NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Reinkarnasi.

Siang itu, langit Kota Gigri berwarna biru pucat seperti kaca yang baru dipoles. Awan-awan tipis bergerak lambat di antara gedung futuristik yang berkilau. Di depan sebuah bangunan besar bergaya minimalis—dindingnya putih mutiara dengan garis cahaya biru yang mengalir seperti nadi—Chika dan Nifty berhenti.

Angin lembut mengibaskan rambut Chika yang panjang, membuat ujung mantel peraknya berkibar pelan. Nifty berdiri di sampingnya, rambut kuning pendeknya berkilau terkena pantulan cahaya kota.

“Naah, Chika!” kata Nifty sambil menunjuk bangunan itu dengan penuh kebanggaan. “Ini rumahnya… bentar ya.”

Ia melangkah maju, mengangkat pergelangan tangannya. Sebuah panel hologram biru muncul di udara—bzzzt!—memancarkan cahaya transparan. Jari Nifty menari cepat, mengetik ID dengan gerakan cekatan.

Piip… piip… klik!

Pintu besar itu terbuka ke samping dengan suara halus seperti bisikan mesin.

Chika menatap kagum, matanya membulat. “Ehh… rumahnya kayak… kastil masa depan!”

Ia mengangkat tangan, menutupi mulutnya sendiri. “Kayaknya… aku mau bangun kota kayak gini juga di Havenload!”

Nifty tertawa kecil, bahunya naik turun. “Wah, iya ya… kamu kan pemilik baru Pulau Terapung Havenload.”

Mereka melangkah masuk. Lantai putih mengilap memantulkan bayangan kaki mereka. Lampu-lampu kecil di dinding menyala otomatis saat mereka lewat.

Di tengah langkahnya, Nifty mendadak melambat. Bahunya sedikit turun, kepalanya menunduk. “Chika… kalau nanti urusanmu di kota ini selesai… boleh nggak aku ikut berpetualang sama kamu?”

Chika berhenti. Ia menoleh, wajahnya penuh tanda tanya. “Boleh banget! Tapi… kenapa?”

Nifty memeluk lengannya sendiri, suaranya mengecil. “Aku… masih susah percaya nenekku benar-benar pergi. Terus… sahabat kembarku hilang sejak kecil. Rasanya kota ini… tiba-tiba jadi sepi.”

Chika tersenyum lembut. Ia maju selangkah dan menepuk bahu Nifty dengan ringan. “Kalau gitu… sambil aku cari Hero yang tersisa, kita cari mereka bareng-bareng ya.”

Mata Nifty sedikit berkaca-kaca. Bibirnya bergetar sebelum tersenyum. “Chika… kamu terlalu baik… makasih…”

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah lift silinder transparan. Pintu lift terbuka dengan suara psssshhh. Mereka masuk, berdiri berdampingan. Cahaya biru menyorot ke atas, dan lift meluncur turun dengan mulus.

Whoooom…

Chika menempelkan wajah ke kaca. “Waaah… ini kayak… perut naga besi!”

Nifty terkekeh. “Versi lebih bersih dari naga, mungkin.”

Lift berhenti. Pintu terbuka, memperlihatkan ruangan luas dengan mesin-mesin besar, kabel berpendar, dan layar melayang di udara.

Chika menoleh ke kiri dan kanan, terpesona. “Wah… ini hampir kayak sistem di Pulau Havenload.”

Nifty menyipitkan mata penuh rasa ingin tahu. “Aku jadi penasaran banget sama pulau itu…”

Tiba-tiba—

Hero Sword di punggung Chika bergetar. Cahaya biru muda berkedip-kedip, makin terang.

Nifty menunjuk sambil melonjak kecil. “Chika!! Pedangnya! Berarti… dia salah satu Hero yang ditakdirkan, ya?!”

Chika mengepalkan tangan dengan semangat. “Kemungkinan besar! Aku nggak sabar lihat wajahnya!”

Mereka berjalan menuju sebuah pintu besar. Dua mata merah robot pemindai menyala.

Bip—bip—bip.

Suara laki-laki terdengar dari pengeras suara. “Nifty… sudah kubilang aku sibuk. Nanti saja—”

Nifty mendekat ke panel. “Tunggu dulu! Ada tamu istimewa dari Kerajaan Gurial Tempest!”

“Haah… sebentar lagi, Napa… tinggal sedikit—”

Nifty memotong cepat, suaranya meninggi. “Dia pemilik Hero Sword!”

“HERO SWORD?! TUNGGU—AKU BUKAIN SEKARANG!!”

Chika menggaruk pipinya, tersenyum canggung. “Wah… dia tahu juga tentang Hero Sword ya…”

Nifty menunduk, pipinya merah. “Soalnya… dia dibesarkan nenekku. Kami selalu bareng waktu kecil…”

Wajahnya makin merah. “Eh—bukan apa-apa!”

Chika menyipitkan mata jahil. “Kepala kamu mau meledak, Nifty.”

“Ihh! Bukan gitu maksudku!” Nifty mengibaskan tangan panik.

Klik—sssshhh!

Pintu terbuka. Seorang pemuda berdiri di sana: rambut biru sedikit panjang bergelombang, mata kuning cerah, mengenakan jas putih bergaris biru dan dasi senada. Wajahnya tampan dan tenang.

Pipi Nifty langsung memerah total.

Pemuda itu melirik sekeliling. “Jadi… mana pemilik Hero Sword itu?”

Chika melangkah maju, sedikit kikuk. “P-permisi… namaku Chika. Knight dari Gurial Tempest… sekaligus pemilik baru Hero Sword.”

Pemuda itu mendekat. Tatapannya fokus. “Mana pedangnya?”

Chika melepaskan Hero Sword dari punggungnya dan menyerahkannya.

Begitu pedang itu menyentuh tangan pemuda itu—

Cahaya biru menyala terang!

“Eh—kenapa bersinar begini?!” katanya terkejut.

Chika tersenyum lebar. “Berarti kamu Hero keenam!”

Pemuda itu terdiam sesaat… lalu tertawa kecil. “Wah… ternyata dunia ini masih lebih besar dari yang kupikir. Jadi… aku juga Hero, ya.”

Chika memiringkan kepala. “Dunia… ini?”

Pemuda itu menghela napas. “Masuk dulu. Ada yang harus kubicarakan padamu, Chika.”

Mereka bertiga melangkah masuk ke ruangan—di antara cahaya mesin, detak teknologi, dan takdir yang baru saja terbuka.

----------------

Mereka bertiga melangkah lebih dalam ke ruangan itu.

Ruangan tersebut luas dan berbentuk setengah lingkaran, seperti ruang kendali rahasia. Dindingnya dipenuhi layar transparan yang melayang di udara, menampilkan grafik, peta dunia, dan simbol-simbol aneh yang berpendar biru kehijauan. Di tengah ruangan, ada sebuah mesin raksasa berbentuk silinder dengan banyak cincin logam berputar pelan mengelilinginya.

Whrrrrr… klik… tzzzz…

Mesin itu mengeluarkan suara rendah seperti jantung mekanik.

Chika otomatis mundur setengah langkah. “Ehh… itu mesin apa…? Kok kelihatannya kayak mau meledak kapan aja…”

Nifty menepuk punggung Chika cepat. “Tenang, itu cuma kelihatan serem. Kalau meledak, kita udah jadi debu dari tadi.”

“ITU TIDAK MENENANGKAN SAMA SEKALI,” jawab Chika datar.

Pemuda berambut biru berjalan ke sebuah meja bundar di tengah ruangan. Kursi-kursi logam otomatis keluar dari lantai dengan suara:

klik—shhht—klik.

“Silakan duduk,” katanya.

Mereka duduk bertiga. Chika duduk tegak tapi bahunya kaku, matanya masih melirik-lirik mesin raksasa di belakang. Nifty duduk santai, kakinya sedikit diayun, seolah sudah terbiasa dengan tempat itu.

Pemuda itu menarik kursinya sedikit ke belakang, lalu membungkuk kecil. “Perkenalkan… namaku Aki.”

Nifty tersenyum lebar. “Yup! Ini Aki. Ilmuwan aneh yang suka begadang dan lupa makan.”

“Aku bukan aneh. Aku efisien,” jawab Aki sambil menaikkan alis. “Dan kamu juga lupa makan, Nifty.”

“Karena kamu lupa ingetin.”

Chika menutup mulut menahan tawa. “Kalian… kayak pasangan kakek-nenek.”

Aki dan Nifty langsung menoleh bersamaan.

“HAH?!”

“APA?!”

Wajah Nifty memerah seperti tomat matang. “Chika!! Jangan ngomong sembarangan!”

Aki berdehem cepat, menata dasinya. “Baik. Kita fokus. Ada sesuatu yang harus kamu tahu, Chika.”

Chika langsung serius. Ia duduk lebih tegak. “Tentang Hero Sword…?”

“Bukan hanya itu.” Aki melirik mesin besar di belakang mereka. Lampu birunya berkedip pelan. “Tentang aku.”

Nifty menyilangkan tangan. “Kamu mau cerita sekarang? Wah, jarang-jarang.”

Aki menghela napas panjang, bahunya turun sedikit. “Aku… bukan berasal dari dunia ini.”

Chika mengerjap. “Hah?”

Aki menatap tangannya sendiri, membuka dan menutup jarinya perlahan. “Di dunia asalku… aku hidup sampai usia enam puluh tujuh tahun.”

“ENAM PULUH TUJUH?!” Chika hampir berdiri dari kursinya. “Tapi kamu kelihatan kayak… umur dua puluhan!”

“Itu karena tubuh ini bukan tubuh lamaku.”

Nifty menyandarkan dagu di tangannya. “Yup. Dia kakek terjebak di badan pemuda.”

“Jangan bilang aku kakek di depan orang,” gerutu Aki.

Chika membelalak. “Tunggu… maksudmu…?”

Aki mengangkat kepala. “Aku mati di duniaku. Lalu… aku terbangun di dunia ini. Dalam tubuh bayi. Usia lima tahun.”

Chika menutup mulutnya. “Jadi kamu…”

“Reinkarnasi,” lanjut Aki pelan.

Suasana hening sejenak. Mesin di belakang mereka berbunyi:

whuuum… klik…

Chika memiringkan kepala. “Rein… kar… nasi?”

“Bukan nasi,” potong Nifty. “Walau dia memang suka nasi.”

“Aku tidak suka nasi sebanyak itu.”

“Kamu makan tiga mangkuk tadi pagi.”

“Itu eksperimen energi karbohidrat.”

Chika menahan tawa. “Jadi… reinkarnasi itu apa?”

Aki menyandarkan punggung ke kursi. “Sederhananya… jiwaku pindah ke dunia ini setelah aku mati di dunia lain. Ingatanku… ikut terbawa.”

Chika menunjuk kepalanya sendiri. “Jadi… kamu ingat hidup sebagai orang tua?”

“Ya. Rasanya aneh. Bayangkan… bangun sebagai anak kecil, tapi ingat pajak, sakit pinggang, dan rasa lelah bekerja seumur hidup.”

Nifty terkekeh. “Dia pernah nangis waktu belajar jalan karena katanya ‘lutut ini tidak terbiasa dengan gravitasi muda’.”

“Itu trauma.”

Chika tertawa kecil. “Terus… nenek Nifty?”

Aki tersenyum samar. “Dia yang menemukanku. Saat dunia ini belum punya teknologi seperti sekarang. Masih desa kecil, lampu pakai api, alat-alat masih sederhana.”

Nifty ikut tersenyum, tapi matanya sedikit redup. “Nenek bilang… Aki itu anak aneh. Bisa bicara terlalu pintar untuk anak kecil.”

“Karena secara mental aku sudah tua,” ujar Aki. “Dan… sejak kecil, Nifty sudah tahu siapa aku sebenarnya.”

Chika menoleh ke Nifty. “Serius?”

Nifty mengangguk. “Yup. Dia cerita ke aku waktu aku masih kecil. Awalnya aku pikir dia ngarang. Tapi… dia bisa bikin radio dari sendok dan kabel.”

“ITU DARURAT,” kata Aki.

Chika mengusap kepalanya. “Jadi… kamu dari dunia lain… mati… lalu hidup lagi di sini…”

Aki mengangguk pelan. “Dan sekarang… Hero Sword bereaksi padaku. Mungkin… takdir menganggap jiwaku masih layak bertarung.”

Chika mengepalkan tangan di atas lutut. “Berarti… kamu juga pejuang yang dipilih.”

Aki tersenyum tipis. “Atau kakek yang belum bisa pensiun.”

Nifty tertawa keras. “HAHA! Hero tertua di dunia!”

“Usiaku di dunia ini masih muda!”

“Tapi jiwamu sudah 67 tahun!”

Chika ikut tertawa. “Kalau gitu… kita punya Hero yang isinya pengalaman hidup dan teknologi.”

Aki berdiri pelan, berjalan ke arah mesin besar. Ia menyentuh panelnya.

Klik—bzzzt—

Layar besar menyala, menampilkan cahaya biru yang membentuk simbol aneh.

“Chika,” katanya serius, “kalau kamu ingin mengumpulkan semua Hero… maka ceritaku ini bukan kebetulan.”

Chika menelan ludah. “Dunia lain… reinkarnasi… Hero Sword… semua ini…”

Nifty menatap Chika dengan senyum kecil tapi penuh harap. “Petualanganmu baru mulai makin aneh, ya?”

Chika tersenyum lebar. “Dan makin seru.”

Mesin di belakang mereka berdengung lebih keras, seolah menyetujui.

WOOOONNGG…

Takdir bergerak lagi.

Chika melirik lagi ke arah mesin raksasa di belakang Aki. Cahaya birunya berdenyut pelan, seperti napas makhluk hidup. Cincin-cincin logamnya berputar perlahan, mengeluarkan suara rendah:

whuuummm… klik… klik…

Chika mengangkat tangan ragu-ragu, menunjuk ke arah mesin itu.

“E-eh… Aki… boleh aku tanya… itu sebenarnya mesin apa sih…?”

Aki yang tadinya menatap layar, berhenti. Bahunya sedikit menegang. Ia menoleh ke belakang, memandang mesin itu lebih lama dari sebelumnya, seolah melihat kenangan, bukan logam.

“Itu…” Aki menelan ludah. “Mesin untuk kembali ke duniaku yang lama.”

Ruangan seketika terasa lebih dingin.

Nifty yang duduk di samping Chika langsung berdiri setengah, kursinya berderit keras.

“APA?!”

Chika terlonjak. “Hah?! Kembali ke dunia asalmu?!”

Aki mengangguk pelan. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. “Ya. Mesin ini… bukan cuma portal. Kalau berhasil… aku bisa kembali ke masa laluku.”

“Masa lalu…?” ulang Chika lirih.

Aki berjalan mendekat ke mesin itu, menempelkan telapak tangannya ke panel dingin.

“Aku ingin kembali ke saat aku masih SMP… SMA…”

Suaranya melemah. “Aku ingin menyelamatkan seseorang.”

Nifty menggertakkan gigi. “Seseorang…?”

Aki memejamkan mata. “Mantan pacarku. Cinta pertamaku.”

