Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Aroma minyak goreng dan sabun cuci piring yang menempel di seragam kerjanya masih tercium jelas saat Citra Anindya melangkah masuk ke rumah sederhananya. Kakinya terasa pegal luar biasa. Menjadi pramusaji di sebuah restoran keluarga yang sedang ramai-ramainya di akhir pekan benar-benar menguras tenaga gadis berusia dua puluh tahun itu.
Namun, lelah fisiknya seketika menguap, digantikan oleh ketegangan yang pekat begitu ia melihat ibunya, Bu Sari, duduk di ruang tamu dengan wajah serius. Tidak ada senyum sambutan hangat atau pertanyaan "bagaimana kerjamu hari ini?" seperti biasanya. Hanya ada keheningan yang mencekam.
"Citra, duduk dulu, Nak. Ibu mau bicara serius," ucap Bu Sari pelan, namun nadanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa dibantah.
Citra menurut, duduk di sofa tua yang busanya sudah mulai kempes. Perasaannya tidak enak. "Ada apa, Bu? Ibu sakit? Atau... kita nunggak kontrakan lagi?" tanyanya dengan mata bulat yang mulai berkaca-kaca. Sifat cengengnya memang mudah sekali muncul jika menyangkut ibunya.
Bu Sari menghela napas panjang, menatap putrinya dengan pandangan bersalah sekaligus memohon. "Bukan itu. Ini soal masa depanmu. Ibu... Ibu sudah menerima lamaran untukmu."
Citra mengerjap. "Lamaran? Maksud Ibu kerjaan baru?"
"Bukan, Citra. Lamaran pernikahan. Kamu akan dijodohkan."
Dunia Citra seakan berhenti berputar. Mulut mungilnya terbuka sedikit, membentuk huruf 'O'. "Hah? Nikah? Sama siapa, Bu? Citra kan masih muda! Citra baru dua puluh tahun, belum mau jadi ibu-ibu!" protesnya, suaranya mulai meninggi dengan nada manja yang khas.
"Sama Putra," jawab ibunya singkat.
Citra terdiam sejenak, mencoba mengingat nama-nama teman sekolahnya yang bernama Putra. Namun, kalimat ibunya selanjutnya membuat jantung Citra seakan merosot ke perut.
"Putra Mahesa Aditama. Anak dari Pak Aditama, pemilik perusahaan tempat almarhum Bapakmu dulu bekerja."
Mata Citra membelalak horor. Bayangan wajah pria itu langsung muncul di benaknya. Putra Mahesa Aditama. Pria berusia tiga puluh tahun yang sering mampir ke restoran tempat Citra bekerja untuk meeting bisnis. Pria yang tidak pernah tersenyum, yang tatapannya setajam silet, dan auranya sedingin kutub utara.
"Maksud Ibu... Om Mahesa?!" pekik Citra histeris. Ia bahkan tidak memanggilnya 'Mas' atau 'Kak', melainkan 'Om' karena jarak usia dan wibawa pria itu yang mengerikan. "Ibu bercanda, kan? Dia itu galak banget, Bu! Kalau pesen makan mukanya lempeng kayak tembok! Citra pernah nggak sengaja nuangin air sedikit kebanyakan di gelasnya, dia langsung ngelirik sinis sampai Citra gemeteran!"
Citra mulai menangis. Air matanya tumpah begitu saja membasahi pipi. Ia membayangkan hidupnya akan berakhir di tangan pria yang menurutnya lebih mirip penyihir jahat dalam dongeng daripada pangeran.
"Dia itu tua, Bu! Umurnya udah tiga puluh! Dia om-om dingin yang kejam! Masa Citra nikah sama om-om?" rengek Citra sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen.
Bu Sari mendekat, mengusap bahu anaknya. "Dia pria yang mapan, Citra. Pak Aditama dulu banyak membantu keluarga kita saat Bapak sakit. Ini amanat terakhir Bapak. Dan Ibu yakin, Nak Mahesa bisa menjagamu. Dia dewasa."
"Dewasa apanya? Dia itu nyeremin!" Citra sesenggukan, menyeka ingusnya dengan punggung tangan. "Dia pasti bakal jadiin Citra tumbal pesugihan saking dinginnya!"
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota, suasana yang tak kalah tegang sedang terjadi.
Putra Mahesa Aditama baru saja membanting berkas map berwarna biru ke atas mejanya. Suara debuman itu menggema di ruangan luas bernuansa monokrom tersebut, membuat sekretarisnya yang berdiri di dekat pintu menunduk takut. Namun, kemarahan Putra bukan ditujukan pada karyawannya, melainkan pada sang ayah, Pak Aditama, yang duduk tenang di sofa tamu sambil menyesap kopi.
