NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Liburan Singkat Dan Pertemuan Tidak Terduga

     ​Sinar matahari pagi di Pantai Pangandaran terasa jauh lebih bersahabat daripada teriknya matahari di lapangan markas. Erlaga benar-benar menepati janjinya untuk memberikan "kompensasi" atas kepergiannya tempo hari. Liburan singkat selama dua hari satu malam ini adalah misi khusus sang Kapten untuk memanjakan istrinya.

     ​Syafina berdiri di balkon sebuah villa yang menghadap langsung ke laut lepas. Ia mengenakan gaun pantai berbahan sifon ringan yang melambai ditiup angin. Rasa lelah karena urusan kampus dan suntuknya sendirian di rumah besar kemarin seolah luruh bersama deburan ombak.

     ​Tiba-tiba, sebuah pelukan hangat melingkar di perutnya. Wangi sunscreen bercampur aroma maskulin yang khas langsung menyapa indra penciuman Syafina.

     ​"Kamu suka tempatnya, Sayang?" bisik Erlaga tepat di telinga Syafina, bibirnya sesekali menyentuh kulit leher sang istri yang sensitif.

     ​Syafina menyandarkan punggungnya ke dada bidang Erlaga, memejamkan mata menikmati kenyamanan itu. "Suka banget, Kak. Rasanya tenang sekali di sini. Terima kasih ya, sudah menyempatkan waktu."

     ​Erlaga memutar tubuh Syafina, menatap mata bening itu dengan lekat. "Apapun untuk kamu. Kakak nggak mau istri Kakak ini stres karena ditinggal terus. Kakak ingin kamu tahu, kalau libur, seluruh waktu Kakak hanya milikmu."

     ​Siang itu, mereka menghabiskan waktu dengan sangat sederhana namun bermakna. Erlaga yang biasanya terlihat kaku dengan seragam loreng, kini tampak sangat santai dengan kemeja flanel tipis dan celana pendek. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, saling menggoda, dan tertawa saat kaki mereka dikejar ombak kecil. Erlaga bahkan rela menjadi fotografer dadakan demi mengabadikan senyum Syafina yang begitu lepas.

     ​Malam harinya, Erlaga memesan makan malam pribadi di pinggir pantai. Hanya ada mereka berdua, ditemani cahaya obor dan musik akustik yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Suasana yang begitu intim membuat Syafina merasa menjadi wanita paling beruntung.

     ​"Apa setelah ini Kakak akan ada tugas luar kota lagi?" tanya Syafina di sela makan malam mereka, curiga.

     ​Erlaga menghentikan gerakan tangannya, ia menatap Syafina dengan sorot mata yang teduh. "Sejauh ini belum ada jadwal satgas panjang. Tapi namanya tentara, Sayang, kita harus selalu siap kalau ada panggilan mendadak. Tapi tenang saja, Kakak akan selalu usahakan ada kabar buat kamu."

     ​Wajah Syafina terlihat redup dan sedih. Meskipun ia tahu resiko istri seorang prajurit batalyon, harus siap ditinggalkan suami tugas ke wilayah lain, akan tetapi tetap saja rasa sedih ada. Namun, ia mulai berusaha menerima risiko dari pilihan hidupnya. "Fina akan selalu tunggu Kakak pulang."

     ​Erlaga meraih tangan Syafina di atas meja, mengecup punggung tangannya dengan takzim. "Jangan sedih. Kakak tahu kamu istri yang hebat dan tegar. Dan kamu harus tahu, kamu adalah alasan Kakak ingin selalu cepat pulang. Karena ada kamu yang menunggu."

     Air mata Syafina semakin deras, dia seakan tidak rela kalau harus kembali ditinggalkan Erlaga. Tapi, mau tidak mau dia harus ikhlas.

     "Jangan bersedih, bukankah kakak ajak kamu ke sini untuk bersenang-senang," hibur Erlaga seraya meraih tangan Syafina membawanya ke atas pembaringan.

     ​Setelah melewati drama sedih beberapa saat tadi. Malam itu berakhir dengan sangat romantis di dalam villa. Tanpa gangguan siapapun, Erlaga kembali menunjukkan sisi "beringas"-nya yang penuh kasih, membuat Syafina kembali kewalahan namun merasa sangat dicintai.

   Sebuah penyatuan di tengah suara ombak yang menderu memberikan kesan mendalam bagi keduanya.

     ​Keesokan sorenya, perjalanan pulang menuju Bandung terasa begitu cepat. Syafina tertidur lelap di kursi samping kemudi, sementara Erlaga menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap kepala istrinya dengan sayang.

     ​"Sayang, bangun... kita mampir sebentar di rest area ya, Kakak mau beli minum," ujar Erlaga lembut saat mereka sudah memasuki wilayah perbatasan kota.

     ​Syafina mengerjap, mengumpulkan kesadarannya. "Eughh...ini sudah sampai, Kak?"

     "Kita baru sampai rest area, kita beli minum dulu."

     Syafina patuh dan mengikuti Erlaga.

     ​Mereka turun dari mobil. Syafina berniat menuju toilet, sementara Erlaga berjalan menuju gerai kopi. Namun, langkah Syafina terhenti saat ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenal sedang berdiri di depan toko roti, tampak sedang menelepon seseorang dengan raut wajah yang sedikit gelisah.

     ​Wanita itu mengenakan blus putih yang modis, tas branded yang menggantung di bahu, dan aura elegannya tetap terpancar meskipun ia terlihat sedang lelah. Lagi-lagi dokter Prita.

     ​Syafina sempat ingin menghindar, namun terlambat. Mata Prita sudah tertuju padanya. Prita menurunkan ponselnya, ekspresinya berubah dari gelisah menjadi sebuah senyum tipis yang sulit diartikan, senyum yang bagi Syafina terlihat seperti sebuah tantangan.

     ​"Syafina?" sapa Prita, suaranya tetap tenang dan profesional seperti biasa.

     ​Syafina mencoba bersikap sopan meski jantungnya berdebar tidak karuan. "Iya, Dokter Prita. Selamat sore."

     ​Prita melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Syafina dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lagi perjalanan pulang ya? Kelihatannya baru habis liburan."

     ​Belum sempat Syafina menjawab, Erlaga muncul dari balik pintu gerai kopi membawa dua gelas minuman. Langkahnya seketika melambat saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan istrinya. Rahang Erlaga mengeras, aura tegasnya kembali muncul seketika.

     ​"Prita?" Suara Erlaga terdengar dingin, tanpa nada ramah sama sekali.

     ​Prita menoleh, tersenyum lebih lebar ke arah Erlaga. "Hai, Laga. Nggak nyangka ya bisa ketemu di sini. Apa kabar?"

     ​Erlaga tidak menjawab pertanyaan basa-basi itu. Ia langsung berdiri di samping Syafina, merangkul pinggang istrinya dengan sangat protektif, seolah sedang memasang pagar pembatas yang tidak boleh dilalui siapapun.

     ​"Kami mau melanjutkan perjalanan pulang. Mari," ujar Erlaga singkat, tanpa memberi kesempatan untuk percakapan lebih lanjut.

     ​"Tunggu, Laga," potong Prita cepat. "Kebetulan sekali ketemu di sini. Aku mau bicara sedikit, soal... berkas kesehatan yang waktu itu sempat kamu tanyakan di rumah sakit. Ada beberapa hal yang belum tuntas."

     ​Syafina merasa tangannya mendingin. Berkas kesehatan apa? Kenapa Erlaga tidak pernah bercerita kalau ia menemui Prita di rumah sakit? Rasa percaya diri yang ia bangun selama liburan tadi mendadak goyah.

     ​Erlaga menatap Prita tajam. "Bisa dibahas di kantor nanti lewat ajudan saya. Sekarang saya sedang bersama istri saya."

     ​Prita terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan di telinga Syafina. "Duh, protektif sekali sih. Tenang saja, Syafina, aku nggak akan menggigit suamimu. Aku cuma bicara urusan profesional." Prita kemudian beralih menatap Syafina. "Tapi sepertinya istrimu ini masih butuh banyak belajar ya, Laga. Cara dia menatapku... masih terlihat sangat tidak aman."

     ​Erlaga tidak menanggapi ucapan Prita. Ia langsung menuntun Syafina kembali ke mobil. Begitu pintu mobil tertutup, suasana di dalam kendaraan itu mendadak menjadi tegang. Syafina hanya menatap lurus ke depan, pikirannya berkecamuk.

     ​"Sayang, jangan dengerin dia. Dia cuma mau cari perhatian," ujar Erlaga sambil mulai menjalankan mobilnya.

     ​Syafina tetap diam. Keraguannya muncul kembali. "Kapan Kakak ke rumah sakit ketemu dia? Kenapa Kakak nggak bilang sama Fina?"

     ​Erlaga menghela napas panjang. Ia tahu ini akan menjadi masalah. "Waktu kamu masih di rumah Papa, sebelum kita nikah. Kakak cuma mau ambil hasil cek kesehatan berkala untuk persyaratan Satgas. Itu saja, nggak ada yang lain."

     ​"Tapi kenapa dia bilang ada yang belum tuntas?" kejar Syafina, suaranya mulai bergetar.

     ​Erlaga menepikan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Syafina. Ia memegang kedua tangan istrinya yang mulai berkeringat dingin.

     ​"Sayang, dengarkan Kakak. Prita itu masa lalu, dan dia hanya rekan kerja yang kebetulan pernah ditunjuk kerjasama di RS militer. Tidak ada apapun antara aku dan dia. Dia sengaja bicara begitu supaya kamu ragu sama Kakak. Kamu percaya sama Kakak, kan?"

     ​Syafina menatap mata Erlaga. Di sana ia melihat kejujuran, namun bayangan Prita yang begitu percaya diri tadi terus menghantuinya. Ia merasa sangat kecil jika dibandingkan dengan dokter cantik itu.

     ​"Fina percaya... tapi Fina takut. Fina takut nggak bisa jadi apa yang Kakak butuhkan," bisik Syafina akhirnya, air matanya menetes.

     ​Erlaga langsung menarik Syafina ke dalam dekapan eratnya. "Kamu adalah segalanya yang Kakak butuhkan. Jangan pernah bandingkan dirimu dengan siapapun. Prita bukan siapa-siapa."

     ​Meskipun Erlaga mencoba menenangkan, Syafina tahu bahwa kedamaian rumah tangganya baru saja mendapatkan ujian pertama. Sosok Prita bukan sekadar mantan atau rekan kerja, tapi ancaman nyata yang tahu bagaimana cara menyerang titik lemah Syafina.

1
Esther
gak ada capeknya Laga....habis latihan langsung ngerjain istri😄
Lina Zascia Amandia: Lagi hangat2nya pengantin baru, heheh....
total 1 replies
Ayudya
lanjut kak
Ikaaa1605
Kiw kiw😅
Nice1808
romantis bnget🤣🤣lanjut thor
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sabar shafina. erlaga juga kangen kamu
Kasandra Kasandra
lanjut
Nar Sih
sabarr ya fina,tiga hri gk lama kok ,pasti nanti stlh suami mu pulang puas,,in deh lepas rinduu
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Patrick Khan
ahhhh apa q aja yg di tinggal suamik kerja luar kota malah seneng gk karuan🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan: hahaha.. iya kak
total 4 replies
Nice1808
sabar fina cuma 3 hari ntar laga pulang rindu nya menggebu2😃😃😃
Ayudya
sabar Fina hanya 3 hari ntar kalau Uda pulang peluk yg erat jangan lepaskan🤣🤣🤣🤣🤣
Eva Tigan
persiapkan diri ..jiwa dan raga saja Syafina..ini Pak Kapten pulang pasti rindunya menggebu gebu,harus siap segera digempur entah sampai berapa Ronde..😄
Eva Tigan: yup benar.. kekuatan prajurit pasti ekstra kuat di darat ,laut dan udara ..bahkan di atas ranjang sekalipun 😄
total 2 replies
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
shafina, semangat tunjukkan prestasimu yaa
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semangat yaw😊
Nar Sih
sabarr fina ,jgn dgr kata ibu,,persit yg lain nya ,💪
Nar Sih
semagatt fina 💪jdi ibu persit 👍
Esther
dimana2 ya kalau yang senior itu selalu sok berkuasa.
Esther
Memakai seragam persit pertama kali....semangat Fina
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪 double up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!