"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Nafas di Antara Reruntuhan
DEBU kapur yang tebal menggantung di udara seperti kabut hantu, menyesakkan paru-paru dan mengaburkan pandangan. Suara denging panjang di telinga Dante perlahan memudar, digantikan oleh suara reruntuhan batu yang masih berjatuhan dan raungan helikopter yang kini terasa jauh lebih dekat. Bau mesiu yang tajam bercampur dengan aroma tanah kuno yang baru saja terusik oleh ledakan.
Dante terbatuk, mencoba membersihkan kerongkongannya. Matanya yang abu-abu tajam menyisir kegelapan. Hal pertama yang ia cari bukanlah senjatanya, melainkan sosok wanita yang menjadi separuh jiwanya.
"Aria!" suara Dante serak, tersendat oleh debu.
"Dante... aku di sini," suara itu lemah, datang dari bawah tumpukan kayu lemari tua yang hancur.
Dante merangkak dengan panik. Tangannya yang berdarah karena terkena serpihan batu tidak ia pedulikan. Ia mengangkat balok kayu itu dengan tenaga yang lahir dari keputusasaan murni. Di sana, Aria terbaring dengan wajah sepucat salju, tangannya mencengkeram perutnya sendiri dengan kaku.
"Jangan bergerak, cara mia," bisik Dante, suaranya gemetar. Ia menyentuh kening Aria, merasakan keringat dingin yang membanjir di sana. "Di mana yang sakit? Katakan padaku."
"Perutku... tajam sekali, Dante. Seperti ada yang menariknya dari dalam," Aria meringis, matanya terpejam rapat menahan nyeri. "Bayi kita... tolong..."
Hati Dante seolah dicabut paksa. Ia adalah seorang pria yang bisa menghadapi seribu peluru tanpa berkedip, namun melihat Aria kesakitan karena sebuah nyawa yang belum lahir membuatnya merasa lumpuh. Namun, ia tidak boleh lumpuh sekarang. Di luar sana, langkah kaki bot militer mulai bergema di lantai batu koridor.
Klek.
Suara pengokang senjata dari balik reruntuhan menyadarkan Dante. Musuh tidak akan memberikan mereka waktu untuk berduka.
"Dengar, Aria. Kau harus tetap sadar. Fokus pada suaraku," Dante menarik Aria ke sebuah ceruk di balik pilar besar yang masih berdiri kokoh. Ia menaruh jaketnya di bawah kepala Aria. "Aku akan menjauhkan mereka darimu. Aku berjanji."
Dante mengambil senapan serbu HK416 miliknya yang sempat terlempar. Ia memeriksa magasinnya—tersisa dua belas butir. Di pinggangnya, ia masih memiliki Glock 17 dengan dua magasin penuh. Cukup untuk sebuah pembantaian kecil, namun tidak cukup untuk perang berlarut-larut melawan pasukan Sombra.
Cahaya senter taktis mulai menyapu ruangan melalui celah-celah debu. Tiga bayangan pria berpakaian hitam masuk dengan gerakan yang sangat disiplin. Mereka bergerak dalam formasi segitiga, menutupi setiap sudut ruangan.
"Moretti! Kami tahu kau masih bernapas!" teriak salah satu dari mereka dalam bahasa Spanyol. "Berikan wanitanya, dan mungkin tuan kami akan membiarkanmu mati dengan cepat!"
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menunggu hingga pria terdepan berada tepat di bawah lampu gantung yang miring.
DOOR! DOOR!
Dua tembakan presisi dilepaskan Dante. Bukan ke arah pria itu, melainkan ke arah rantai lampu gantung yang sudah rapuh. Logam berat itu jatuh menghantam lantai dengan suara menggelegar, menciptakan debu tambahan sebagai tabir asap.
Di tengah kekacauan itu, Dante bergerak. Ia tidak lagi menembak; ia menggunakan kegelapan sebagai sekutu. Ia muncul dari balik bayangan penyerang kedua, menusukkan pisau komandonya tepat ke bawah rahang pria itu, menembus hingga ke otak. Tidak ada teriakan. Hanya suara tubuh yang ambruk.
"Kontak! Di sayap kiri!" teriak penyerang ketiga.
Dante berguling di lantai, menghindari rentetan peluru yang menghancurkan pilar batu di dekatnya. Ia membalas dengan satu tembakan Glock yang mengenai leher penyerang tersebut.
Satu orang tersisa. Pemimpin tim kecil itu. Pria itu melempar senapan serbunya yang macet dan mengeluarkan parang panjang khas Amerika Selatan.
"Ayo, Moretti! Tunjukkan padaku 'Si Penjagal' yang melegenda itu!" tantang pria itu sambil menerjang.
Dante bangkit, matanya berkilat jahat. Ia tidak menghindari terjangan itu. Ia justru maju menyongsongnya. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar suara tulang yang patah, lalu menghantamkan lututnya ke ulu hati lawan. Saat pria itu membungkuk kesakitan, Dante mencengkeram kepalanya dan menghantamkannya ke dinding batu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tengkorak.
Pria itu jatuh tak bernyawa. Dante berdiri di tengah mayat-mayat itu, napasnya memburu. Ia menoleh ke arah Aria.
"Aria? Kau masih di sana?"
Aria mencoba menjawab, namun yang keluar hanyalah erangan kecil. Dante segera kembali ke sisinya. Ia melihat darah mulai merembes di sela-sela paha Aria, menodai gaun hitamnya.
"Sial! Agostino! Marco! Kalian dengar aku?!" Dante berteriak ke radionya, namun hanya ada suara statis. Pemblokir sinyal Valerio masih bekerja.
Dante menyadari bahwa jika ia tetap di sini, Aria akan kehilangan bayi itu, atau lebih buruk, kehilangan nyawanya karena pendarahan. Ia harus membawa Aria ke ruang medis di bagian belakang biara, namun jalan utama sudah tertutup reruntuhan dan musuh.
"Aria, aku akan menggendongmu. Ini akan terasa sakit, tapi kita harus bergerak," bisik Dante.
Ia mengangkat tubuh Aria dengan hati-hati. Aria merangkul leher Dante, wajahnya disembunyikan di ceruk leher suaminya. Dante bisa merasakan air mata hangat Aria membasahi kulitnya.
"Jangan tinggalkan aku, Dante..." bisik Aria lemah.
"Tidak akan pernah, cara mia. Tidak akan pernah."
Dante berjalan melewati jalur tikus yang hanya diketahui oleh keluarga Moretti—sebuah terowongan sempit di balik altar kapel kecil. Ia harus menunduk, menahan beban tubuh Aria sambil memastikan kepalanya tidak terbentur dinding batu yang rendah. Setiap langkah terasa seperti siksaan bagi mereka berdua.
Di ujung terowongan, mereka sampai di ruang bawah tanah yang lebih dalam. Di sana, ia menemukan Agostino yang sedang mencoba menstabilkan peralatan medis darurat.
"Agostino!" teriak Dante saat mereka muncul dari balik pintu rahasia.
Pria tua itu tersentak, namun langsung sigap saat melihat kondisi Aria. "Letakkan dia di meja ini, Tuan! Cepat!"
Agostino segera memeriksa tanda-tanda vital Aria. Tangannya yang keriput namun stabil bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Ia memasangkan masker oksigen dan mulai memeriksa pendarahan tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dante, tangannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
Agostino menggelengkan kepala dengan raut wajah serius. "Ini adalah solusio plasenta ringan akibat guncangan ledakan, Tuan. Kita harus segera menghentikan pendarahannya dan memberikan obat penenang rahim. Jika tidak, bayi ini akan keluar prematur atau kita akan kehilangan keduanya."
"Lakukan apa pun! Gunakan darahku jika perlu!" Dante mendekat, matanya memerah.
"Saya butuh ketenangan, Tuan Dante! Dan saya butuh Anda untuk menjaga pintu itu," Agostino menunjuk ke arah pintu besi satu-satunya yang menuju ruangan ini. "Pasukan Valerio sedang menyisir setiap inci tempat ini. Mereka akan sampai di sini dalam hitungan menit."
Dante menatap Aria sekali lagi. Wanita itu menatapnya dari balik masker oksigen, matanya yang sayu seolah memohon agar Dante tidak pergi. Dante mencium telapak tangan Aria.
"Aku akan berada tepat di balik pintu ini. Tidak akan ada yang menyentuhmu," janji Dante.
Dante keluar dari ruang medis dan mengunci pintu besi tersebut dari luar. Ia berdiri di sebuah aula bundar yang memiliki empat jalan masuk. Ini adalah titik pertahanan terakhir. Jika ia gagal di sini, semuanya berakhir.
Ia mengambil sisa senjata dari mayat-mayat yang ia lewati tadi. Dua senapan serbu, beberapa granat, dan sebuah peluncur granat M79 tua yang ia temukan di lemari persenjataan darurat.
Dante duduk di tengah aula, bersila di lantai dingin. Ia mulai mengisi amunisi satu per satu. Ia tidak lagi merasa takut. Ia tidak lagi merasa lelah. Yang ia rasakan hanyalah sebuah keheningan yang mematikan. Ia adalah Dante Moretti, dan hari ini, ia akan mengingatkan dunia mengapa klan Moretti berkuasa selama berabad-abad.
Langkah kaki mulai terdengar dari tiga arah sekaligus. Cahaya lampu senter memenuhi aula.
"Dia di sana! Si Penjagal sedang menunggu!" teriak sebuah suara dari lorong barat.
Dante berdiri perlahan. Ia mengangkat peluncur granatnya. "Kalian datang ke rumah yang salah untuk mencari kematian," ucapnya dengan suara yang begitu dingin hingga membuat udara di aula itu seolah membeku.
THUMP!
Granat pertama meledak di lorong barat, meruntuhkan langit-langit dan mengubur tim penyerbu pertama. Dante segera beralih ke lorong selatan, memuntahkan peluru dari senapan serbunya dengan rentetan yang teratur.
Pertempuran itu menjadi sebuah tarian maut yang brutal. Dante bergerak dari satu pilar ke pilar lain, menggunakan granat tangan untuk menciptakan kekacauan di barisan musuh. Ia tidak membiarkan satu pun dari mereka mendekati pintu medis.
Setiap kali peluru musuh menyerempet kulitnya, Dante hanya menggeram. Rasa sakit fisik tidak ada artinya dibanding ketakutan akan kehilangan Aria.
Satu jam berlalu. Lantai aula itu kini licin karena darah. Dante terduduk bersandar pada pintu besi, nafasnya pendek-pendek. Bahu kirinya tertembak, dan kakinya penuh dengan luka serpihan ledakan. Ia hanya memiliki satu magasin Glock yang tersisa.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari lorong utama.
Seorang pria dengan jas abu-abu perak melangkah masuk, dikelilingi oleh enam pengawal bersenjata berat. Itu adalah Valerio Moretti. Wajahnya tampak segar, kontras dengan kondisi Dante yang hancur.
"Luar biasa, Dante. Benar-benar luar biasa," ucap Valerio dengan senyum meremehkan. "Kau bertarung seperti anjing gila demi seorang wanita Vane dan janin yang bahkan belum memiliki nama. Apakah ini akhir dari singa Sisilia? Mati di depan pintu gudang bawah tanah?"
Dante mencoba berdiri, namun kakinya gemetar. Ia menggunakan senjatanya sebagai tongkat. "Kau tidak akan pernah menyentuh mereka, Valerio. Tidak selama jantungku masih berdetak."
Valerio tertawa, suara yang terdengar melengking di aula sunyi itu. "Jantungmu akan berhenti berdetak dalam hitungan detik, Sepupuku. Namun aku pria yang adil. Jika kau memberikan kode akses ke rekening Project Phoenix sekarang, aku akan membiarkan Agostino menyelamatkan bayimu. Aku butuh pewaris itu untuk melegitimasi kekuasaanku. Aria? Dia bisa mati, aku tidak peduli."
Dante menatap Valerio dengan tatapan yang sangat tenang. "Kau ingin kode itu? Kemarilah. Aku akan membisikkannya di telingamu."
Valerio memberi isyarat agar pengawalnya tetap diam. Ia melangkah maju dengan percaya diri, yakin bahwa Dante sudah tidak berdaya. Ia membungkuk di depan Dante.
"Katakan padaku," bisik Valerio.
Dante menarik kerah baju Valerio dan menariknya mendekat. "Kodenya adalah... Morte ai traditori (Kematian bagi pengkhianat)."
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari balik dinding aula.
BOOOOM!
Dinding sisi utara meledak, dan Marco bersama tim Reapers yang tersisa menyerbu masuk melalui jalur evakuasi bawah laut yang baru saja mereka tembus.
"SEKARANG!" teriak Marco.
Dante menggunakan sisa tenaganya untuk menghantam wajah Valerio dengan kepalanya. Valerio terhuyung ke belakang, hidungnya hancur. Marco melepaskan tembakan beruntun ke arah pengawal Valerio, membuat mereka kocar-kacir.
Valerio yang panik segera ditarik oleh dua pengawalnya yang tersisa menuju jalur pelarian. "Tarik mundur! Kita akan kembali!" teriaknya sambil menghilang di kegelapan lorong.
Dante ingin mengejar, namun tubuhnya akhirnya menyerah. Ia jatuh berlutut tepat di depan pintu medis.
"Bos! Kau tidak apa-apa?!" Marco berlari mendekat, membantu Dante duduk.
"Aria... bagaimana Aria?" tanya Dante, suaranya nyaris hilang.
Pintu besi di belakangnya terbuka. Agostino keluar dengan pakaian yang penuh noda darah, namun wajahnya menunjukkan sedikit kelegaan.
"Pendarahannya berhenti, Tuan Dante. Detak jantung bayinya kembali kuat. Mereka berdua stabil... untuk saat ini," ucap Agostino.
Dante memejamkan matanya. Air mata syukur mengalir di sela-sela debu dan darah di wajahnya. Ia menyandarkan kepalanya di dinding, membiarkan Marco mulai mengobati luka-lukanya.
"Valerio melarikan diri," ucap Marco dengan nada menyesal. "Dia menuju pelabuhan Catania."
"Biarkan dia pergi," bisik Dante. "Dia sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia membuat ini menjadi urusan pribadi. Dan dia baru saja melihat apa yang terjadi jika dia mengusik keluargaku."
Dante menoleh ke arah Agostino. "Boleh aku melihatnya?"
Agostino mengangguk. Dante merangkak masuk ke dalam ruang medis. Di sana, Aria terbaring lemah dengan selimut putih. Matanya terbuka sedikit saat merasakan kehadiran Dante.
"Dante..." bisiknya.
Dante menggenggam tangan Aria, menciumnya berulang kali. "Kita aman, Aria. Kalian berdua aman."
Aria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memberikan Dante kekuatan lebih dari seribu pasukan. "Aku tahu kau akan menjaga kami."
Malam itu, di kedalaman biara tua Sisilia, perang belum berakhir. Valerio masih berkeliaran, dan ancaman dari Roma masih membayangi. Namun, di dalam ruangan kecil yang berbau antiseptik itu, Dante Moretti menyadari satu hal.
Ia bukan lagi hanya seorang penjagal. Ia adalah seorang ayah. Dan ia akan mengubah seluruh dunia ini menjadi abu sebelum ia membiarkan siapa pun menyentuh cahayanya lagi.