NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Isi Kotak Pandu

Pintu depan tertutup dengan dentuman pelan, namun getarannya terasa hingga ke ulu hati Maya. Wanita misterius yang mengaku sebagai ibu Arlan itu telah hilang di balik tikungan jalan Dago, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.

Arlan masih berdiri mematung di ambang pintu, tangannya mencengkeram erat pegangan koper kulit hitam pemberian wanita itu. Urat-urat di lengannya menonjol, tanda bahwa ia sedang menahan gejolak emosi yang luar biasa.

"Lan... apa kamu yakin dia benar-benar ibumu?" suara Maya memecah kesunyian.

Arlan berbalik perlahan. Matanya tampak merah. "Matanya, May. Aku tidak bisa melupakan tatapan itu, meski aku baru berumur enam tahun saat dia dikabarkan meninggal. Tapi kehadirannya sekarang... ini bukan berkat, ini adalah kutukan."

Mereka membawa koper itu ke ruang kerja bawah tanah. Arlan meletakkannya di atas meja jati, lalu membukanya dengan hati-hati. Tidak ada ledakan, tidak ada gas beracun. Hanya tumpukan berkas tua, beberapa paspor palsu dengan foto wanita itu dalam berbagai usia, dan sebuah alat perekam suara kuno.

Arlan menekan tombol play.

Suara statis terdengar sejenak, lalu diikuti suara wanita yang sama dengan yang tadi berdiri di depan pintu mereka.

"Arlan, jika kamu mendengarkan ini, berarti Richard sudah jatuh. Tapi jangan sombong dulu. Richard hanyalah 'wajah' dari Proyek Merapi. Otak sebenarnya ada di dalam organisasi bernama The Chrysanthemum. Aku terpaksa memalsukan kematianku agar mereka tidak membunuhmu saat itu. Tapi sekarang, mereka menginginkan 'Kunci Biometrik' yang hanya ada pada keturunan langsung Dirgantara."

Maya menahan napas. "Kunci biometrik? Apa maksudnya, Lan?"

Arlan membongkar bagian dasar koper dan menemukan sebuah alat pemindai kecil. "Proyek Merapi bukan cuma soal senjata fisik, May. Ini soal kode akses ke satelit militer swasta. Dan kode itu diprogram untuk mengenali DNA dan retina mata dari garis keturunan ayahku. Itu artinya..."

"Artinya kamu... dan bayi kita," bisik Maya. Tangannya secara naluriah mengelus perutnya yang masih datar. Ketakutan baru yang lebih besar kini menghantuinya. Bayi yang ia kandung bukan hanya simbol cinta, tapi juga target operasi internasional.

Arlan membanting tinjunya ke meja. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh anak kita! Tidak akan pernah!"

Maya mengambil salah satu berkas dari koper. Matanya terbelalak saat membaca daftar nama yang ada di sana. "Lan, lihat ini! Daftar penyusup di sekitar kita."

Arlan menyambar berkas itu. Wajahnya mengeras saat melihat nama-nama yang sudah sangat akrab.

Siska: Sekretaris pribadi Maya di biro desain.

Dokter Gunawan: Spesialis jantung yang merawat Ibu Sarah.

Haryo: Kepala keamanan baru di kantor pusat Dirgantara.

"Siska?" Maya hampir tidak percaya. "Dia sudah bersamaku sejak awal aku membuka biro di Jakarta. Dia tahu semua jadwalku!"

"Dan Dokter Gunawan... dia yang memegang rekam medis ibumu," Arlan mengertakkan gigi. "Ini gila. Kita dikepung oleh orang-orang yang kita bayar untuk melindungi kita."

Tiba-tiba, ponsel Maya berdering. Nama "Siska" muncul di layar.

Maya dan Arlan saling pandang. Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit. Arlan memberi isyarat agar Maya mengangkatnya dan tetap bersikap normal.

"Halo, Siska?" Maya mencoba menstabilkan suaranya.

"Mbak Maya, maaf mengganggu pagi-pagi. Saya cuma mau konfirmasi, jadwal pertemuan dengan klien dari Singapura jam satu siang nanti jadi di kafe biasa, kan? Saya sudah di jalan menuju ke sana."

Maya menelan ludah. Ia melirik Arlan. Arlan mengangguk pelan sambil mengetik sesuatu di laptopnya—mencoba melacak posisi Siska melalui GPS kantor.

"Iya, Siska. Aku menyusul sebentar lagi. Tunggu saja di sana ya," jawab Maya sesantai mungkin.

Begitu telepon ditutup, Arlan menunjukkan layar laptopnya. Titik merah posisi Siska tidak berada di kafe, melainkan sedang berhenti di sebuah gudang kosong di pinggiran Bandung.

"Dia bohong," desis Arlan. "Dia tidak sedang menuju kafe. Dia sedang menunggu seseorang."

Arlan menyambar jaket dan senjatanya. "May, tetap di sini. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku atau Yudha. Aku akan mengikuti Siska."

"Nggak, Lan! Jangan tinggalkan aku sendiri. Kalau Siska adalah umpan, berarti ada orang lain yang menuju ke sini sekarang!" Maya menarik lengan baju Arlan.

Arlan terhenti. Benar. Strategi The Chrysanthemum selalu tentang pengalihan. Siska sengaja menelpon agar Maya keluar atau agar Arlan pergi mengejarnya, meninggalkan rumah tanpa penjagaan maksimal.

Tiba-tiba, lampu di seluruh rumah Dago padam. Suara mesin generator di belakang rumah terdengar dipaksa berhenti dengan bunyi ledakan kecil.

Kring!

Telepon rumah berbunyi di tengah kegelapan. Arlan mengangkatnya dengan loudspeaker.

"Arlan Dirgantara... serahkan koper hitam itu, atau kami akan meruntuhkan rumah barumu ini bersama istrimu yang sedang mengandung. Kamu punya waktu lima menit sebelum 'krisan' mekar di halaman depanmu."

Suara itu dingin, terdistorsi oleh mesin, namun penuh dengan ancaman yang mematikan.

Arlan memeluk Maya erat di tengah kegelapan ruang bawah tanah. "Kita tidak akan lari lagi, May. Kali ini, kita akan membuat mereka menyesal karena sudah memilih rumah ini sebagai medan perang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!