NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Alendra berlari sekencang mungkin, tidak memedulikan kakinya yang tersandung nisan lain atau bajunya yang kotor terkena tanah. Namun, mobil itu sudah melaju pergi, menghilang di balik tikungan.

Alendra jatuh terduduk di aspal jalan pemakaman. Ia mendekap cadar hitam itu ke wajahnya, menghirup aroma yang sangat tipis, campuran bau sabun pesantren yang sederhana dan aroma tubuh Patricia yang masih tersisa sedikit.

Alendra menangis meraung-raung sambil memeluk cadar itu "Dia ada di sini... Dia melihatku... Kenapa kamu tidak menemuiku, Sayang?! Kenapa kamu meninggalkanku sendiri dengan rasa bersalah ini?!"

Di atas bukit kecil tak jauh dari sana, Hilman dan Rukayyah memperhatikan Alendra dari dalam mobil mereka. Hilman melihat kehancuran Alendra, namun ia tidak bergeming. Ia sengaja membawa Patricia ke pemakaman itu secara rahasia, memenuhi keinginan Patricia untuk memberi penghormatan terakhir pada Kirana, sebelum membawanya kembali ke pesantren..

Hilman menyalakan mesin mobil, wajahnya kaku "Biarkan dia mencari bayangan, Sayang. Sampai dia benar-benar belajar cara menghargai seorang wanita, dia tidak pantas tahu di mana Patricia dan anaknya berada."

Rukayyah menatap Alendra yang masih bersimpuh di jalan dengan iba "Tapi Mas... Alendra hancur. Dia memegang cadar itu seperti memegang nyawanya sendiri."

"Luka di hati Patricia jauh lebih dalam dari itu. Ayo, kita pergi."ajak Hilman tak punya hati.

Mobil Hilman meluncur menjauh, meninggalkan Alendra yang masih mendekap cadar hitam itu di bawah langit yang mulai menggelap, bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan pernah berhenti mencari, bahkan jika ia harus membalikkan seluruh isi bumi untuk menemukan istrinya.

___

Langkah kaki Ardiansyah terhenti di jalanan setapak pemakaman. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun melihat pemandangan memilukan di depannya. Ia melihat kakaknya, Alendra, yang biasanya selalu tampil rapi dan otoriter, kini tampak seperti pria yang kehilangan kewarasan.

Alendra sedang berlutut di aspal panas, kedua tangannya mencengkeram erat selembar kain hitam, cadar yang tadi ia temukan, seolah kain itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di dunia ini.

" Bang..." Ardiansyah menepuk bahu Alendra.

Alendra menoleh...

"Ardi! Itu dia! Ardi, kejar!" teriakan Alendra pecah, suaranya parau dan serak, bercampur dengan isak tangis yang tak terkendali.

Ardiansyah segera berlari menghampiri, memegang bahu kakaknya. "Bang, tenang dulu! Siapa? Siapa yang abang maksud?"

"Patricia, Ardi! Istriku!" Alendra menunjuk dengan jari gemetar ke arah sebuah mobil Sedan yang baru saja melesat menuju gerbang keluar. "Dia ada di sana! Aku mencium aromanya... aku tahu itu dia! Jangan biarkan dia hilang lagi, Ardi! Tolong abang..."

Melihat wajah Alendra yang begitu penuh permohonan dan keputusasaan, Ardiansyah tidak berpikir dua kali. Ia menarik lengan Alendra, membantunya berdiri meski kakinya lemas.

"Ayo, Bang! Mobilku di depan!"

Mesin mobil Ardiansyah menderu keras. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan di sekitar San Diego Hills yang mulai lengang. Alendra duduk di kursi penumpang, matanya tak lepas dari mobil sedan di kejauhan. Tangannya masih mendekap cadar itu, menempelkannya ke hidung sesekali, seolah mencari kekuatan dari sisa aroma Patricia.

"Lebih cepat, Ardi! Dia sudah hampir berbelok ke arah tol!" seru Alendra, tubuhnya condong ke depan, matanya merah menyala.

"Sabar, Bang! Ini sudah maksimal!" jawab Ardiansyah, tangannya lincah memutar kemudi.

Namun, tepat saat mereka mulai mendekati jarak aman untuk memotong mobil travel tersebut, sebuah mobil SUV hitam besar tiba-tiba muncul dari persimpangan jalan samping. Mobil itu memotong jalur Ardiansyah dengan sangat halus namun berbahaya, memaksa Ardiansyah menginjak rem secara mendadak.

Cittttttt!

Ban mobil berdecit keras di atas aspal. "Brengsek! Siapa itu?!" umpat Ardiansyah.

Di dalam mobil SUV hitam itu, Rukayyah mengambil alih kemudi dari suaminya....ia duduk dengan tenang di kursi kemudi. Ia mengenakan kacamata hitam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Melalui spion tengah, ia melihat mobil Ardiansyah yang tertahan di belakangnya.

Di sampingnya, Hilman mengawasi mobil sedan anak buahnya yang membawa Patricia semakin menjauh menuju jalan tol utama.

"Bagus, Sayang.... Tahan mereka sedikit lagi saja," gumam Hilman dingin.

Rukayyah mengangguk. Ia mulai memainkan ritme mengemudinya,sesekali melambat di tengah jalan yang sempit, lalu tiba-tiba berakselerasi saat ada celah, namun selalu menghalangi jalur jika Ardiansyah mencoba menyalip. Ia adalah seorang peretas dan ahli strategi, memanipulasi jalanan adalah hal kecil baginya.

"Maaf ya, Alen, Ardi... tapi ini demi ketenangan Patricia," batin Rukayyah sambil memutar kemudi ke kanan, kembali menutup celah saat Ardiansyah mencoba menyalip dari sisi dalam.

Di dalam mobilnya, Alendra memukul-mukul dashboard. "Ardi, kenapa mobil itu menghalangi kita?! Tabrak saja kalau perlu! Kita kehilangan jejak mobil itu!"

Ardiansyah mencoba tetap tenang meski peluh bercucuran. "Bang, mobil itu tahu apa yang dia lakukan. Dia sengaja mengecoh kita. Lihat! Mobil travelnya sudah masuk gerbang tol dan mobil sedan nya hilang di antara truk-truk besar!"

Alendra terdiam. Ia melihat mobil sedan hitam itu lenyap dari pandangan matanya. SUV hitam yang menghalangi mereka pun tiba-tiba melesat kencang dan mengambil jalur yang berbeda di sebuah percabangan, meninggalkan mereka dalam kepulan asap knalpot.

"Hilang..." bisik Alendra. Tubuhnya yang tadi tegang kini meluruh, bersandar pada kursi dengan lemas. "Lagi-lagi aku kehilangan dia, Ardi."

Ardiansyah memelankan laju mobilnya, akhirnya menepi di bahu jalan. Ia menatap kakaknya dengan iba. Alendra tidak lagi marah, ia hanya menatap cadar hitam di tangannya dengan pandangan kosong.

"Bang... mungkin memang belum saatnya," kata Ardiansyah lembut.

Alendra menggeleng pelan. Ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Dia datang untuk Kirana, Ardi. Dia bahkan masih sempat memberikan penghormatan untuk wanita yang menyakitinya. Betapa sucinya hatinya... dan aku? Aku pria bodoh yang bahkan tidak bisa mengejarnya."

Ia memejamkan mata, memeluk cadar itu erat-erat. Di kepalanya, ia hanya bisa membayangkan mata Patricia di balik cadar itu, mata yang penuh luka namun sangat teduh. Alendra tidak tahu bahwa di dalam mobil sedan yang sudah jauh itu, Patricia sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Zahra, meratapi betapa hancurnya wajah suaminya yang sempat ia lihat sekilas dari balik kaca jendela yang gelap.

" Astaghfirullah....aku sangat berdosa Zahra, aku membuat suami ku hancur...hiks hiks hiks, tapi aku masih takut untuk menemuinya, aku takut..... Aku belum siap, Aku merasa bersalah karena kematian Kirana hiks" Patricia menangis tersedu-sedu di pelukan Zahra...

" Mbak.... Semuanya sudah takdir, tidak perlu di sesali, nyonya Kirana sudah bahagia di sana, beliau sudah tidak merasakan sakit lagi" sahut Zahra dengan lembut,ia terus mengusap bahu Patricia yang bergetar.

1
Yuyun Srie Herawati
hmm gila sama kamu mbak Cia
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor...
nunik rahyuni
lha..wes konangan to...kurang ahli dalam penyamaran🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
yeeee semoga CIA peka klu itu alen
@Mita🥰
wah Alen bandung Bondowoso ...atau Roro Jonggrang 🤭🤭
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
alen bertranformasi jd bandung bondowoso siap beraksi, sblm ayam berkokok dan suara adzan menggema🤣
Yasmin Natasya
lanjut,up yang banyak thor 😁🙏
Nur Ayra
sangat bagus alurnya , 💪🥰🥰
Yuyun Srie Herawati
wahh nanti mbak Cia malah cinta sama kang Asep
@Mita🥰
semangat ya CIA .....Abang Alen selalu ada tuk mu
@Mita🥰
Alhamdulillah klu alendra yang dulu udah kembali🫣🫣🫣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 kang Asep Alon" 🤣🤣
Ulandary Ulandary
up lagi min
Nie
alhamdulillah kamu balik lagi ke asal Alen 😁🤭
Sukarti Wijaya
kekonyolannya ale muncul lg😄
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
wouw da cerita baru n sdh 23 bab 👍👍..Happy Valentine days../Heart//Heart/ disimpen dulu bentar lagi Ramadhan...Tks thor tetap semangat ..🙏🙏
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
up lg thor, jgn bikin penasaran😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!