NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA: DI BALIK SENYUM

POV: Seraphina

Aku menghela napas panjang, membiarkan paru-paruku terisi oleh aroma melati yang menguar lembut dari taman teras. Begitu sosok Orion—pria yang meminta dipanggil tanpa embel-embel tuan itu—menghilang di balik pintu kaca, aku merasa ada beban yang terangkat dari pundakku. Namun, perasaan itu aneh. Bukan sekadar lega, tapi ada getaran sisa yang tertinggal di nadiku, seperti gema dari sebuah dentuman yang sangat keras.

Dia sangat tampan, itu tidak bisa dibantah. Wajahnya seperti pahatan seniman yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Tapi, ada sesuatu di balik mata obsidiannya yang membuatku sedikit merinding. Seperti saat aku berdiri di tepi tebing dan menatap lautan gelap di bawah sana; ada daya tarik yang kuat, namun sekaligus memperingatkan tentang bahaya yang mematikan. Ah, mungkin itu hanya imajinasiku saja yang terlalu sering membaca novel misteri. Dia sangat sopan, bukan?

"Gila, Sera!" sebuah suara cempreng tiba-tiba memecah lamunanku.

Aku sedikit terlonjak dan menoleh. Cika sudah berdiri di sampingku dengan mata membelalak lebar, memegang segelas minuman berwarna merah muda. "Barusan itu siapa? Keren banget! Kamu kenal dia dari mana? Kenapa aku tidak tahu kamu punya kenalan pria sekelas dewa Yunani seperti itu?"

Aku hanya bisa menyunggingkan senyum canggung sambil merapikan rambutku yang tertiup angin malam. "Namanya Orion. Dia yang menghampiriku tadi dan mengajak ngobrol. Aku tidak kenal dia sebelumnya, Cika. Benar-benar baru bertemu beberapa menit yang lalu."

"Baru bertemu tapi sudah diajak duduk berdua di tempat sepi begini?" Cika menyipitkan mata, menatapku penuh selidik sambil menunjuk-nunjuk tanganku yang tadi sempat disentuh Orion. "Ayo mengaku, Pipimu merah sekali! Jangan-jangan kamu naksir ya? Atau dia sudah memberikan mantra sihir padamu?"

"Apaan sih, Cika!" aku memukul pelan lengannya, merasa wajahku semakin memanas. "Tidak ada naksir-naksiran! Dia hanya bilang kehadiranku mencerahkan ruangan ini, lalu mengajak ngobrol supaya tidak bosan. Dia hanya pria yang baik dan merasa kesepian di pestanya sendiri."

Cika mendengus keras, ekspresinya berubah menjadi tidak percaya. "Orang baik? Sera, kamu lihat jam tangannya tidak? Itu Patek Philippe. Harganya mungkin bisa membiayai kuliah kita berdua sampai lulus S3! Pria sekaya dan setampan itu tidak mungkin tiba-tiba menghampiri gadis panti asuhan yang memakai gaun pinjaman dariku kalau tidak ada apa-apanya. Aku kok curiga ya. Jangan-jangan dia playboy yang sedang mencari mangsa baru."

"Hus! Jangan bicara sembarangan begitu!" aku memasang wajah cemberut. "Orion sangat sopan. Dia bahkan tidak mencoba menggoda yang aneh-aneh. Cuma, memang ada ucapannya yang agak unik. Dia bilang dia seorang pemburu, tapi dia menjelaskan itu dari sisi konstelasi bintang. Sangat puitis, kan?"

"Pemburu..." Cika bergumam, tampak berpikir sejenak. "Entahlah, Sera. Kamu itu polosnya kelewatan. Dunia ini keras, dan orang-orang seperti dia biasanya punya agenda tersembunyi. Aku hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan."

Aku melipat tangan di dada, mencoba terlihat tegas meskipun aku tahu Cika hanya khawatir. "Hei! Aku ini sudah dewasa, tahu! Lagipula, apa yang bisa diambil dariku? Aku tidak punya harta, tidak punya koneksi. Dia tidak punya alasan untuk menipuku."

"Ya justru itu!" Cika menepuk dahinya sendiri dengan gemas. "Karena kamu tidak punya apa-apa, kamu jadi sasaran empuk karena tidak akan ada yang membelamu jika terjadi sesuatu!"

Sebelum aku sempat membalas ucapan Cika, sebuah suara berat yang monoton menginterupsi perdebatan kami.

"Maaf, Nona. Anda tidak seharusnya berada di sini sendirian tanpa pengawasan."

Kami berdua menoleh serentak. Di belakang kami telah berdiri seorang pria tinggi dengan tubuh sekokoh tembok. Dia mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah-olah otot wajahnya tidak pernah digunakan untuk tersenyum. Matanya tajam namun kosong. Aku mengenalinya sebagai pria yang sempat bicara dengan Orion tadi.

"Oh, selamat malam..." aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat situasi. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya Jay. Atasan saya berpesan agar saya memastikan Anda tetap aman sampai beliau kembali," ucap pria itu dengan suara yang kaku. "Tuan Orion tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Anda."

Cika menyenggol lenganku dengan keras, berbisik di dekat telingaku. "Lihat? Dia menitipkanmu pada bodyguard-nya? Kamu sudah dianggap seperti barang berharga yang harus dijaga ketat!"

Aku mendelik pada Cika agar dia diam, lalu tersenyum pada Jay. "Terima kasih banyak, Pak Jay. Tapi saya sedang bersama sahabat saya. Kami baik-baik saja di sini, jadi Bapak tidak perlu repot-repot berdiri di sana."

Jay tidak bergeming sedikit pun. "Perintah adalah perintah, Nona. Saya tidak akan bergeser satu inci pun sebelum Tuan Orion datang kembali untuk menjemput Anda."

Aku dan Cika saling pandang. Pria ini sungguh sangat kaku! Aku jadi membayangkan jika ada lalat yang hinggap di hidungnya, apakah dia akan tetap diam seperti patung? Aku menahan tawa yang hampir meledak. "Baiklah kalau begitu, Pak Jay. Bapak mau duduk di kursi sebelah sana? Biar tidak pegal."

"Tidak. Saya sedang bertugas," jawabnya singkat.

"Kaku sekali seperti kanebo kering," bisikku pada Cika yang langsung dibalas dengan anggukan setuju.

Tak lama kemudian, Ciko, saudara kembar Cika, menghampiri kami dengan langkah gontai. Wajahnya tampak kusut, dasinya sudah sedikit melonggar. "Kalian malah asyik di sini. Di dalam membosankan sekali. Aku baru saja bertemu dosen killer kita dan dia malah menanyakan progres tugas akhirku. Sial sekali nasibku malam ini!"

"Makanya, jangan suka menunda tugas kalau tidak mau dihantui!" Cika malah mengomeli kembarannya itu.

"Aku kan sedang butuh hiburan!" Ciko menghela napas, lalu matanya menangkap sosok Jay yang berdiri tegak di belakang kami. "Wah, siapa ini? Keren sekali posenya. Apa ini patung pajangan baru di mansion ini?"

Jay hanya menatap Ciko dengan tatapan sedingin es. Tidak ada respons, tidak ada kedipan. Aku cekikikan melihat wajah bingung Ciko. "Itu Pak Jay, pengawalnya Orion. Dia disuruh menjagaku, Ciko."

"Dijaga? Memangnya kamu ini buronan?" Ciko mengangkat alis, lalu menatapku dengan menyelidik. "Ayo mengaku, apa yang kamu lakukan dengan pemilik rumah ini? Jangan-jangan kamu sudah terlibat skandal?"

"Apaan sih! Orion itu pria yang sopan!" aku membela diri, meskipun dalam hati aku juga merasa situasi ini sedikit berlebihan.

Tiba-tiba, ponsel di tas kecilku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat sebuah pesan masuk dari Bi Jena, ibu panti asuhan yang sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri.

"Sera, kamu sudah makan? Jangan pulang terlalu larut ya, Nak. Ibu sudah menyiapkan susu hangat untukmu. Ibu rindu."

Senyumku merekah seketika. Bi Jena selalu begitu, selalu mengkhawatirkanku meskipun aku sudah berusia dua puluh satu tahun. Aku segera mengetik balasan dengan cepat: "Sudah makan kok, Bi! Ini lagi di pesta bersama Cika dan Ciko. Bi Jena jangan khawatir ya, Sera baik-baik saja. Nanti Sera bawakan cerita seru buat Bibi!"

"Itu dari Bi Jena ya?" tanya Cika lembut. Dia tahu betul betapa berartinya wanita itu bagiku.

Aku mengangguk pasti. "Iya. Dia selalu menganggapku anak kecil. Padahal aku sudah bisa menjaga diri sendiri." Aku tertawa kecil, namun kemudian teringat sesuatu. "Oh ya, aku harus menabung lebih giat. Aku ingin membelikan Bi Jena syal wol warna ungu untuk ulang tahunnya bulan depan. Dia pasti sangat menyukainya."

"Kamu ini selalu memikirkan orang lain," komentar Ciko sambil menggelengkan kepala. "Pikirkan dirimu dulu, Sera. Cari pacar kaya supaya kamu tidak perlu pusing memikirkan biaya syal."

"Ciko!" aku mencubit lengannya dengan gemas, membuat pria itu mengaduh kesakitan.

Jay yang sejak tadi berdiri diam, tiba-tiba bergeser sedikit. Aku meliriknya dan merasa kasihan. Pasti dia sangat bosan mendengarkan obrolan tidak bermutu kami. Aku pun mencoba mencairkan suasana.

"Pak Jay," panggilku dengan senyum lebar. "Bapak benar-benar tidak mau duduk? Kakinya bisa bengkak lho kalau berdiri terus. Atau Bapak mau aku pijit? Aku jago lho memijat, sering latihan sama anak-anak di panti."

Aku hanya bermaksud menggodanya agar dia sedikit rileks, namun Jay tetap menatapku tanpa ekspresi. "Saya sudah katakan, Nona. Saya sedang bertugas."

"Ih, kaku banget!" aku mengerucutkan bibir, pura-pura merajuk.

Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang berat dan penuh otoritas membelah udara, membuat bulu kudukku berdiri seketika. "Seraphina."

Aku menoleh dengan cepat. Orion sudah kembali. Dia berdiri di sana, di ambang pintu menuju teras. Namun, ada yang berbeda. Kehangatan yang tadi ia tunjukkan seolah telah menguap, digantikan oleh tatapan yang sangat intens dan tajam. Ada kilatan gelap di matanya yang membuat nyaliku menciut dalam sekejap.

"Urusanku sudah selesai," katanya, suaranya terdengar seperti perintah yang tak boleh dibantah. Pandangannya terkunci padaku, mengabaikan keberadaan Cika dan Ciko seolah-olah mereka hanya debu. "Sekarang, saatnya kita pulang."

Aku mengerjapkan mata, merasa bingung. "Pulang? Tapi Orion, aku datang bersama teman-temanku. Aku akan pulang bersama mereka nanti."

Orion melangkah mendekat, auranya begitu mendominasi hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis. "Aku yang akan mengantarmu. Malam sudah terlalu larut, dan aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan kendaraan yang tidak terjamin keamanannya."

Tidak ada ruang untuk bernegosiasi dalam nada bicaranya. Aku menoleh pada Cika, yang kini tampak sangat khawatir, dan Ciko yang menatap Orion dengan waspada. Aku ingin menolak, sungguh, tapi mulutku seolah terkunci.

Jay melangkah maju dan membuka pintu sebuah mobil sedan hitam mewah yang sudah terparkir tepat di depan teras bawah. Cahaya bulan memantul di permukaan mobil yang mengkilap, memberikan kesan misterius sekaligus mencekam.

Orion mengulurkan tangannya padaku. Sebuah ajakan yang terasa seperti jeratan. Aku, dengan segala kepolosanku, belum menyadari bahwa genggaman tangannya malam ini bukan sekadar pengantaran pulang biasa. Itu adalah langkah awal masuk ke dalam sangkar emas yang telah ia siapkan dengan sangat rapi.

"Mari," ucapnya pendek.

Aku menarik napas panjang, lalu perlahan meletakkan tanganku di atas telapak tangannya yang besar dan hangat. Aku tidak tahu, bahwa sejak detik itu, kebebasanku telah resmi berakhir.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!