Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 23
Kamu terlihat sangat berantakan, Nona Alice."
Suara itu dingin, tenang dan sangat ia kenali. Alice memicingkan matanya, berharap bisa melihat dengan pasti orang yang berbicara kepadanya itu.
Tak lama kemudian alice bisa melihat Sam yang berdiri di sana. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah botol kecil kosong, sisa dari obat perangsang yang kini mengalir di darah Alice.
"Sam! Itu kamu? Tolong aku," ujar Alice lirih.
Alice berharap kalau pria itu bisa menolong dirinya, besar sekali harapannya terhadap Sam. Namun, reaksi Sam saat melihat wajah Alice tak seperti orang yang ingin menolong dirinya. Alice mulai gelisah.
"Menolong? Oh, tentu tidak."
"Kenapa?" tanya Alice bingung.
Sam tak menjawab, dia malah menunjukkan botol kosong bekas obat perangsang yang dia gunakan di depan mata wanita itu. Mata Alice langsung melotot, karena ternyata pelakunya adalah Sam.
"Sam, kenapa? Kenapa kamu begitu jahat?"
"Kenapa? Jangan sok merasa tak bersalah, ingat apa yang sudah kamu lakukan terhadap tuan Arkan," jawab Sam.
Alice sadar betul kesalahannya, kemarin dia benar-benar merasa cemburu. Sudah sangat lama dia begitu menyukai Arkan, tetapi ternyata pria itu malah menikah dengan wanita lain.
Alice yang gelap mata berusaha untuk membuat Arkan terjebak dengan usahanya, setidaknya walaupun dia tidak bisa memiliki Arkan seutuhnya, dia masih bisa menjadi istri kedua atau wanita simpanannya.
"Maaf, aku minta maaf." Alice memelas, Sam malah tertawa.
"Tuan Arkan tak memaafkan, dia sudah pernah memperingatkan kamu untuk tak menyentuh batasan."
Tanpa belas kasihan Sam menarik paksa tubuh Alice, dia menyeretnya ke sebuah tiang besi penyangga gudang dan mengikat pergelangan tangan wanita itu dengan rantai karatan yang tergantung di sana.
Alice tersentak, rantai itu berdenting kasar saat ia mencoba meronta. Keringat bercucuran di pelipisnya, matanya merah menatap Sam dengan penuh kebencian.
"Lepaskan aku, Sam! Kamu brengsek! Kamu binatang!" maki Alice, suaranya parau tapi penuh racun.
Sam justru terkekeh. Ia berjongkok di depan Alice, jari telunjuknya mengangkat dagu wanita itu agar menatapnya tepat di matanya.
"Binatang? Lucu sekali mendengarnya datang dari wanita yang baru saja mengemis pada preman jalanan untuk menyentuhnya."
Sam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dirasa begitu mengerikan bagi Alice.
"Sam, tolong! Ini sangat sakit, kepalaku rasanya mau pecah."
Alice merintih, tubuhnya melengkung, dia mencoba mencari posisi yang nyaman di atas semen dingin yang sama sekali tidak menolongnya itu.
"Oh, aku tahu itu sakit. Aku tahu rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang menusuk sarafmu, bukan?"
Sam mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-katanya tepat di telinga Alice.
"Itu tujuannya. Aku ingin kamu merasakan setiap detiknya. Aku ingin kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan kendali atas tubuhmu sendiri, persis seperti yang kamu lakukan pada tuan Arkan."
"Kamu gila! Kamu sakit jiwa, Sam!"
Alice meludah ke arah sepatu Sam. Pria itu mengambil sapu tangan, lalu Sam menyeka ludah itu dengan tenang menggunakan sapu tangannya.
"Maki aku sesukamu. Tapi malam ini, gudang ini adalah duniamu. Tidak ada pelampiasan, Alice. Hanya kamu, rantai itu dan panas yang akan membakar kamu dari dalam sampai kamu merasa kalau mati itu lebih baik dari apa pun."
Sam berdiri, dia merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, lalu dia berbalik menuju pintu keluar.
"Sam! Kembali! Jangan tinggalkan aku seperti ini!" teriak Alice histeris, suaranya menggema di seluruh ruangan kosong itu.
"Nikmati harimu, Alice," sahut Sam tanpa menoleh. "Anggap saja ini kursus singkat tentang konsekuensi."
Sam tertawa penuh kemenangan, dia langsung melaporkan hal itu kepada Arkan, Arkan sangat puas dan langsung memberikan bonus kepada pria itu.
"Mantap, besok tinggal serahkan dia ke polisi."
Sam tertawa melihat nominal uang yang masuk, lalu dia pergi dari sana. Dia akan kembali esok hari untuk menjebloskan wanita itu ke penjara.
***
Warna langit sudah berubah gelap, Fajar yang merasa lelah setelah seharian bekerja langsung masuk ke dalam kamar hotel yang dia pesan. Pria itu membuka pakaiannya, lalu masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dengan air hangat.
"Segarnya," ujar Sam sambil melilitkan handuk di pinggangnya.
Uap air masih mengepul tipis dari balik pintu kamar mandi yang terbuka. Fajar keluar dengan handuk melilit pinggang, jemarinya sibuk mengusap sisa air di rambut. Namun, langkahnya mendadak mati.
Di atas sprei putih yang berantakan, Rena berbaring miring. Gaun tidur satin merah tipis itu nyaris tak menyembunyikan apa pun, membalut lekuk tubuhnya yang sengaja ditonjolkan.
Ia menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara jemari lainnya bermain di bibirnya yang merah merona karena dipoles gincu. Pemandangan di hadapannya sungguh menggoda iman.
"Lama sekali, Sayang," ucap Rena, suaranya terdengar serak yang dibuat-buat.
Dahulu pemandangan ini adalah puncak dari segala fantasinya tentang Rena, wanita yang ingin ia muliakan sebagai ratu di rumahnya.
Dia selalu membayangkan bisa berpeluh dengan wanita itu, bisa menikah dengannya dan dia tak akan malu pergi ke manapun menggandeng wanita kaya sepertinya.
Namun, sekarang ketika Fajar melihat kulit yang sengaja dipamerkan itu, justru memicu rasa mual yang halus di pangkal tenggorokan Fajar.
Tiba-tiba sebuah memori menyeruak tanpa izin, dia teringat akan Mutiara yang sedang duduk di kursi kerjanya, mengenakan kemeja kedodoran sambil memeriksa berkas, wanita itu tertawa kecil saat menyadari Fajar memperhatikannya.
Kesederhanaan yang justru terasa jauh lebih indah daripada melihat keadaan Rena saat ini, Fajar malah merasa ingin bertemu dengan Mutiara, daripada harus melihat teater erotis di depannya saat ini.
"Sayang," panggil Rena lirih.
Karena Fajar tak kunjung berbicara, Rena bangkit dan melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Fajar dengan gerakan kucing yang mengincar mangsa.
Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Fajar, lalu memaksakan kehangatan dengan menyatukan tubuh keduanya.
"Kenapa diam saja? Aku sudah menyiapkan ini semua untukmu," bisik Rena di telinga Fajar.
Fajar tidak membalas pelukan itu. Tangannya justru memegang pergelangan tangan Rena, melepaskan pelukan itu, perlahan tapi tegas.
"Pakai bajumu, Sayang. Yang benar. Nanti kamu masuk angin."
Rena mengernyit. "Kamu bercanda? Kita di hotel, Sayang. Hanya berdua, kamu bebas melakukan apa pun kepadaku."
Rena menggigit cuping telinga Fajar, dia bahkan mengecup leher pria itu. Fajar tak menikmatinya, justru dia memundurkan langkahnya.
"Aku sangat menghargaimu, Rena. Aku tidak ingin kita seperti ini. Kita belum menikah. Kamar ini milikku dan aku akan memesankan satu lagi untukmu di lantai bawah."
Mendapatkan penolakan dari Fajar, tentu saja membuat Rena kesal. Dia bahkan mendorong dada pria itu dengan cukup kencang.
"Jadi sekarang kamu memilih jadi pria sok suci? Sejak kapan kamu punya moral setinggi langit ini? Apa karena perempuan itu? Apa karena Mutiara?"
Fajar membuang muka saat Rena menyebut nama Mutiara, di ruangan yang penuh kepalsuan ini terasa seperti menodai kenangan.
"Ingat, Sayang. Mutiara sudah jadi ibu tiri kamu," ujar Rena.
"Ini bukan soal dia. Ini soal aku yang akhirnya sadar apa yang benar-benar aku pengen. Itu bukan tetang urusan ranjang doang, Sayang. Bukan godaan murahan di kamar hotel."
"Murahan kamu bilang?! Aku melakukan ini karena kamu tidak kunjung melamar! Aku ingin mengikatmu!"
Setelah dia berkunjung bersama Fajar ke rumah Arkan dan bertemu dengan Mutiara, entah kenapa dia merasa terancam. Padahal Mutiara sudah menikah dengan Arkan, tetapi Rena tidak tenang.
Makanya dia memutuskan untuk mengikat Fajar, dia berpikir dengan melakukannya dengan Fajar dan dia hamil maka Fajar akan segera menikahinya.
"Cinta tidak diikat dengan cara menyerahkan tubuh untuk hal itu, Rena. Itu namanya transaksi. Pakai pakaianmu. Aku tunggu di depan resepsionis. Kalau tidak, aku yang akan pergi dari hotel ini."
Rena menggeram, dia menyambar jubah tidurnya dengan kasar. Ia menyentakkan bahunya saat melewati Fajar, meninggalkan aroma parfum menyengat yang membuat Fajar semakin merindukan aroma sabun bayi yang selalu ia cium dari sosok Mutiara.
"Apa aku benar-benar sudah salah pilih?" tanya Fajar dengan perasaan kacau.