Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Cemburu
Hari demi hari berlalu, dan Asha harus menyaksikan bagaimana kedekatan Arsa dan Raya semakin erat.
Setiap pagi, Raya selalu datang lebih awal dan menunggu Arsa di depan kelas dengan senyuman lebar.
Dan Arsa... Arsa selalu membalas dengan senyuman yang sama hangatnya.
Mereka mengobrol, tertawa, danp menghabiskan waktu bersama seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar mereka.
Dan Asha... Asha hanya bisa melihat dari kejauhan dengan hati yang semakin teriris.
🌷🌷🌷🌷
Pagi ini, seperti biasa, Asha datang ke sekolah dengan perasaan berat. Ia sudah mempersiapkan mentalnya untuk melihat Arsa dan Raya bersama lagi.
Tapi yang ia lihat hari ini lebih dari yang ia bayangkan.
Di depan kelas, Arsa dan Raya berdiri saling berhadapan.
Raya sedang merapikan kerah baju Arsa yang sedikit kusut, sementara Arsa hanya diam dan membiarkan Raya melakukannya.
"Hmm, ini kerahnya miring nih. Udah deh, biar aku rapiin" kata Raya dengan senyuman lembut sembari merapikan kerah baju Arsa.
Arsa tersenyum. "Makasih ya, Lea. Kamu selalu perhatian."
"Hmm, biasa aja kok. Lagian dulu juga aku sering rapiin baju kamu kan, waktu kita SD" ucap Raya dengan pipi yang sedikit merona.
Arsa tertawa kecil. "Iya sih. Kamu emang dari dulu suka perhatiin hal-hal kecil kayak gitu."
Asha yang melihat pemandangan itu langsung merasa dadanya sesak.
Tangannya mengepal begitu kencang hingga kukunya menancap ke telapak tangan.
'Gw... Gw dulu juga sering lakuin itu. Gw dulu juga sering rapiin baju lo, Arsa...' batin Asha dengan perasaan yang begitu sakit.
Ia cepat-cepat berjalan masuk ke kelas, tidak ingin melihat lebih lama lagi.
🌷🌷🌷🌷
Saat istirahat pertama, Asha duduk sendirian di kursinya sembari menatap keluar jendela. Cinta sedang ke kantin untuk membeli makan.
Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara tawa Arsa dan Raya yang sedang makan bersama di bangku dekat jendela.
"Hmm, Arsa! Cobain deh makanan ini. Ini enak banget!" ajak Raya sembari menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut Arsa.
Arsa tersenyum lalu membuka mulutnya, membiarkan Raya menyuapinya.
"Enak! Kamu bikin sendiri?" tanya Arsa dengan mata yang berbinar.
Raya mengangguk dengan senyuman bangga. "Hmm, iya! Aku bikin sendiri dari pagi tadi. Seneng deh kamu suka."
"Enak banget sih. Kamu jago masak ya" puji Arsa.
"Hmm, biasa aja kok. Nanti aku bikinin lagi deh buat kamu" ucap Raya dengan pipi yang merona.
Asha yang mendengar percakapan itu merasakan dadanya semakin sesak. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata.
'Gw... Gw juga dulu sering bikinin lo bekal, Arsa. Tapi lo tolak terus...' batin Asha dengan perasaan yang begitu pahit.
Ia tidak sanggup lagi melihat. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan keluar kelas dengan langkah yang tergesa-gesa.
🌷🌷🌷🌷
Di koridor yang sepi, Asha bersandar di dinding sembari memegang dadanya yang terasa sakit.
"Kenapa... Kenapa harus sesakit ini..." gumam Asha dengan suara yang bergetar.
"Kenapa Arsa bisa senatural itu sama Raya? Kenapa dia bisa senyaman itu? Padahal... Padahal sama gw dia selalu canggung..."
Air matanya jatuh begitu saja. Ia menghapusnya dengan kasar, tidak ingin terlihat lemah.
"Gw kalah... Gw kalah di semua aspek. Raya lebih cantik, lebih pintar, lebih atletis, dan yang paling penting... Dia punya ingatan masa kecil sama Arsa..."
Asha jatuh duduk di lantai koridor. Memeluk lututnya sendiri sembari menangis dalam diam.
"Gw gak bisa ngalahin dia... Gw gak mungkin bisa..." isak Asha dengan suara yang penuh keputusasaan.
🌷🌷🌷🌷
Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih baik. Malah semakin buruk.
Asha harus menyaksikan bagaimana Arsa dan Raya semakin dekat.
Mereka selalu bersama, entah itu saat istirahat, saat pulang sekolah, bahkan saat ada tugas kelompok.
Suatu hari, saat jam olahraga, Asha melihat Arsa dan Raya bermain basket bersama di lapangan.
Raya terlihat begitu mahir bermain basket. Ia berlari dengan lincah, men-dribble bola dengan sempurna, dan bahkan berhasil memasukkan bola beberapa kali.
"Wah, Lea! Kamu jago banget!" puji Arsa dengan senyuman lebar.
Raya tertawa. "Hmm, biasa aja kok. Kamu juga jago kok!"
Mereka berdua lalu adu tanding satu lawan satu. Tertawa, bercanda, dan menikmati permainan mereka.
Asha yang melihat itu semua hanya bisa terdiam di pinggir lapangan. Tangannya mengepal begitu kencang.
'Gw... Gw gak bisa main basket. Gw gak jago olahraga. Gw cuma cewek biasa yang gak punya kemampuan apapun...' batin Asha dengan perasaan insecure yang semakin membesar.
"Sha, kamu gapapa?" tanya Cinta yang tiba-tiba berdiri di sampingnya dengan nada khawatir.
Asha menggeleng pelan. "Gapapa kok, Cin."
Tapi Cinta tau bahwa Asha sama sekali tidak baik-baik saja.
🌷🌷🌷🌷
Suatu sore, setelah pulang sekolah, Asha tidak langsung pulang ke rumah.
Ia memutuskan untuk mampir ke taman kota, tempat di mana Arsa dulu menembaknya.
Ia duduk di bangku yang sama, menatap kosong ke depan dengan pikiran yang kacau.
"Apa... Apa gw harus nyerah?" gumam Asha dengan suara yang pelan.
"Arsa udah nyaman sama Raya. Mereka punya ingatan masa kecil bersama. Mereka cocok satu sama lain..."
Air matanya jatuh begitu saja. Ia tidak berusaha menghapusnya kali ini.
"Tapi... Tapi gw masih sayang sama dia. Gw masih cinta sama dia. Gw gak bisa ngelepas dia begitu aja..."
Asha memeluk lututnya sendiri sembari menangis sejadi-jadinya di taman yang mulai sepi.
Kring...
Hp-nya berdering. Sebuah pesan dari Cinta.
^^^Cinta^^^
^^^Sha, lu di mana? Gw khawatir nih.^^^
Asha menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Ia tidak berniat membalas.
Tapi tidak lama kemudian, hp-nya berdering lagi. Kali ini sebuah notifikasi dari Instagram.
Asha membuka Instagram dan ia melihat sebuah story dari salah satu teman sekelasnya.
Di story itu, ada foto Arsa dan Raya yang sedang makan es krim bersama di sebuah cafe. Mereka berdua tersenyum lebar, terlihat begitu bahagia.
Caption-nya: "Couple goals nih! 😍"
Deg.
Asha merasakan dadanya seperti ditusuk berkali-kali. Tangannya bergetar hingga hp-nya hampir terjatuh.
"Mereka... Mereka jalan berdua? Tanpa bilang siapapun?" gumam Asha dengan suara yang bergetar.
Air matanya semakin deras mengalir. Ia menatap foto itu dengan tatapan yang tidak percaya.
"Arsa... Lo... Lo bener-bener udah move on ya dari gw..." isak Asha dengan suara yang penuh kesedihan.
"Padahal... Padahal gw masih di sini. Masih nunggu lo. Masih berharap lo bisa ingat gw lagi..."
Asha menutup hp-nya dan melemparnya ke dalam tas dengan kasar. Ia tidak sanggup lagi melihat.
"Gw harus gimana? Gw harus apa lagi biar lo bisa liat gw?" tanya Asha kepada dirinya sendiri dengan suara yang penuh keputusasaan.
Tapi tidak ada jawaban. Yang ada hanya keheningan malam yang semakin gelap.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, Asha datang ke sekolah dengan mata yang sembab. Ia hampir tidak tidur semalam karena terus menangis.
Saat ia berjalan di koridor, ia melihat Arsa dan Raya sedang berdiri di depan kelas dengan jarak yang begitu dekat.
Raya sedang menunjukkan sesuatu di hp-nya kepada Arsa, dan mereka berdua tertawa bersama.
Asha merasakan dadanya sesak lagi. Tapi kali ini, ada perasaan lain yang muncul selain kesedihan.
Kesal.
'Gw udah capek nangis. Gw udah capek ngeliat mereka bahagia sementara gw sendirian di sini menderita' batin Asha dengan perasaan yang mulai berubah.