"Papa pasti sudah gila," desis Putra tajam. Rahangnya mengeras, menampilkan urat-urat leher yang menegang. "Menikah? Dengan anak Bu Sari? Papa sadar siapa yang Papa bicarakan?"
Pak Aditama meletakkan cangkirnya perlahan. "Tentu saja Papa sadar. Citra Anindya. Gadis yang baik, sopan, dan pekerja keras."
Putra tertawa, sebuah tawa hambar yang penuh ejekan. Ia berjalan memutari meja kerjanya, lalu berdiri menjulang di hadapan ayahnya. "Baik? Sopan? Pa, aku pernah melihat gadis itu beberapa kali saat makan siang di restoran tempatnya bekerja. Dia itu bocah tengil! Ceroboh, berisik, dan gayanya... astaga, dia bahkan memakai jepit rambut warna-warni yang norak saat bekerja."
Bagi Putra yang perfeksionis, kaku, dan mengutamakan keanggunan, sosok Citra adalah antitesis dari segala yang ia cari pada seorang wanita. Citra adalah definisi kekacauan.
"Dia baru dua puluh tahun, Pa. Dua puluh!" tekan Putra lagi, menunjuk angka itu dengan jarinya. "Jarak usia kami sepuluh tahun. Apa yang harus aku bicarakan dengannya? Tutorial make-up? Gosip artis Korea? Kami tidak selevel. Sama sekali tidak selevel."
Putra memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia adalah CEO yang disegani, lulusan luar negeri, dan terbiasa dengan wanita-wanita elegan berpendidikan tinggi. Membayangkan harus bangun tidur di samping bocah pramusaji yang cengeng itu membuat perutnya mual.
"Dia bukan wanita yang pantas bersanding denganku. Citra itu cuma gadis kecil yang mungkin masih menangis kalau dimarahi ibunya," tambah Putra dengan nada merendahkan yang kental.
Pak Aditama menatap putranya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tahu sifat putranya arogan, dingin, dan memandang segala sesuatu dari untung rugi serta status sosial. Justru karena itulah ia merasa Putra butuh seseorang yang "hidup" seperti Citra.
"Keputusan Papa sudah bulat, Putra," ucap Pak Aditama tegas, nadanya tidak lagi santai. "Ini bukan sekadar balas budi atau janji masa lalu. Ini tentang kamu yang butuh belajar menghargai orang lain, bukan hanya berkutat dengan angka dan saham. Pernikahan akan dilaksanakan dua minggu lagi."
"Dua minggu?!" Putra melotot. "Ini gila. Aku punya jadwal meeting di Singapura, aku punya proyek"
"Batalkan atau atur ulang. Atau kamu mau Papa serahkan posisi CEO kepada sepupumu, Rian?" ancam Pak Aditama telak.
Putra terdiam. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ancaman itu nyata. Ia tidak mungkin melepaskan perusahaan yang sudah ia bangun susah payah hanya karena menolak menikahi seorang gadis ingusan.
Napas Putra memburu, menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Ia merasa terhina. Dijodohkan dengan wanita yang menurutnya "kelas bawah" adalah penghinaan terbesar bagi egonya yang setinggi langit.
"Baik," ucap Putra akhirnya, suaranya rendah dan berbahaya, seperti gemuruh sebelum badai. "Aku akan menikahinya. Tapi dengar ini baik-baik, Pa. Jangan harap aku akan memperlakukan dia layaknya istri sungguhan. Jangan harap ada drama romantis menjijikkan di rumahku nanti."
Putra berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Tatapannya dingin, mematikan.
"Kalau dia berpikir menikah denganku adalah tiket menuju hidup enak bak Cinderella, dia salah besar," gumam Putra pada pantulan dirinya di kaca. "Aku akan membuat bocah tengil itu menyesal pernah menerima perjodohan ini. Dia akan sadar bahwa 'Om Mahesa' yang dia takuti itu jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan."
Di dua tempat yang berbeda, dua manusia dengan kepribadian bertolak belakang itu sama-sama menatap masa depan mereka dengan horor. Citra menangis memikirkan nasibnya harus melayani "raja iblis", sementara Putra menyusun rencana untuk mengabaikan "bocah ingusan" yang akan segera menyandang nama belakangnya.
Pernikahan itu bukan dimulai dengan cinta, melainkan dengan air mata ketakutan dan sumpah serapah kebencian.
atau happy bersama lelaki lain
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih