Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kesulitan Arsa
Pagi itu aku bangun dengan kepala yang masih terasa berat.
Mimpi semalam begitu aneh, aku seperti tenggelam di dalam lautan yang gelap, mencoba meraih sesuatu yang terus menjauh dariku.
Aku duduk di tepi kasur sembari mengusap wajahku. Mataku melirik ke foto Asha yang masih tergeletak di samping bantal.
Foto itu... Foto itu seperti mengingatkanku akan sesuatu yang sangat penting, tapi aku tidak bisa menggapainya.
"Arsa! Cepat mandi! Kamu udah telat!" teriak ayahku dari bawah dengan suara yang keras.
Aku tersentak dan segera bangkit. Ini hari pertamaku kembali ke sekolah setelah kecelakaan.
🌷🌷🌷🌷
Sesampainya di sekolah, aku berjalan dengan langkah yang ragu-ragu. Semua terasa begitu familiar tapi juga asing di saat yang bersamaan.
Koridor sekolah yang ramai, suara tawa teman-teman, bau cat dinding yang khas... Semuanya seperti aku kenal, tapi ada yang hilang.
"Arsa!" teriak seseorang dari kejauhan.
Aku menoleh dan melihat segerombolan cowok berlari ke arahku dengan wajah senang.
"Gila lu bro! Akhirnya balik juga!" sapa salah seorang dari mereka sembari menepuk pundakku.
Aku tersenyum canggung. "Iya nih... Maaf ya, aku... Aku gak begitu inget kalian."
Mereka saling pandang dengan tatapan simpati.
"Gapapa lah! Yang penting lu sehat. Emangnya beneran kah lu amnesia?" tanya salah satu dari mereka dengan nada penasaran.
Aku mengangguk pelan. "Iya... Beberapa bulan terakhir, aku gak inget apa-apa."
"Waduh parah juga ya. Jadi lu lupa sama Asha dong?"
Mendengar nama Asha disebut, dadaku langsung terasa sesak. Aku mengangguk pelan.
"Kasian banget sih Asha. Dia tiap hari nangis loh gegara lu" kata cowok itu dengan nada yang sedikit menyalahkan.
Aku menunduk. Rasa bersalah kembali menghantam hatiku.
"Yaudah gapapa. Kita kenalan lagi aja!" kata salah satu dari mereka dengan senyum lebar, berusaha mengubah suasana.
Mereka lalu memperkenalkan diri satu per satu. Aku mencoba mengingat nama-nama mereka, tapi kepalaku langsung terasa pusing.
"Arsa, kamu gapapa?" tanya salah satu dari mereka dengan nada khawatir.
Aku menggeleng sembari memegang kepalaku. "Iya, cuma agak pusing aja."
"Yaudah, lu istirahat dulu aja. Nanti kalau udah enak, baru kita ngobrol lagi."
Setelah mereka pergi, aku berjalan menuju kelasku, 12-B.
Saat aku berdiri di depan pintu kelas, mataku menangkap sosok Asha yang duduk di kursinya sembari menatap keluar jendela.
Wajahnya terlihat murung. Berbeda dengan Asha yang selalu tersenyum ketika mengunjungiku di rumah sakit.
Aku menarik nafas pelan lalu masuk ke kelas.
Beberapa teman sekelas langsung menoleh ke arahku. Ada yang tersenyum, ada yang menyapaku, dan ada pula yang berbisik-bisik.
Asha yang menyadari kehadiranku langsung berdiri dan tersenyum lebar.
"Arsa! Selamat datang kembali!" sapanya dengan suara yang riang, berusaha terdengar ceria.
"Makasih, Asha" balasku sembari tersenyum tipis.
Aku berjalan menuju kursiku dan duduk. Mataku sesekali melirik ke arah Asha yang masih menatapku dengan senyuman.
Tapi aku bisa melihatnya. Di balik senyuman itu, ada kesedihan yang begitu dalam.
