NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:178.8k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Pembelaan Sang Kakak Ipar

     ​Syafina menghela napas panjang sambil menatap layar laptopnya yang mulai panas. Data angket yang ia sebar mengenai "Korelasi Tingkat Kecemasan terhadap Pengambilan Keputusan pada Mahasiswa Tingkat Akhir" ternyata sangat berantakan. Sebagai mahasiswi semester akhir, Syafina merasa buntu. Ia butuh validasi dari ahli agar skripsinya tidak ditolak dosen pembimbing.

     Tugas kali ini yang menumpuk, mampu mengaburkan kekesalan Syafina atas pertemuan tidak terduganya kemarin ketika mereka pulang dari liburan singkat di pantai Pangandaran.

     Untuk tugasnya kali ini, sepertinya ia butuh teman yang bisa diajak diskusi atau setidaknya dimintai tolong. Dan yang tepat menurut Syafina adalah Syapala, kakak ipar Erlaga, istri dari Arkala abang kandung Erlaga. Syafina tahu, karena Syapala merupakan Sarjana Psikologi yang ahli di bidangnya.

     Syafina meraih ponselnya lalu menghubungi nomer Syapala.

     "Mbak Pala, apa kabar? Fina lagi butuh bantuan nih, Fina pusing banget sama data angket psikologi buat skripsi. Kalau Mbak ada waktu, boleh Fina konsultasi? Fina butuh pandangan Mbak sebagai lulusan Psikologi."

     ​Tak butuh waktu lama, balasan masuk dengan nada ceria.

"Halo, Syafina. Boleh banget. Kebetulan Mbak mau ajak Arkana jalan-jalan ke mal sore ini. Kita ketemu di kafe biasa jam 3 ya? Mbak tunggu!"

     ​Pukul tiga sore, Syafina sudah duduk manis di sebuah kafe yang cukup tenang. Tidak lama, Syapala muncul dengan anggun sambil mendorong stroller yang berisi Arkana putra mungilnya yang baru berusia satu tahun. Balita itu tampak tertidur pulas dengan wajah tampan perpaduan ayahnya dan juga Om nya.

     Sejenak Syafina tersenyum melihat wajah bayi Ardala yang tampan dominan papanya, tapi yang membuat Syafina tersenyum kecil justru wajahnya malah lebih mirip suaminya.

     "Wihhh...tampan sekali babynya. Masya Allah, ini mah nggak ada mirip Mbak Pala, ini dominan papanya. Tapi, kalau dipikir-pikir malah lebih mirip omnya. Omnya...." Syafina memutus kalimatnya. Ia baru sadar kalau Arkana justru lebih mirip Erlaga suaminya.

     "Hemmm...Arkana itu mirip Papanya. Tapi, kalau ada orang lain bilang dia mirip Omnya, wajar saja, sebab Erlaga memang sedarah dengan Papanya. Begitu," ralat Syapala diiringi senyum. Untung saja tadi ia tidak bilang kalau saat hamil ia begitu benci poll sama Erlaga.

     "Iya, tentu saja dong, Mbak. Eh ngomong-ngomong, kita janjian di sini bukan untuk bahas itu, kan? Fina jadi lupa tidak salam sama Mbak." Syafina baru sadar dan menyalami Syapala dengan takzim.

     ​"Duh, calon sarjana ini, kelihatannya seperti kurang tidur, ya?" goda Syapala sambil duduk. Ia segera memesan minuman dan fokus pada lembaran angket yang disodorkan Syafina.

     ​Selama satu jam, mereka tenggelam dalam diskusi serius. Syapala menjelaskan dengan sangat detail bagaimana variabel kecemasan bisa mempengaruhi hasil data Syafina. Syafina merasa sangat terbantu, semua keruwetan di kepalanya perlahan terurai berkat penjelasan Syapala yang sangat cerdas.

     ​"Jadi, secara psikologis, responden kamu ini cenderung...."

     ​Kalimat Syapala terhenti. Sebuah langkah kaki yang sombong dan aroma parfum yang sangat menyengat, tiba-tiba menyeruak di antara mereka.

     ​"Wah, reuni dua wanita yang pernah singgah di hidup Erlaga? Kebetulan yang sangat menarik."

     ​Syafina dan Syapala serempak menoleh. Prita berdiri di sana dengan gaya angkuhnya, menatap mereka dengan tatapan meremehkan.

     ​"Dokter Prita?" gumam Syafina, mencoba tetap tenang.

     ​Prita terkekeh, matanya melirik sinis ke arah kertas angket di meja. "Masih sibuk sama kertas-kertas begini? Kasihan ya Laga, punya istri yang dunianya cuma seputar tugas kuliah. Padahal perwira sehebat dia butuh pendamping yang kariernya sudah matang, punya posisi, bukan yang masih 'bau kencur' dan cuma bisa tanya-tanya teori begini."

     ​Syafina menarik napas, ia tidak ingin terlihat lemah. "Karier yang matang memang bagus, Dokter. Tapi Kak Laga lebih menghargai istri yang mau terus belajar, bukan yang menggunakan posisinya hanya untuk merendahkan orang lain."

     ​Prita tertawa mengejek. "Pintar menjawab, ya? Tapi tetap saja, kamu itu anak kecil yang nggak sebanding dengan saya."

     ​Syapala, yang sejak tadi diam, perlahan meletakkan cangkir minumannya hingga menimbulkan suara denting yang tajam. Ia bangkit dari kursi, berdiri tegak dengan aura seorang istri perwira menengah yang sangat berwibawa. Syapala menatap Prita dari ujung rambut hingga ujung kaki.

     ​"Belum puas juga menyombongkan diri, dokter?" Suara Syapala rendah namun menusuk. "Kamu iri ya? Kamu iri karena karier hebatmu sebagai dokter ternyata tidak cukup kuat untuk membuat Erlaga memilihmu? Kamu tidak rela kan, melihat Erlaga justru jatuh ke pelukan Syafina yang jauh lebih tulus?"

     ​Prita menoleh ke arah Syapala dengan senyum pahit. "Syapa, jangan ikut campur. Kamu sendiri kan dulu dibuang demi saya."

     ​Mendengar kata 'dibuang', Syapala justru tertawa sinis. "Dibuang? Maaf, ya, dokter, bukannya Erlaga membuang aku karena dia kena tipu daya Anda.? Anda ini kan manipulatif."

     Prita menjengit, merasa kelakuannya dulu saat mencoba memberi cerita bohong tentang Syapala pada Erlaga sedang dibongkar saat ini. Tapi ia tetap bersikap sombong dan tidak tahu malu.

     ​Syapala melangkah maju, membuat Prita terpaksa mundur hingga nyaris menabrak meja lain. Syapala memastikan suaranya hanya terdengar oleh Prita, namun penuh dengan penekanan yang mematikan.

     ​"Jangan pernah berani meremehkan Syafina lagi. Dia adik iparku. Dan satu hal lagi, Dokter... jangan dikira aku lupa kejadian saat kamu mencoba menggoda suamiku, Arkala, dengan alasan konsultasi medis pribadi setelah kamu gagal mendapatkan Erlaga kembali. Mau aku laporkan kejadian itu ke Dewan Etik Kedokteran hari ini?"

     ​Wajah Prita yang tadi merah padam langsung berubah pucat pasi. Itu adalah kartu matinya yang disimpan Syapala.

     ​"Syapa... itu urusan lama," cicit Prita, suaranya menciut ketakutan.

     ​"Urusan lama yang bisa menghancurkan karier yang kamu sombongkan itu dalam semalam!" bentak Syapala. "Sekali lagi dokter menghina Syafina, atau sekali lagi dokter mencoba mendekati mengganggu rumah tangganya... aku pastikan surat laporan pelanggaran etika itu sampai ke meja atasanmu besok pagi. Kamu mau kariermu tamat hari ini karena rasa sirikmu?"

     ​Prita benar-benar ciut. Ia menyadari Syapala tidak sedang menggertak. Tanpa sepatah kata pun, Prita menyambar tasnya dan pergi dari kafe itu dengan langkah seribu, meninggalkan sisa kesombongannya yang hancur berkeping-keping.

     ​Syapala menghela napas, lalu kembali duduk. "Lihat, dokter itu pergi. Dia memang harus diancam. Kalau dibiarkan, akan terus seperti itu."

     ​Syafina tersenyum haru. "Makasih, Mbak Pala. Fina bangga punya kakak ipar sehebat Mbak. Dokter Prita sambil terbirit-birit."

     Karena urusan tugas Syafina sudah selesai atas bantuan Syapala. Mereka akhirnya berpisah. Syapala pulang duluan karena mobil Arkala sudah tiba menjemput.

     ​Tinggal Syafina kini menunggu kedatangan Erlaga. Tidak lama kemudian, sebuah mobil navy berhenti di depan lobi mal. Erlaga turun dengan langkah gagah. Begitu melihat Syafina, wajahnya yang tadi lelah langsung berubah cerah.

