Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru magang di sekolah
Helena menatap jengah seorang guru magang yang sengaja menahan suaminya agar bisa berbincang lebih lama, dan lebih lagi, Kenzo juga Freya sama sekali tidak rewel meminta pulang kepada papanya.
Helena tidak cemburu dengan guru magang yang memang terlihat sangat tertarik dengan suaminya, hanya saja Helena sangat kesal karena guru magang itu membuat Helena harus membuang waktunya dengan sia-sia. Apalagi pinggangnya yang mulai terasa pegal karena duduk terlalu lama.
"Mohon maaf bu, apakah kami sudah boleh izin pamit, saya sedang mengejar waktu?" sela Helena yang benar-benar sudah tidak tahan.
Guru magang itu tersenyum canggung, ia sedikit melirik Helena, dan kembali menatap Farhan dengan senyum lebarnya.
"Maaf karena sedikit lama pak Farhan, mungkin ini sudah cukup, saya juga sudah membicarakan ini kepada Kenzo, dan Kenzo memang sangat minat,"
"Tidak apa-apa bu, justru saya yang sangat berterima kasih karena sudah memberikan kesempatan kepada Kenzo untuk mengikuti sebuah Olimpiade dari sekolah, saya sebagai orang tua dari Kenzo benar-benar sangat bangga," balas Farhan tersenyum sangat ramah, mmebuat Helena menggela napas panjang.
"Kenzo semangat untuk belajarnya, sekolah benar-benar sangat percaya jika kamu mampu mengikuti Olimpiade ini,"
Kenzo mengangguk dan mengucapkan Terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi perwakilan sekolah.
"Kalau begitu saya permisi dulu, bu,"
Helena tersenyum kecil kepada guru magang itu, lalu langsung menggandeng tangan Farhan agar segera berjalan, tidak lagi memperpanjang topik dengan guru itu.
"Kenapa buru-buru banget, aku gak enak sama bu gurunya loh?" tanya Farhan begitu mereka sudah berada di dalam mobil, sedangkan Kenzo dan Freya memilih untuk tetap di sekolah karena masih ada beberapa kegiatan yang harus mereka ikuti.
"Aku pegel, pinggang aku rasanya mau patah karena duduk hampir tiga jam tanpa berdiri, buru-buru dari mana coba, tiga jam bukan waktu yang sebentar loh," balas Helena dengan wajah kesalnya.
"Maaf, aku tidak sadar berbincang sampai tiga jam," sesal Farhan.
"Tidak apa-apa, lagi pula, aku juga merasa tidak lama, pinggangku saja yang sudah protes meminta untuk tidak terus duduk," sindir Helena memundurkan senderan punggungnya agar terasa lebih nyaman.
"Mau makan siang dulu?" tanya Farhan begitu keluar dari gerbang sekolah dan langsung melihat ada restoran dengan tulisan bahasa asing menghiasi seluruh dinding restorannya.
"Sebenarnya aku lapar, tapi aku lebih butuh cepat sampai di rumah dan merebahkan tubuhku ini," jawab Helena yang sudah memejamkan matanya bersiap tidur selama dalam perjalanan.
Farhan mengangguk, klau sedikit mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai di rumah, memang terlihat sekali jika Helena hari ini lebih lemas dari hari biasanya, wajahnya pun terlihat sedikit pucat.
Farhan menginjak rem secara mendadak, Helena yang sudah tertidur terbangun karena dahinya hampir saja membentur dasbor mobil jika saja tangan Farhan tidak cepat menahan tubuhnya agar tidak sampai terbentur ke depan.
"Kenapa?" tanya Helena menoleh ke arah Farhan yang napasnya sedikit tidak teratur.
"Ada orang yang nyebrang tiba-tiba, padahal dia udah tau banyak mobil yang sedang ngebut,"
Helena sedikit memajukan tubuhnya untuk melihat kondisi di depan sana, lalu menatap seorang wanita yang berdiri di trotoar dengan dikelilingi beberapa orang, sepertinya dia sedang terkena amukan beberapa pengendara karena nyebrang yang tidak melihat kondisi.
"Sebentar, aku masih sedikit shock, tadi aku hampir saja menabraknya jika aku tidak menginjak remaja secara mendadak," ucap Farhan yang diangguki Helena.
"Mau minum dulu?" tanya Helena mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipis suaminya, sepertinya kejadian itu benar-benar membuat suaminya terkejut sampai mengeluarkan keringat dingin.
Farhan menggeleng, "kita langsung jalan saja, wajah kamu sudah semakin pucat,"
Helena mengerutkan dahinya, lalu menatap wajahnya di cermin kecil yang ada di atas dasbor, dan benar saja jika wajah dirinya yang sudah pucat semakin pucat.
Helena sendiri tidak sadar jika wajahnya sudah pucat, karena ia tidak merasakan apapun selain pinggangnya yang pegal, kepalanya pun tidak terasa pusing.
"Padahal aku tidak merasakan apa-apa selain pinggang aku yang pegal,"
"Mau pijit dulu? Di depan sana ada tempat pijit tradisional khas negara china, kamu mau?" tanya Farhan yang sudah lebih tenang dari beberapa menit yang lalu.
"Boleh?"
"Ya boleh dong, masa mas larang," kekeh Farhan.
"Mau deh mas, pinggang aku bener-bener pegel,"
Farhan melirik sekilas istrinya, lalu kembali fokus menatap jalanan yang sedikit lengang karena orang-orang masih berada di tempat kerjanya.
"Maaf,"
Helena menoleh, dahinya kembali mengerut, "maaf untuk apa?" sebenarnya Helena sudah tau untuk apa Farhan meminta maaf, tapi rasanya tidak seru jika ia langsung mengiyakan permintaan maaf dari suaminya.
"Maaf sudah membuat kamu duduk terlalu lama sampai kamu sakit pinggang, aku benar-benar tidak sadar jika guru Kenzo mengajak berbincang selama itu,"
Helena terkekeh pelan, "Tidak apa-apa mas, memang guru Kenzo itu terlihat sangat asik, jadi siapapun yang berbincang dengannya pasti tidak akan sadar waktu,"
Farhan semakin merasa bersalah, karena ucapan Helena itu jelas bukan untuk memuji tapi sebagai sindiran keras untuk dirinya yang keasikan berbincang dengan guru Kenzo sampai tidak tau waktu.
"Kamu marah?"
Helena menoleh, "marah kenapa? Aku biasa saja,"
"Itu, kamu terlihat tidak senang dengan guru Kenzo,"
Helena menggela napas pelan, "aku bukan tidak suka yang gimana-gimana, aku hanya kesal karena guru Kenzo itu sengaja mencari topik untuk bisa berbincang lama sama kamu mas, padahal dia sadar aku sudah tidak nyaman duduk lama, pinggang aku benar-benar pegal,"
Farhan diam, ia kira Helena cemburu dengannya karena perbincangan dia dan guru Kenzo terlihat sangat asik, Farhan sedikit menghela napas panjang, memangnya apa yang Farhan harapkan dari istrinya setelah melakukan pemaksaan dan menyakitinya? Helena sudah kembali menerimanya saja sudah sangat cukup untuk Farhan, tapi ia sedikit gelisah karena tatapan Helena tidak lagi sama seperti dulu, saat dirinya belum membuat Helena terluka.
"Aku sudah keterlaluan ya sama kamu?" tanya Farhan tanpa menatap Helena.
Helena diam, ia sudah tau kemana arah pembicaraan suaminya, mal ketika Farhan memaksanya bahkan menyakiti hati juga raganya, Helena tentu tidak akan pernah bisa melupakan hal tersebut di dalam benaknya, teriakan dirinya yang kesakitan, ringisan-ringisan dirinya setiap kali Farhan memukulnya, bahkan sampai tangisan dirinya yang meminta Farhan untuk berhenti.
"Kamu masih belum bisa lupa dengan kejadian malam itu ya?"
Suara Farhan langsung membuat Helena kembali tersadar, "kita bisa berhenti mambahasnya mas, sulit memang untuk melupakannya, tapi aku masih mau memperbaiki hubungan kita, hubungan aku dan anak-anak,"
"Maaf, aku janji tidak akan pernah lagi menyakitimu."