Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penindasan Struktural
Suara itu terdengar seperti hujan gerimis yang jatuh di atas atap seng.
Namun, langit di luar cerah tanpa awan.
Kriuk... kriuk... kriuk...
Itu adalah suara ribuan rahang kecil yang sedang bekerja.
Di dalam bangunan semi permanen yang didirikan di tengah lahan kapur Gunung Kidul, Sekar berdiri mematung.
Matanya menatap rak-rak bambu yang tersusun rapi hingga ke langit-langit.
Di atas nampan-nampan anyaman itu, ribuan ulat sutra berwarna putih susu sedang berpesta pora memakan daun murbei segar.
"Gila," gumam Pak Paijo. Petani tua itu menggelengkan kepala, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Seumur hidup saya tinggal di tanah gersang ini, baru kali ini lihat ulat bisa gemuk-gemuk begini, Mbak. Padahal cuma makan daun dari pohon yang ditanam di sela-sela klengkeng."
Sekar tersenyum tipis. Dia mengambil seekor ulat menggunakan pinset laboratorium yang selalu dibawanya. Ulat itu menggeliat. Tubuhnya padat, kulitnya berkilau sehat.
"Ini bukan keajaiban, Pak," jawab Sekar pelan, lebih pada dirinya sendiri.
"Ini hanya penerapan ilmu pengetahuan."
Di dalam kepalanya, data mengalir. Daun murbei yang tumbuh di tanah kapur memiliki kadar kalsium tinggi.
Biasanya ini buruk. Tapi Hydrogel yang dia tanam di akar pohon murbei itu sudah dia modifikasi dengan Chelating Agent, senyawa yang mengikat logam berat dan mengubah mineral tanah menjadi nutrisi mikro yang mudah diserap.
Hasilnya: Daun dengan kadar protein kasar 25% lebih tinggi dari rata-rata.
"Hyper-nutrition," batin Sekar.
Protein itu dikonversi oleh metabolisme ulat menjadi Fibroin dan Sericin,.bahan dasar sutra, dengan kualitas premium.
"Mereka sudah mulai ngokon, Mbak," lapor Pak Paijo antusias, menunjuk ke sudut rak.
Beberapa ulat sudah berhenti makan. Mereka mengangkat kepala, mencari tempat untuk memintal.
Benang halus mulai keluar dari mulut mereka, membungkus tubuh dalam kepompong lonjong berwarna putih bersih.
"Grade A," bisik Sekar. Dia menyentuh tekstur kepompong yang baru setengah jadi itu. Keras. Padat. Seratnya tidak putus.
"Kita panen lusa, Pak," perintah Sekar. Matanya berbinar.
"Siapkan karung. Kita akan bawa 'emas putih' ini ke Imogiri."
Dua hari kemudian.
Suasana di Desa Batik Giriloyo, Imogiri, terasa berbeda.
Biasanya, udara di sini berbau lilin malam yang dipanaskan dan pewarna alami.
Suara canting bergesekan dengan kain mori adalah musik latar sehari-hari.
Namun hari ini, kedatangan mobil SUV hitam Arya dan truk bak terbuka yang disewa Sekar disambut dengan keheningan yang canggung.
Sekar turun dari mobil. Dia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana bahan, terlihat profesional namun tetap sopan.
Di belakangnya, Arya turun dengan gaya kasual, mengenakan kacamata hitam untuk menghalau terik matahari siang.
"Kenapa sepi sekali?" tanya Arya, menyapu pandangan ke sekeliling pendopo utama desa wisata itu.
"Biasanya mereka rebutan kalau ada suplier bahan baku datang."
Sekar tidak menjawab. Instingnya menajam.
Dia merasakan atmosfer defensif.
Seorang pria paruh baya, Pak Haryo, ketua paguyuban pengrajin batik tulis, keluar menyambut mereka.
Wajahnya ramah, tapi senyumnya tidak mencapai mata. Ada keringat dingin di pelipisnya.
"Sugeng siang, Den Mas Arya... Mbak Sekar," sapa Pak Haryo, membungkuk hormat. Terutama pada Arya.
"Sugeng siang, Pak Haryo," balas Sekar ramah.
Dia memberi isyarat pada Pak Man dan Pak Paijo untuk menurunkan satu karung sampel kokon.
"Sesuai janji saya bulan lalu. Ini panen perdana dari Gunung Kidul."
Sekar membuka ikatan karung.
Cahaya matahari menimpa tumpukan kokon putih itu, membuatnya bersinar seperti mutiara.
Para pengrajin yang mengintip dari balik jendela dan tiang pendopo menahan napas.
Kualitasnya terlihat jelas bahkan dari jarak jauh.
Ukurannya seragam, warnanya putih bersih tanpa noda.
Jauh lebih baik dari kokon impor Tiongkok yang sering mereka pakai.
Pak Haryo menelan ludah. Tangannya gemetar saat mengambil satu kokon. Dia memencetnya sedikit.
Kenyal dan padat.
"Bagus sekali..." gumamnya tanpa sadar. "Seratnya pasti panjang dan tidak gampang putus."
"Saya lepas harga pasar dikurangi sepuluh persen untuk perkenalan, Pak," tawar Sekar to the point.
"Saya ingin memotong rantai distribusi. Dari petani langsung ke pengrajin."
Itu tawaran yang sangat menggiurkan. Margin keuntungan pengrajin bisa naik dua kali lipat.
Hening.
Pak Haryo tidak segera menjawab. Dia meletakkan kembali kokon itu ke dalam karung seolah benda itu beracun.
Dia melirik Arya, lalu menunduk.
"Ngapunten, Mbak Sekar..." suaranya lirih.
"Kami... kami tidak bisa ambil."
Alis Sekar bertaut. "Masalah harga? Saya bisa turunkan lagi lima persen!"
"Bukan soal harga!" potong Pak Haryo cepat, lalu buru-buru merendahkan suaranya lagi.
"Barangnya istimewa. Harganya murah. Siapa yang tidak mau?"
"Lalu kenapa?" sela Arya, suaranya mulai meninggi.
Dia tidak suka melihat Sekar ditolak tanpa alasan logis.
Pak Haryo melihat kiri kanan, memastikan tidak ada orang asing.
Dia mendekat ke arah Arya dan Sekar.
"Den Mas... Mbak... kemarin sore, utusan dari Asosiasi Sutra Yogyakarta datang kemari."
Dada Sekar berdesir. Asosiasi Sutra. Itu organisasi yang diketuai oleh paman dari GKR Dhaning.
"Mereka bilang apa?" tanya Sekar dingin.
"Mereka membawa surat edaran baru," bisik Pak Haryo, wajahnya pucat.
"Isinya: Seluruh pengrajin batik binaan Keraton dan Pemerintah Daerah dilarang keras menerima bahan baku yang tidak bersertifikat SNI dari Asosiasi."
"Kalau kami melanggar..." Pak Haryo menelan ludah lagi.
"Pasokan benang sutra impor dan kain mori primissima dari distributor pusat akan diputus total."
Arya menggebrak meja pendopo pelan.
"Itu monopoli!" geram Arya.
"Itu melanggar hukum persaingan usaha!"
"Kami wong cilik, Den Mas," Pak Haryo memelas. "Kami tidak paham hukum, yang kami tahu, kalau kami beli punya Mbak Sekar hari ini, besok kami tidak bisa membatik lagi karena tidak punya benang."
"Stok Mbak Sekar cuma cukup untuk seminggu produksi. Setelah itu habis, kami mati karena diboikot Asosiasi."
Logika yang tak terbantahkan.
Sekar terdiam.
Dia melihat ketakutan di mata Pak Haryo. Ini bukan negosiasi bisnis. Ini penindasan struktural.
Musuh ini... cerdas.
"Kalau saya yang jamin?" Arya maju selangkah. Aura bangsawannya keluar.
"Saya akan bicara dengan Dinas Perdagangan."
Pak Haryo menggeleng sedih.
"Birokrasi butuh waktu berbulan-bulan, Den Mas.
Sementara perut pengrajin butuh makan hari ini."
Sekar menyentuh lengan Arya, menahannya.
"Sudah, Mas," kata Sekar datar.
"Jangan paksa mereka. Mereka korban."
Sekar menatap Pak Haryo. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya kalkulasi dingin.
"Saya mengerti posisi Bapak. Maaf sudah merepotkan."
"Pak Man, naikkan lagi karungnya," perintah Sekar.
"Sekar, kita mau kemana?" tanya Arya bingung saat mereka kembali masuk ke mobil.
"Gudang lama di pinggiran Bantul," jawab Sekar sambil memasang sabuk pengaman.
"Kita tidak bisa jual ini. Kita harus simpan dulu."
Gudang tua itu pengap dan panas.
Tumpukan karung berisi kokon hasil panen menggunung di sudut ruangan.
Baunya khas. Bau organik. Bau kehidupan yang sedang berproses.
Sekar berdiri di tengah gudang, menatap gunungan masalah itu.
"Total ada dua ton kokon basah," lapor Pak Paijo, wajahnya murung.
"Kalau tidak segera diproses atau dijual, dalam lima hari... ulat di dalamnya akan bermetamorfosis jadi ngengat."
