Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Getaran dari palu raksasa itu merambat melalui telapak kakiku, menjalar naik hingga ke pangkal tengkorak. Aku bisa merasakan setiap serpihan batu yang hancur di bawah beban senjata itu. Pria besar di depanku ini bukan lagi manusia. Ia adalah sebuah bencana berjalan yang hanya mengenal rasa lapar.
[Analisis musuh: Kepadatan otot meningkat 400%. Target menggunakan energi dari organ jantung yang sudah bermutasi.]
"Kau bisa menahan diri untuk tidak lari, Han? Itu kemajuan yang bagus," celetuk Jin Seo sembari memutar pedangnya dengan lincah.
Aku mencengkeram tongkat kayuku lebih erat. "Aku tidak punya hobi membiarkan punggungku ditebas oleh monster gila."
"Bagus. Karena dia tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja," balas Jin Seo sembari melesat maju.
Gerakan Jin Seo sangat cepat. Ia menyerupai kilatan cahaya putih yang membelah kegelapan malam. Pedangnya berdenting saat beradu dengan sisi palu raksasa tersebut. Percikan api memercik, menerangi wajah pria besar itu yang kini penuh dengan urat-urat hitam yang menonjol.
"Daging... berikan... esensimu!" raung si Palu Penghancur sembari mengayunkan senjatanya secara horizontal.
Angin yang dihasilkan oleh ayunan palu itu cukup kuat untuk merobohkan barisan penjaga yang mencoba mendekat. Aku melompat mundur, merasakan gravitasi yang seolah menarikku lebih lambat dari biasanya. Inilah kekuatan Vanguard Asura. Aku bisa merasakan setiap partikel energi di udara bergerak dengan lambat.
[Saran sistem: Target memiliki pertahanan fisik yang luar biasa. Gunakan serangan titik saraf dengan transformasi ujung jari.]
"Jin Seo! Alihkan perhatiannya ke arah kanan!" perintahku sembari membuang tongkat kayu yang sudah mulai retak.
Jin Seo menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Lakukan sesukamu, Kawan!"
Ia segera mengubah pola serangannya. Teknik pedangnya kini lebih fokus pada kecepatan daripada kekuatan, memancing si Palu Penghancur untuk terus berputar mengikuti gerakannya. Aku melihat celah di antara ketiak pria besar itu, sebuah titik lemah yang terbuka setiap kali ia mengangkat palu tingginya.
Aku memacu energi di dalam meridianku. Rasa panas yang biasanya menyiksa kini terasa sangat akrab, hampir menyerupai aliran darahku sendiri. Tangan kananku berubah secara instan. Sisik emas yang halus melapisi punggung tangan, dan kuku-kukuku memanjang membentuk pisau bedah yang sangat tajam.
"Sekarang!" teriakku sembari menerjang.
Aku tidak menggunakan langkah kaki biasa. Aku menggunakan daya ledak dari tumitku yang kini sudah bertransformasi sebagian. Dalam satu kedipan mata, aku sudah berada di bawah lengan si Palu Penghancur. Aku menancapkan kuku-kukuku langsung ke arah titik saraf di bawah ketiaknya.
Srak!
Pria itu memekik keras. Suaranya lebih mirip dengan raungan besi yang bergesekan. Palu raksasanya terlepas dari pegangannya dan jatuh menghantam lantai batu dengan dentuman yang memekakkan telinga.
"Apa yang kau lakukan?" tanya si Palu Penghancur sembari menatapku dengan mata yang mulai mengeluarkan darah.
"Aku hanya memutus kabel energimu," jawabku datar sembari menarik cakarku kembali.
[Ekstraksi energi dimulai secara otomatis. Mengambil 10% esensi 'Asura Eater'.]
Rasa segar yang luar biasa mengalir masuk ke tubuhku. Namun, kesenangan itu hanya bertahan sesaat. Tubuh pria besar itu tiba-tiba mulai membengkak secara tidak wajar. Kulitnya pecah-pecah, memperlihatkan gumpalan daging berwarna merah tua yang berdenyut kencang.
"Mundur, Han! Dia akan meledak!" peringat Jin Seo sembari menarik kerah jubahku.
Kami berdua melompat menjauh tepat saat tubuh si Palu Penghancur meletus. Namun, bukannya darah yang keluar, melainkan ratusan tentakel kecil yang langsung merambat ke arah mayat-mayat penjaga di sekitarnya. Tentakel itu menyerap tubuh para penjaga, mencoba membentuk kembali wujud monster tersebut menjadi sesuatu yang lebih besar.
"Sial, mereka benar-benar sulit dibunuh," gerutu Jin Seo sembari menyeka keringat di dahinya.
"Dia beregenerasi dengan memakan orang lain," tandasku sembari menatap proses mengerikan itu.