Chika terdiam. “Dia… kenapa?”

“Dia meninggal,” jawab Aki cepat, seperti ingin menyingkat rasa sakit itu. “Penyakit jantung bawaan. Serangan mendadak. Saat itu… aku cuma anak SMA yang bahkan tak tahu harus bagaimana.”

Lampu mesin berkedip lebih cepat.

Nifty mengepalkan tangannya. “Jadi… kamu mau balik ke dunia lain… demi dia?”

“Ya.”

Kata itu jatuh seperti palu.

Nifty tertawa kecil, tapi suaranya pecah. “Hebat ya… beda dunia pun masih kamu kejar.”

Aki menoleh cepat. “Nifty—”

“Dia cinta pertamamu, kan?” Nifty menatap Aki, matanya berkilat. “Wajar kalau sakit. Tapi… dunia ini bagaimana?”

Aki terdiam.

Nifty melangkah maju satu langkah. “Aku ini apa buat kamu, Aki?”

Sunyi.

Chika gelisah di kursinya. Tangannya mencengkeram ujung rok. “Nifty…”

Nifty menatap Chika sebentar, lalu kembali ke Aki. “Sejak kecil aku di sisimu. Aku bantu kamu. Aku percaya sama rahasiamu. Aku… ada waktu kamu jatuh, waktu kamu gagal, waktu kamu hampir gila bikin mesin aneh ini.”

Suaranya meninggi. “Tapi ternyata… hatimu masih di dunia lain.”

Aki menunduk. “Dia mati mendadak. Aku… tidak pernah sempat mengucapkan selamat tinggal. Rasanya seperti… separuh diriku hilang.”

Nifty menggigit bibirnya. Bahunya gemetar. “Dan aku? Aku yang hidup di depan matamu tiap hari… cuma jadi bayangan?”

Ia berdiri tegak. “Kalau begitu… terserah kamu.”

Ia berbalik dengan gerakan kasar.

CLANG!

Kursinya terjatuh ke lantai.

Nifty berjalan cepat ke pintu. Tangannya berhenti di gagang, tapi ia tak menoleh.

“Selamat berjuang… untuk masa lalumu.”

SSHHHT—

Pintu otomatis terbuka.

BRAK!

Tertutup keras.

Suara langkah Nifty menghilang di lorong.

Chika refleks berdiri. “Nifty!”

Aki tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Chika. Pegangannya kuat tapi gemetar.

“Jangan kejar dia.”

Chika menoleh. “Tapi dia—”

Aki melepaskan tangan Chika perlahan. “Dia… suka padaku.”

Chika terdiam. “Kamu tahu?”

“Aku tahu.” Aki tersenyum pahit. “Tapi… untuk sekarang… aku tidak bisa menerima perasaan itu.”

Chika mengepalkan tangannya. “Karena… dunia lamamu?”

Aki mengangguk. “Aku ingin mengubah masa lalu. Menyelamatkan cinta pertamaku. Setelah itu… baru aku bisa benar-benar hidup di dunia ini.”

Mesin di belakang mereka berdengung lebih keras.

WOOOOOM…

Chika menatap pintu tempat Nifty pergi. Dadanya terasa sesak.

“Jadi… kamu memilih masa lalu… daripada seseorang yang ada di depanmu sekarang?”

Aki tak langsung menjawab. Ia hanya menatap mesin itu.

“…Aku memilih penyesalan yang belum selesai.”

Chika menggigit bibir. “Itu… menyakitkan, Aki.”

Aki menutup matanya. “Aku tahu.”

Ruangan kembali sunyi. Hanya suara mesin dan lampu biru yang berdenyut pelan.

whum… whum…

Di antara teknologi canggih dan mimpi mengubah takdir, ada satu hati yang tertinggal di lorong gelap.

Chika masih berdiri mematung beberapa detik setelah pintu tertutup. Lalu ia pelan-pelan duduk kembali di kursinya, kakinya menggantung dan berayun pelan. Ia melirik Aki dari samping, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.

“…Aki.”

Aki yang sedang mengutak-atik panel mesin mengangkat kepala. “Hm?”

Chika memiringkan tubuhnya, bersandar ke sandaran kursi. “Kalau… boleh tahu… apa sih yang kamu suka dari mantan pacarmu di dunia lamamu?”

Tangan Aki berhenti di udara. Obeng kecil yang ia pegang nyaris jatuh.

“…Kenapa tanya begitu?”

Chika mengangkat bahu. “Aku nggak ngerti cinta. Tapi aku ngerti… wajah orang kalau lagi kangen sesuatu.”

Ia menunjuk dada Aki. “Yang barusan itu… wajah kangen banget.”

Aki terdiam. Lampu biru mesin memantul di wajahnya. Ia menurunkan obeng, duduk di lantai dengan punggung bersandar ke badan mesin.

“…Dia itu,” Aki mulai pelan, “riang. Berisik. Keras kepala. Kalau mau sesuatu, dia nggak pernah mundur.”

Chika mengangguk pelan. “Hmm… mirip Nifty.”

Aki tersenyum kecil tanpa sadar. “Iya… itu yang bikin aneh.”

