Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di pecat
Yuna resmi bekerja disebuah cafe kecil selepas pulang sekolah. Rasanya sangat melelahkan, bukan karena banyaknya pekerjaan. Tapi karena senior di cafe itu tidak ada yang bersahabat dengannya, bahkan sering cari gara-gara dan memfitnah dirinya.
Seperti hari ini. Yuna baru saja selesai mengantarkan pesanan ke salah satu meja. Tapi saat ia kembali ke belakang, terdengar suara pecahan kaca yang cukup keras.
"Suara apa itu?" Yuna berlari menuju ke sumber suara.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, salah satu pekerja wanita memecahkan sebuah cangkir kopi.
"Ya ampun Mbak kok bisa pecah?" tanya Yuna, berniat untuk membantu mengumpulkan pecahan tersebut.
Namun, gelegar suara dan langkah lebar dari manager cafe membuat mereka berdua terkejut.
"Siapa yang mecahin itu?" tanya manager Cafe marah sambil berkacak pinggang.
Wanita yang biasa disapa Uma langsung berdiri seketika. "Yuna yang mecahin Mbak!" tuduhnya.
Yuna juga ikut berdiri. "Bohong! Mbak Uma itu yang mecahin. Aku cuma niat mau bantu," Yuna menolak tuduhan itu. Enak saja, dia yang niat baik ingin bantu malah difitnah.
"Jangan percaya ucapan dia Mbak! tadi aku lihat sendiri dia yang mecahin. Tapi malah mau nuduh aku!" Uma terus menuduh Yuna. Bahkan wanita itu tidak memberikan Yuna kesempatan untuk membela diri.
Manager Cafe menatap Yuna dengan tajam. "Kamu ini, baru kerja berapa minggu udah cari gara-gara terus! mau di pecat!" bentaknya sampai urat lehernya menegang.
Uma yang berdiri disamping Yuna tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada raut penyesalan sedikitpun dari wajah wanita itu.
Yuna sudah mengeluarkan air mata. Ini bukan kali pertama ia difitnah seperti itu oleh rekan sesama pekerja di cafe. Ia ingin menjelaskan, tapi sepertinya akan berakhir dengan sia-sia. Karena sama seperti dengan sebelum-sebelumnya, di mana Yuna pasti akan selalu disalahkan.
"Kamu harus ganti cangkir yang kamu pecahkan ini! Bulan ini gaji kamu dipotong lagi!" putus sang manajer Cafe tanpa perasaan dan tanpa berniat untuk mencari tahu kebenarannya seperti apa.
Yuna menghembuskan nafas kasar. Lagi? bulan ini sudah tiga kali manajer Cafe berkata akan memotong gajinya. Yang pertama, gaji guna dipotong karena difitnah memecahkan piring. Yang kedua gajinya juga dipotong karena menumpahkan makanan, yang sebenarnya disengaja oleh salah satu rekan kerjanya. Dan sekarang, ia dipotong gaji lagi karena difitnah memecahkan cangkir kopi.
"Kalau ini sih bukan kerja cari duit. Tapi kerja rodi ngeluarin duit!" batin Yuna antara kesal dan sedih juga.
Tapi sekesal apapun Yuna, dan sekeras apapun ia mencoba membela diri. Tapi entah mengapa, sang manager Cafe seperti tutup mata dan tutup telinga. Padahal bukti sudah menunjukkan jika Yuna tidak bersalah. Namun tetap saja ia yang disalahkan.
"Sebenarnya salah aku apa sih Mbak? dari awal aku kerja di cafe ini, pasti selalu aku yang disalahkan! padahal mbak juga tahu, jika bukan aku pelakunya. Tapi sepertinya Mbak sengaja, ingin membuat Aku berhenti bekerja dari tempat ini!" maki Yuna, tidak tahan lagi terus-terusan diintimidasi dan difitnah oleh mereka.
Manajer cafe yang seorang wanita, tersenyum meremehkan. "Baguslah kalau kamu sadar! aku memang tidak suka ada wanita yang mencoba menyaingi kecantikanku di cafe ini! sebelum kamu aku permalukan... lebih baik kamu mengundurkan diri dan pergi dari sini!" ujarnya.
Yuna menganga. Tidak ada kata-kata keluar yang dari bibirnya. Karena terlalu syok, marah, dan tidak menyangka alasannya terlalu sesepele ini. Ya, memang dari segi penampilan, sang manager Cafe terlihat lebih cantik dari pegawai yang lainnya. Tapi setelah Yuna datang, kecantikannya mampu dikalahkan oleh Yuna yang bahkan tidak pernah memakai riasan yang berlebihan.
"Kalian semua sakit jiwa!" hanya kata itu yang keluar dari bibir Yuna.
Akhirnya, demi menjaga kewarasan dan menjauhkan diri dari orang-orang toxic seperti mereka. Yuna akhirnya memilih berhenti bekerja dari Cafe itu, dengan upah gaji yang dipotong Hampir setengahnya.
"Gila, sakit jiwa mereka. Masa ada orang yang benci gara-gara lebih cantik!" Yuna berjalan pelan di trotoar setelah Ia memutuskan untuk berhenti bekerja.
Jarak antara kosan dan cafe yang tidak terlalu jauh, membuat Yuna lebih memilih untuk jalan kaki, daripada naik angkutan umum atau naik ojek.
Tin!
Suara klakson mobil dari belakang, menghentikan langkah Yuna. Ia menoleh ke belakang dan mukanya langsung ditekuk, saat ia mengenali siapa pemilik mobil itu.
"Mau apa lagi sih cowok brengsek itu!" Yuna melanjutkan langkah, iya terlalu malas meladeni Edo yang masih mengejarnya.
"Yuna tunggu!" Edo berhasil mencekal tangan Yuna.
"Udah dibilang berkali-kali! jangan pernah pegang aku dengan tangan kotormu itu brengsek!" teriak Yuna menghempas tangan Edo dengan kasar.
Edo sama sekali tidak sakit hati dengan kata-kata kasar Yuna. Bahkan ia tersenyum, karena merasa Yuna terlihat jauh lebih cantik ketika sedang marah.
"Teruslah marah seperti ini Yuna. kamu makin membuat aku tergila-gila!" kata Edo, menatap Yuna dengan sorot penuh cinta.
Yoona merasa oksigen yang ada di sekelilingnya tiba-tiba menghilang. "dasar cowok sinting! pergi kamu brengsek!"
Yuna berlari kencang, meninggalkan Edo yang tidak lagi mengejar dirinya. Malah ia tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Bener-bener sakit jiwa dia!" Yuna berlari sambil bergidik ngeri. karena ia baru sadar, jika Edo ternyata semenjijikkan itu.
Bruuk
"Aduh!" karena kurang hati-hati dan tidak fokus menatap ke depan. Yuna tanpa sengaja menabrak punggung seorang pria yang berdiri di trotoar.
"Jalan itu bukan cuman pakai kaki, tapi mata juga harus digunakan!" ucap seorang pria dengan nada kesal.
"Maaf, aku tidak sengaja?" Yuna mendongak, kedua matanya melotot saat menyadari siapa yang baru saja ia tabrak.
"Kamu lagi, kamu lagi! kamu ini memang gadis bodoh ya? waktu itu kamu lempar saya pakai kaleng kosong, sekarang kamu tabrak pula! Gak punya mata!" maki Bastian, menatap gadis mungil di hadapannya dengan kesal.
Yuna semakin menunduk dalam. "Jangan galak-galak dong Om. Aku kan udah minta maaf?" cicit Yuna pelan.
Huh!
Bastian menghela nafas. Tapi ia tidak lagi bicara dan langsung masuk ke dalam mobilnya lalu pergi begitu saja.
"Untung Om galak itu langsung pergi!" lutut Yuna terasa lemas. Berhadapan dengan Bastian, seperti berada di ujung jurang yang sangat dalam. "jangan sampai deh aku jumpa lagi sama Om-om galak itu!" batin Yuna.
Yuna melanjutkan langkah menuju kosannya. Setelah ini ia harus mencari lowongan kerja baru. Dan ia berdoa, semoga yang kali ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya.
["Masih kerja Yun?"]
Masuk satu pesan dari Hasya.
["Udah dipecat!"]
Jawab Yuna dengan emoticon sedih di akhir kalimat.
["Kok bisa? tapi jelasinnya nanti aja, aku sama yang lainnya OTW ke kosan kamu sekarang!"]
[Ok! jangan lupa bawa makanan yang banyak!" ]
Setelah membalas pesan. Yuna mempercepat langkah menuju kosannya. Ia masih bersyukur, memiliki tiga orang sahabat yang tidak meninggalkannya, bahkan di saat ia sedang terpuruk seperti sekarang ini.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya