetel aliran infus.
"Suster... eh, Mas Perawat," panggil Aura pelan, suaranya serak karena habis menangis. "Gimana keadaan Bunda saya?"
Jantung Arfan berdegup kencang. Ia tidak berani bersuara, takut Aura mengenali intonasi suaranya. Ia hanya mengangguk pelan tanpa menoleh, lalu menunjuk ke arah monitor yang menunjukkan grafik stabil sebagai jawaban bisu.
Aura mendekat ke sisi ranjang yang lain. Ia menggenggam tangan Bunda yang dingin, tidak menyadari bahwa pria yang paling ia benci hanya berjarak satu meter darinya, sedang mengawasinya dengan tatapan yang sangat intens di balik masker.
"Bunda harus bangun," bisik Aura sambil terisak. "Aura janji nggak akan ke London kalau itu bikin Bunda stres. Aura bakal di sini aja jagain Bunda."
Mendengar janji Aura, mata Arfan berkilat di balik masker. Ada rasa puas yang mengerikan muncul di hatinya. Kondisi Bunda adalah pengikat terbaik untukmu, Ra, batinnya.
Bersambung......
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