"Mereka akan menggigit kepompong untuk keluar, dan serat sutranya akan putus semua. Harganya jadi nol."
Arya menyeka keringat di dahinya. Dia melonggarkan dasinya.
"Aku bisa beli semuanya, Sekar. Kita bakar saja, anggap kerugian riset," tawar Arya putus asa.
Dia tidak tega melihat wajah Sekar yang tampak tertekan.
"Dua ton... berapa sih nilainya? Seratus juta? Aku transfer sekarang."
Sekar menoleh tajam.
"Jangan pernah bicara begitu lagi," desis Sekar.
"Ini bukan soal uangmu, Pangeran Arya. Ini soal keringat Pak Paijo. Ini soal bukti bahwa tanah kapur itu bisa produktif."
"Kalau aku terima uangmu, aku cuma jadi wanita simpanan yang main-main jadi petani."
Arya terdiam, tertohok.
Sekar berbalik, kembali menatap tumpukan karung itu.
Monolog batinnya berputar cepat.
Suhu ruangan 32 derajat Celcius. Kelembapan 70%.
Metabolisme pupa di dalam kepompong akan berakselerasi.
Enzim Protease lytic akan segera disekresikan oleh ngengat untuk melunakkan sericin.
Dia sedang berpacu dengan waktu biologis.
Pintu distribusi ditutup rapat oleh Dhaning. Pabrik pemintalan benang di Jogja semuanya di bawah kendali Asosiasi.
Tidak akan ada yang mau menerima jasa makloon pintal dari Sekar.
"Sial," umpat Sekar pelan.
Dia terjebak.
Dia punya bahan baku kualitas terbaik di dunia, tapi tidak punya alat untuk mengolahnya.
Jika dia membiarkan ulat-ulat ini menetas, dia bukan hanya rugi materi. Dia akan kehilangan momentum.
Reputasinya akan hancur sebelum dibangun. Orang-orang akan tertawa: "Lihat, si gadis desa sok pintar itu akhirnya bangkrut juga."
Sekar memejamkan mata. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan korteks prefrontalnya yang nyaris overheat.
Dia butuh solusi radikal.
Jika sistem yang ada menolaknya, dia harus membuat sistem sendiri.
Jika tidak ada pabrik yang mau memintal, dia yang akan memintal.
Tapi memintal dua ton kokon secara manual butuh ratusan pekerja. Dia tidak punya waktu dan tenaga kerja.
Kecuali...
Mata Sekar terbuka.
Dia teringat Pohon Data di Ruang Spasialnya.
Ada satu diagram mesin tenun kuno dari era Dinasti Song yang pernah dia lihat sekilas.
Mesin yang menggunakan prinsip mekanika fluida, bukan sekadar mekanik roda gigi.
Dan ada varietas tanaman Cotton-Spider hibrida yang tumbuh liar di dekat sumber air spiritual.
Bukan. Bukan itu kuncinya.
Kuncinya ada pada... mutasi.
Sekar mengambil satu kokon lagi. Jika dia tidak bisa menjualnya sebagai bahan baku biasa, dia harus mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak bisa ditolak oleh pasar.
Sesuatu yang membuat Asosiasi Sutra terlihat seperti penjual barang rongsokan.
"Pak Man, Pak Paijo," suara Sekar terdengar berat namun tegas.
"Kunci gudang ini dari luar. Jangan biarkan siapapun masuk, bahkan tikus sekalipun."
"Mas Arya, antar aku pulang."
Arya mengerutkan kening. "Pulang? Kamu menyerah?"
Sekar menatap Arya dengan sorot mata yang membuat pangeran itu merinding.
Itu bukan tatapan kekalahan.
Itu tatapan seorang ilmuwan yang baru saja memutuskan untuk melanggar etika demi hasil eksperimen.
"Tidak," jawab Sekar dingin.
"Aku butuh tidur."
Aku butuh masuk ke Ruang Spasial, koreksi batinnya.
Aku akan membawa sampel ini ke dalam. Aku akan mempercepat evolusi mereka.
"Besok pagi..." Sekar mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dua ton sampah ini akan berubah menjadi sesuatu yang akan membuat Ibu Tirimu menyesal pernah melahirkan Gusti Dhaning."
Arya tidak bertanya lagi. Dia melihat api di mata gadis itu.
Api yang lebih panas dari tungku peleburan logam.
Di luar, matahari mulai terbenam, melemparkan bayangan panjang yang seolah ingin menelan gudang tua itu.
Namun, di dalam saku celananya, jari manis Sekar berpendar merah.
Perang dagang baru saja dimulai. Dan Sekar tidak berniat bermain adil.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