NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Cahaya Dimata Brian

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela koridor, seolah mendukung suasana hati Brian yang sedang cerah. Di kejauhan, ia melihat Bara berjalan menuju kelas dengan wajah yang sedikit pucat, namun Brian tidak terlalu memikirkannya. Ia hanya ingin memperbaiki keretakan yang sempat terjadi kemarin.

​"Bar!" panggilnya sambil mempercepat langkah.

​Bara menghentikan langkahnya, tubuhnya sedikit kaku. Ia menoleh perlahan, berusaha memasang wajah se datar mungkin. "Iya, Brian. Kenapa?"

​Brian menepuk bahu Bara dengan akrab, sebuah gestur persahabatan yang justru terasa menyengat bagi Bara. "Gue mau minta maaf ya soal kemarin, karena gue udah curiga Lo suka sama Aluna."

​Mendengar nama Aluna disebut, jantung Bara serasa berhenti berdetak sejenak. Ada rasa bersalah yang hebat menyerang dadanya, namun ia menelannya bulat-bulat. Ia harus tetap pada perannya.

​"Udah nggak apa-apa. Kita jangan bahas itu lagi ya," ucap Bara pendek, suaranya terdengar sedikit serak. Ia ingin percakapan ini segera berakhir sebelum pertahanannya runtuh.

​Brian tersenyum lebar, tampak sangat lega mendengar jawaban itu. "Oke, oke. Gue ngerti. Gue emang agak kacau kemarin."

​"Ya sudah, yuk masuk kelas," ajak Bara, mencoba mengalihkan situasi.

​Keduanya berjalan berdampingan memasuki ruang kelas. Brian melangkah dengan kepala tegak, merasa beban di pundaknya sudah hilang. Namun, suasana mendadak berubah dingin saat mereka melintasi meja Aluna.

​Aluna yang sejak tadi duduk diam, mendongak. Matanya bertemu dengan mata Bara untuk sepersekian detik—sebuah tatapan yang penuh dengan luka yang belum kering. Aluna kemudian melirik Brian yang tampak begitu santai, seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.

​Dengan gerakan cepat yang terlihat sangat dingin, Aluna langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia tidak menyapa, tidak tersenyum, bahkan tidak menganggap keberadaan mereka berdua. Bagi Aluna, keakraban Brian dan Bara saat ini hanyalah pengingat betapa ia dikhianati oleh kejujuran yang disembunyikan.

​Brian yang menyadari perubahan sikap Aluna hanya bisa terdiam bingung, sementara Bara terus berjalan menuju kursinya tanpa berani menoleh lagi. Cahaya di mata Brian mungkin kembali bersinar, tapi ia tidak sadar bahwa di kelas itu, ia sedang duduk di antara dua orang yang hatinya sudah saling asing.

Brian tidak bisa tenang melihat Aluna yang terus menatap ke luar jendela. Setelah meletakkan tasnya, ia segera mendekati meja Aluna. Di tangannya, ia menyembunyikan sesuatu di balik punggung. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mencairkan gunung es yang menyelimuti gadis itu.

"Luna," panggil Brian lembut.

Aluna menoleh perlahan. Matanya masih terlihat sedikit sembab, meski ia sudah berusaha menutupinya dengan bedak tipis. Ia menatap Brian tanpa ekspresi, yang membuat nyali Brian sedikit menciut.

"Hai... kamu masih marah ya?" Brian menatap Aluna dengan tatapan penuh cinta dan penyesalan yang tulus.

Aluna hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin bicara banyak, karena ia takut suaranya akan bergetar dan membongkar segalanya.

Brian kemudian mengeluarkan sebuah kotak cokelat dan setangkai bunga mawar merah yang masih segar dari balik punggungnya. Warnanya yang merah kontras dengan wajah Aluna yang pucat.

"Ini... aku tadi beli cokelat buat kamu. Dan bunga mawar yang cantik, sebanding sama kamu," ucap Brian sambil menyodorkannya. "Aku mau minta maaf soal kemarin, Lun. Aku tahu aku udah melukai hati kamu karena sikap kasar dan kecurigaan aku yang nggak jelas."

Aluna terdiam menatap mawar itu. Di sudut matanya, ia bisa merasakan kehadiran Bara yang duduk tak jauh dari mereka, yang pasti sedang menyaksikan adegan ini dengan hati yang tercabik. Aluna merasa terjepit, dan benci pada situasi ini, tapi ia juga tidak punya alasan untuk menolak Brian di depan semua orang.

Dengan tangan yang sedikit ragu, Aluna menerima cokelat dan bunga itu.

"Makasih, Brian," ucap Aluna lirih.

"Sama-sama, Aluna. Aku janji nggak akan kayak gitu lagi," balas Brian dengan senyum lebar yang sangat cerah. Ia merasa 'cahaya' itu benar-benar kembali. Ia merasa telah mendapatkan Aluna-nya lagi.

Brian kembali ke bangkunya dengan perasaan senang, tanpa menyadari bahwa Aluna menggenggam tangkai mawar itu begitu kuat hingga durinya hampir menusuk kulitnya.

Aluna menatap bunga itu dengan perasaan hampa. Baginya, bunga ini adalah pengingat bahwa Brian mencintai sebuah kebohongan, sementara cinta yang nyata baru saja dibunuh oleh Bara.

Dari kursinya, Bara hanya bisa menunduk dalam, menatap buku pelajarannya yang kosong. Dadanya terasa sesak melihat gadis yang ia cintai menerima bunga dari sahabatnya sendiri.

Pemandangan di depannya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk mata. Bara tidak sanggup lagi menyaksikan bagaimana Brian tersenyum puas setelah memberikan mawar itu, dan bagaimana Aluna terpaksa menerimanya dengan wajah hampa. Tanpa sepatah kata pun, Bara berdiri dengan kasar, membuat kursi kelasnya berderit nyaring. Ia melangkah keluar kelas dengan terburu-buru, mengabaikan tatapan heran dari Brian.

​Langkahnya baru berhenti di depan cermin toilet yang dingin. Bara menatap pantulan dirinya sendiri—wajah yang kuyu, mata yang memerah, dan tampak begitu menyedihkan.

​"Bar, ayo dong konsisten... Lo jangan kaya gini!" gerutunya pada bayangan di cermin. Suaranya bergetar hebat. Ia sedang menghujat dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi "pahlawan" yang ia rencanakan.

​Ia menyalakan keran dan membasuh mukanya dengan air berkali-kali secara kasar, berharap dinginnya air bisa memadamkan api cemburu dan rasa bersalah yang membakar dadanya. Namun, bayangan Aluna yang memegang mawar dari Brian justru semakin jelas di pikirannya.

​Brak!

​Dalam puncak frustrasinya, Bara menghantamkan kepalan tangannya ke tembok toilet yang keras. Tidak cukup sekali, ia melakukannya lagi hingga kulit di kuku-kuku jarinya robek dan darah segar mulai merembes keluar, menetes ke lantai keramik yang putih.

​"Aahhh......!"

​Bara berteriak sekencang-kencangnya, melampiaskan seluruh rasa kesal, amarah, dan benci pada dirinya sendiri. Teriakan itu menggema di ruangan yang sepi, membawa seluruh beban sesak yang selama ini ia pendam.

​Ia menyandarkan dahinya di tembok yang dingin, napasnya tersengal-sengal. Rasa perih di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di hatinya. Ia ingin marah pada Brian, tapi Brian tidak salah. Ia ingin marah pada Aluna, tapi Aluna adalah korbannya. Pada akhirnya, satu-satunya orang yang patut ia benci adalah dirinya sendiri.

​"Gue yang buat skenario ini, tapi kenapa gue yang nggak kuat..." bisiknya parau di tengah tetesan air yang masih mengalir dari keran.

​Bara membiarkan darah di tangannya terus mengalir, seolah rasa sakit fisik itu adalah hukuman yang pantas untuk seorang pengecut seperti dirinya.

Bersambung........

Jangan lupa like dan kasih rating lima ya kak 🙏 supaya aku bisa lebih semangat lagi 🙏😁 terimakasih

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!