Ia mengusap wajahnya.

“Pintar… tapi suka bertingkah bodoh. Kalau aku lagi capek, dia selalu bilang, ‘Kamu boleh lemah hari ini, besok baru kuat lagi.’”

Suara mesin berdengung lebih pelan.

whuuummm…

Aki memejamkan mata. Sekilas bayangan muncul di pikirannya: seorang gadis berdiri di bawah pohon sakura, melambaikan tangan sambil tertawa.

“…Selama empat tahun pacaran, aku selalu tenang kalau ada dia,” lanjutnya. “Dan waktu aku ketemu Nifty pertama kali… rasanya kayak…”

Ia membuka mata.

“…déjà vu.”

Chika berkedip. “Déjà vu?”

“Seperti melihat versi dia… tapi lahir di dunia yang salah.”

Chika terdiam. Ia menunduk, menatap sepatunya sendiri.

“Aku… nggak ngerti cinta,” katanya jujur. “Aku nggak pernah punya itu.”

Ia mengangkat kepala lagi. “Tapi… aku ngerti kehilangan.”

Aki menoleh.

Chika berdiri, mengepalkan tangan kecilnya di depan dada.

“Kalau kamu mau menyelamatkan orang pentingmu… aku mau bantu.”

Aki terkejut. “Hah? Kamu?”

“Iya!” Chika mengangguk keras. “Walaupun aku bukan dari duniamu. Walaupun aku nggak ngerti teknologi aneh ini.”

Ia menepuk dadanya.

“Tapi aku knight.”

Aki mengernyit. “Ini bukan perang pedang. Ini urusan waktu dan dunia lain. Berbahaya.”

Chika melangkah maju satu langkah. “Knight itu bukan cuma buat bunuh monster.”

Ia mengangkat pedangnya sedikit, lalu menurunkannya lagi.

“Knight itu… buat melindungi harapan Hero.”

Aki terdiam.

Chika tersenyum lebar. “Kalau gagal?”

“…Kalau gagal?”

“Ya coba lagi.”

Chika mengangkat satu jari. “Kalau gagal lagi?”

Ia angkat dua jari.

“Coba lagi.”

Ia melompat kecil.

“Sampai berhasil!”

Aki memandang Chika lama. Lalu, tanpa sadar, ia tertawa kecil.

“Heh… kamu ini aneh.”

Chika cemberut. “Kasar. Knight dipanggil aneh.”

“Bukan… maksudku…” Aki bangkit berdiri. “Kamu mirip… dia.”

Lampu mesin berkedip.

BIP… BIP…

Aki menggeleng pelan. “Oke. Aku terima bantuanmu.”

Chika langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi. “YES!”

Aki mengambil kembali obengnya dan berbalik ke mesin.

“Kalau begitu… kita lanjutkan.”

Ia membuka panel samping mesin. Kabel-kabel bercahaya keluar seperti akar pohon logam.

klik… klik… zzztt…

Chika mendekat, menatap kagum. “Wah… ini kuda besi paling aneh yang pernah kulihat.”

Aki tertawa pendek. “Kalau ini kuda, maka dia bisa lari menembus waktu.”

Chika mendekat ke sisi Aki. “Aki.”

“Ya?”

“…Nifty akan baik-baik saja?”

Aki berhenti sejenak. “…Aku harap begitu.”

Chika mengepalkan tangan kecilnya lagi.

“Kalau tidak… aku juga akan menolong dia.”

Aki menatap Chika. Untuk sesaat, bayangan dunia lama dan dunia sekarang bertumpuk di matanya.

“…Terima kasih.”

Mesin kembali berdengung lebih kuat.

WOOOOOM…

Di tengah cahaya biru, antara masa lalu dan masa kini, dua orang dari dunia berbeda mulai bekerja bersama—satu demi penyesalan, satu demi janji seorang knight.

----------------

Mesin itu akhirnya berhenti berdengung.

Lampu-lampu biru yang tadi berkedip liar kini menyatu menjadi satu lingkaran cahaya di tengah ruangan.

WOOOOOM…

Aki mengusap keningnya. “Selesai.”

Chika yang sedari tadi berdiri di belakangnya langsung melonjak.

“EH?! SERIUS?! Itu kuda besi waktu sudah jadi?!”

“Itu bukan kuda,” jawab Aki lelah. “Itu portal.”

Cahaya di tengah mesin membesar, membentuk pusaran seperti kolam cahaya yang berputar pelan.

Chika mendekat, matanya berbinar.

“Kalau aku nyemplung… aku nggak jadi ikan kan?”

“Tidak.”

“…jadi ayam?”

“Juga tidak.”

“Yah.”

Aki menarik napas panjang. “Siap?”

Chika mengepalkan tangan. “Siap!”

Mereka melangkah bersama ke dalam pusaran.

Cahaya putih menyelimuti pandangan.

Saat cahaya menghilang…

BRUUUUSHHH—

Angin dingin menyapu wajah mereka.

Chika membuka mata duluan.

“…Eh?”

Di hadapannya, bukan lagi kota futuristik, bukan lagi mesin raksasa.

Ada bangunan tua, jalanan aspal, angkot lewat sambil ngebut, dan suara klakson:

PEEEP—PEEEP—

Chika menoleh ke kanan.

“Aki… ini… kota kecil?”

Aki menatap sekeliling dengan mata sedikit bergetar.

“…Bukittinggi.”

Chika mendongak. “Bukit… tinggi?”

“Ya. Di Sumatra Barat.”

Chika menghirup udara.

“Bau… gorengan.”

Aki tersenyum tipis. “Selamat datang di dunia lamaku.”

Tiba-tiba Chika merasa aneh di tubuhnya.

“…Eh?”

Ia melihat tangannya.

Lebih kecil.

Kakinya juga.

Dadanya… rata.

“…AKI.”

Aki menoleh. “Hm?”

“Aku… jadi kecil.”

Aki menatap dirinya sendiri. Rambutnya sekarang hitam, lebih pendek, tubuhnya kurus remaja.

“…Aku juga.”

Chika panik. “AKU KEHILANGAN TAHUN HIDUPKU?!”

“Tidak. Kita sekarang umur 14.”

Chika menepuk pipinya sendiri.

“Plak!”

“Masih sakit.”

Aki menjelaskan sambil berjalan.

“Aku atur supaya kita muncul di titik waktu yang penting. Awal tahun 2021.”

Chika menoleh kanan kiri.

“Dunia ini… sepi. Tidak ada naga. Tidak ada zombie.”

“Karena ini dunia normal.”

“…Kasian.”

Mereka mulai berjalan menyusuri kota.

Jam Gadang berdiri megah di kejauhan.

Chika berhenti. “AKI.”

“Kenapa?”

“Menara itu… nggak bisa terbang.”

“Itu jam.”

“Oh.”

Beberapa orang menoleh ke arah mereka.

Soalnya…

Chika masih pakai zirah knight lengkap, helm ayam, dan pedang di punggung.

Seorang ibu-ibu berbisik, “Itu bule cosplay apa…?”

Seorang bapak berkata, “Anak sinetron?”

Chika melambai sopan.

“Halo warga dunia tanpa monster!”

Aki langsung menarik lengannya.

“CHIKA. KITA CARI BAJU.”

Mereka masuk ke sebuah toko pakaian.

Chika menatap kaus, celana, hoodie.

“…Ini zirah kain?”

“Itu kaus.”

Chika mengambil hoodie kuning.

“Ini armor pisang?”

“Itu jaket.”

Ia mencoba celana jeans.

“KENAPA ARMOR INI TIDAK ADA LOGAMNYA?!”

“Karena ini bukan perang.”

Chika berdiri di depan cermin setelah ganti baju: hoodie putih, celana hitam, sepatu sneaker.

Rambut pirangnya diikat ekor kuda.

Ia menatap bayangannya.

“…Aku kelihatan kayak NPC.”

Aki tertawa. “Kamu kelihatan anak SMP.”

Chika menunjuk rambut Aki.

“Rambutmu jadi hitam.”

“Karena ini tubuh asliku.”

Chika mendekat, menatap wajah Aki dekat-dekat.

“Hmm… kamu kelihatan lebih bodoh.”

“HEI.”

Mereka keluar toko.

Chika menoleh ke kiri-kanan sambil kagum.

“Tidak ada sihir. Tapi semua orang bawa kotak bercahaya.”

“Itu ponsel.”

Chika menunjuk motor lewat.

“KUDA LOGAM!”

“Itu motor.”

“Kereta kecil!”

“Itu angkot.”

“Monster merah!” (menunjuk lampu lalu lintas)

“Itu lampu.”

Chika berhenti, serius.

“Aki.”

“Ya?”

“Duniamu aneh.”

Aki tertawa. “Kata orang dari dunia naga.”

Mereka duduk di bangku dekat Jam Gadang.

Chika makan es krim pertama kali.

“…Dingin. Tapi enak. Ini sihir es.”

“Itu susu beku.”

Chika menjilat lagi.

“AKU MAU BAWA KE PRINCES.”

Aki tersenyum kecil.

Chika lalu berdiri, memandang kota.

“Jadi… di sinilah kamu hidup dulu?”

Aki mengangguk pelan.

“Dan di sinilah… semuanya dimulai.”

Chika mengepalkan tangan.

“Kalau begitu… kita lindungi dunia ini juga.”

Aki menoleh.

Chika tersenyum lebar.

“Karena ini dunia Hero ke enam.”

Angin Bukittinggi berhembus pelan.

Di antara suara klakson dan tawa orang-orang, dua anak dari dunia berbeda mulai berjalan menuju masa lalu… tanpa tahu berapa besar takdir yang menunggu mereka.

----------------

Langit Bukittinggi mulai berubah jingga ketika Aki dan Chika berjalan berdampingan di trotoar yang mulai sepi.

Langkah Aki melambat.

“…Sebentar lagi sampai,” katanya pelan. “Rumah lamaku.”

Chika menoleh, matanya menyipit karena matahari sore.

“Aki… kamu kenapa tiba-tiba jalannya pelan?”

Aki menggaruk tengkuk. “Aku… kangen bunda.”

