Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan yang Tak Diterima
POV SENJA
Siapa sangka dunia sekecil itu. Wanita yang menyelamatkan aku, wanita yang memberi aku cahaya untuk meyakinkan diriku agar tetap berjalan menempuh hari esok, dia adalah mamanya Dirgantara, sepupunya Sean. Laki-laki yang pernah begitu aku cintai dan serahkan seluruh hidupku untuknya.
Seperti kata orang, jodoh itu rahasia Tuhan. Meski aku dan Sean berjanji akan selamanya bersama dan merangkai masa depan berdua, tetapi takdir berkata lain. Selepas dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studinya dan aku menetap untuk menunggunya, semuanya pun berubah. Bukan dia yang berubah, tetapi jalan hidupku yang berubah.
Aku yang pagi itu bersiap untuk ikut tes perguruan tinggi, tiba-tiba merasa begitu mual dan pusing. Melihat wajahku yang pucat dan berkeringat dingin, buk de membawaku ke klinik terdekat. Namun setelah memeriksaku, wajah dokter berubah sedikit serius dan ingin berbicara berdua denganku saja.
"Senja, umur kamu berapa?"
" Baru masuk delapan belas tahun dua bulan lagi, Dok." Jawabku biasa saja tak curiga apapun.
"Kamu sudah menikah?" Tanya dokter itu lagi namun tatapannya sedikit serius.
"Belum, Dok," aku pun menunduk merasakan sesuatu tak beres pada diriku.
"Lebih baik kita check dulu ya dengan alat ini. Biar akurat!" Kata dokter memberikan aku alat tespek kehamilan.
Wajahku langsung pucat menatap alat tersebut. Bayangan ketika aku memadu kasih dengan Sean menyadarkan aku, bahwa malam itu kami tak pakai pengaman seperti sebelum-sebelumnya.
Aku kemudian pergi ke toilet untuk menggunakan tespek tersebut. Setelah itu aku keluar dan memperlihatkan nya dengan dokter itu lagi.
"Senja.. Kamu sepertinya lagi hamil!"
Deg!!
Jantungku berpacu tak menentu. Aku menelan air ludah tak percaya. Bahwa saat ini aku mengandung anaknya Sean. Panik.. tentu aku sangat panik.
Setelah tau semuanya aku kembali sama buk De pulang ke rumah Sean. Karena memang aku tinggal di sana. Untungnya buk de belum tau. Dan aku harus memikirkan langkah selanjutnya.
Setibanya di kamarku, aku langsung menghubungi Sean. Namun nomornya tak aktif. Bahkan aku sudah mengirim pesan ke akun sosial medianya, sayangnya dia jarang menggunakan akun sosmed nya. Aku menjadi putus asa dan harus bagaimana menghubungi Sean memberitahukan kehamilanku ini.
Satu-satunya cara yang terpikir di benakku adalah Tante Tamara. Dia pasti bisa menghubungi asrama Sean. Dan saat itu Tante Tamara cukup baik dan menerima hubungan kami.
Dengan sedikit keraguan aku menemui Tante Tamara yang sedang sibuk bermain ponsel di sofa.
"Tante.." panggilku pelan.
"Senja? Ada apa? Kamu sudah sembuh? Kata buk de kamu, kamunya sakit." Jawab Tante Tamara seperti biasa.
"Tante, ini.." Ucapku gugup meletakkan tespek di atas meja.
Tante Tamara langsung menatap tespek tersebut dengan kening berkerut. Bahkan ekspresinya yang biasanya ramah malah berubah.
"Punya siapa ini Senja?"
Aku diam masih belum menjawab. Buk de yang lewat langsung menghampiri kami.
"Ada apa Buk?" Tanya buk De pelan dan heran.
"Kamu hamil, Senja?" Tanya Tante Tamara.
Aku menunduk dan lidahku terasa keluh untuk menjawab pertanyaan Tante Tamara. Ini jelas aib. Ini jelas akibat dari kesalahan aku yang ingin senang saja sampai tak ingat dosa besar di depan.
"Jawab Senja!"
"Iya, Tante." Jujur ku akhirnya.
"Senja.." lirih buk de jelas tak percaya.
"Astaga.. Ini aib besar!" Tante Tamara menghembus nafas kasar.
"Sudah untung saya tampung dan sekolahin kamu. Tetapi kamu malah bikin malu dan hamil. Ternyata wajah lugu kamu tak menjamin pergaulan kamu!" lanjutnya sinis menatapku.
" Apa jangan-jangan kamu menjajal tubuh kamu di luar, ya! " Tuduhnya keji tanpa menunggu penjelasan aku.
"Benar itu Senja?" Tatapan buk de yang sepertinya juga menghakimi aku.
"Tidak Tante.. tidak buk de. Senja bukan pel*cur." Jelas ku tak terima.
"Aku hamil anak Sean!"
" Apa? Gak mungkin!" Tolak Tante Tamara menerima kenyataan.
"Senja berkata jujur, Tante. Senja hanya melakukan ini semua dengan Sean!"
"Plakk!!!"
Tante Tamara langsung menamparku..
" Tante.." lirihku.
" Sean gak mungkin melakukan itu semua. Anak saya anak baik. Dia gak akan berbuat dosa besar! "
"Tapi itu kenyataannya! Ini anak Sean!"
" Pergi kamu dari sini! Saya tak sudi melihat wajah kamu!" Tante Tamara membuang muka.
" Dan ini uang untuk kamu! Gunakan uang ini untuk menggugurkan anak itu! Meski aku yakin kalau itu bukan anak Sean!"
"Tante.. Aku mohon kasih tau Sean.." Aku memohon kepada Tante Tamara.
"Jangan harap kamu! Anak saya itu lagi melanjutkan pendidikannya. Kamu kira selama ini saya sudi dengan kedekatan kamu dengan anak saya? Saya berusaha baik sama kamu, karena anak saya saja. Sekarang Sean sudah aman di luar negeri dan jauh dari wanita kampung dan murahan seperti kamu, jadi saya gak perlu baik-baik lagi sama kamu!" Ucap Tante Tamara menampakkan dirinya yang asli.
Saat itu aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya wanita kampung yang tak punya kekuatan apapun. Bahkan meski aku berteriak dan memohon, tak akan ada yang mau membantuku. Bahkan buk de ku sendiri, orang terdekat ku malah ikut berpaling dari aku dan memilih pekerjaannya.
Dengan air mata yang terus jatuh, aku menatap tumpukan uang yang dilempar Tante Tamara di meja. Hatiku terasa sakit, saat hinaan ini begitu menyayat dan menyakitkan.
Dengan wajah lesu dan sembab, aku masuk ke kamar dan mengumpulkan beberapa pakaianku dan memasukkan ke dalam tas ransel. Ponsel yang di belikan Tante Tamara, bahkan aku tinggal begitu saja, begitu juga uang tadi. Tanpa berbekal apapun dan uang seadanya aku pergi hari itu dari rumah Sean membawa luka.
Aku berjalan tak tentu arah. Bahkan aku sendiri tak tau harus kemana. Akhirnya aku hidup luntang-lantung di jalan. Tidur di mesjid. Untuk memenuhi kehidupan ku sehari-hari, aku bekerja serabutan. Jadi tukang angkut sayur di pasar, jadi tukang jual garam di pasar dan pekerjaan apapun aku lakukan untuk menyambung hidup. Untungnya anak yang ku kandung kuat dan bertahan di saat aku menahan lapar dan haus .
Sempat aku menyerah dan ingin mati saja. Tapi aku cepat sadar. Aku sudah berbuat dosa besar dan aku tak ingin berbuat dosa lebih besar lagi. Anak yang ku kandung tak bersalah, yang salah aku. Aku yang terlalu murahan menyerahkan diri kepada laki-laki yang belum tentu berjodoh dengan aku.
Hari itu aku merasa kurang enak badan. Perutku mulai membesar dan aku tak sanggup bekerja kasar lagi. Aku memilih tiduran di mesjid. Dan ketika waktu sholat datang, aku memilih duduk di luar dan tak menganggu jemaah sholat.
Di luar hujan lebat. Aku sadar dari semalam belum makan apapun. Anak di dalam perutku terus menendang-nendang. Dan aku rasa dia juga lapar. Yang aku punya sepotong roti yang hampir berjamur. Dengan bismillah aku memakan roti tersebut dan menampung air hujan dengan gelas plastik untuk aku minum melepas dahaga.
Siapa sangka seorang ibu-ibu datang menghampiriku dan bertanya kepada ku kala itu. Dan selama aku hidup di jalanan, baru ada seseorang yang merangkul aku ke pelukannya dan mendengarkan curahan hatiku.
Dia akhirnya membawa aku ke yayasan anak dan wanita, miliknya dan suaminya. Di sana hidupku mulai membaik. Aku diberi makan tiga kali sehari, aku diajarkan keterampilan dan aku mulai merasa masa depan masih ada untukku dan anakku. Secercah harapan mulai muncul dalam diriku,meski aku sendiri belum tau apa yang akan aku lalui kedepannya.