"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA HUJAN TAHUN 2000
Tahun 2000
Hujan turun pelan sore itu. Gerimis tipis yang dinginnya merayap hingga ke tulang, membawa bau tanah basah khas gang sempit di pinggiran kota. Radio tetangga memutar lagu lama yang terdengar sayup, terselip di antara irama rintik yang jatuh di atap-atap seng.
Bagas melangkah gontai. Sepatu lusuhnya basah, kemeja kerjanya kusut, dan map cokelat di tangannya terlipat lelah—berisi surat penolakan kerja kesekian kalinya. Sudah tiga bulan sejak ia di-PHK dari pabrik. Tiga bulan hidupnya terasa seperti menuruni jurang tanpa pegangan.
Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menghapus sisa air hujan—atau mungkin rasa putus asa yang mulai mengerak. “Kanaya pasti sudah bangun,” gumamnya pelan. Biasanya di jam seperti ini, putri kecilnya akan merengek minta digendong.
Ia mendorong pintu kayu rumah petaknya. Krek…
Sepi. Tidak ada suara denting panci di dapur. Tidak ada suara langkah ringan istrinya. Tidak ada tangisan Kanaya. Hanya ada deru hujan yang semakin riuh di atas kepala.
“Mah?” panggilnya ragu.
Hening. Langkahnya terhenti saat melihat ranjang tipis di sudut ruangan. Kanaya tertidur di sana, memeluk boneka kain yang sobek di bagian telinga. Namun, di samping tubuh mungil itu, selembar kertas tergeletak dengan posisi terlipat.
Dada Bagas mendadak sesak. Dengan tangan gemetar, ia mengambil kertas itu. Tulisan tangan istrinya langsung menyapa mata, tajam dan dingin.
Aku tidak sanggup hidup seperti ini. Hutangmu menumpuk. Aku sudah tidak kuat menahan malu. Maafkan aku. Aku pergi. Jangan cari aku.
Kertas itu terlepas dari jemarinya. Bagas membeku, seolah dunia berhenti berputar tepat di titik ia berdiri. Matanya bergerak panik menyapu ruangan. Lemari terbuka separuh; beberapa pakaian lenyap. Tas istrinya tak ada di gantungan.
Ia lalu memeriksa laci kecil tempatnya menyimpan satu-satunya harapan. Kosong. Gelang emas kecil milik Kanaya—hadiah dari neneknya—telah raib. Anting mungil berbentuk bunga itu pun tidak ada. Istrinya pergi membawa segalanya. Membawa sisa harga diri yang Bagas punya.
Hujan di luar mendadak terasa lebih deras, seakan ikut menindih bahunya. Kanaya bergerak kecil dalam tidurnya, bibirnya menggumam pelan, “Ma… ma…”
Suara itu seperti sembilu yang menyayat jantung Bagas. Ia luruh, terduduk di lantai yang dingin. Ia tertawa pelan—tawa getir yang lebih menyakitkan daripada tangis.
“Pergi?” bisiknya kosong. “Kau pergi begitu saja?”
Matanya menatap sang putri. Anak yang tidak tahu apa-apa. Anak yang bahkan belum mengerti arti ditinggalkan. Bagas mendekat, menyentuh pipi Kanaya yang hangat. Air matanya akhirnya pecah.
“Kenapa kamu tinggalin dia…” suaranya parau. “Kalau mau pergi, bawa aku sekalian.”
Kanaya terusik. Mata bulatnya terbuka perlahan. Begitu melihat sosok ayahnya, ia tersenyum kecil. Senyum polos tanpa luka; tanpa tahu bahwa dunianya baru saja runtuh berkeping-keping. Tangan mungilnya meraih jari Bagas, menggenggamnya erat seolah berkata: aku masih di sini.
Dan untuk pertama kalinya, Bagas merasa benar-benar hancur. Sebagai suami. Sebagai ayah. Sebagai laki-laki.
Malam itu, di rumah petak kecil yang bocor di sana-sini, seorang pria menangis dalam diam sementara putrinya kembali terlelap di pelukannya—tanpa tahu bahwa ibunya tak akan pernah pulang lagi.