     Mereka menaiki mobil. Di dalam mobil, Syafina menceritakan tugasnya yang sudah selesai berkat bantuan Syapala yang cerdas. Tidak lupa Syafina menceritakan pertemuannya dengan dokter Prita. Juga Syapala yang membelanya di depan Prita sampai perempuan berprofesi dokter itu pergi terbirit karena takut ancaman Syapala.

     Erlaga tertawa kecil mendengar cerita Syafina barusan.

     "Ternyata 'hama' itu muncul lagi. Baru saja kemarin, masih saja ditakdirkan bertemu," bisik Erlaga sambil mengecup pipi Syafina dengan lembut.

     Setibanya di rumah, ​Erlaga seperti orang kesetanan, langsung membawa Syafina ke dalam kamar. Dan suara-suara yang tidak aneh bagi mereka kini begitu bebas terdengar. Untung Bi Imas sudah pulang.

1
Asra
Telat bacanya🤭 izin mampir ya kak, semangat berkarya nya!🤩👍
Lina Zascia Amandia: Mksh byk ya... 🥰🥰🥰
total 5 replies
febby fadila
alhamdllah ya semoga kalian sellu bahagia
febby fadila
ya anggak apa² terima aja dulu kasihan juga anak istrimu
febby fadila
ya anggak apa² terima aja dulu kasihan juga anak istrimu
febby fadila
mending ikhlaskan aja prita jangan memendam rasa iri dan obsesimu itu mulai lah hidupmu dengan yg baru biar kamu juga bahagia
febby fadila
wiiitt itu syafina udah ikut KB belom syaga masih kecil loh, 🤣🤣
febby fadila
sungguh ujian para suami klw masalah ganti popok 🤣🤣🤣
febby fadila
ahamdllah ikut senang aku setelah sekian purnama akhirnya bisa bertemu dan bersama kembali, masih untung kamu laga ketemu anakmu pulang tugas bayi bayi, nggak sama kek suamiku pulang nugas anak princesnya udah mau 2 thun 🤣🤣 pas ketemu sama ayahnya dia langsung nangis nggak mau dekat sama ayahnya 🤣🤣takut dia,, astagfirullah nggak bisa move on dari kenangan itu sampai sekarang
Lina Zascia Amandia: Wahh.... jadi sekarang anaknya apakah masih merasa asing ke bapaknya Kak?
total 1 replies
febby fadila
ahh fina kisahmu hampir sama kek kisahku 😭😭
Lina Zascia Amandia: Ternyata ada yg sama ya... 🥰🥰🥰
total 1 replies
febby fadila
alhamdllah selamat ya syafina dan argala atas kelahirannya putra pertama kalian semoga menjadi laki² soleh.. amin
febby fadila
sunggu di momen seperti ini yg kita takutkan untuk kita para istri prajurit momen yg nggaknpernah dilupakn seumir hidup
febby fadila
owww ikut sdih 😭😭😭
febby fadila
ini si dokter nggak laku kali ya sampai iri dan dengki sdah mendarah daging bgt dlm tubuhnya
febby fadila
ya allah kok aku ikut nangis ya 😭😭😭 cos kisah ini sama kek ceritaku banget 😭😭
febby fadila
semangat fina astaga kisah fina dan laga ini seakan menceritakan kisah aku sama suami 😭😭😭 sedih aku klw diingat² 😭😭 waktu aku hamil pun kandungan baru 3 bulan dan suami juga harus tugas ke papua juga pulannya paksu anak pertama kami sdah umur 1 thun 8 bulan 😭😭😭
febby fadila
itu wajib fina sebagai istri prajurit harus kuat hati harus siap dinomor duakan sama bumi pertiwi dan negara, banyak² doa buat suami, kamu msih ubtuk masih bisa rasa pelukan suami beberapa bulan tp aku baru selesai malam pengantin paginya suami harus tugas di papua selama 2 tahun 😭😭😭
febby fadila
jangan terllu mersa incure fina kamu harus tegas buat prita bungkam dan nggak berani muncul lagi didepanmu
febby fadila
erlaga lagi kejar setoran k renternir ini 🤣🤣🤣🤣
febby fadila
fina kamu hatus menjadi wanita yg tegas biar nggak muda diintimidasi sama prita dan prita lainnya
febby fadila
emang dah ternyata bukan di dunia nyata aja bgt para suami 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!