NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Istri Pengganti

Mengejar Cinta Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"

Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.

Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Puing-Puing Obsesi dan Kehampaan

Fajar menyingsing di Jakarta dengan warna merah saga yang seolah membakar langit, namun bagi Shena, cahaya itu hanyalah pengingat bahwa masa berlakunya telah habis. Di dalam kamar kecil di area pelayan yang dingin dan lembap, Shena menyelesaikan kemasannya. Tidak banyak yang ia bawa—hanya beberapa helai pakaian lama yang ia miliki sebelum menjadi "Nyonya Adiguna" gadungan.

Ia berdiri sejenak di depan cermin kecil yang buram, menatap lehernya yang masih memerah akibat luka goresan pengait kalung semalam. Rasa perih itu tidak sebanding dengan hancurnya harga diri yang ia rasakan. Dengan tangan gemetar, ia meletakkan kunci rumah di atas meja dapur. Di sampingnya, terdapat sebuah cangkir kopi kosong.

Biasanya, jam segini ia akan mulai menyeduh kopi dengan aroma kayu manis kesukaan Devan. Tapi hari ini, kompor itu tetap dingin. Sama seperti rumah ini.

Shena melangkah keluar gerbang tepat saat mobil Devan menderu keluar dari garasi. Devan tidak menoleh sedikit pun. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara, meninggalkan debu yang menerpa wajah Shena.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta sudah berdenyut dengan kehidupan. Devan Adiguna berdiri di barisan terdepan terminal kedatangan internasional. Tuxedo semalam sudah ia ganti dengan kemeja hitam yang elegan, namun matanya yang merah menunjukkan bahwa ia tidak tidur sedetik pun. Ia menggenggam sebuah buket bunga lili putih—bunga kesukaan Sarah.

Pikirannya melayang pada rencana-rencana besar. Ia akan membawa Sarah pulang, mengusir sisa-sisa keberadaan Shena, dan memulai kembali hidup yang sempat tertunda setahun lalu. Ia yakin, Sarah pergi hanya karena ketakutan sesaat, dan kepulangannya hari ini adalah bukti bahwa wanita itu masih mencintainya.

Pukul 07.15, pintu kedatangan terbuka.

Devan menegakkan punggungnya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga telinganya berdenging. Lalu, ia melihatnya. Sarah. Wanita itu berjalan dengan keanggunan yang masih sama, namun ada yang berbeda dari pancaran matanya. Ia tidak lagi tampak seperti burung dalam sangkar emas yang selama ini diingat Devan. Sarah tampak bebas.

Namun, langkah Devan membeku saat seorang pria kaukasia tinggi dengan setelan kasual namun mahal muncul di samping Sarah. Pria itu merangkul pinggang Sarah dengan sangat posesif, dan Sarah—wanita yang selalu risih dengan sentuhan publik Devan—justru menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil tertawa kecil.

"Sarah..." suara Devan tercekat di tenggorokan, namun ia tetap melangkah maju.

Sarah berhenti. Senyumnya menghilang seketika saat melihat sosok Devan berdiri di depannya dengan bunga lili yang kini tampak konyol.

"Devan? Apa yang kau lakukan di sini?" suara Sarah datar, hampir menyerupai rasa terganggu.

"Aku menjemputmu, Sarah. Aku tahu kau kembali. Aku sudah menyiapkan segalanya. Rumah kita, kehidupan kita..." Devan mencoba meraih tangan Sarah, namun pria di sampingnya dengan sopan tapi tegas menghalangi gerakan Devan.

"Siapa pria ini, Sarah?" Devan bertanya dengan nada yang mulai meninggi, amarah mulai merayap di sela-sela rasa sakitnya.

"Devan, perkenalkan, ini Mark. Tunanganku," Sarah berkata dengan suara yang sangat tenang, seolah ia sedang memperkenalkan seorang teman biasa. "Mark, ini Devan... seseorang dari masa laluku di Jakarta."

Seseorang dari masa lalu. Kata-kata itu menghantam Devan lebih keras daripada pukulan fisik manapun.

"Tunangan? Kau bercanda, kan?" Devan tertawa getir, matanya menatap tajam ke arah Sarah. "Kau meninggalkanku di altar setahun lalu tanpa kata! Aku menunggumu! Aku mencarimu ke seluruh dunia! Kau tidak bisa kembali dan hanya mengatakan pria ini tunanganmu!"

"Aku tidak pernah memintamu menunggu, Devan," sahut Sarah tajam. Matanya kini menunjukkan kejengkelan yang nyata.Kau terlalu posesif," ucap Sarah dingin, menatap Devan dengan tatapan kasihan yang menghancurkan sisa-sisa harga diri pria itu. "Aku dengar kau sudah menikah dengan adik ku. Maka berhentilah mengejar hantu dan urusi istrimu yang malang itu."

Sarah berlalu, meninggalkan Devan yang mematung di tengah kerumunan. Bunga lili di tangannya jatuh ke lantai, terinjak-injak oleh orang asing, sama seperti perasaannya saat ini.

Devan kembali ke rumah dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Namun, saat mobilnya memasuki halaman, jantungnya hampir berhenti. Di sana terparkir mobil Rolls-Royce milik ayahnya.

Di dalam ruang tamu, Ayah dan Ibu Devan, serta Kakek Adiguna, sudah duduk menunggu dengan wajah yang berseri-seri. Suasana rumah yang sunyi itu mendadak penuh dengan kehadiran mereka.

"Ah, itu dia anak kita!" seru Ibu Devan, berdiri menyambut putranya. Namun langkahnya terhenti saat melihat wajah Devan yang berantakan dan matanya yang merah. "Devan? Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu kuyu begitu?"

Ayah Devan, seorang pria yang keras dan berwibawa, ikut berdiri. "Mana Shena? Sejak tadi kami memanggil, tidak ada jawaban. Pelayan bilang dia tidak ada di kamarnya."

"Devan, Kakek sengaja datang pagi-pagi," ujar Kakek Adiguna sambil mengetukkan tongkatnya di lantai dengan ceria. "Semalam istrimu sangat luar biasa. Kakek belum pernah melihat menantu di keluarga kita yang begitu tulus merawat orang tua seperti dia.

Kakek membawakan perhiasan kuno keluarga untuknya sebagai hadiah tambahan."

Devan terdiam di ambang pintu, lidahnya terasa kelu. Kehadiran keluarganya adalah tamparan keras yang menyadarkannya betapa berharganya posisi Shena di mata orang-orang yang ia hormati.

"Mana Shena, Devan? Panggil dia. Ibu membawakan makanan kesukaannya," desak Ibunya lagi, mulai merasa ada yang aneh dengan keheningan rumah itu.

Devan menarik napas panjang, suaranya parau. "Dia... dia sudah pergi."

"Pergi?" Ayahnya menyipitkan mata.

"Maksudmu dia sedang belanja ke pasar? Pukul segini?"

"Tidak, Yah," Devan menunduk, tidak berani menatap mata kakeknya. "Dia pergi meninggalkan rumah ini. Secara permanen."

Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Senyum di wajah Kakek Adiguna perlahan menghilang, digantikan oleh garis ketegasan yang menakutkan.

"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Kakek dengan nada rendah yang mengintimidasi.

"Wanita sebaik itu tidak mungkin pergi tanpa alasan di pagi buta. Devan, jawab Kakek! Apa kau masih mengejar wanita yang meninggalkanmu di altar itu?"

Devan tidak menjawab, dan diamnya pria itu adalah jawaban yang paling jelas bagi mereka.

"Kau bodoh, Devan!" bentak Ayahnya, suaranya menggelegar di ruang tamu. "Shena adalah satu-satunya alasan nama baikmu masih tegak setelah skandal pernikahanmu gagal setahun lalu. Dia yang menambal kehormatanmu, dia yang merawat rumah ini, dan kau mengusirnya demi wanita yang bahkan tidak menginginkanmu?"

"Ibu tidak percaya ini..." sang Ibu terduduk lemas, menatap dapur yang biasanya sudah sibuk oleh kegiatan Shena. "Dia wanita yang sangat lembut, Devan. dia pernah bercerita pada Ibu betapa dia ingin belajar membuat masakan favoritmu agar kau lebih sering di rumah. Dan kau membuangnya?"

Kakek Adiguna berdiri dengan susah payah, menatap cucu kesayangannya dengan kekecewaan yang mendalam. "Cari dia, Devan. Cari dia sampai ketemu. Jika kau tidak bisa membawa menantu Kakek kembali ke rumah ini dalam keadaan bahagia, jangan pernah berani menginjakkan kaki di kantor Adiguna atau menyebut namaku lagi. Kau telah membuang permata demi segenggam pasir."

Setelah keluarganya pergi dengan amarah yang membara, Devan jatuh terduduk di lantai ruang tamu yang luas. Keheningan kini terasa mencekik. Ia berlari ke kamar tamu kecil di lantai bawah, berharap Shena bersembunyi di sana.

Kosong.

Hanya ada gaun biru dongker semalam yang dilipat rapi di atas kasur kayu yang keras. Di atasnya, cincin pernikahan yang semalam dilempar Shena berkilau menyedihkan. Devan mengambil cincin itu, menggenggamnya kuat-kuat hingga telapak tangannya sakit.

Ia teringat betapa Shena dengan sabar merawatnya saat ia pulang mabuk. Ia teringat bagaimana Shena tidak pernah membalas teriakannya dengan amarah. Ia teringat aroma kopi kayu manis yang kini hilang, digantikan aroma debu dan kesepian.

"Shena..." bisiknya, namun hanya gema suaranya sendiri yang menjawab.

Ia baru menyadari bahwa selama setahun ini, ia tidak sedang mengejar cinta. Ia sedang mengejar hantu. Dan dalam prosesnya, ia telah menginjak-injak satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya tanpa syarat.

Devan Adiguna, sang penguasa bisnis, kini menyadari satu hal yang tidak bisa ia beli dengan seluruh hartanya: kehadiran seorang wanita yang sudah terlanjur ia patahkan hatinya hingga tak bersisa.

Shena telah menghilang di luasnya Jakarta, sementara Devan hancur dalam penyesalan dan ancaman keluarganya. Akankah Devan mampu menemukan Shena kembali, ataukah Shena sudah menemukan kedamaian di tempat di mana nama 'Adiguna' tidak lagi menghantuinya?

1
Kostum Unik
🤭🤭🤭...
Kostum Unik
🤣🤣🤣
MayAyunda
keren 👍👍
😍
Marine
semangat author! ceritanya bagus
Veline: makasih 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!