"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Kerja
Naina sudah siap bekerja lengkap dengan seragam Toko Bunga Kita. Ia terlihat cantik mengenakan seragam berwana merah mudah kombinasi warna putih itu. Ia juga terlihat sangat bersemangat. Seperti menemukan dunia baru.
"Nai. Lily yang akan membimbing kamu beberapa hari ke depan, ya. Jangan sungkan kalau mau bertanya hal yang kamu belum mengerti." Ucap bu Laras pada Naina.
"Baik, Bu." Balas Naina.
"Aku Lily, Nai. Senang bekerja sama dengan mu." Ucap Lily menyodorkan tangan.
Naina segera menjabat tangan Lily. "Aku Naina. Mohon bimbingannya ya, Ly."
"Oke, Siap!"
Lily lantas membawa Naina ke tempat membuat buket. Di sana banyak sekali jenis-jenis bunga. Mereka mengitari tempat itu, dan Lily dengan telaten menjelaskan apa saja yang harus Naina kerjakan, sekaligus memberitahu jenis-jenis dan nama-nama bunga di sana serta alat-alat yang harus di gunakan. Naina sangat antusias, bunga-bunga yang cantik seperti menghipnotis dirinya semakin mencintai pekerjaannya ini. Apalagi Lily yang seumuran dengan Naina, membuat mereka seperti berpadu. Tidak lupa Lily juga memperkenalkan Naina dengan pegawai lain yang ada di sana.
***
Jam istirahat, Toko Bunga Kita menyediakan makanan dan tempat khusus untuk para Karyawan, sehingga mereka tidak perlu repot untuk membawa atau membeli makanan dari luar.
"Aku perantau, Nai. Aku tinggal sendiri di sini. Ayah Ibu ada di Kota seberang." Ucap Lily. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di jam istirahat.
"Di sini kamu tinggal dimana?" Tanya Naina.
"Aku ngekos gak jauh kok dari sini. Bisa jalan kaki, paling lima belas menitan. Hemat anggaran sekaligus olahraga." Ucap Lily sambil tertawa.
"Aku bisa kok jemput kamu saat berangkat kerja. Kita juga bisa pulang sama-sama."
"Aduh! Gak usah repot-repot. Aku kerja di sini sejak Toko Bunga ini buka. Udah biasa jalan kaki."
"Tidak apa-apa. Aku tidak merasa di repotkan. Aku senang punya teman. Lagipula kita sama, aku juga bukan asli orang sini. Aku berasal dari Kampung yang jauh dari sini malahan."
"Iyakah?"
"Iya. Makanya kamu jangan segan, Ly. Kan kita sekarang berteman."
"Yaudah kalo gitu. Makasih, Ya, Nai."
Naina mengangguk.
"Denger-denger kamu udah nikah, Nai?" Tanya Lily di sela suapannya.
"Iya. Alhamdulillah."
"Kalo liat orang nikah, aku jadi pengen juga. Pasti happy ya punya seseorang yang bisa di peluk tiap malem." Lily cekikikan. Sedangkan Naina, raut wajahnya seketika berubah. Ia menyunggingkan senyum kecil dan memalingkan wajah.
"Ceritain dong gimana malam pertama itu?" Lily yang tidak menyadari kesedihan Naina, terus saja menggoda gadis yang ada di sebelahnya itu.
Naina tertawa kecil, "Nanti kamu juga akan merasakan." Jawab Naina. "Tapi yang jelas, kamu akan melihat orang yang kamu cintai setiap hari. Dengan melihatnya saja, rasa cinta mu semakin bertambah." Sambungnya.
"Ah! So sweet sekali. Jadi gak sabar ingin nikah." Ucap Lily dengan mata berbinar.
Naina tersenyum. "Aku doain semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu impikan, Ly."
"Aamiin! Aamiin! Tapi boro-boro mau nikah, pacar aja aku gak punya."
Naina hanya tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Lily. Makan siang itu mereka lewati dengan membicarakan banyak hal.
*****
[Semangat kerja] Sebuah pesan masuk di ponsel Dimas. Pesan singkat disertai emotikon tersenyum.
[Thanks, Sar] Balas Dimas.
Dimas meletakkan ponselnya, membiarkan benda itu tergeletak di sebelah komputernya.
Sementara itu...
Sarah tersenyum kecil, ia menggenggam ponselnya dengan sangat erat.
"Bohong banget kalo aku gak baper waktu kamu bilang masih cinta sama aku, Dim."
"Aku gak ingin jadi wanita jahat. Tapi jujur aja, dekat sama kamu bikin aku tenang dan nyaman. Perasaan yang selalu aku rindukan."
"Andai saja aku tidak menikah dengan lelaki berengsek itu, mungkin hidupku tidak sehancur ini."
Sarah mendengus. Matanya berkaca-kaca, kegagalan pernikahannya terus saja menghantui yang membuat ia merasakan penyesalan yang teramat sangat.
udah muak gw di otak nya sarah mulu, kasian naina,,
sarah jga udah tau dimas laki orang, malah di biarin anak nya deket sma si dimas, kan cari masalah pusing sndri krna udah terlanjur deket,,
kasih dia cwok gih biar gak recokin rumah tangga orang mulu,,,
kalau Dimas masih datangin sarah dan Kimmy,,buat naina pergi jauh dan Dimas nangis darah..