NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Keluarga

Minggu pagi, langit Jakarta cerah.

Rajendra bangun jam lima—tidak karena alarm, tapi karena kebiasaan lama yang terbawa dari kehidupan pertamanya. Di kehidupan pertamanya, ia selalu bangun pagi—jam lima, kadang jam empat—untuk membaca laporan keuangan, menjawab email, merencanakan hari.

Kebiasaan yang tidak hilang meski tubuhnya kembali muda.

Ia duduk di tepi kasur beberapa menit—menatap jendela yang masih gelap—lalu bangkit, mandi, berpakaian.

Ia memilih pakaian dengan hati-hati hari ini.

Kemeja putih lengan panjang—bukan kemeja murah yang biasa ia pakai kuliah, tapi kemeja yang ia simpan untuk acara formal. Celana bahan hitam. Sepatu pantofel kulit coklat tua yang sudah lama tidak dipakai—sedikit kaku, tapi masih bagus.

Ia berdiri di depan cermin kecil—merapikan kerah, mengancingkan manset.

Wajahnya tenang.

Tidak ada kegugupan.

Hanya fokus.

Hari ini adalah hari pertama—hari di mana ia akan merebut kembali apa yang seharusnya jadi miliknya sejak awal.

Pukul sembilan setengah, Rajendra tiba di kediaman keluarga Baskara.

Kali ini ia tidak naik ojek. Ia naik taksi—taksi biasa, Blue Bird—bayar pakai uang pas yang ia simpan dari uang kos terakhir.

Ia turun di depan gerbang besi—gerbang yang sama seperti tiga hari lalu—tapi kali ini suasananya berbeda.

Ada tiga mobil terparkir di halaman. Mobil ayahnya—BMW hitam. Mobil ibunya—Honda CR-V silver. Dan mobil Dera—Toyota Camry putih yang baru dibeli tahun lalu.

Semuanya sudah datang.

Rajendra menekan bel.

Gerbang terbuka otomatis—motor listrik mendengung pelan.

Ia melangkah masuk—berjalan lewat taman, naik tangga teras, lalu membuka pintu depan.

Di ruang tamu, suasana tegang.

Julian duduk di sofa tunggal—wajahnya keras, rahang mengatup erat. Tangannya di pangkuan, jari-jari saling bertaut—tanda ia sedang menahan emosi.

Ririn duduk di sofa panjang—wajahnya pucat, mata sembab, seperti baru menangis atau tidak tidur semalaman.

Dera duduk di ujung sofa yang sama—posturnya tegak, wajahnya tenang, tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang waspada. Seperti binatang yang mencium bahaya tapi belum tahu dari mana datangnya.

Dan di tengah ruangan, berdiri Wirawan Hadipranoto—notaris keluarga—memakai jas hitam formal, tas kulit coklat di tangan kanan, wajahnya serius.

Semua mata menoleh ke Rajendra begitu ia masuk.

Tidak ada yang menyapa.

Hanya tatapan.

Rajendra menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan masuk—duduk di sofa kosong di seberang ayahnya, tepat di depan Wirawan.

"Pagi," sapanya datar—ke semua orang, ke tidak ada orang.

Tidak ada yang menjawab.

Julian menatapnya dengan tatapan tajam—seperti elang yang mengunci mangsa.

"Kamu yang minta rapat ini?" tanyanya—suaranya rendah, terkontrol, tapi Rajendra bisa mendengar amarah di baliknya.

"Bukan," jawab Rajendra tenang. "Pak Wirawan yang minta. Atas instruksi Kakek."

Julian menatap Wirawan—alisnya terangkat.

"Atas instruksi Ayah? Ayah sudah meninggal setahun lalu. Apa maksudnya ini?"

Wirawan menaruh tas kulitnya di atas meja kopi—membukanya, mengeluarkan folder coklat tebal yang sama dengan yang Rajendra lihat tiga hari lalu.

"Maksudnya," kata Wirawan pelan tapi jelas, "adalah bahwa almarhum Pak Dimas meninggalkan instruksi khusus dalam surat wasiatnya. Instruksi yang harus disampaikan kepada keluarga pada waktu yang tepat."

"Waktu yang tepat?" ulang Ririn—suaranya gemetar sedikit. "Kenapa baru sekarang?"

"Karena baru sekarang ada yang meminta," jawab Wirawan—menatap Rajendra sebentar, lalu kembali ke Julian. "Dan karena almarhum bilang, surat wasiat ini harus dibacakan kalau ada konflik keluarga yang berkaitan dengan masa depan perusahaan."