Dengan langkah yang cepat, Asha berjalan menuju mereka berdua.
"Pagi" sapa Asha dengan nada yang datar.
Arsa dan Raya menoleh ke arah Asha. Arsa terlihat sedikit kaget, sementara Raya tersenyum ramah.
"Hmm, pagi Asha!" sapa Raya dengan ceria.
Asha membalas dengan senyuman tipis yang tidak sampai ke matanya. Lalu ia berjalan masuk ke kelas tanpa mengatakan apapun lagi.
Arsa menatap punggung Asha dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada perasaan aneh yang ia rasakan.
'Kenapa... Kenapa Asha jadi dingin gitu ya?' batin Arsa dengan perasaan tidak nyaman.
🌷🌷🌷🌷
Saat istirahat pertama, Cinta menghampiri Asha dengan wajah yang khawatir.
"Sha, gw bisa ngomong sama lu sebentar?" tanya Cinta dengan nada serius.
Asha mengangguk. Mereka berdua lalu pergi ke atap sekolah yang sepi.
"Sha... Gw khawatir sama lu. Lu udah berapa hari nangis terus?" tanya Cinta dengan nada lembut.
Asha menunduk, tidak menjawab.
"Gw tau lu sakit hati liat Arsa sama Raya deket. Tapi Sha... Lu gak boleh ngancurin diri lu sendiri kayak gini" lanjut Cinta.
"Terus gw harus gimana, Cin? Gw harus lihat cowok yang gw sayang deket sama cewek lain dengan senyuman yang dulu dia kasih ke gw?" tanya Asha dengan suara yang bergetar.
"Gw tau ini berat. Tapi lu harus kuat, Sha. Jangan sampe lu jatuh gara-gara ini" nasehat Cinta sembari memeluk Asha.
Asha menangis di pelukan Cinta. "Gw capek, Cin... Capek banget..."
"Gw tau sayang... Gw tau..." hibur Cinta sembari mengelus punggung Asha.
Sementara itu, di bawah, Arsa dan Raya sedang duduk di bangku taman sekolah.
"Hmm, Arsa... Aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Raya dengan nada hati-hati.
"Boleh. Apa?" jawab Arsa.
"Hmm... Kamu sama Asha... Kalian sebenernya kenapa sih? Kok kayaknya Asha sedih banget ya akhir-akhir ini?" tanya Raya dengan nada khawatir.
Arsa terdiam mendengar pertanyaan Raya. Ia tidak tau harus menjawab apa.
"Kami... Kami udah putus, Lea. Aku yang minta putus" jawab Arsa akhirnya dengan suara yang pelan.
"Hmm, kenapa?" tanya Raya, meskipun di dalam hatinya ia sudah tau jawabannya.
"Karena... Karena aku gak bisa ingat dia. Aku gak bisa memaksa diriku buat jatuh cinta sama dia lagi" jelas Arsa dengan nada yang penuh penyesalan.
Raya terdiam mendengar penjelasan Arsa. Di dalam hatinya, ada perasaan senang tapi juga kasihan kepada Asha.
"Hmm, pasti susah ya buat kalian berdua" ucap Raya akhirnya.
Arsa mengangguk. "Iya. Makanya... Makanya aku merasa bersalah sama dia."
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Hanya suara angin yang berhembus pelan.
Yang tidak mereka sadari adalah...
Asha berdiri di balik pilar, mendengar semua percakapan mereka dengan air mata yang terus mengalir.
'Jadi... Jadi lo ngomongin gw sama dia? Lo cerita tentang gw sama dia?' batin Asha dengan perasaan yang semakin sakit.
'Lo... Lo bener-bener udah gak nganggap gw sebagai orang penting lagi ya, Arsa...'
Asha berbalik dan pergi dari tempat itu dengan langkah yang terhuyung-huyung.
Di dalam hatinya, kecemburuan yang tadinya kecil kini sudah berubah menjadi rasa sakit yang begitu dalam.
Dan ia tidak tau sampai kapan ia bisa bertahan seperti ini.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Waduhh kecemburuan Asha makin parah nih! 😭 Dia harus ngeliat Arsa dan Raya semakin deket, bahkan jalan berdua tanpa bilang siapa-siapa!
Kasian banget Asha, dia udah berusaha kuat tapi terus aja harus ngeliat moment-moment manis Arsa dan Raya 💔
Kira-kira Asha masih sanggup bertahan gak ya? Atau dia bakal melakukan sesuatu?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku