Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geng Sepeda dan Tragedi Bukit
Minggu pagi itu, matahari bersinar begitu garang seolah ingin menguji nyali kami. Aku sudah siap dengan "baju kebesaran" versiku sendiri, Kaos santai, celana panjang, dan topi berwarna pink mencolok dengan gambar Barbie, serasi dengan stiker di sepedaku. Sebenarnya, hatiku masih sedikit memberontak. Aku merasa selera feminin yang mendominasi perlengkapanku ini sangat tidak "aku", tapi daripada tidak punya, lebih baik tampil pink daripada tidak tampil sama sekali.
Di keranjang depan, aku meletakkan sebotol teh manis hangat yang sudah mulai mendingin. Itu adalah bekal perjalanan jauhku hari ini. Aku menuntun si Biru keluar, menuju "basecamp" alias tanah lapang tempat teman-temanku sudah berkumpul.
"Ayo berangkat!" seru salah satu teman yang menjadi pemimpin rombongan.
Kami pun bergerak. Seperti sebuah geng sepeda motor versi mini, kami meluncur menuju jalan raya. Rencana hari ini sangat ambisius yaitu bersepeda menyusuri jalan aspal dari ujung timur kampung sampai ke ujung barat. Bagiku yang baru saja punya sepeda, menaklukkan jalan raya adalah sebuah pencapaian luar biasa. Angin menerpa wajahku, stiker Barbie di sepedaku seolah ikut terbang, dan suara putaran roda pembantu di belakang menciptakan irama musik kemenangan.
Namun, manusia hanya bisa berencana, tapi tubuh punya batasnya. Keesokan harinya, petualanganku terhenti. Aku jatuh sakit, demam tinggi menyerang membuatku hanya bisa terbaring lemah di atas kasur dengan kompres di dahi.
Di saat aku sedang tidak berdaya itulah, Kakak, sang montir gadungan yang sudah gatal tangannya akhirnya melancarkan aksinya. Aku sayup-sayup mendengar suara geridit roda sepeda di luar, tapi kepalaku terlalu berat untuk bangkit. Ternyata, Kakak membawa sepeda miniku menuju bukit di belakang rumah bersama kawan-kawannya.
Bayangkan saja, tubuhnya yang sudah besar kelas 5 SD itu memaksakan diri naik ke atas sepeda mini Itu bukan lagi menaiki sepeda, tapi lebih mirip raksasa yang mencoba duduk di atas kursi plastik kecil.
Sore harinya, saat panas tubuhku mulai turun, aku mendengar suara langkah kaki berat di depan rumah. Aku keluar dengan gontai dan mendapati pemandangan yang menyedihkan. Sepeda biru kesayanganku pulang dalam kondisi babak belur. Keranjangnya penyok, roda pembantunya miring, dan ada goresan tanah di mana-mana.
Anehnya, melihat itu aku tidak meledak marah. Mungkin karena pengaruh demam, atau mungkin karena aku sudah terlalu hafal dengan kelakuan "ajaib" Kakak. Aku hanya menatapnya datar.
"Kenapa sepedaku jadi begini, Kak?" tanyaku lemas.
Dengan wajah tanpa dosa dan sedikit peluh yang membasahi dahinya, ia menjawab polos, "Ya tadi aku naik ke bukit, terus aku meluncur turun dari atas sana sampai bawah pakai sepeda ini. Seru banget, Nok!"
Ingin rasanya aku melempar botol tehku ke arah wajahnya saat itu juga. Dia memakai sepeda mini untuk downhill di bukit berbatu! Itu sama saja dengan melakukan misi bunuh diri untuk sebuah sepeda. Tapi aku hanya menghela napas panjang, malas menanggapi kegilaannya.
"YA ALLAH, KAKAK! ITU SEPEDA ADIKMU!" suara Ibu tiba-tiba menggelegar dari arah dapur.
Ibu menghambur keluar, melihat kondisi sepeda yang baru berumur beberapa hari itu sudah tidak berbentuk lagi. Detik itu juga, Kakak mendapatkan "ceramah panjang" yang lebih pedas daripada sambal bawang Ibu. Ia diomeli habis-habisan karena sifat perusaknya yang tidak pernah hilang.
Sambil duduk di teras melihat Ibu memarahi Kakak, aku hanya bisa mengelus setang sepedaku yang sudah bengkok. Aku sadar, punya kakak laki-laki yang merasa dirinya "montir sekaligus pembalap" adalah ujian kesabaran yang lebih berat daripada belajar naik sepeda tanpa roda pembantu.
Melihat Kakak yang hanya bisa menunduk sambil terus-menerus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal di depan Ibu, rasa kesalku perlahan mencair menjadi tawa geli di dalam hati. Si Biru memang sudah tidak cantik lagi. Keranjang Barbienya kini mirip kaleng kerupuk yang terinjak, dan stiker-stikernya sudah tertutup tanah merah bukit. Namun, melihat Kakak yang "terluka" harga dirinya karena diomeli habis-habisan, aku merasa skor kami sudah seri.
"Sudah, Bu. Nanti biar Ayah yang betulkan," kataku pelan, mencoba menengahi sebelum Ibu benar-benar mengambil sapu lidi.
Ibu mengembuskan napas panjang, menatap sepeda itu dengan sisa kejengkelan. "Ibu tidak habis pikir, Kak. Kamu itu sudah besar, badanmu itu dua kali lipat sepeda ini. Bisa-bisanya kamu pakai buat balapan di bukit!"
Kakak melirikku sebentar, lalu berbisik sangat pelan supaya tidak terdengar Ibu, "Nanti Kakak cuci sampai mengkilap, Nok. Janji."
Aku hanya mencibir, tapi aku tahu itulah cara Kakak meminta maaf. Dia tidak akan pernah bisa mengucapkan kata "maaf" secara langsung, tapi dia akan menebusnya dengan tenaga. Benar saja, sore itu meski masih lemas, aku duduk di teras sambil melihat Kakak yang bekerja keras menyikat sisa-sisa tanah merah di ban sepedaku. Dia bahkan mencoba meluruskan keranjang yang penyok dengan tangan kosong sampai wajahnya merah padam.
Ayah yang baru pulang dari ladang hanya menggeleng-geleng melihat pemandangan itu. Ia meletakkan cangkulnya, lalu menghampiri kami. "Sudah, kalau sudah rusak begitu, jangan dipaksa lurus lagi. Yang penting remnya masih pakem," ujar Ayah sambil memeriksa kabel rem.
Ayah menatapku lalu beralih ke Kakak. "Sepeda ini dibeli dari hasil memikul kayu di bukit itu, Kak. Bukan buat kamu ajak balapan dengan maut."
Mendengar ucapan Ayah, Kakak terdiam, gerakannya menyikat ban melambat. Ada rasa bersalah yang akhirnya benar-benar muncul di matanya. Di lereng bukit ini, barang bukanlah sekadar benda mati, ia adalah bentuk nyata dari waktu dan tenaga yang ditukar oleh orang tua kami.
Malam itu, Si Biru sudah terparkir rapi di tempatnya. Meski badannya penuh goresan dan keranjangnya tidak lagi simetris, aku merasa sepeda itu kini punya cerita yang lebih seru daripada sekadar hiasan Barbie. Di keluarga kami, kebahagiaan memang seringkali datang bersamaan dengan keributan kecil, omelan Ibu, dan kelakuan ajaib Kakak, semuanya tercampur menjadi satu, sehangat teh manis di keranjang depanku.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