Nada suaranya terdengar aneh—bukan sedih, tapi berat. Seolah kata bunda itu membawa terlalu banyak kenangan.

Chika mengusap lehernya sendiri yang basah keringat.

“Aki! Panas banget! Kenapa kita nggak teleport aja sih? Kan kamu punya alat aneh-aneh!”

Aki langsung berhenti.

“CHIKA. Jangan.”

“Kenapa?”

“Kalau tiba-tiba kita muncul di depan rumah orang… nanti dikira tuyul.”

Chika berpikir serius.

“…Tuyul itu monster?”

“Bukan.”

“Dewa kecil?”

“Juga bukan.”

“Ah… dunia ini ribet.”

Mereka melanjutkan jalan.

Tak lama kemudian mereka sampai di zebra cross. Mobil-mobil melintas cepat.

Aki otomatis memegang tangan Chika.

“Ayo. Sekarang.”

Chika kaget sedikit.

“Eh?!”

Tangannya terasa kecil di genggaman Aki. Hangat.

Mereka menyeberang.

Di seberang jalan, ada papan bertuliskan: ANAK AIA.

Chika berhenti dan menunjuk.

“Aki. Anak Aia… siapa Aia?”

Aki mendesah panjang.

“Itu nama kelurahan.”

“…Kelurahan itu monster?”

“Bukan.”

“…Pahlawan?”

“Juga bukan.”

Chika menggaruk kepalanya.

“Nama tempat dunia ini aneh semua.”

Aki memijat pelipis.

“Chika… otakku udah penuh dari tadi kamu nanya.”

Chika langsung menunduk sedikit.

“Eh… maaf. Kamu lagi mikirin masa lalumu ya…”

Aki terdiam sebentar.

“…Iya.”

Angin sore berembus pelan. Suara azan mulai terdengar jauh.

“Sudah maghrib,” kata Aki. “Kamu… tinggal di rumahku dulu.”

Chika mengangguk cepat.

“Okay! Aku tamu baik!”

“…Dan satu lagi,” Aki menambahkan cepat.

“Kamu bilang ke bundaku… kamu orang Jepang.”

Chika membeku.

“HAH?”

“Bilang saja kamu teman online-ku.”

“Online itu apa?”

“…Nanti aku jelaskan.”

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah sederhana. Dinding hijau pucat, pagar kecil, lampu teras kuning.

Aki berhenti di depan pintu.

Dadanya terasa berat.

“…Ini.”

Chika menatap rumah itu.

“Kecil… tapi hangat.”

Aki membuka pintu.

“Assalamualaikum… Bunda?”

Tak lama, terdengar suara dari dalam.

“Waalaikumsalam… Aki?”

Seorang wanita paruh baya keluar dari dapur, masih pakai celemek.

Begitu melihat Aki, matanya langsung membesar.

“ASTAGHFIRULLAH.”

Aki refleks mundur.

“Bunda?!”

Pandangan bundanya berpindah ke Chika—rambut pirang, mata hijau, wajah bule.

“…Aki.”

“I-iya, Bun?”

“Kamu pacaran sama bule?”

“APA?!”

“Terus selingkuh dari Cila?!”

Chika panik dan langsung membungkuk.

“HAI! AKU BUKAN SELINGKUHAN!”

Aki langsung menutup wajah.

“BUNDA. TIDAK.”

Bundanya melipat tangan di dada.

“Terus ini siapa?”

Aki gugup.

“Dia… dia teman online-ku dari Jepang.”

Chika langsung angkat tangan.

“Hai! Aku Chika dari Jepang! Aku tidak punya pacar di dunia ini!”

Bundanya mengerjap.

“…Bahasa Indonesianya lancar.”

Chika bangga.

“Aku bisa semua bahasa.”

Bundanya menatap Aki tajam.

“Kamu bawa anak orang jauh-jauh?”

Aki cepat-cepat menjelaskan, setengah ngawur.

“Dia… nggak punya orang tua sekarang. Dia pindah ke sini sementara.”

Bundanya terdiam.

Lalu menghela napas panjang.

“Masuk dulu.”

Chika masuk dengan sopan berlebihan, berdiri tegak seperti knight.

“Terima kasih, ibu rumah.”

Bundanya menatap postur Chika yang kaku.

“…Ini anak kenapa kayak tentara?”

Aki berbisik, “Dia… kebiasaan.”

Di ruang tamu kecil, Chika duduk tegak seperti patung.

Bundanya menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

“Namamu Chika?”

“Iya.”

“Dari Jepang?”

“Iya.”

Bundanya mengangguk.

“…Ya sudah. Kamu boleh tinggal dulu di sini.”

Chika langsung berdiri dan membungkuk dalam-dalam.

“TERIMA KASIH BUNDA AKI!”

Bundanya kaget.

“…Dipanggil bunda juga nggak apa-apa sih…”

Aki menutup wajah lagi.

“Ya Allah…”

Chika tersenyum polos.

Di dalam hati Aki, rumah itu terasa sama seperti dulu—sederhana, hangat… dan penuh kekacauan kecil yang anehnya terasa menenangkan.

Dan tanpa mereka sadari, langkah pertama ke masa lalu telah dimulai… bukan dengan perang, tapi dengan salah paham dan teh manis.

...----------------...

Malam turun pelan di Bukittinggi.

Udara terasa lebih dingin, membawa bau tanah lembap dan wangi daun basah. Lampu-lampu rumah tetangga menyala satu per satu, dan suara serangga mulai mengisi keheningan.

Di teras belakang rumah, Aki dan Chika duduk berdampingan di dua kursi plastik.

Di atas meja kecil di antara mereka, ada dua gelas teh hangat yang masih beruap tipis.

Chika menggoyang-goyangkan kakinya, memandangi langit yang gelap.

“…Jadi, Aki,” katanya pelan, “apa yang harus kamu lacak di tahun ini?”

Aki mengangkat gelas tehnya, menyeruput sedikit.

Matanya tidak melihat Chika, tapi menatap halaman belakang yang remang-remang.

“Aku mau melacak asal-usul ayah dan bunda Cila.”

Chika menoleh.

“Kenapa mereka?”

Aki menghela napas.

“Walaupun aku tahu… mereka ada. Tapi informasi tentang mereka itu… abu-abu.”

Chika mengerutkan kening.

“Abu-abu?”

“Ya.”

Aki memutar gelasnya pelan di telapak tangan.

“Kisah orang tua Cila yang sebenarnya… belum aku ketahui sepenuhnya. Ada bagian yang kosong. Kayak buku yang halamannya sobek.”

Chika terdiam sejenak, lalu mencondongkan tubuh.

“Jadi… karena kamu sekarang lebih pintar…”

“…kita akan cari tahu sendiri,” potong Aki.

Chika langsung tersenyum lebar.

“Wah! Investigasi!”

“Jangan bilang itu terlalu keras,” gumam Aki.

Chika menepuk dadanya.

“Aku jago menyelinap! Aku knight!”

Aki mengabaikannya.

Ia mengambil sebuah kotak kecil dari saku jaketnya dan meletakkannya di meja.

klik.

Kotak itu terbuka.

Di dalamnya ada dua buah soflen bening yang berkilau samar.

Chika langsung mendekatkan wajah.

“Wah… mata kaca?”

Aki menatapnya datar.

“Ini soflen.”

“Boleh aku coba?” tanya Chika antusias.

“Boleh,” jawab Aki santai. “Sekalian jadi monyet percobaan.”

Chika langsung berdiri.

“Aku BUKAN monyet!”

Aki refleks menoleh.

“Kenapa tiba-tiba teriak?”

“Beatrix bilang aku gorila!”

Chika menunjuk wajahnya sendiri.

“Dan sekarang kamu bilang aku monyet!”

Ia berpose sok imut, memiringkan kepala, kedua tangan di pipi.

“Apa aku kurang cantik?”

Aki terdiam dua detik.

“…Bodoh.”

“EH?”

“Monyet percobaan itu bukan berarti kamu monyet,” kata Aki cepat.

“Itu istilah! Artinya kamu orang pertama yang ngetes alat ini!”

Chika membeku.

“…Oh.”

Ia menghela napas panjang.

“Syukurlah. Aku kira aku hewan.”

Aki mengusap wajah.

“Kenapa hidupku jadi begini…”

Chika duduk lagi, masih manyun.

“Soalnya Hero ketiga itu jahat…”

“Beatrix?”

“Iya. Dulu waktu aku di sekolah sihir, kita dikejar hantu.”

Aki menoleh penasaran.

“Hantu?”

“Dan ada batu besar menghalangi jalan. Aku pukul pakai tangan kosong.”

Chika mengepalkan tinju kecilnya, menirukan gerakan itu.

“BAM! Batu pecah.”

Aki terdiam.

“…Terus?”

“Beatrix langsung bilang, ‘GORILA!’”

Chika menirukan suara Beatrix dengan nada berlebihan.

“‘Kamu bukan knight, kamu gorila!’”

Aki menahan senyum.

Lalu gagal.

“HAHAHAHA.”

Chika ikut tertawa.

“Hahaha! Jahat banget kan!”

Aki menyeka sudut matanya.

“Oke… aku ngerti kenapa dia bilang begitu.”

“HEY.”

Mereka tertawa bersama di bawah lampu kuning teras, suara mereka menyatu dengan bunyi jangkrik malam.

Setelah tawa mereda, Aki mengambil salah satu soflen.

“Ini bukan soflen biasa,” katanya.

“Kalau dipakai, bisa membaca sisa energi ingatan di sekitar seseorang.”

Chika berkedip.

“…Mata bisa baca kenangan?”

“Lebih tepatnya… jejak masa lalu.”

Chika memegang soflen itu dengan hati-hati.

“Wah… mata aku jadi alat detektif.”

“Makanya jangan kedip sembarangan.”

Chika tersenyum lebar.

“Baik, Profesor Aki!”

Aki menatap Chika sebentar.

Di dalam hatinya, ia teringat Nifty… teringat masa lalu… dan teringat Cila.

Langit makin gelap.

Dan di halaman belakang rumah sederhana itu,

dua orang dari dua dunia berbeda

sedang bersiap mengintip rahasia yang seharusnya terkubur oleh waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!