"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Setelah pesta kepiting yang riuh dengan gelak tawa orang tua Pricillia, suasana rumah perlahan sunyi. Seperti sebuah ritual yang tidak tertulis, Danesha tidak pulang. Ia justru berakhir di kamar mandi kamar Pricillia, berdiri bersisian di depan cermin besar sambil menyikat gigi bersama.
Danesha, dengan mulut penuh busa pasta gigi, sesekali menyenggol bahu Pricillia dengan usil, sementara Pricillia hanya membalas dengan lirikan tajam yang penuh kasih sayang. Bagi mereka, tidak ada batasan privasi yang tersisa.
Tak lama kemudian, mereka sudah bergelung di bawah selimut yang sama. Kamar hanya diterangi lampu tidur yang remang. Danesha berbaring telentang, sementara tangannya kembali memainkan ujung rambut Pricillia.
"Pris," bisik Danesha, suaranya terdengar lebih berat dalam kesunyian malam.
"Gila ya, tadi di apartemen Evangeline... gue beneran hampir lepas kendali. Junior gue on lagi, parah banget. Dia emang pinter banget kalau urusan ngerayu."
Pricillia hanya bergumam kecil, tetap tenang meski dadanya bergemuruh.
"Tapi yang aneh," lanjut Danesha sambil menoleh ke arah Pricillia, "lo kok betah banget sih jomblo? Gak pengen apa ngerasain pacaran, atau dicium cowok gitu?"
Pricillia menatap langit-langit, tersenyum tipis. "Gue betah. Lagian, siapa juga yang mau sama gue kalau gue nempel terus sama lo?"
Danesha tiba-tiba bangkit, menyangga tubuhnya dengan siku dan menatap Pricillia dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara protektif dan posesif yang tak ia sadari.
"Nggak boleh. Pokoknya sebelum ada cowok yang bener-bener oke, nggak ada yang boleh nyentuh lo," ujar Danesha ketus. "Malah kalau dipikir-pikir... gue nggak rela kalau first kiss lo diambil cowok random."
Tanpa peringatan, dan dengan kekonyolan khasnya yang impulsif, Danesha mendekatkan wajahnya. "Sini. Biar gue aja yang jadi orang pertama. Biar semua first lo itu punya gue."
Sebelum Pricillia sempat memprotes, bibir Danesha sudah menempel di bibirnya. Awalnya hanya sebuah kecupan konyol, namun Danesha seolah kehilangan kendali saat merasakan kelembutan bibir sahabatnya itu.
Ciuman itu berubah menjadi ciuman yang panjang dan dalam.
Danesha melakukannya dengan cara yang sangat kontras dengan saat ia mencium Evangeline yang penuh nafsu. Di sini, ia mencium Pricillia seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Setelah melepaskan tautan itu, Danesha mengusap bibir Pricillia dengan jempolnya sangat lembut, menatap bibir kemerahan itu dengan tatapan kosong yang bingung.
Danesha terdiam, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia bersama Evangeline tadi sore. Ada rasa hangat yang berbeda, sesuatu yang membuatnya merasa penuh.
"Nah... sekarang first kiss lo udah jadi milik gue," gumam Danesha, mencoba kembali ke nada bercandanya meski suaranya terdengar goyah.
Pricillia hanya terdiam, membiarkan Danesha kembali berbaring dan memeluk pinggangnya dengan erat. Di dalam kegelapan, mata Pricillia berkilat dengan kepuasan yang dingin.
Tinggal sedikit lagi, Danesha, batinnya bersorak. 'Sedikit lagi kamu akan sadar kalau tubuh dan jiwamu itu cuma milikku. Evangeline cuma latihan, tapi aku adalah tujuan akhirnya.'
Pricillia membiarkan Danesha tertidur di ceruk lehernya, mencium aroma tubuh pria itu yang kini sudah tercampur dengan aromanya sendiri. Perang ini hampir usai, dan dia sudah tahu siapa yang akan berdiri di atas podium kemenangan.
Pagi itu, sinar matahari tipis menyeruak masuk melalui celah gorden, menerangi butiran debu yang menari di udara kamar Pricillia. Danesha terbangun lebih dulu. Dia merasakan beban hangat di dadanya, dan saat kesadarannya terkumpul, dia menyadari tangannya melingkar posesif di pinggang Pricillia.
Wajah mereka sangat dekat, hanya menyisakan jarak beberapa milimeter. Danesha bisa merasakan hembusan napas Pricillia yang teratur dan hangat menerpa kulit wajahnya. Matanya tertuju pada bibir Pricillia yang semalam ia klaim. Ada desiran aneh yang lebih kuat dari sekadar nafsu, itu terasa seperti candu yang baru saja ia temukan.
Seolah digerakkan oleh insting yang tak bisa ditolak, Danesha memajukan wajahnya.
Cup. Cup.
Sebuah kecupan selamat pagi mendarat lembut namun lama di bibir Pricillia. Setelahnya, bukannya menjauh, Danesha malah makin menenggelamkan wajahnya, memeluk Pricillia seolah gadis itu adalah satu-satunya pegangan di dunia yang berputar.
Pricillia membuka matanya perlahan, menatap mata Danesha yang masih sayu namun penuh intensitas.
"Good morning, Ay..." bisik Pricillia dengan suara serak khas bangun tidur, terdengar sangat intim dan manis.
Danesha tersentak. Ia mengerutkan kening, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat mendengar panggilan singkat itu. "Ay? Sejak kapan lo panggil gue gitu?" tanyanya dengan nada bingung namun ada semburat merah di telinganya.
Pricillia hanya tersenyum misterius, tidak menjawab, justru semakin merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan Danesha.
Danesha terdiam sejenak, memproses rasa nyaman yang luar biasa ini, rasa yang tidak pernah ia dapatkan dari Evangeline meskipun mereka sudah melakukan lebih dari sekadar ciuman. Danesha kemudian mengecup puncak kepala Pricillia dengan penuh kasih sayang, seolah sedang menyegel janji yang bahkan belum ia ucapkan.
"Ayo bangun, My..." balas Danesha, mencoba menandingi panggilan itu meski dengan gaya konyolnya. "Nanti bokap lo curiga kita nggak bangun-bangun."
Pricillia tertawa kecil di balik dada Danesha. Dia tahu, benteng pertahanan Danesha sudah runtuh total. Evangeline di luar sana mungkin sedang menunggu kabar, namun Danesha di sini sedang terperangkap dalam candu yang bernama Pricillia.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰
masih nyimak 🤣