NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Balasan

Tengah malam. Tiga jam setelah Marco mati.

Kami tidak tidur, Damian sudah mengumpulkan sisa orang-orangnya. Empat puluh orang yang masih setia, yang tidak ikut Lorenzo, yang tidak mengkhianati.

Empat puluh orang melawan semua yang Lorenzo miliki.

"Kita tidak bisa tunggu FBI datang pagi," kata Damian sambil menyebarkan peta di meja ruang kontrol. "Kita harus bergerak sekarang. Malam ini. Sebelum mereka sempat mengepung."

"Kemana?" tanya salah satu pengawal.

"Dua tujuan," jawab Damian sambil menunjuk peta. "Pertama, markas Lorenzo di pelabuhan. Di sana ada dokumen-dokumen penting yang tidak boleh jatuh ke tangan FBI. Kedua, gudang senjata di distrik timur. Kita butuh amunisi untuk perjalanan panjang setelah ini."

Aku berdiri di sampingnya. Menatap peta. Menganalisa.

"Lorenzo mungkin sudah tahu Marco mati," kataku. "Dia akan mengira kita tidak akan berani menyerang malam ini. Bahwa kita akan sibuk mengurus jasad dan merencanakan."

"Tepatnya," kata Damian. "Itu keuntungan kita."

"Tapi kalau dia sudah pergi dari markas?" tanya pengawal lain.

"Dia tidak akan pergi," jawabku. "Lorenzo tipe orang yang percaya dirinya terlalu tinggi. Dia sudah memenangkan satu ronde hari ini. Dia pikir dia aman."

Damian menatapku. Senyum tipis di sudut bibirnya.

"Kita berangkat dalam dua puluh menit," katanya.

***

Dua puluh menit kemudian kami sudah di dalam mobil. Konvoi enam kendaraan melaju tanpa lampu di jalanan kota yang sepi. Tengah malam. Tidak ada yang berani keluar di kota ini malam ini. Semua orang tahu ada perang. Semua orang bersembunyi.

Aku duduk di samping Damian dengan pistol di tangan. Memeriksa peluru untuk keempat kalinya. Kebiasaan baru yang tidak kusadari kapan mulainya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Damian pelan.

Pertanyaan yang aneh dari dia. Jarang dia bertanya seperti itu.

"Ya," jawabku.

"Tentang Marco..."

"Marco membuat pilihannya," potongku. "Aku membuat pilihanku, dan itu sudah selesai."

Damian diam sebentar, menatap jalan di depan.

"Dia bilang ayahmu yang menyuruhnya," katanya akhirnya.

"Aku tahu itu."

"Dan kau tidak merasakan apapun?"

Aku menatap tanganku yang memegang pistol, tangan yang membunuh Marco, membunuh Sarah, dan membunuh begitu banyak orang.

"Aku merasakan sesuatu," jawabku jujur. "Tapi bukan yang kau kira."

Damian menoleh. "Apa yang kau rasakan?"

Aku diam lama. Mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan sesuatu yang bahkan aku sendiri sulit pahami.

"Lelah," jawabku akhirnya. "Bukan lelah fisik, tapi lelah dari dalam. Seperti ada sesuatu yang terus dibakar sampai tidak ada yang tersisa."

Damian menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

"Tapi kau masih di sini," katanya.

"Ya," jawabku. "Aku masih di sini."

Dia meraih tanganku, lalu menggenggamnya. Dan kami tidak bicara lagi sampai mobil berhenti.

***

Pelabuhan malam itu sepi dan berbau ikan dan minyak. Lampu-lampu dermaga menerangi air hitam yang tenang. Gudang-gudang tua berdiri di sepanjang tepi air.

Markas Lorenzo ada di gudang ketiga dari ujung. Bangunan besar dengan dinding beton tebal.

"Intel bilang ada tiga puluh orang di dalam," bisik salah satu pengawal sambil melihat melalui teropong malam. "Senjata berat. Mereka siap."

"Mereka selalu siap," kata Damian. "Tapi kita lebih siap."

Dia menatapku. "Kau ingat formasi yang kuajarkan?"

Aku mengangguk.

"Kau ambil sisi kiri bersama sepuluh orang. Aku ambil depan. Sisanya melingkar ke belakang. Ketika aku berikan sinyal, kita masuk bersamaan dari tiga arah."

Ini bukan pertama kali kami bertempur bersama. Tapi malam ini terasa berbeda. Lebih berat. Lebih gelap.

Atau mungkin itu hanya perasaanku yang semakin mati rasa.

"Siap?" tanya Damian.

Aku memeriksa pistol sekali lagi. Merasakan beratnya di tangan. Familiar. Seperti bagian dari tubuhku.

"Siap."

***

Sinyal diberikan dua menit kemudian. Tiga tembakan ke udara dari sisi belakang.

Kami bergerak.

Aku berlari dengan sepuluh orang di belakangku. Menuju sisi kiri gudang. Ada pintu kecil di sana. Dikunci. Salah satu pengawal menembak kuncinya. Pintu terbuka.

Saat kami masuk, kami langsung disambut dengan sebuah tembakan.

Instinct mengambil alih, aku menunduk. Berlindung di balik peti kayu besar, melirik sudut ruangan, dan melihat empat orang dengan senjata otomatis.

Satu gerakan. Bangkit sebentar. Tembak. DUAR! DUAR!

Dua jatuh. Yang lain menembak balik, peluru mengenai peti tepat di depan wajahku. Serpihan kayu beterbangan mengenai pipi. Sakit. Berdarah.

Tapi aku tidak berhenti. Aku berguling ke posisi berbeda, menembak dari sudut baru. Satu lagi jatuh, yang keempat mencoba kabur, tapi pengawal di belakangku langsung menembak dia di punggung.

Empat sudah mati.

Aku terus bergerak dan masuk ke dalam gudang, pengawal-pengawal di belakangku mengikuti. Kami bergerak seperti satu organisme. Membersihkan ruangan satu per satu.

Sisi depan gudang sudah penuh dengan suara tembakan dan teriakan. Damian dan orang-orangnya sudah masuk.

Aku bergerak ke tengah. Bertemu dengan gelombang musuh yang mencoba mundur ke dalam.

Tidak ada waktu untuk berpikir. Hanya bergerak. Hanya bertahan. Hanya membunuh atau dibunuh.

Setiap gerakan otomatis. Setiap keputusan instan, tanpa henti, dan tanpa ragu.

Sampai satu pria melompat dari balik tumpukan peti. Terlalu dekat untuk menembak. Tangannya meraih senjataku. Mencoba merebut.

Aku melepaskan pistol. Membiarkannya rebut. Tapi tangan kananku sudah bergerak. Pisau dari pinggang. Masuk ke sisi tubuhnya. Dalam.

Pria itu tersengal lalu terjatuh, aku mengambil pistolku dari tangannya yang sudah lemas.

Berdiri, dan melihat sekeliling. Sisi kiri sudah bersih. Di tengah gudang, pertempuran masih berlanjut. Tapi sudah mulai mereda, musuh tinggal sedikit, dan ada beberapa yang menyerah.

Dan di ujung gudang, aku melihat Damian. Memegang kerah seseorang. Seseorang yang mencoba bersembunyi di balik drum minyak.

Lorenzo.

Damian menyeretnya ke tengah ruangan. Membanting dia ke lantai. Lorenzo jatuh. Memegang tangan yang tertembak. Berdarah. Wajahnya ketakutan tapi masih berusaha tampil bangga.

Damian menatapku dari kejauhan. Lalu berjalan mendekat. Menyerahkan pisau ke tanganku. Bukan pistol, tapi pisau. Karena pistol terlalu cepat, dan terlalu bersih.

"Dia milikmu," kata Damian. Suaranya dingin. Pasti.

Semua orang yang tersisa berdiri melingkar, menonton, dan menunggu. Aku menatap pisau di tanganku, lalu menatap Lorenzo yang tergeletak di lantai. Lorenzo menatap balik padaku, masih dengan sisa kesombongan di matanya.

"Kau akan menyesal," katanya. Suaranya gemetar walau berusaha terdengar mengancam. "Kalian berdua akan menyesal. FBI sudah di jalan. Kalian tidak akan..."

"Diam," kataku pelan.

Lorenzo diam, tapi kali ini tanpa argumen. Aku berjongkok di depannya, menatap matanya dari jarak dekat.

Dan aku mencari sesuatu di dalam diriku, mencari amarah, kebencian, dan keinginan untuk menyakiti.

Tapi yang kutemukan hanya kekosongan, bukan kekosongan yang dingin dan memuaskan, seperti yang kubayangkan. Tapi kekosongan yang terasa hampa, seperti lubang di dada yang tidak bisa diisi dengan apapun.

Aku mengangkat pisau, Lorenzo menutup matanya. Dan aku menusuknya dengan cepat, tepat di bagian bahu, bukan mematikan, tapi itu menyakitkan.

"Arrggggghhh... Apa yang kau lakukan padaku?" teriak Lorenzo

"Itu untuk semua orang, yang mati hari ini karena ambisimu," kataku dengan suara datar.

Aku menarik pisau itu lalu berdiri.

"Ikat dia," kataku pada pengawal yang berdiri di dekat. "Bawa ke mobil, kita mungkin masih butuh dia sebagai kartu untuk bernegosiasi dengan FBI."

Seketika suasana hening sebentar, lalu satu persatu pengawal mulai bergerak, dan mematuhi apa kataku.

Damian menatapku, wajahnya unreadable. Tidak bangga, tidak kecewa, hanya menatapku.

"Kenapa tidak kau bunuh dia?" tanyanya pelan.

"Karena ini bukan tentang membunuh lagi," jawabku. Suaraku keluar tanpa emosi. Tapi kata-katanya nyata. "Kita butuh kartu. Kita butuh tawar-menawar. FBI datang besok. Mayat Lorenzo tidak berguna. Lorenzo yang hidup mungkin bisa membeli waktu."

Damian diam lama.

"Kau sudah berpikir lebih jauh dari aku malam ini," katanya akhirnya.

"Seseorang harus," jawabku.

Dia menatapku dengan tatapan yang aneh. Campuran antara kagum dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang menyerupai kekhawatiran.

"Kau berubah lagi," katanya pelan. "Bukan lebih dingin, tapi jauh lebih berbeda."

Aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu apa yang harus kujawab. Yang kutahu, hanya malam ini sesuatu bergeser di dalam diriku, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

Ketika semua orang mulai keluar dari gudang, ketika kebisingan pertempuran memudar, aku berdiri sendirian sebentar di tengah ruangan yang dipenuhi mayat dan bau mesiu.

Dan untuk pertama kalinya, dalam waktu yang sangat lama, aku menangis. Bukan karena sedih, ataupun penyesalan.

Tapi karena aku tidak merasakan apapun, dan ketidakmampuan merasakan apapun terasa lebih menyakitkan, dari semua rasa sakit yang pernah ada.

Aku mengusap air mata itu cepat sebelum Damian melihatnya, lalu berjalan keluar mengikuti yang lain.

Tapi sesuatu sudah berubah malam ini, sesuatu yang kecil, yang hampir tidak terasa. Seperti retakan tipis di dinding, yang sudah sangat tebal.

Dan di suatu tempat di kota, ayah menatap layar laptop yang menunjukkan rekaman pertempuran, di pelabuhan melalui kamera pengawas. Menatap putrinya yang berdiri di tengah mayat-mayat dengan pisau di tangan.

Dan untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu yang tidak dia harapkan. Bukan monster, atau mesin pembunuh. Tapi gadis yang menangis sendirian, di tengah kehancuran yang dibuatnya sendiri.

Dan ayah berbisik dengan suara yang hancur, "Kau masih ada, Sayang." Dan mungkin itu satu-satunya harapan yang tersisa.

1
Thahara Maulina
suka kak serem penuh obsesion tapi nagih 🤭😍
Riyanti Bee
Jihid bingit sih Damian. 😄
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Queen of Mafia: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Queen of Mafia: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Queen of Mafia: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Queen of Mafia: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Queen of Mafia: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!