NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN YANG TERLAMBAT.

Arumi menatap Ferdiansyah dengan mata yang berkaca-kaca setelah keputusan rapat disahkan. Ia mencium punggung tangan ayah mertuanya itu sebagai tanda hormat sekaligus pamit. Ferdiansyah menghela napas panjang, menatap menantunya dengan tatapan sendu yang seolah bisa membaca isi hati wanita di hadapannya.

"Berhati-hatilah di sana, Arum. Jika hatimu sudah merasa tenang, pulanglah nak. Papa tahu keberangkatanmu ini sebenarnya untuk menghindari Ariya, bukan?" tanya Ferdiansyah dengan suara lirih agar tidak terdengar staf lain.

Arumi tertegun. Tebakan sang mertua tepat sasaran, menghujam langsung ke titik terlemahnya. Ia tidak bisa menjawab, hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan genangan air mata. Ferdiansyah yang mengerti keadaan itu lantas mengelus lembut puncak kepala Arumi yang tertutup hijab.

"Ya sudah, pergilah dan jaga dirimu baik-baik. Papa akan selalu mendoakan keselamatanmu," ujar Ferdiansyah menenangkan.

Arumi segera bergegas menuju lobby rumah sakit. Ia tidak memiliki banyak waktu karena jadwal keberangkatan tim relawan sudah di depan mata. Ia harus pulang sebentar untuk mengambil pakaian dan peralatan medis pribadinya. Di depan pintu lobi, sebuah taksi daring sudah menunggunya. Begitu Arumi masuk dan mobil itu melaju meninggalkan area rumah sakit, sebuah sedan mewah masuk ke jalur lobby dari arah yang berlawanan.

Di dalam sedan itu, Ariya duduk dengan wajah kaku. Ia dibantu oleh supirnya untuk turun dan berpindah ke kursi roda. Begitu asistennya mendorong kursi roda itu memasuki lorong rumah sakit, Ariya meminta untuk langsung menuju ruangan Bisma. Ia tahu ini adalah jadwal pengecekannya, namun ada sesuatu yang jauh lebih mendesak di dalam benaknya.

Sesampainya di ruangan, Bisma tampak sedang sibuk mengetik di laptopnya. Ia tidak terkejut melihat kehadiran Ariya karena memang sudah jadwalnya. Bisma segera melakukan serangkaian pemeriksaan fisik pada kaki Ariya, mengecek refleks saraf dan kekuatan otot yang masih lemah.

Setelah semua prosedur selesai, Ariya tidak lantas minta diantar pulang. Ia tampak ragu, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran kursi roda. Rasa penasaran yang menghantui sejak pagi akhirnya mengalahkan ego besarnya.

"Bis, aku ingin bertanya sesuatu tentang percakapan kita kemarin," ujar Ariya memecah keheningan. "Tentang kebenaran dan kata penyesalan yang terus kalian ucapkan. Apa maksudnya semua itu?"

Bisma menghentikan kegiatannya dan menatap Ariya dengan pandangan datar. Ia teringat janjinya pada Arumi untuk tidak menceritakan apa pun secara langsung agar Ariya mencari tahu sendiri.

"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku sudah berjanji pada Arumi agar kau mencari tahu sendiri jawaban itu," jawab Bisma dingin.

Ariya mendengus, sorot matanya menajam. "Tentang pria-pria yang disebut Papa sebagai tukang ojek itu? Benarkah mereka hanya ojek yang sengaja difitnah oleh Lusi?"

Bisma terlonjak kaget, ia meletakkan stetoskopnya di atas meja dengan suara keras. "Dari mana kau tahu itu? Apa kau sudah menyelidikinya?"

"Jadi benar? Mereka hanya tukang ojek yang ditunjukkan Lusi dalam video itu?" tanya Ariya lagi, suaranya mulai bergetar karena emosi yang tidak menentu.

Bisma tersenyum sinis, sebuah tatapan menghina ia layangkan tepat ke mata Ariya. "Cih, kenapa kau baru sadar sekarang, Tuan Muda Bodoh? Kau hanya melihat video dari orang yang baru kau kenal sebentar dan langsung percaya begitu saja tanpa menanyakan pada sahabatmu sendiri."

Ariya terdiam, rahangnya mengatup rapat. "Tapi bagaimana dengan rekaman suara itu? Aku mendengar suara Arumi dengan jelas mengatakan dia tidak sudi bertemu keluargaku karena memuakkan."

Bisma tertawa mengejek, kali ini tawanya terdengar sangat meremehkan. "Hai Tuan Muda, bukankah dulu saat kuliah kau adalah orang paling jago dalam meretas data dan nomor telepon? Mengapa sekarang kau jadi selemah ini? Apakah otakmu sudah dicuci bersih oleh adik tiri Arumi yang licik itu?"

Kata-kata Bisma membakar sisa-sisa logika Ariya. Ia segera meminta laptop milik Bisma. Tangannya yang masih kuat kini menari dengan lincah di atas papan ketik. Ia menggunakan kemampuannya yang sudah lama terkubur untuk melacak sumber file asli dari memori yang pernah diberikan Lusi. Tak butuh waktu lama, ia berhasil merestorasi potongan audio yang sengaja dihilangkan.

Suara Arumi terdengar memenuhi ruangan, namun kali ini lengkap dengan konteksnya. Dalam rekaman asli itu, Arumi ternyata sedang memarahi keluarga Lusi yang terus-menerus merongrong harta ayahnya dan sengaja menjebak Erwin agar menikahi ibu Lusi. Arumi berkata dia malas bertemu karena tidak ingin melihat kemunafikan mereka, bukan keluarga Ariya.

Jantung Ariya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Dunianya seolah runtuh menimpa pundaknya. Kebencian yang ia pelihara selama lima tahun ternyata dibangun di atas fondasi fitnah yang amat kotor.

"Aku... aku harus menemui Arumi sekarang juga. Tolong dorong aku ke ruangannya!" perintah Ariya dengan suara yang pecah karena rasa bersalah yang menguap hebat.

Bisma tidak banyak tanya, ia segera mendorong kursi roda Ariya menuju poli tempat Arumi bertugas. Namun, setibanya di sana, ruangan itu sudah kosong melompong. Ariya menahan seorang perawat yang kebetulan lewat di koridor.

"Suster, di mana Dokter Arumi? Mengapa ruangannya kosong?" tanya Ariya tidak sabar.

"Dokter Arumi sudah berangkat pulang tadi, Pak. Sore ini pukul empat pesawatnya akan berangkat ke Sumatera. Beliau menjadi relawan tim medis untuk bencana di sana," jawab perawat itu dengan sopan.

Ariya melirik jam tangannya dengan panik. Pukul tiga lewat empat puluh menit. Hanya tersisa waktu dua puluh menit sebelum pesawat lepas landas.

"Bis, bawa aku ke bandara! Sekarang!" teriak Ariya frustrasi.

Bisma segera membawa Ariya masuk ke dalam mobil. Di sepanjang jalan, Ariya terus mencoba menghubungi nomor telepon Arumi, namun operator selalu menjawab bahwa ponsel tersebut sudah tidak aktif. Sialnya, sore itu jalanan menuju bandara luar biasa macet akibat perbaikan jalan.

Ariya memukul sandaran kursi mobil berkali-kali, merutuki kebodohannya sendiri yang terlambat menyadari permata yang ada di depan mata. Pukul empat lewat lima menit, mobil mereka akhirnya sampai di lobby keberangkatan bandara internasional. Bisma segera menurunkan kursi roda dan membawa Ariya menuju gerbang keberangkatan.

Namun, di sana mereka hanya bisa menatap layar monitor besar yang menunjukkan status penerbangan tim medis relawan. Pesawat itu sudah lepas landas lima menit yang lalu. Arumi telah pergi.

Ariya tertunduk lesu di atas kursi rodanya, di tengah hiruk pikuk bandara yang tidak peduli pada hancurnya hati seorang pria. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh juga.

"Aku baru saja mengetahui kebenarannya, Bis. Tapi mengapa Arumi malah pergi sekarang?" gumam Ariya dengan suara yang nyaris hilang.

Bisma hanya bisa berdiri di belakang kursi roda itu, menatap langit sore yang mulai menggelap. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Penyesalan memang selalu datang saat orang yang paling berharga telah memilih untuk menjauh.

🍃🍃🍃

Selamat pagi, jangan lupa berikan dukungannya ya guys. Berikan Bintang kalau kalian menyukainya. Serta berikan Like dan Vote sebagai hadiah agar author semangat untuk updatenya oke 😉 terimakasih 🙏🏻

1
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!