"Konflik?" Julian berdiri—wajahnya memerah. "Tidak ada konflik! Yang ada cuma anak yang tidak tahu diri dan—"

"Duduk, Pak Julian," potong Wirawan—nadanya tegas tapi sopan. "Ini bukan diskusi. Ini pembacaan wasiat resmi. Dan menurut hukum, semua ahli waris harus hadir dan mendengarkan."

Julian menatapnya beberapa detik—rahangnya mengatup erat.

Lalu ia duduk kembali—dengan gerakan kasar, sofa berderit pelan.

Wirawan membuka folder itu—mengeluarkan dokumen yang sama dengan yang Rajendra baca tiga hari lalu—lalu berdiri tegak, membacanya dengan suara keras dan jelas.

"Surat wasiat almarhum Dimas Baskara, tertanggal 12 Juni 2009, dibuat di hadapan notaris dan dua saksi yang sah."

Ia mulai membaca—kata per kata, kalimat per kalimat.

Dan semakin ia membaca, semakin tegang suasana ruangan itu.

Ririn menutup mulut dengan tangan—matanya melebar.

Dera menatap dokumen itu dengan wajah pucat—tangan kanannya mencengkeram sandaran sofa.

Julian duduk seperti patung—tidak bergerak, tidak berkedip, hanya menatap Wirawan dengan tatapan kosong.

Wirawan selesai membaca bagian inti:

"...seluruh aset, saham, dan kepemilikan Grup Baskara yang saya miliki—sebesar 60% dari total saham perusahaan—diwariskan sepenuhnya kepada Rajendra Baskara, cucu kandung saya, tanpa syarat dan tanpa pembagian."

Ia berhenti sebentar—membiarkan kata-kata itu mengendap.

Lalu melanjutkan:

"Sisanya—40% saham—dibagi sebagai berikut: Julian Baskara 20%, Ririn Baskara 10%, Dera Baskara 10%."

Wirawan menutup dokumen itu, lalu menatap ke semua orang.

"Itu artinya," katanya pelan, "mulai dari hari ini, Rajendra Baskara resmi menjadi pemegang saham mayoritas Grup Baskara dengan 60% kepemilikan. Ia punya hak penuh untuk mengambil keputusan strategis perusahaan, termasuk pengangkatan dan pemberhentian direksi."

Hening total.

Tidak ada yang bicara.

Tidak ada yang bergerak.

Hanya suara jam dinding di pojok ruangan—tik tok, tik tok, tik tok—seperti detik-detik sebelum bom meledak.

Lalu Julian bicara—suaranya pelan, tapi gemetar.

"Ini tidak mungkin."

Wirawan menatapnya. "Ini surat wasiat resmi, Pak. Sudah dicatat di notaris. Sudah disahkan. Tidak bisa diganggu gugat."

"Tidak mungkin," ulang Julian—suaranya lebih keras sekarang. "Ayah tidak mungkin kasih semuanya ke anak dua puluh tahun yang bahkan belum lulus kuliah!"

"Tapi itu yang terjadi," jawab Wirawan tenang.

Julian berdiri lagi—kali ini lebih agresif, tangannya menunjuk ke Rajendra.

"Kamu! Kamu yang atur ini, kan?! Kamu yang minta Pak Wirawan baca sekarang! Kamu mau apa?!"

Rajendra menatapnya—wajahnya datar, tenang, tidak terpengaruh.

"Aku tidak atur apa-apa, Pak," jawabnya pelan. "Ini semua keputusan Kakek. Aku cuma minta Pak Wirawan bacakan apa yang memang sudah jadi hakku."

"Hakmu?!" Julian tertawa—tertawa pahit, tidak percaya. "Kamu pikir kamu pantas pegang perusahaan itu?! Kamu masih anak-anak! Kamu tidak tahu apa-apa soal bisnis!"

Rajendra diam sebentar—menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

Lalu ia bicara—nadanya tenang, tapi ada berat di baliknya.

"Kakek percaya aku pantas. Dan itu cukup untukku."

Julian menatapnya—mulutnya terbuka, mau bicara lagi—tapi tidak ada kata yang keluar.

Dera berdiri—wajahnya pucat tapi ia berusaha tersenyum.

"Mas Rajendra," katanya pelan—nadanya lembut, seperti biasa. "Aku tahu ini... mengejutkan untuk kita semua. Tapi mungkin kita bisa bicara baik-baik? Keluarga, kan? Kita tidak perlu berantem gara-gara ini."

Rajendra menatapnya—tatapan panjang, tajam.

Dera tersenyum lebih lebar—tapi senyumnya tidak sampai ke mata.

"Maksudku," lanjutnya, "Kakek pasti punya alasan kasih Mas 60%. Tapi kita masih satu keluarga. Kita bisa atur semuanya dengan baik. Mas tetap punya kontrol, tapi kita bisa kerja sama. Seperti biasa."

Rajendra diam beberapa detik—menatap Dera dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Lalu ia bicara—suaranya pelan tapi jelas.

"Tidak."

Dera mengerutkan dahi—senyumnya luntur sedikit.

"Tidak? Maksud Mas—"

"Aku tidak mau kerja sama," potong Rajendra—nadanya tetap tenang, tapi tegas. "Aku tidak mau jadi satu keluarga. Aku tidak mau ada hubungan apapun lagi dengan kalian."

Hening.

Semua orang menatapnya—bingung, terkejut.

Ririn berdiri—wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca.

"Rajendra... apa maksudmu? Kenapa kamu bicara seperti itu?"

Rajendra menatap ibunya—ada sesuatu di matanya. Bukan benci. Bukan marah. Hanya... kelelahan. Kelelahan yang aneh untuk anak dua puluh tahun.

"Karena aku sudah tahu," jawabnya pelan. "Aku sudah tahu bagaimana ini semua akan berakhir kalau aku tetap di sini."

"Tahu apa?" tanya Julian—suaranya keras. "Kamu bicara apa?!"

Rajendra tidak menjawab.

Ia hanya menatap ayahnya—lalu menatap Dera—lalu menatap ibunya.

Lalu ia berdiri.

"Pak Wirawan," katanya tanpa menoleh. "Tolong siapkan dokumen pemisahan. Aku mau keluar dari keluarga ini. Secara resmi. Secara hukum."

Wirawan menatapnya—terkejut.

"Rajendra, kamu yakin? Ini keputusan besar. Pemisahan keluarga itu—"

"Aku yakin," potong Rajendra. "Sangat yakin."

Julian melangkah maju—wajahnya merah, tangan mengepal.

"Kamu pikir kamu bisa seenaknya keluar?! Kamu pikir kamu bisa buang nama Baskara begitu saja?! Kamu anak durhaka! Tidak tahu diri! Kakekmu pasti malu kalau tahu kamu—"

"Kakek tahu," potong Rajendra—nadanya dingin sekarang, tidak ada kehangatan sama sekali. "Kakek tahu kenapa dia kasih semuanya ke aku, bukan ke Bapak. Karena dia tidak percaya Bapak bisa jaga perusahaan itu dengan baik."

Julian terdiam—wajahnya seperti ditampar.

Rajendra melanjutkan—suaranya tetap tenang, tapi setiap kata terasa seperti pisau.

"Kakek bilang ke aku waktu dia masih hidup. Dia bilang, Bapak terlalu fokus pada uang. Ibu terlalu lemah. Dan Dera..." ia melirik ke Dera sebentar, "...Dera punya ambisi, tapi tidak punya fondasi."

Dera menatapnya—wajahnya pucat, tangan gemetar.

"Mas... aku tidak pernah—"

"Aku tidak peduli," potong Rajendra—nadanya final. "Yang pasti, aku tidak akan menghabiskan hidupku di tempat di mana aku tidak dipercaya, tidak dihargai, dan cuma dilihat sebagai alat untuk kepentingan orang lain."

Ia berbalik—berjalan menuju pintu.

"Rajendra!" teriak Ririn—suaranya pecah, penuh air mata. "Jangan pergi! Kita bisa selesaikan ini! Kita masih keluarga!"

Rajendra berhenti di depan pintu—tanpa menoleh.

"Keluarga," ulangnya pelan—seperti mencicipi kata itu untuk terakhir kali. "Keluarga tidak jadikan anak mereka sebagai alat untuk bisnis, Bu. Keluarga tidak memaksa pernikahan demi uang. Keluarga tidak menghargai orang lain lebih dari darah daging sendiri."

Ia membuka pintu.

"Aku akan kirim alamat pengacara untuk proses pemisahan. Pak Wirawan punya kontakku."

Lalu ia keluar—menutup pintu pelan—meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekik.

Rajendra berjalan keluar dari rumah itu dengan langkah tenang—tapi dadanya sesak.

Bukan karena penyesalan.

Karena lega.

Karena beban yang ia pikul selama lima belas tahun—lima belas tahun di kehidupan pertamanya—akhirnya ia lempar.

Ia berjalan menyusuri trotoar—tangan di saku celana, wajah tenang, mata menatap lurus ke depan.

Langit cerah. Udara sejuk. Burung berkicau di pohon-pohon besar di kiri kanan jalan.

Tapi Rajendra tidak merasakan apa-apa.

Hanya kekosongan.

Dan fokus.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk—dari nomor tidak dikenal:

"Rajendra, ini Jessica. Aku dengar apa yang terjadi di rapat keluarga. Bisa kita ketemu? Please. Aku perlu bicara sama kamu. Ini penting."

Rajendra menatap pesan itu beberapa detik.

Lalu ia mengetik balasan:

"Tidak perlu. Aku tidak ada urusan dengan kamu lagi."

Pesan terkirim.

Tidak sampai satu menit, balasan datang:

"Rajendra, please jangan kayak gini. Aku tahu kamu marah sama keluarga, tapi ini beda. Ini soal kita. Soal masa depan kita. Kita sudah direncanakan menikah, kamu tidak bisa tiba-tiba—"

Rajendra tidak selesai membaca.

Ia langsung memblokir nomornya.

Lalu ia memasukkan ponsel kembali ke saku dan melanjutkan jalan—menuju halte bus terdekat.

Di kepalanya, rencana sudah jelas.

Langkah pertama: selesai. Warisan diamankan. Keluarga diputus.

Langkah kedua: bangun fondasi. Cari modal awal. Cari partner yang bisa dipercaya. Mulai dari nol.

Langkah ketiga: tunggu. Tunggu mereka bergerak. Tunggu mereka membuat kesalahan. Karena ia tahu—ia ingat—mereka akan membuat kesalahan yang sama.

Dan ketika mereka jatuh, ia akan ada di sana.

Bukan untuk menolong.

Untuk menonton.

Sore itu, Rajendra duduk di sebuah warung kopi kecil di kawasan Kuningan—warung sederhana dengan kursi plastik dan meja kayu tua.

Ia memesan kopi hitam panas—kopi murah dengan gula sedikit—lalu duduk di sudut, menatap jalanan yang mulai macet.

Di tangannya, sebuah buku catatan kecil dan pulpen.

Ia mulai menulis—poin-poin penting dari ingatannya:

2010-2012:

Industri digital mulai berkembang pesat

E-commerce masih tahap awal, banyak celah pasar

Smartphone mulai booming—Android vs iOS

Social media: Facebook, Twitter mulai dominan

2012:

Dera akan mulai gelapkan uang lewat perusahaan logistik palsu

Nama perusahaan: Samudera Logistics (kalau tidak salah ingat)

Partner: seseorang dari keluarga Agus (harus cari tahu siapa)

Total kerugian perusahaan: sekitar 15 miliar dalam 3 tahun

2015:

Ayah akan coba singkirkan aku dari posisi direktur

Alasan: aku tolak beri Dera posisi COO di perusahaan

Hasil: rapat dewan direksi—voting 7-3, aku kalah suara

Aku diturunkan jadi komisaris—posisi tanpa kekuatan nyata

2018-2020:

Pandemi COVID mulai 2020

Bisnis properti turun drastis

E-commerce dan digital payment meledak

Grup Baskara hampir bangkrut karena salah strategi (ayah keras kepala)

2022:

Dera jadi CEO setelah ayah pensiun

Jessica mulai sering "lembur" bareng Dera

Aku mulai curiga tapi terlalu bodoh untuk bertindak

2025:

Kontrak besar dengan perusahaan Vietnam—proyek infrastruktur 500 juta USD

Aku yang handle, aku yang sukses

Seminggu setelah kontrak ditandatangan: Jessica dan Dera bunuh aku

Timing: Kamis malam, di ruang kerja, setelah semua orang pulang

Modus: tusuk dari belakang dengan pisau dapur

Tujuan: rebut warisan dan kontrol perusahaan sepenuhnya

Rajendra menatap catatan itu—tangannya gemetar sedikit.

Ia menutup buku catatan itu, lalu menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.

Lima belas tahun.

Ia punya lima belas tahun untuk memastikan semua itu tidak terjadi lagi.

Atau lebih tepatnya—untuk memastikan ia yang menang kali ini.

[ END OF BAB 3 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!