"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena deh 15
"Bos, mereka ada di depan,"ucap Beni kepada Adyaksa yang tengah memeriksa pekerjaan.
Kaca mata yang bertengger di hidung, dilepaskan oleh nya. Dia lalu menatap Beni. Tatapan itu memiliki arti, siapa mereka?
"Itu Heri sama istri balunyaaa,"jawab Beni dengan setengah bercanda. Meski tak bicara, namun Beni sudah paham setiap arti dari tatapan sang tuan.
"Waaah tebel muka juga tuh musang,"sahut Adyaksa sambil tertawa pelan.
"Mereka kesini naik apa ya? kan mobil si musang dibawa sama Arundari,"ucapnya lagi. Bukan cepat-cepat ingin tahu tentang tujuan mereka, ya meski Adyaksa sudah tahu mengapa mereka datang kemari sebenarnya. Tapi lucu saja, pria itu malah penasaran dengan cara apa dua manusia itu datang ke kantornya.
"Suruh masuk nggak ini, Bos? Kalau nggak aku akan segera mengusir mereka," tanya Beni sekali lagi.
"Suruh masuk, pengen lihat si musang itu mau ngomong apa,"sahut Adyaksa.
Beni mengangguk paham. Dia lalu bergegas pergi untuk menyampaikan kepada Heri dan Jelita bahwa bosnya mau menemui mereka.
"Silakan masuk Pak Heri,"ucap Beni mempersilakan. Dia tak menyebut nama Jelita. Melihat wanita itu seolah membuatnya kesal.
Beni merasa demikian karena juga ikut tahu tentang masalah internal yang terjadi dari pemilik HTU tersebut. Meski Jelita adalah wanita cantik, tapi Beni merasa wajah wanita itu biasa saja. Malah terkesan tidak menyenangkan bagi dirinya.
"Selamat datang Pak Heri. Ada keperluan apa ya datang kemari?"sapa Adyaksa dengan senyum lebarnya. Namun meskipun dia menyapa dengan ramah, pria itu sama sekali tidak beranjak dari kursinya. Ia juga malah kembali mengenakan kacamatanya dan memeriksa pekerjaan yang menumpuk di mejanya.
Tidak seperti saat pertama kali Heri datang, sambutan Adyaksa sepenuhnya hangat. Ia pun akhirnya merasa bahwa situasi ini tidak nyaman. Heri juga merasa bahwa pria dengan kedudukan tinggi di depannya ini tidak menyukai kedatangannya meski wajahnya terkesan ramah.
"Selamat siang, Pak Ady. Maaf jika mengganggu waktu Anda,"ucap Heri.
"Aah benar, sudah tahu mengganggu kenapa malah datang?" sahut Adyaksa.
Degh!
Heri tidak menyangka bahwa Adyaksa akan menjawab demikian. Terlebih tatapan mengintimidasi itu, cukup membuat tubuhnya bergetar. Seketika keinginan menggebu-gebu untuk bertanya dari dalam diri Heri pun sirna. Kini dia hanya berdiri terpaku.
"Mas," panggil Jelita lirih saat melihat suaminya diam tanpa kata.
"Cepet tanya,"bisik Jelita tepat di telinga Heri.
"Ahhh ... Maaf Pak Ady, ini soal perjalanan ibadah yang waktu itu kita bicarakan. Tadi saya mendapat telepon dari Pak Beni bahwa Anda tidak jadi menggunakan agen travel kami. Apakah itu benar? Dan apa alasan Anda membatalkannya?"
Akhirnya Heri membuka mulutnya juga. Akhirnya dia dapat mengutarakan apa yang jadi pertanyaannya.
Hening, suasana dalam ruangan itu seketika menjadi sedikit dingin saat tak ada satu pun suara yang keluar. Adyaksa terlihat sekali mengabaikan pertanyaan Heri. Dia bahkan tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang ada di atas mejanya.
Gluph!
Heri dan Jelita sama-sama menelan saliva mereka sendiri. Situasi ini sungguh membingungkan. Terlebih Beni juga sama sekali tidak mempersilakan mereka untuk duduk sehingga membuat Heri dan Jelita seolah seperti karyawan yang tengah mendapat peringatan dari atasan mereka.
Sekitar sepuluh menit lamanya, ruangan itu benar-benar seperti ruangan tak berpenghuni. Heri ingin kembali membuka mulutnya, akan tetapi dia merasa tidak berani.
"Kau tanya apa alasanku?"
Akhirnya ada suara juga. Suara dari mulut Adyaksa. Namun entah mengapa suasananya malah semakin mencekam. Suara pria itu begitu dingin hingga berhasil membuat bulu kuduk Heri berdiri.
"I-iya betul, Pak. Soalnya ini sangat mendadak sekali. Kami jadi bingung mengapa Anda tiba-tiba membatalkannya padahal persiapan sudah mulai kami lakukan,"jawab Heri dengan memberanikan diri.
"Entahlah. Aku cuma nggak suka aja sama kamu. Jadi aku nggak jadi pake agen travel mu. Ya gimana ya, masa iya aku mempercayakan perjalanan ibadah karyawanku sama orang yang nggak paham agama. Sama orang yang udah zalim. Menjijikan."
Jegleeeer
Meski kata terakhir yang keluar dari mulut Adyaksa sangat pelan tapi Heri dan Jelita bisa mendengarnya. Seketika mereka kaget bukan main ketika mendengar ucapan Adyaksa yang dikatakan sambil tersenyum lebar. Bagaimana tidak, bisa-bisanya orang itu berkata lugas tapi dengan bibir tersenyum. Sungguh membuat hati tidak nyaman.
"Maaf, kenapa Anda bicara demikian kepada saya. Kalau memang Anda tidak mau menggunakan jasa saya, ya sudah jangan menghina,"ucap Heri dengan rahang yang mengeras. Dia juga mengepalkan tangannya dengan sangat erat karena menahan amarahnya tersebut.
Kata 'menjijikan' yang terlontar dari mulut Adyaksa cukup membuat Heri tersinggung.
Sedangkan Adyaksa, pria itu hanya tertawa terbahak-bahak. Pun dengan Beni. Meskipun tidak sekeras tawa Adyaksa, tapi baik Heri maupun Jelita jelas sekali mendengar tawa dari mulut Beni.
Jelita menciut, dia merasa seolah-olah dua orang itu sedang menertawakannya. Ia merasa dirinya bak badut di tengah pertunjukkan.
"A-apa maksud Anda itu,"ucap Jelita memberanikan diri.
"Hahaha kau pikir lah sendiri. Males banget aku harus menjabarkan kezaliman orang lain. Dan sana, enyah dari hadapanku. Muak sekali aku melihat wajah kalian berdua. Wajah sok suci, sok alim tapi kelakuannya luar biasa busuk," ucap Adyaksa tegas ditambah dengan tatapan tajam yang menusuk.
Dengan lesu, mereka berdua pun berjalan keluar dari ruangan Adyaksa diantar oleh Beni. Baik Heri maupun Jelita tak berani lagi menjawab ucapan Adyaksa.
Sesampainya di luar ruangan, Beni sama sekali tidak bicara apa-apa dan kembali masuk. Seolah dia membuang benda tak penting.
Fyuuuh
Heri membuang nafasnya kasar. Wajahnya kusut, dan tubuhnya terasa lunglai. Cita-cita menggaet AKAR agar namanya naik, kini pupus sudah. Dan apa yang terjadi di dalam tadi cukup mengejutkan juga bahwasannya seorang Adyaksa Gumilar bisa berkata demikian.
Sedangkan Jelita, wajahnya juga tampak tidak baik. Wanita itu menggerutu tapi suaranya tidak terdengar hingga telinga Heri. Pasangan yang baru menikah itu benar-benar tampak muram.
Kebanyakan pasangan yang habis menikah itu pasti akan bahagia dan aura yang terpancar juga cerah. Tapi agaknya tidak bagi Heri dan Jelita. Aura mereka nampak suram, dan tak ada bahagia-bahagianya. Semua itu karena setelah menikah, bukan rejeki yang didapat melainkan kerugian.
"Jadi, kita juga nggak jadi dong ngadain kajian sama Ustadzah Halimah?" tanya Jelita saat masuk ke dalam mobil. Mobil ini adalah milik ayah Jelita.
"Iyalah, mau apa juga diadakan. Kan kajian itu buat karyawan AKAR. Buruan hubungin pihak mereka dan bilang kalau kajian dibatalkan," sahut Heri dengan nada suara ketus.
Pria itu mengusap wajahnya kasar. Tak disangka semuanya tiba-tiba menjadi kacau begini.
Alhasil mereka berdua kembali ke rumah Jelita. Tapi saat Jelita keluar dari mobil, Heri tak ikut serta.
"Kamu mau kemana?" tanya Jelita.
"Aku harus pulang dulu," jawab Heri. Pulang yang dimaksud tentu saja kembali ke rumahnya dan Arundari.
"Aku ikut, aku nggak bisa ngebiarin kamu ketemu sama dia berdua saja," sahut Jelita. Dia kembali masuk ke mobil dan menutup pintu dengan keras.
"Terserah!"
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