Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Suamiku dan rahasianya
Mobil itu akhirnya berhenti di depan pagar rumah. Dimas mematikan mesin, namun ia tidak segera turun. Keheningan yang mencekam kembali menyergap. Dimas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas panjang.
"Zora," suaranya melunak, kembali menjadi Dimas yang lembut. "Maaf kalau aku kasar tadi. Aku hanya lelah. Wulan itu...hanya masa lalu."
Jantung Zora seolah berhenti berdetak. "Jadi Mas dan Wulan..."
Dimas mengangguk pelan. " kami berhubungan saat masih kuliah.Dan kami putus karena dia mengkhianatiku Rasanya masih menyakitkan jika diingat.Jadi, tolong jangan merasa tersaingi oleh masa lalu yang sudah ku hempas ya."
Penjelasan itu masuk akal. Sangat masuk akal hingga Zora merasa bersalah karena telah meragukan suaminya. Ia menyentuh lengan Dimas, menyalurkan rasa simpati. Malam itu berakhir dengan pelukan permintaan maaf, dan Zora tertidur dengan perasaan jauh lebih tenang.
Keesokan paginya, Dimas sudah berangkat ke luar kota seperti yang ia bilang kemarin malam. Zora, yang berniat merapikan ruang kerja suaminya, menemukan sesuatu dalam tas kerja Dimas yang sudah lama tak dipakai.Di dalamnya, ada sebuah map cokelat yang sedikit terbuka.
Berniat merapikannya, Zora menarik map itu. Namun, sebuah foto terjatuh dari selipan dokumen.
Zora memungut foto itu. Jantungnya kembali berpacu. Di foto itu, Dimas merangkul seorang wanita cantik dengan gaya high-fashion—persis seperti deskripsi Siska. Di balik foto itu tertulis: "Wulan & Dimas, Paris, 2015
Darah Zora berdesir,ada rasa cemburu yang melanda.
Dengan tangan gemetar, Zora membongkar isi map itu lebih dalam. Ia menemukan sebuah akta kelahiran. Matanya membelalak membaca nama yang tertera di sana.
Nama Anak: Khadijah Safira Ibu: Wulan Paramita Ayah: Dimas.Namun nama panjangnya terlihat blur tidak jelas.
Meski begitu Zora jatuh terduduk di lantai dingin. Dunianya seolah runtuh berkeping-keping. Mengulang kalimat yang tertulis disana
Zora menutup mulutnya, menahan jeritan yang hendak pecah.Zora tersadar akan satu kenyataan yang jauh lebih mengerikan dari perselingkuhan.Rumah tangganya yang baru seujung kuku ternyata menyimpan rahasia.
Tepat saat itu, suara kunci pintu depan berputar.
"Zora? Sayang? Dompetku tertinggal..." Suara Dimas menggema di lorong, terdengar begitu dekat, begitu tenang, dan kini... begitu menakutkan.
Zora menoleh ke arah pintu ruang kerja yang perlahan terbuka, menyadari bahwa pria yang baru saja ia peluk semalam dengan penuh rasa syukur, adalah orang asing yang paling berbahaya yang pernah ia kenal.
Zora memiliki waktu kurang dari sepuluh detik. Jantungnya berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging, namun insting bertahannya mengambil alih. Dengan gerakan secepat kilat, ia memasukkan kembali foto, akta, dan surat medis itu ke dalam map cokelat, menyusunnya persis seperti posisi semula, lalu menyelipkannya ke dalam tas kerja Dimas.
Ia berdiri, menyambar kemoceng di dekat meja, dan mulai menyeka debu imajiner tepat saat pintu ruang kerja terbuka.
"Zora? Ah, di sini ternyata," Dimas muncul di ambang pintu, sedikit terengah. "Dompetku tertinggal di meja kerja. Aku baru sadar saat sampai di lobi kantor."
Zora berbalik, memaksakan sebuah senyum yang ajaibnya terlihat sangat tulus. "Oh, ini Mas. Aku baru saja mau membereskannya sekalian tasmu yang ketinggalan."
Zora mengambil dompet di atas meja dan menyerahkannya. Dimas menatap istrinya, matanya menyipit sedikit, seolah sedang memindai apakah ada sesuatu yang janggal. Udara di ruangan itu terasa berat, namun Zora tetap tenang, bahkan ia sempat merapikan kerah kemeja Dimas dengan tangan yang tidak lagi gemetar.
"Kamu pucat, Sayang. Sakit?" tanya Dimas, tangannya mengusap pipi Zora. Sentuhan yang biasanya terasa hangat itu kini terasa seperti kulit ular yang dingin bagi Zora.
"Hanya kurang tidur, Mas. Mungkin karena kehujanan semalam," jawab Zora lembut. "Sudah, cepat berangkat lagi. Nanti rapatnya telat."
Dimas mengecup kening Zora,kecupan yang kini terasa seperti sebuah segel pengkhianatan lalu menyambar tas kerjanya. "Aku pulang agak malam hari ini.Biar besok kita langsung berangkat ke Jakarta ya."
"Iya, Mas. Hati-hati."
Setelah suara mobil Dimas menjauh dari halaman, Zora merosot ke lantai. Seluruh tubuhnya lemas. Ia tidak boleh menangis. Air mata hanya akan membuatnya lemah, dan saat ini ia butuh otak yang dingin.
Zora mulai menyusun kepingan teka-teki itu:Ternyata suaminya memiliki anak bersama Wulan.
***
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba. Zora sudah bertekad mengubur rapat memori pahit kemarin. Ia memilih jalan sunyi: menunggu dengan sabar sampai Dimas sendiri yang jujur tentang Wulan dan tentang bayi yang ia duga adalah darah daging pria itu.
Kini, keduanya berdiri terpaku di depan pintu sebuah rumah di Jakarta.
Saat pintu terbuka, Kanaya dan Bumi tak mampu menyembunyikan kerutan di dahi. Kedatangan tamu ini sungguh di luar prediksi. Sahabat dan mantan dosen Kanaya muncul bersamaan di ambang pintu? Tanpa kabar, tanpa aba-aba. Mereka belum tahu bahwa rahasia besar telah mengikat Zora dan Dimas dalam sebuah pernikahan.
"Sayang, kau melihat apa yang kulihat?" bisik Bumi, matanya tak lepas memindai pasangan di depannya.
Dimas dan Zora hanya melempar senyum tipis,jenis senyum yang menyimpan ribuan kata.
"Entahlah, Mas. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda," balas Kanaya ragu.
"Izinkan kami masuk dan bertemu Zaza dulu. Setelah itu, aku akan menceritakan semuanya," potong Dimas tenang, namun tegas.
Bumi dan Kanaya terhenyak, lalu mundur memberi jalan. Namun, satu gerakan kecil membuat napas mereka tertahan: Dimas secara alami menggandeng lengan Zora, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
"Sayang, apa yang kau pikirkan sama dengan pikiranku?" tanya Bumi lagi, suaranya merendah.
"Sepertinya begitu, Mas."
"Kalau benar, syukurlah. Aku memang berharap mereka berjodoh," gumam Bumi tulus.
"Tante Zora!"
Teriakan melengking Eza, putra sulung Bumi dan Kanaya, memecah kecanggungan. Bocah itu berlari kencang, menghambur ke pelukan Zora.
"Hai, Sayang. Apa kabar, Nak?" tanya Zora lembut sembari menghujani puncak kepala Eza dengan kecupan rindu.
"Baik, Tante! Tante datang ke sini mau lihat Bayi Zaza, ya?"
"Tentu saja. Bukan cuma itu, Tante juga sangat rindu dengan keponakan ganteng ini."
"Hihi, geli Tante!" Eza terkekeh, wajahnya berseri. "Ayo Tante, kita lihat Sasa!"
Eza menarik tangan Zora, menuntunnya menaiki anak tangga satu per satu menuju kamar sang adik. Dimas hanya berdiri di lantai bawah, menyandarkan bahu sembari menatap punggung Zora dengan binar mata yang tak bisa berbohong.
Bumi dan Kanaya saling lirik. Mereka menangkap cara Dimas menatap wanita itu,tatapan penuh kepemilikan.
"Ehem," Bumi berdehem keras, memecah keheningan yang penuh teka-teki. "Sekarang, bisa cerita, kan? Sebelum rasa penasaran kami meledak."
Bersambung
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