Sambil memeluk Kanaya yang kembali terlelap, pandangan Bagas kosong menatap langit-langit kamar yang berjamur. Pikirannya melayang ke enam bulan lalu, saat ia menolak untuk menyerah pada nasib setelah di-PHK. Dengan sisa tabungan dan pinjaman nekat, ia membangun usaha bakso dari nol. Ia ingat betul rasanya mendorong gerobak sendiri di bawah terik matahari hingga kulitnya legam, sampai akhirnya usaha itu meledak. Dari satu gerobak menjadi empat. Ia sempat merasa bangga saat bisa membelikan istrinya perhiasan dan memberikan uang belanja berlebih kepada mertuanya. Namun, kebanggaan itu ternyata adalah awal dari kehancurannya. Tanpa sepengetahuannya, sang istri dan mertuanya mengagunkan seluruh aset gerobaknya untuk hutang-hutang konsumtif dan gaya hidup yang tak sanggup ia penuhi. Dalam sekejap, semua disita. Ia bangkrut bukan karena gagal dalam usaha, tapi karena dikhianati oleh orang-orang yang ia perjuangkan habis-habisan.
Suara-suara dari masa lalu itu kini memekakkan telinganya, beradu dengan suara hujan yang mulai mereda. Ia teringat suatu sore di dapur rumah mereka yang lama, saat istrinya merayu dengan nada manja yang kini terasa seperti racun. "Mas, Ibu mau ikut arisan emas di kampung, butuh modal sedikit lagi. Kan bakso kita lagi laku," ujar istrinya kala itu, sambil menyandarkan kepala di bahu Bagas yang masih basah oleh keringat. Bagas mencoba memberi pengertian dengan suara rendah, "Tapi itu uang untuk stok daging besok, Dek. Kita harus putar lagi modalnya." Namun, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, mertuanya masuk dengan wajah yang seketika berubah ketus.
"Halah, Bagas! Kamu itu sudah jadi bos sekarang. Jangan pelit sama mertua sendiri," semprot mertuanya tanpa basa-basi. "Apa kamu lupa siapa yang dulu mengizinkan anak saya menikah dengan buruh pabrik seperti kamu? Gerobak-gerobak itu kan bisa jadi jaminan kalau kita butuh uang cepat. Kamu pikir saya tidak malu punya menantu yang cuma jualan di pinggir jalan kalau tidak kelihatan hasilnya di kantong saya?" Bagas hanya bisa terdiam, memberikan surat-surat usahanya karena rasa hormat yang buta, tanpa tahu bahwa itu adalah tiket menuju kehancurannya saat ini.
Kini, di rumah petak yang sempit ini, Bagas berbisik pada kegelapan, "Aku sudah kasih semuanya, Mah... Gerobak-gerobak itu, tenaga aku, harga diri aku di depan Ibu kamu... kenapa Kanaya juga harus kamu korbankan?" Ia teringat kata-kata terakhir mertuanya seminggu yang lalu saat mereka bertengkar hebat karena semua aset sudah ludes disita bank. "Jangan salahkan anak saya kalau dia pergi nanti! Laki-laki itu dinilai dari isi dompetnya, Gas. Kalau bakso saja gagal, mau kasih makan apa cucu saya? Kamu itu memang pembawa sial!"
Bagas memejamkan mata erat-erat, membiarkan air matanya meresap ke bantal kusam yang berbau apek. Ia merasakan jemari kecil Kanaya yang masih menggenggam kelingkingnya dengan erat. Rasa sakit hati yang luar biasa itu perlahan berubah menjadi api dingin yang membeku di dadanya, sebuah tekad yang lahir dari reruntuhan harga diri. "Mereka boleh ambil gerobak itu. Mereka boleh ambil emas itu," bisiknya parau ke telinga Kanaya yang masih terlelap. "Tapi mereka tidak akan pernah bisa ambil kamu dari Ayah. Ayah janji, Kanaya... suatu saat nanti, kamu tidak akan pernah merasa kekurangan lagi, bahkan tanpa mereka."
Hujan benar-benar mereda, menyisakan tetesan air dari atap yang jatuh ke lantai semen dengan suara yang monoton, seirama dengan detak jantung Bagas yang kini dipenuhi keberanian baru di tengah kehancuran totalnya.