NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Identitas yang Terbelah

Tangan Fandy gemetar hebat saat jemarinya menyentuh permukaan kertas yang menguning itu. Di bawah sorot lampu ruang kerja yang temaram, dokumen itu terasa lebih berat daripada tumpukan saham perusahaannya. Di sana, terdapat sebuah akta kelahiran tua dan sebuah surat pernyataan bermaterai kuno dengan stempel rumah sakit yang sudah lama tutup.

Hana dan Syabila berdiri mematung di sisi Fandy. Zaky, sang detektif, tetap pada posisinya dengan mata yang terus mengamati setiap reaksi emosional di ruangan itu. Saat Fandy akhirnya membaca baris demi baris dokumen tersebut, napasnya seolah terhenti.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik Fandy. Suaranya terdengar seperti kaca yang pecah.

Hana memberanikan diri untuk mengintip. Di sana tertera nama ayah Fandy, namun pada kolom ibu, bukan tertulis nama Rosa Sasmira. Tertulis sebuah nama yang asing: **Siti Maryam**. Dan di bawahnya, terdapat surat pelepasan hak asuh yang menyatakan bahwa Rosa Sasmira telah "membeli" bayi tersebut dari seorang asisten rumah tangga untuk menutupi kenyataan bahwa ia sendiri mandul, demi menjaga martabat keluarga besar di depan Hendrawan.

"Jadi... selama ini aku bukan anak kandung Mama Rosa?" Fandy terduduk lemas di kursinya. "Dan wanita yang kusebut Nenek... wanita yang menyiksa Nida dengan alasan garis keturunan murni... dia sendiri yang telah mencemari garis keturunan itu dengan kebohongan besar?"

"Bukan hanya itu, Mas Fandy," sela Zaky sambil menunjuk pada lampiran kedua. "Ada klausul di surat warisan kakek Anda. Jika terbukti ada manipulasi garis keturunan dalam ahli waris utama, maka seluruh aset perusahaan, rumah ini, dan yayasan akan jatuh sepenuhnya ke tangan adik laki-laki satu-satunya yang sah secara darah... yaitu Hendrawan."

Inilah "bom" yang dimaksud Mama Rosa. Jika rahasia ini meledak ke publik atau sampai ke tangan pengadilan, Fandy akan kehilangan segalanya dalam semalam. Status sosialnya, hartanya, dan yang paling menyakitkan: identitasnya sebagai anak dari keluarga terpandang ini.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka pelan. Mama Rosa berdiri di sana dengan wajah yang sangat dingin. Ia tidak lagi tampak menyesal. "Sekarang kamu tahu kenapa Mama selama ini sangat keras pada Nida dan Hana," suara Mama Rosa terdengar tajam. "Aku harus memastikan kamu tetap terlihat sempurna di mata Hendrawan. Jika kamu menikah dengan wanita seperti Anita yang memiliki koneksi kuat, Hendrawan tidak akan berani menyentuhmu. Tapi kamu memilih Nida yang lemah, dan sekarang kamu memilih Hana yang punya masa lalu jalanan. Kalian membuat posisiku rentan!"

"Mama tega melakukan ini?" tanya Fandy dengan mata berkaca-kaca. "Mama membohongiku seumur hidup hanya untuk harta?"

"Bukan hanya untuk harta, Fandy! Untuk nyawamu!" teriak Mama Rosa. "Hendrawan itu psikopat. Dia tahu rahasia ini sejak sepuluh tahun lalu. Dia memeras aku! Dia meminta dana dari yayasan lewat Anita untuk menutup mulutnya. Sekarang, karena Anita sudah tertangkap, Hendrawan tidak punya alasan lagi untuk diam. Dia akan menghancurkan kita semua!"

Di saat ketegangan mencapai puncaknya, Syabila yang selama ini diam, tiba-tiba melangkah maju. "Jadi, karena ketakutan Nenek pada Paman Hendrawan, Nenek membiarkan Ibu Nida menderita? Nenek membiarkan Anita mencoba membunuhku?"

Mama Rosa tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah.

Namun, Hana menyadari sesuatu yang lebih dalam. Ia teringat pada sebuah kotak kayu kecil yang dibawa Hendrawan saat ia datang secara rahasia. "Mas Fandy, Zaky... kalau Hendrawan sudah punya dokumen ini, kenapa dia tidak langsung menyeret kita ke pengadilan sekarang? Kenapa dia masih bermain kucing-kucingan lewat Anita?"

Zaky mengangguk setuju. "Benar. Ada satu kepingan yang hilang. Dokumen yang dipegang Mas Fandy ini adalah salinan asli, tapi untuk membatalkan hak waris secara hukum, dibutuhkan sampel DNA dari ibu kandung asli Mas Fandy, Siti Maryam, atau bukti kematiannya yang sah."

"Siti Maryam masih hidup," ujar Mama Rosa dengan nada ketakutan. "Dia diasingkan oleh Hendrawan di sebuah desa terpencil. Hendrawan menahannya sebagai kartu as terakhir. Jika Fandy tidak menyerahkan 100% saham perusahaan dalam waktu tujuh hari ke depan, Hendrawan akan membawa Siti Maryam ke hadapan media."

Inilah konflik baru yang lebih segar: pencarian sosok ibu kandung Fandy. Fandy kini dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Menyerahkan segalanya kepada paman yang jahat, atau mencari ibu kandungnya yang mungkin akan menghancurkan nama baik ayahnya, namun menyelamatkan identitas aslinya.

"Aku akan mencarinya," tegas Fandy sambil menatap Hana. "Aku tidak peduli jika aku harus menjadi miskin. Aku tidak ingin hidup dalam kebohongan Mama Rosa lagi."

Namun, tantangan berat datang dari sisi lain. Syabila, yang merasa identitasnya sebagai "cucu keluarga ningrat" juga hancur, mulai merasa tidak memiliki tempat di dunia ini. Ia mengurung diri kembali. Hana kini harus membagi fokusnya antara mendukung Fandy mencari ibu kandungnya dan menjaga kewarasan Syabila yang sedang terguncang hebat.

Zaky dan Fandy berangkat menuju koordinat terakhir keberadaan Siti Maryam yang didapatkan secara paksa dari asisten Mama Rosa. Di rumah, Hana menatap Mama Rosa yang kini terduduk di lantai, menangis meratapi kebohongannya yang runtuh. Hana menyadari bahwa "bom" ini baru saja memicu ledakan pertama, dan ledakan berikutnya akan menentukan apakah keluarga ini akan tetap bersatu atau hancur menjadi kepingan sejarah yang terlupakan.

Di kegelapan luar rumah, sosok Hendrawan memantau pergerakan mereka melalui kamera tersembunyi. "Cari saja, Fandy," gumamnya. "Semakin dekat kamu dengan ibumu, semakin dekat kamu dengan kehancuranmu sendiri."

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!