Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6: Vonis di Bawah Hujan
Langit di atas ibu kota seolah tahu bahwa sebuah tragedi besar sedang mencapai puncaknya. Awan hitam yang menggantung sejak sore akhirnya pecah, menumpahkan hujan deras yang menghantam atap-atap bangunan dengan suara seperti ribuan genderang perang. Guntur menggelegar di kejauhan, membelah langit dengan kilatan cahaya biru yang pucat.
Di depan pintu utama kediaman Lane, Adrian berdiri dengan tubuh basah kuyup. Setelan mahalnya yang biasa ia banggakan kini menempel di tubuhnya, membuatnya tampak seperti tikus got yang kedinginan. Ia terus memukul pintu kayu jati yang kokoh itu dengan kepalan tangannya yang gemetar.
"ELARA! BUKA! AKU TAHU KAU MENGATUR SEMUA INI!" teriaknya, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan. "KAU DAN DUKE ITU... KAU MERENCANAKANNYA, KAN?!"
Di dalam, Elara berdiri di aula utama yang megah. Cahaya lilin dari lampu gantung kristal memantul di mata pink-nya yang tajam. Ia tidak bergerak. Ia hanya mendengarkan suara kehancuran pria yang dulu pernah ia cintai dengan sebegitu bodohnya. Di belakangnya, Alaric berdiri seperti bayangan abadi, tangannya bertumpu pada gagang pedang hitamnya, siap bergerak jika pria di luar sana berani menyentuh seujung kuku Elara.
"Biarkan dia masuk," ucap Elara pelan pada kepala pelayan. "Aku ingin dia melihat wajah orang yang menghancurkannya di bawah cahaya yang terang."
Pintu terbuka dengan sentakan keras. Adrian terhuyung masuk, napasnya tersengal-sengal. Air hujan menetes dari rambutnya ke lantai marmer yang bersih. Ia menatap Elara dengan mata merah penuh kebencian dan keputusasaan.
"Di mana dia?!" Adrian berteriak, mengabaikan kehadiran Alaric yang memancarkan aura membunuh. "Di mana Sera?! Dia membawa buku itu! Dia menghilang setelah aku menyuruhnya mengambil dokumen rahasia!"
Elara melangkah maju satu langkah, gerakannya begitu anggun seolah ia sedang menari di sebuah pesta, bukan sedang menghadapi pengkhianat. "Sera? Maksudmu wanita yang kau janjikan akan menjadi nyonya di rumah ini setelah kau menyingkirkanku?"
Wajah Adrian memucat. "Kau... bagaimana kau..."
"Bagaimana aku tahu?" Elara tertawa, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Adrian berdiri. "Adrian, kau terlalu meremehkan seorang wanita yang sudah kau sakiti. Sera tidak menghilang. Dia hanya memilih masa depan yang lebih cerah daripada bersamamu."
"Apa maksudmu?!"
"Dia menjualmu, Adrian," sela Alaric dengan suara berat yang memenuhi ruangan. Alaric melangkah maju, berdiri di samping Elara, membuat Adrian tampak semakin kecil dan hina. "Sera menyerahkan buku hitam itu kepadaku secara sukarela. Dia menukarnya dengan sekantong emas dan tiket untuk keluar dari negeri ini. Dia tidak pernah benar-benar mencintaimu. Dia hanya mencintai uangmu, dan saat uangmu habis, dia adalah orang pertama yang memotong lehermu."
Adrian menggelengkan kepalanya dengan liar. "Tidak... tidak mungkin! Sera tidak mungkin melakukan itu! Dia mencintaiku! Kami berencana untuk—"
"Berencana untuk membunuhku?" Elara memotong kalimat Adrian dengan tajam. Ia mendekati Adrian hingga jarak mereka hanya terpaut satu meter. "Sama seperti yang kau lakukan padaku... di kehidupan yang lain?"
Adrian tertegun. Ia tidak mengerti apa maksud kata-kata Elara, tapi ia bisa merasakan kebencian yang begitu murni dan purba dari tatapan wanita itu. Kebencian yang tidak mungkin muncul hanya karena masalah bisnis satu malam.
"Buku hitam itu sekarang ada di tangan Dewan Pengawas Kekaisaran," lanjut Elara, suaranya kini kembali tenang namun mematikan. "Semua suap yang kau berikan, semua sabotase yang kau lakukan pada pesaingmu, dan semua penggelapan dana nasabah Bank Miller... semuanya tercatat dengan sangat rapi. Bahkan tanda tanganmu di sana sangat jelas."
Adrian jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Kekuatannya hilang seketika. "Habis... semuanya habis..."
"Belum, Adrian. Ini baru permulaan," Elara berlutut di depan Adrian, memaksanya menatap matanya. "Kau akan kehilangan gelarmu. Kau akan kehilangan hartamu. Dan besok pagi, seluruh dunia akan tahu bahwa Adrian Miller bukanlah seorang jenius keuangan, melainkan seorang penipu rendahan yang menggunakan nama istrinya untuk menutupi hutang judinya."
"Kenapa, Elara...?" bisik Adrian dengan air mata yang mulai bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya. "Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku mencintaimu dengan caraku sendiri..."
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Adrian. Elara tidak bisa menahan dirinya lagi. "Cinta?! Kau menyebut racun yang kau berikan padaku sebagai cinta?! Kau menyebut perselingkuhanmu dengan asistenku sebagai cinta?! Jangan pernah berani mengucap kata itu dengan mulutmu yang kotor!"
Elara berdiri dan mengusap tangannya dengan sapu tangan, seolah ia baru saja menyentuh sesuatu yang sangat menjijikkan. "Alaric, panggil para pengawal. Aku tidak ingin melihat wajahnya di rumahku lagi."
Alaric menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap, beberapa prajurit berseragam hitam masuk dan menyeret Adrian keluar. Adrian terus berteriak, memohon ampun, namun suaranya perlahan hilang ditelan suara hujan di luar sana.
Hening kembali menyelimuti aula. Elara berdiri mematung, menatap pintu yang tertutup. Bahunya sedikit bergetar. Bukan karena sedih, tapi karena pelepasan beban yang selama ini menghimpit jiwanya.
Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat dan kuat melingkar di bahunya. Alaric memeluknya dari belakang, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya suasana malam itu.
"Ini sudah berakhir untuk tahap pertama, Elara," bisik Alaric di dekat telinganya.
"Kenapa hatiku tidak merasa lega seperti yang kubayangkan?" tanya Elara pelan.
"Karena dendam adalah api yang membakar pemiliknya juga," jawab Alaric lembut. Ia memutar tubuh Elara agar menghadapnya. "Tapi jangan khawatir. Aku akan ada di sini untuk memadamkan api itu jika ia mulai membakarmu. Kau tidak lagi sendirian dalam kegelapan ini."
Elara menatap Alaric, mencari jawaban dalam mata gelap pria itu. "Kau mengenalku, bukan? Maksudku... kau benar-benar mengenalku dari 'sana'?"
Alaric terdiam lama, sebelum akhirnya ia mengangguk perlahan. "Aku sudah mencarimu melalui ribuan mimpi dan ratusan garis waktu, Elara. Di kehidupan sebelumnya, aku terlambat. Aku hanya bisa memeluk tubuhmu yang sudah dingin. Tapi di kehidupan ini... aku akan memastikan dunia ini berlutut di bawah kakimu sebelum ada satu orang pun yang berani menyakitimu lagi."
Elara terpaku. Ia tidak pernah menyangka bahwa cintanya yang paling tulus justru datang dari pria yang paling ia hindari di masa lalu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Alaric, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil dan menenangkan.
Di luar, hujan mulai mereda, meninggalkan aroma tanah yang segar dan keheningan yang baru. Di bawah cahaya rembulan yang mulai muncul dari balik awan, sebuah babak baru telah dimulai. Bukan lagi tentang seorang wanita yang melarikan diri dari maut, melainkan tentang seorang ratu yang sedang membangun tahta di atas abu musuh-musuhnya.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