Tiba-tiba, dari arah gerbang besar Aliansi Murim, muncul sekelompok tetua dengan jubah berwarna emas. Mereka membawa pedang yang memancarkan cahaya suci yang sangat menyilaukan. Di tengah mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan kumis panjang yang terlihat sangat berwibawa.
"Hentikan kekacauan ini sekarang juga!" seru pria paruh baya itu dengan suara yang menggetarkan dada.
Jin Seo segera menurunkan pedangnya dan memberikan isyarat agar aku melakukan hal yang sama. "Itu Tetua Agung Aliansi Murim, Baek Ho. Sebaiknya kau tidak terlihat terlalu menonjol sekarang."
Aku segera menarik kembali transformasi tanganku, membiarkan kulitku kembali mulus meskipun rasa panasnya masih terasa menyengat. Tetua Baek Ho menatap kami dengan tatapan yang sangat tajam, lalu beralih menatap gumpalan daging yang terus bergerak di tengah jalan.
"Siapa yang bertanggung jawab atas kehadiran makhluk menjijikkan ini di depan gerbang kami?" tanya Baek Ho sembari mengangkat tangannya ke udara.
Cahaya emas turun dari langit, menghantam gumpalan daging itu hingga terbakar menjadi abu dalam hitungan detik. Kekuatan yang luar biasa. Aku bisa merasakan sistem di kepalaku bergetar, mencoba menghitung tingkat energi pria itu namun selalu gagal.
"Kami hanya mencoba menghentikannya, Tetua," sahut Jin Seo sembari membungkuk hormat.
Baek Ho melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan kami berdua. Tatapannya terpaku pada dadaku, tepat di mana energi Asura-ku bersembunyi di balik modul peredam.
"Kau," ucap Baek Ho sembari menunjuk ke arahku. "Aku merasakan sesuatu yang sangat asing mengalir di dalam tubuhmu."
Jantungku berdegup kencang. Apakah persembunyianku sudah berakhir di sini? Baru saja aku hendak menjawab, Jin Seo tiba-tiba melangkah ke depan, menutupi posisiku dari pandangan langsung sang Tetua Agung.
"Dia adalah murid yang sedang saya periksa, Tetua. Kompas pendeteksi saya memang memberikan sinyal, tapi sepertinya itu karena dia sempat bersentuhan langsung dengan monster tadi," bela Jin Seo dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.
Baek Ho terdiam sejenak, matanya masih menyipit penuh kecurigaan. Suasana di depan gerbang aliansi menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara sisa-sisa api yang membakar debu monster tadi.
"Bawa dia ke dalam penjara bawah tanah untuk observasi," perintah Baek Ho akhirnya. "Aku tidak ingin mengambil risiko apa pun menjelang pembukaan turnamen besok pagi."
"Tapi Tetua..." Jin Seo mencoba memprotes.
"Ini perintah, Jin Seo," potong Baek Ho sembari berbalik badan.
Dua orang pengawal aliansi dengan baju zirah lengkap segera mendekatiku. Mereka mencengkeram lenganku dengan sangat kasar. Aku bisa saja menghancurkan tulang tangan mereka dalam sekejap, namun aku tahu itu akan menjadi akhir dari penyamaranku.
"Ikuti saja mereka, Han. Aku akan mencari jalan keluar," bisik Jin Seo sembari menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aku hanya mengangguk pelan sembari membiarkan diriku diseret menuju kegelapan di dalam gedung aliansi. Saat aku melewati lorong-lorong batu yang dingin, aku menyadari satu hal.
Ruang bawah tanah aliansi ini memiliki aroma yang sangat familiar. Bukan aroma manusia, melainkan aroma dari sesuatu yang sangat lapar.
[Peringatan: Terdeteksi keberadaan tiga Vanguard Asura di sel tingkat bawah.]
Aku menyeringai kecil di balik kepalaku yang tertunduk. Sepertinya Aliansi Murim sedang mengumpulkan kami semua di satu tempat yang sama. Dan jika mereka pikir jeruji besi ini bisa menahan kami, mereka salah besar.
"Masuk ke dalam, monster kecil," hardik salah satu pengawal sembari mendorongku ke dalam sebuah sel yang sangat gelap.
Pintu besi berdentang keras saat tertutup. Aku duduk di lantai yang lembap, merasakan tatapan-tatapan tajam dari kegelapan di sekitarku.
"Satu lagi pendatang baru," gumam sebuah suara yang berat dari sudut sel sebelah.
Aku menoleh dan melihat sepasang mata berwarna hijau menyala sedang menatapku dengan penuh rasa lapar.
"Siapa kau?" tanyaku sembari mulai membiarkan sisik emasku muncul kembali.
Pria di sel sebelah itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat parau. "Aku adalah kegagalan yang mereka coba sembunyikan. Dan kau, kau adalah hidangan penutup yang sudah lama kami tunggu."
Tiba-tiba, seluruh lampu di lorong penjara padam secara bersamaan. Dan di tengah kegelapan total itu, aku mendengar suara jeruji besi yang mulai meleleh.