🌷🌷🌷🌷
Jam pelajaran pertama dimulai. Guru matematika masuk dan mulai menjelaskan materi.
Aku mencoba fokus mendengarkan, tapi kepalaku terasa begitu berat. Semua yang dijelaskan oleh guru terasa begitu asing.
"Arsa, kamu paham yang saya jelaskan?" tanya guru matematika tiba-tiba.
Aku tersentak. Semua mata di kelas langsung tertuju padaku.
"A-anu... Maaf Pak, saya kurang paham" jawabku dengan jujur.
Guru itu mengangguk dengan wajah yang penuh pengertian. "Gapapa. Nanti kalau ada yang kurang jelas, tanya aja sama temen-temen kamu ya."
Aku mengangguk pelan. Tapi di dalam hatiku, aku merasa begitu frustasi.
'Kenapa... Kenapa aku gak bisa paham? Padahal dulu aku kan pintar...' batinku dengan perasaan kesal pada diriku sendiri.
Saat istirahat pertama, Asha menghampiriku dengan senyuman.
"Arsa, gimana? Berat gak hari pertama masuk?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.
"Lumayan sih... Agak bingung aja gara-gara banyak yang aku gak inget."
Asha mengangguk mengerti. "Tenang aja. Nanti juga lama-lama kebiasa kok. Kalau ada yang kurang jelas, tanya aku aja ya."
Aku menatap Asha dengan tatapan berterima kasih. "Makasih ya, Asha. Kamu baik banget."
Asha tersenyum hangat. Tapi aku bisa melihat ada kilatan sedih di matanya.
"Sama-sama. Lagipula... Lagipula aku kan... Aku kan temen kamu" kata Asha dengan suara yang sedikit bergetar di akhir kalimat.
Teman. Bukan pacar lagi.
Aku merasa dadaku sesak mendengar kata itu.
🌷🌷🌷🌷
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat bagiku. Setiap hari aku harus menghadapi kesulitan demi kesulitan.
Pelajaran yang tidak aku pahami. Tugas-tugas yang menumpuk. Teman-teman yang aku tidak ingat.
Semuanya terasa begitu membebani.
Yang paling membuatku frustasi adalah... Aku yang dulu katanya pintar dan selalu masuk tiga besar, sekarang bahkan tidak bisa menjawab soal-soal sederhana.
"Arsa, kenapa kamu gak ngumpulin tugas matematika?" tanya guru matematika dengan nada yang sedikit kesal.
Aku menunduk. "Maaf Pak... Saya... Saya belum selesai."
"Kamu tau gak, tugas ini udah dikasih dari minggu lalu? Kenapa kamu baru bilang sekarang?"
"Maaf Pak..." Itu saja yang bisa kukatakan.
Guru itu menghela nafas panjang. "Yaudah, kumpulin besok ya. Kalau besok belum dikumpulin juga, saya kasih nilai nol."
Setelah guru itu pergi, aku merasakan tatapan teman-teman kelasku. Ada yang simpati, ada yang mengejek, dan ada pula yang acuh tak acuh.
Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa sakit lagi. Setiap kali aku mencoba mengingat atau fokus belajar, kepalaku selalu terasa seperti ditusuk-tusuk.
"Arsa, kamu gapapa?" tanya Asha yang tiba-tiba berdiri di sampingku dengan wajah khawatir.
"Gapapa kok" jawabku singkat, tidak ingin membuat Asha khawatir lebih dari ini.
"Kalau kamu butuh bantuan buat tugas matematika, aku bisa bantuin kok" tawar Asha dengan senyuman.
Aku menatap Asha sejenak. Di satu sisi, aku memang butuh bantuan. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak enak terus-terusan merepotkan Asha.
"Makasih Asha, tapi aku bisa kerjain sendiri kok" tolakku dengan halus.
Wajah Asha yang awalnya tersenyum langsung berubah menjadi sedikit sedih. Tapi ia cepat-cepat menutupinya dengan senyuman lagi.
"Oh... Oke deh. Tapi kalau kamu butuh bantuan, bilang aja ya."
Aku mengangguk. Asha lalu kembali ke kursinya dengan langkah yang terlihat berat.
'Maaf Asha... Aku gak mau terus-terusan ngerepotin kamu' batinku dengan perasaan bersalah.
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, aku duduk di meja belajar dengan tumpukan buku dan tugas yang belum kukerjakan.
Aku mencoba fokus, mencoba memahami setiap soal. Tapi semakin aku mencoba, kepalaku semakin sakit.
"Argh! Kenapa sih gak bisa-bisa!" kesalku sembari menghempaskan pensilku ke meja.
Aku memegang kepalaku dengan kedua tangan. Rasanya seperti ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam kepalaku.
Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka. Ayahku berdiri di ambang pintu dengan wajah yang datar.
"Kenapa teriak-teriak? Ganggu orang yang lagi kerja tau gak" omelnya dengan nada dingin.
"Maaf Pak..." ucapku pelan.
Ayahku melihat tumpukan buku di mejaku, lalu mendengus. "Udah berapa tugas yang kamu kerjain?"
Aku terdiam. Tidak berani menjawab.
"Jawab!" bentaknya.
"Be-belum ada yang selesai, Pak..." jawabku dengan suara yang bergetar.
Ayahku melangkah masuk ke kamarku dengan wajah yang penuh amarah.
"Kamu pikir hilang ingatan itu alasan buat males-malesan?! Kamu tau gak, biaya sekolah kamu itu mahal! Kalau kamu gak bisa berprestasi, untuk apa saya sekolahin kamu?!"
Setiap kata yang keluar dari mulut ayahku terasa seperti pisau yang menusuk hatiku.
"Maaf Pak... Saya berusaha, tapi... Tapi kepala saya sakit terus kalau saya belajar..." jelasku dengan suara yang nyaris berbisik.
"Sakit? Sakit itu cuma alasan orang lemah! Kalau kamu mau jadi dokter, kamu harus bisa atasi semua kesulitan!"
Ayahku lalu keluar dari kamarku dengan membanting pintu.
Aku terdiam di kursi dengan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk mata. Tapi aku tahan. Aku tidak boleh menangis.
'Aku harus kuat. Aku harus bisa' batinku sembari menghapus air mataku yang hampir jatuh.
Aku kembali fokus pada tugas-tugasku. Mengabaikan rasa sakit di kepalaku. Mengabaikan rasa lelah di tubuhku.
Aku harus bisa. Aku tidak punya pilihan lain.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, aku datang ke sekolah dengan mata yang sembab karena begadang mengerjakan tugas.
Aku berhasil menyelesaikan tugas matematika, meskipun aku tidak yakin apakah jawabanku benar atau tidak.
Saat aku berjalan di koridor, aku melihat Asha berdiri di depan kelas sembari berbincang dengan Cinta.
Asha tertawa ceria. Wajahnya terlihat begitu bahagia.
Aku berhenti melangkah dan menatap Asha dari kejauhan. Entah mengapa, melihat Asha tertawa seperti itu membuat hatiku terasa hangat.
Tapi di sisi lain, aku juga merasa sedih. Karena aku tau, senyuman itu bukan karena diriku.
'Asha... Maafkan aku yang gak bisa bikin kamu bahagia lagi' batinku dengan perasaan bersalah.
Tiba-tiba Asha menoleh ke arahku. Mata kami bertemu untuk sesaat.
Senyuman di wajah Asha langsung memudar. Digantikan dengan tatapan yang sulit kuartikan.
Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan masuk ke kelas.
Sepanjang jam pelajaran hari itu, aku tidak bisa fokus. Pikiranku terus saja melayang ke Asha.
Gadis yang katanya pacarku. Gadis yang selalu datang mengunjungiku di rumah sakit. Gadis yang selalu tersenyum meskipun aku tau dia sedang sedih.
'Kenapa... Kenapa aku gak bisa ingat dia?' batinku dengan perasaan frustasi.
