Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pesta di aula The Plaza Hotel terus mengalir dengan simfoni yang harmonis. Adrian Richard, dengan segelas sampanye di tangannya, memperhatikan putrinya dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Azkara berdiri dengan sikap tubuh yang begitu terjaga di samping Alana.
Alih-alih konfrontasi yang tajam, suasana yang tercipta justru terlihat sangat berbeda di mata sang ayah. Adrian melihat Azkara sebagai sosok pria muda yang memiliki aura kepemimpinan yang kuat, namun menunjukkan rasa hormat yang luar biasa saat berada di dekat Alana.
Adrian melangkah mendekat, tersenyum lebar melihat kedua anak muda itu tampak sedang berbincang serius namun tenang.
"Sepertinya kalian berdua sudah cukup akrab," ucap Adrian sambil menepuk bahu Azkara dengan ramah. "Aku jarang melihat Alana berbicara begitu lama dengan seorang pria di sebuah pesta, biasanya dia sudah kabur ke pojok ruangan untuk menghindari obrolan bisnis."
Alana sedikit tersentak, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia tersenyum manis, senyum profesional yang sering ia gunakan di depan kamera, meski jantungnya masih berpacu karena keberadaan Azkara di sisinya.
"Ayah... Azkara hanya sedang menjelaskan tentang teknologi ramah lingkungan di mesin mobil terbarunya. Sangat menarik."
Azkara mengangguk dengan sopan, matanya tetap tenang meski di dalam hatinya ia merasa sangat bersalah karena telah membohongi pria sehebat Adrian. "Benar, Tuan Richard. Nona Alana memiliki wawasan yang sangat luas. Saya sangat mengagumi kecerdasannya."
Adrian tertawa kecil, ia merasa bangga. "Panggil aku Adrian saja, Az. Aku suka pria muda yang bekerja keras seperti dirimu. Kau tidak mengandalkan nama besar keluargamu, dan itu mengingatkanku pada diriku sendiri saat pertama kali membangun firma."
Suasana menjadi sangat santai. Adrian mulai bercerita tentang masa mudanya di New York, dan Azkara mendengarkan dengan penuh perhatian. Di mata Adrian, Azkara adalah sosok teman baru yang potensial, seseorang yang bisa dipercayai untuk menjaga putrinya di tengah kerasnya pergaulan Manhattan.
Saat Adrian beralih menyapa rekan bisnis lain yang memanggilnya, ia membisikkan sesuatu pada Alana. "Dia pria yang baik, Alana. Sopan dan tahu tata krama. Ayah suka kalian bisa berteman."
Begitu Adrian menjauh, Azkara mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Keringat dingin hampir saja menetes di balik jas mahalnya.
"Ayahmu sangat baik padaku, Alana," bisik Azkara, suaranya dipenuhi rasa berat hati. "Itu membuatku merasa jauh lebih buruk. Aku merasa seperti pengkhianat karena mendapatkan pujian darinya setelah apa yang kulakukan padamu."
Alana menatap ayahnya yang sedang tertawa di kejauhan, lalu kembali menatap Azkara. "Jangan hancurkan kepercayaan Ayah. Dia jarang menyukai orang dalam pertemuan pertama. Anggap ini kesempatan keduamu untuk membuktikan bahwa kau memang pria yang dia lihat tadi."
Azkara tidak lagi mencoba mendekat secara fisik. Ia berdiri dengan jarak sekitar tiga puluh sentimeter dari Alana, tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku celana untuk memastikan ia tidak melakukan gerakan yang salah.
"Alana, aku berjanji," ucap Azkara dengan nada yang sangat rendah namun penuh penekanan. "Di depan Ayahmu, di depan dunia, dan terutama di depanmu... aku akan menjadi pria yang memang pantas mendapatkan senyum dari keluarga Richard. Aku akan menghapus semua noda kemerahan itu dengan rasa hormat yang jauh lebih besar."
Alana memperhatikan tatapan mata Azkara. Tidak ada lagi kilat kebencian atau gairah yang merusak. Yang tersisa hanyalah tekad seorang pria yang sedang berusaha mencari jalan pulang menuju integritasnya.
"Kau tahu, Azkara," ucap Alana pelan. "Ayahku dulu juga seorang pria yang tangguh dan keras. Dia melewati banyak hal untuk mendapatkan Ibu. Jika kau benar-benar ingin menjadi temannya atau lebih dari itu, kau harus belajar bahwa kekuatan sejati seorang pria ada pada caranya menjaga, bukan menguasai."
"Mereka terlihat sangat serasi, ya?" bisik Adrian pada istrinya. "Pria muda itu punya masa depan cerah. Aku bisa melihat dia sangat menjaga Alana."
Briana tersenyum, meski dalam hati seorang ibu ia merasakan ada sesuatu yang tersimpan di antara keduanya. "Ya, Adrian. Kadang pertemuan yang terlihat biasa saja menyimpan cerita yang sangat dalam. Kita hanya perlu melihat ke mana takdir akan membawa mereka."
Pesta malam itu berakhir dengan kesan yang indah di mata Adrian Richard. Ia pulang dengan perasaan lega karena putrinya telah menemukan teman yang sepadan. Sementara bagi Azkara dan Alana, malam itu adalah awal dari sebuah hubungan baru yang dibangun di atas rahasia, penyesalan, dan benih-benih perasaan yang mulai tumbuh di antara kehati-hatian yang luar biasa.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku