NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Mereka sepertinya sangat bahagia menggodaku, aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapinya.

Pesanan mulai berdatangan semakin banyak. Suasana kedai yang tadinya santai kini berubah menjadi sibuk. Aku pun segera fokus pada pekerjaanku, karena tak boleh sedikit pun bekerja dengan lambat.

Tangan ini bergerak cepat menyiapkan pesanan pelanggan satu per satu, sementara suara panggilan pesanan dan langkah para karyawan saling bersahutan memenuhi ruangan.

Dirasa Arumi dan Santi sudah tidak keteteran lagi mengurus kedai yang mulai ramai, aku pun melepas celemek yang sejak tadi kupakai.

Aku menarik napas pelan, lalu mengambil tas milikku. Di dalamnya sudah tersimpan uang tiga puluh juta rupiah yang sejak pagi tadi membuat pikiranku tak tenang.

"Aku keluar sebentar ya," ucapku pada Arumi.

Arumi menoleh sekilas dari tempatnya berdiri di dekat kasir. "Mau ke mana?" tanyanya.

"Ada urusan sebentar," jawabku singkat.

Setelah memastikan semuanya baik-baik saja di kedai, aku pun melangkah keluar. Tujuanku hanya satu—kantor Bram. Aku harus memberikan uang tiga puluh juta itu hari ini juga.

Setibanya di kantor Bram, aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung mengeluarkan amplop tebal dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja kerjanya.

"Ini uang tiga puluh juta yang kamu minta," ucapku tegas.

Bram menatap amplop itu sekilas, lalu menatapku dengan sorot mata tajam. Tangannya mengambil amplop tersebut, membukanya, lalu menghitung sekilas isinya.

Bukannya terlihat puas, wajahnya justru berubah semakin gelap.

"Baru sekarang kamu kasih?" katanya sinis. "Harusnya dari dulu kalau memang punya uang!"

Aku mengerutkan kening, menahan diri untuk tidak terpancing.

Bram berdiri dari kursinya dengan kasar. "Jangan sok hebat di depanku, Rania. Uang segini saja kamu bikin drama seolah-olah paling tersiksa!"

Kata-katanya terasa pedas dan menusuk, namun aku berusaha tetap berdiri tegak di hadapannya.

Aku menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang sejak tadi sudah mengendap di dada.

"Ada satu hal lagi," ucapku pelan namun tegas.

Bram yang masih memegang amplop itu menatapku dengan kening berkerut. "Apa lagi?"

"Aku sudah mengurus surat perceraian kita di pengadilan agama."

Sejenak ruangan itu terasa sunyi. Namun detik berikutnya, wajah Bram berubah merah padam.

"Apa?!" bentaknya keras.

Ia membanting amplop berisi uang itu ke meja. "Berani sekali kamu, Rania!"

Aku tetap berdiri di tempatku, berusaha terlihat tenang meski jantungku berdegup kencang.

Namun kata-kata berikutnya yang keluar dari mulutnya benar-benar membuat dadaku terasa sesak.

"Jangan-jangan uang ini hasil kamu jual diri, ya?" ucapnya sinis. "Perempuan seperti kamu mana mungkin tiba-tiba punya uang sebanyak ini!"

Aku terdiam beberapa saat. Ucapannya terasa seperti tamparan yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar pukulan.

Tanganku mengepal kuat di samping tubuhku, menahan amarah dan luka yang bercampur menjadi satu.

Tidak perlu juga aku menjelaskan apa pun kepada pria seperti Bram. Bagiku itu hanya akan membuang waktu dan tenaga saja.

Aku menatapnya sebentar, lalu tersenyum sinis. Senyum yang bahkan aku sendiri tahu bukan senyum bahagia, melainkan senyum penuh kelelahan.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku membalikkan badan.

Langkahku terasa ringan saat menuju pintu, seolah semua beban yang selama ini menekan dadaku perlahan mulai terlepas.

Pintu ruangan Bram kubuka tanpa ragu.

Di belakangku, suara Bram masih terdengar memanggil dengan nada penuh kemarahan, namun aku tidak peduli lagi. Aku tetap berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan pria yang dulu pernah begitu kucintai—dan kini hanya menjadi bagian dari masa lalu yang ingin segera kulupakan.

Aku segera masuk ke dalam lift. Jantungku masih berdetak cepat setelah pertengkaran dengan Bram barusan.

Beberapa detik kemudian lift berhenti dan pintunya perlahan terbuka.

Saat pintu terbuka sepenuhnya, aku langsung melihat sosok yang sangat kukenal berdiri tepat di depan lift.

Monika.

Perempuan itu menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh hinaan.

"Perempuan penggoda lagi," serunya dengan nada mengejek.

Aku hanya menatapnya tajam. Tidak ada gunanya juga meladeni perempuan seperti dia. Semua kata-kata hanya akan berakhir dengan pertengkaran yang tidak ada artinya.

Tanpa mengatakan apa pun, aku melangkah keluar dari lift dan melewatinya begitu saja.

Namun baru beberapa langkah aku berjalan, suara Monika kembali terdengar dari belakangku.

"Cih, pura-pura sombong. Perempuan seperti kamu itu cuma numpang hidup dari laki-laki!" ejeknya lagi.

Langkahku sempat terhenti sesaat, tapi aku memilih tetap berjalan. Tidak ada alasan bagiku untuk membuang waktu pada perempuan yang bahkan tidak pantas mendapat jawabanku.

Namun rupanya Monika tidak berhenti sampai di situ.

"Dasar perempuan murahan!" teriaknya lagi dengan suara keras hingga beberapa karyawan di sekitar kami mulai menoleh.

Aku masih mencoba berjalan pergi, tetapi kata berikutnya benar-benar membuat langkahku terhenti.

"Kamu itu cuma gundik!" bentaknya lantang.

Langkahku langsung berhenti.

Perlahan aku menoleh ke arahnya. Monika masih berdiri di tempat yang sama, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan wajah penuh kesombongan.

Aku menatapnya tajam.

"Apa katamu?" tanyaku dengan suara dingin.

Monika justru tersenyum mengejek.

"Gundik!" ulangnya lagi dengan lantang, seolah sengaja ingin semua orang di lobi mendengarnya.

Aku justru tersenyum tenang menatapnya. Senyum yang membuat wajah Monika perlahan berubah bingung.

"Tenang saja, Monika," ucapku santai. "Aku sudah mengurus surat cerai dengan Bram. Jadi kamu tidak perlu takut lagi terancam dengan kehadiranku."

"Apa?!" serunya kaget. Matanya membelalak tidak percaya.

Aku mengangkat alis tipis.

"Kenapa kaget?" kataku sambil menatapnya sinis. "Kamu pikir aku sama seperti kamu? Yang rela menahan sakit hati hanya demi harta?"

Aku tertawa kecil, namun tawa itu penuh ejekan.

"Hahaha… cih, aku tidak sebodoh itu, Ibu Monika yang terhormat."

Aku melangkah mendekatinya sedikit, lalu menatapnya lurus-lurus.

"Makan saja tuh Bram. Aku sudah tidak tertarik lagi."

Wajah Monika langsung berubah pucat, sementara beberapa orang yang sejak tadi menonton mulai berbisik-bisik di belakang kami.

Aku kembali melangkah meninggalkan tempat itu.

Aneh, tapi untuk pertama kalinya sejak sekian lama, dadaku terasa begitu ringan. Tidak ada lagi rasa sesak, tidak ada lagi perasaan tertahan seperti biasanya.

Entah kenapa, aku justru merasa sangat tenang.

Langkahku terasa mantap saat keluar dari gedung itu, seolah-olah aku baru saja menutup satu bab yang selama ini penuh luka dalam hidupku.

Angin sore menyapu wajahku ketika aku sampai di luar. Aku menarik napas panjang, membiarkan udara segar memenuhi paru-paruku.

Aku pun langsung mengendarai sepeda motorku, meninggalkan gedung itu tanpa menoleh lagi ke belakang.

Mesin motor meraung pelan saat aku melaju di jalanan. Angin sore menerpa wajahku, membuat rambutku sedikit berantakan, namun perasaanku justru terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat aku datang tadi.

Tujuanku sekarang hanya satu—kembali ke kedai.

Tempat itu mungkin sederhana, tapi di sanalah aku merasa benar-benar punya sesuatu yang bisa kupertahankan.

Aku mempercepat laju motor, membelah jalanan menuju kedai, tempat Arumi dan Santi pasti masih sibuk melayani para pelanggan.

****

1
Kirana Sakira
semakin seru ceritanya....mantaaaappppp...👍👍👍👍👍
icha aghbath
udah bisa ngambil keputusan itu rania jgn banyak nga enakan lagi.. kan malah jadi emosi liat rania lelet bgt mikir kedepannya
Nur Janah
tuuhhh kaannn🤭🤭
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!