Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghuni Ruang Tunggu
Ruang Tunggu tidak pernah benar-benar kosong. Kinan baru memahami itu setelah percobaan pertamanya—setelah energinya meredup, suaranya menipis, dan putih yang dulu terasa mutlak mulai memiliki bayangan. Ada nuansa kedalaman sesuatu yang hidup meski tak terlihat.
Perempuan itu membimbingnya berjalan—atau sesuatu yang menyerupai berjalan—melintasi ruang tanpa jarak. Mereka melewati jendela-jendela tak berbingkai terbuka ke dunia sana: mimpi-mimpi yang sedang berlangsung, jiwa-jiwa yang sedang bertarung kehilangan, seperti Raka, suaminya.
Lalu mereka tiba di tempat yang berbeda bukan lagi putih atau bukan hanya putih tapi
warna-warna samar—biru nyaris tak terlihat, ibarat langit cerah, kuning seperti ingatan matahari terbenam, merah muda selembut cinta belum sempat menjadi apa-apa.
“Di sini,” ucapnya lebih pelan dari biasanya. “Tempat kita berkumpul.”
Dan untuk pertama kalinya, Kinan benar-benar melihat mereka ada, jiwa-jiwa lain penghuni Ruang Tunggu, menunggu tanpa mampu melepaskan tidak hanya persoalan cinta tapi kehidupan dunia yang masih tersangkut belum selesai
---
Seorang perempuan muda duduk di sesuatu yang bisa disebut sudut. Cahayanya masih terang—terlalu terang—penuh kepedihan yang masih segar. Rambutnya panjang, mengalir seperti kenangan sungai mengalir, wajahnya cantik terlalu muda untuk pergi, tapi Tuhan tidak berkata tentang umur, jika sudah kehendakNya
“Dia baru tiga hari,” bisiknya “Menikah satu minggu yang lalu, kecelakaan di jalan tol. Suaminya koma. Dia menunggu suaminya bangun atau ikut dengannya.”
Kinan menatapnya lama.Ia seperti melihat dirinya sendiri tiga minggu yang lalu.
“Bisa kita bicara?” tanyanya pelan
“Hati-hati,” jawabnya. “Dia masih rapuh. Terlalu seperti kamu dulu.”
.“Boleh bicara dengan Mba ? Aku Kinan tiga minggu lalu di sini.”
Perempuan itu menoleh mtanya besar, cokelat, bengkak tanpa air mata.
“Sinta,” katanya lirih. “Aku menunggu Aldi, Suamiku. Dia harus bangun. Dia harus tahu aku di sini. Aku nggak bisa pergi sebelum dia tahu.”
Kalimat yang sama, alasan yang sama. Cinta yang sama.
“Dia tahu,” entah dari mana keyakinan itu muncul “Mereka selalu tahu di hati.”
Sinta menatapnya mencari kebenaran.“Aku nggak sempat bilang sayang,” bisiknya. “Kami baru menikah. Baru seminggu. Masih banyak rencana.”
Kinan merasakan sesuatu seperti jantung berdetak—meski ia tak punya lagi organ tubuh.“Aku juga,” katanya pelan. “Aku dan Raka punya rencana mempunyai kebun kecil, Anak yang lucu, tua bersama. Aku pergi sebelum bisa mengatakan selamat tinggal dengan benar.”
Ia mengangguk pelan.“Kamu juga nggak sempat?”
Kinan menggeleng pelan sunyi di antara jiwa pengertian di sana, dua jiwa yang saling mengenali retaknya. Dan Ia merasa sedikit lega masih banyak orang orang yang kehilangan menunggu.
---
Di kejauhan berdiri seorang pria tua. Cahayanya redup, hampir padam.
“Siapa dia?” tanya Kinan.
“Tuan Hadi, Empat puluh tahun menunggu istrinya.”
Empat puluh tahun.Angka itu menghantam Kinan lebih keras dari kematian.
“Dia masih ingat istrinya?”
“Tidak wajahnya, suaranya, hanya perasaan saja bahwa ia harus menunggu.”
Kinan menatap cahaya yang hampir habis itu.
“Apakah itu akan terjadi padaku?”
“Mungkin,” katanya akhirnya. “Jika kamu terlalu lama di sini. hanya tahu menunggu.”
---
Lalu Kinan melihat anak kecil itu. Usianya mungkin tujuh atau delapan. Cahayanya berkedip seperti lampu mainan. Wajahnya bulat, polos.
“Dia menunggu ibunya,” kata Hana pelan. “Ibunya meninggal saat melahirkannya pergi ke alam barzah tidak lagi di sini.”
Anak itu mendekat.“Kakak juga menunggu?” .
Kinan berlutut hingga sejajar dengannya.
" Kakak sedang menunggu suami," jawabnya lembut. “Namanya Raka. Dia masih hidup.”
“Aku sedang menunggu ibu. Tapi nenek bilang ibu sudah pergi jauh. Tapi aku tetap nunggu,” lanjutnya, “Siapa tahu ibu kembali sekali aja cukup.”
Kinan ingin memeluknya, ingin berjanji. Tapi di Ruang Tunggu, janji sering kali hanya memperpanjang penantian.
“Kakak doain ya,” bisik anak itu. “Biar aku bisa bilang sayang.”
Kinan hanya bisa mengangguk.
---
Mereka kembali ke tempat yang lebih sunyi.
“Kenapa?” tanya Kinan. “Kenapa cinta bisa menjadi penjara?”
“Karena cinta yang tak mau melepaskan berubah jadi rantai. Mengakhiri terasa seperti menghilangkan segalanya. Dan tidak ada lagi… itu yang paling ditakuti.”
Kinan melihat Sinta. Melihat Tuan Hadi. Melihat anak kecil itu. Ia melihat kemungkinan dirinya sendiri di masa depan.
Redup. Lupa. Tapi masih menunggu.
“Aku nggak mau menjadi begitu,” katanya tegas. “Aku mau Raka hidup, beneran hidup. seandainya aku pergi, pergi dengan tenang.”
“Kamu berbeda, kamu tidak hanya menunggu, tapi ingin membantu.”
Kinan tak sepenuhnya yakin. Tapi ia tahu satu hal: ia tak ingin menjadi bayangan yang lupa alasan mengapa ia mencintai.
“Ajarin aku lagi, bu” katanya. “Cara yang nggak bikin habis.”
“Baiklah. Kita mulai lagi.”
Di kejauhan, bayangan-bayangan tetap menunggu. Sinta dengan harapannya yang masih menyala. Tuan Hadi dengan cahaya yang hampir padam. Anak kecil dengan doa yang tak mungkin terjawab.
Ruang Tunggu tidak pernah kosong, tapi Kinan memilih sesuatu selain menunggu mencintai tanpa memenjarakan, berharap tanpa menggenggam terlalu erat.
Dan memilih percaya bahwa suatu hari nanti, melepaskan pun bisa menjadi bentuk cinta yang paling utuh.
mampir 🤭