Aku mencoba mengingat lagi. Lebih keras dari sebelumnya.
Dan tiba-tiba...
Kepalaku terasa seperti dibelah. Rasa sakit yang begitu hebat langsung menyerang kepalaku.
"Argh!" erangku sembari memegang kepalaku.
"Arsa! Kamu kenapa?!" tanya guru yang sedang mengajar dengan nada panik.
Semua mata di kelas langsung tertuju padaku. Aku melihat Asha berdiri dari kursinya dengan wajah yang sangat khawatir.
"Ke-kepala saya sakit, Bu..." jawabku dengan suara yang bergetar.
"Cinta, tolong antar Arsa ke UKS" perintah guru itu.
Tapi sebelum Cinta sempat bergerak, Asha sudah berdiri di sampingku.
"Bu, saya aja yang antar" kata Asha dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Guru itu mengangguk. Asha lalu membantuku berdiri dan menuntunku keluar dari kelas.
Sepanjang jalan menuju UKS, kami berdua terdiam. Aku masih memegang kepalaku yang terasa begitu sakit.
"Arsa... Kenapa kamu maksa banget sih? Kalau kamu sakit, istirahat aja" kata Asha dengan suara yang pelan tapi penuh kekhawatiran.
Aku tidak menjawab. Karena aku tidak tau harus menjawab apa.
Sesampainya di UKS, Asha membantuku berbaring di kasur. Lalu ia duduk di kursi samping kasur dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Arsa... Kamu gak usah terlalu memaksakan diri. Santai aja. Ingatanmu pasti bakal balik kok" kata Asha dengan suara yang lembut.
Aku menatap Asha. Gadis itu tersenyum hangat kepadaku, meskipun aku bisa melihat air mata yang berkumpul di pelupuk matanya.
"Asha..." panggilku pelan.
"Ya?"
"Kenapa kamu... Kenapa kamu baik banget sama aku? Padahal aku bahkan gak ingat kamu..."
Asha terdiam mendengar pertanyaanku. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Karena... Karena aku sayang sama kamu, Arsa" jawabnya dengan suara yang bergetar.
"Meskipun kamu gak ingat aku, meskipun kamu udah gak nganggap aku sebagai pacar kamu lagi... Tapi perasaan aku ke kamu tetep sama."
Air mata Asha jatuh begitu saja. Ia cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan.
"Maaf... Maaf ya aku nangis. Aku gak bermaksud buat ngebuat kamu merasa bersalah..." ucap Asha sembari tertawa kecil, berusaha menutupi tangisannya.
Dadaku terasa begitu sesak melihat Asha menangis. Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin memeluk gadis itu, ingin menghiburnya.
Tapi aku tidak bisa. Karena aku tidak punya hak untuk melakukannya.
"Asha... Maafkan aku..." ucapku dengan suara yang penuh penyesalan.
Asha menggeleng cepat. "Gak usah minta maaf. Ini bukan salah kamu kok."
Ia lalu berdiri dari kursinya.
"Kamu istirahat dulu ya. Aku balik ke kelas dulu. Nanti kalau udah enakan, kabarin aku."
Sebelum aku sempat menjawab, Asha sudah berjalan keluar dari UKS dengan langkah yang cepat.
Aku menatap punggung Asha yang menjauh. Dan untuk pertama kalinya sejak aku siuman, aku merasa begitu ingin menangis.
'Asha... Kumohon... Kumohon bantuin aku buat ingat kamu...'
'Karena aku... Aku gak mau nyakitin kamu lebih dari ini...'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Waduh, Arsa ternyata lagi berjuang keras yaa 😭 Dia harus ngadepin kesulitan belajar, tekanan dari ayahnya, dan juga rasa bersalah ke Asha...
Kasian banget sih Arsa dan Asha, keduanya sama-sama menderita huhu 💔
Kira-kira Arsa bisa ngatasi semua kesulitan ini gak ya? Dan kapan nih ingatannya bakal balik?
Penasaran kan? Stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku