Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.Jangan bangunkan singa yang sedang tidur
Zora menyodorkan amplop cokelat itu dengan gerakan yang sangat tenang, kontras dengan badai yang berkecamuk di dadanya. Dimas mengernyit, menatap benda itu dengan dahi berlipat.
"Apa ini?" tanya Dimas, suaranya pecah oleh kelelahan dan rasa bingung.
"Buka saja, Pak. Nanti juga Anda akan tahu isinya," balas Zora. Panggilan 'Pak' itu kembali muncul, dingin dan berjarak.
Penasaran, Dimas pun merobek amplop itu. Seketika, matanya membulat sempurna. Pupilnya bergetar hebat saat melihat wajahnya sendiri dalam situasi yang tampak begitu memuakkan di atas kertas foto itu.
"Darimana... darimana kamu mendapatkan ini semua?" tanya Dimas terbata. Suaranya bergetar, dan Zora mencatat setiap getaran itu sebagai sebuah belati yang menusuk hatinya.
"Mira datang siang tadi hanya untuk memberikan ini padaku. Katakan padaku, Pak... siapa wanita ini?" tanya Zora lirih. Meski suaranya terdengar setenang permukaan danau, di dalam dadanya, setiap kata itu seperti tekanan gas yang siap meledak.
Dimas menatap Zora dalam diam, lalu dengan gerakan cepat namun lembut, ia memegang kedua bahu istrinya. "Ikut aku. Akan kuceritakan semuanya. Tapi janji padaku, kau harus tetap tenang. Bisa?"
Zora menatap sepasang mata suaminya, mencari kebenaran di sana sebelum akhirnya mengangguk kecil.
Dimas membimbing Zora menuju ruang kerja pribadinya—sebuah ruangan yang selama sebulan terakhir belum pernah Zora jamah. Ruangan itu terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
"Duduklah," ucap Dimas pelan.
Dimas melangkah menuju meja kerjanya, membuka laci yang terkunci rapat, dan mengeluarkan sebuah amplop yang tampak identik. Ia memberikannya pada Zora. Zora terkesiap; isinya sama persis dengan yang dibawa Mira.
"Dia Caroline. Teman Nesa saat di Amerika. Kamu ingat siapa Nesa, kan?"
Zora mengangguk pelan. Ingatannya melayang pada sosok wanita yang hampir menghancurkan hidup sahabatnya, Kanaya. Wanita yang memaksa Kanaya berjuang sendirian melahirkan Alteza tanpa Bumi di sisinya.
"Lalu... apa hubunganmu dengan dia?" tanya Zora. Ia mencoba menahan gejolak perih yang mulai merayap. Hatinya mencelos. Pernikahan mereka baru berumur tiga hari, dan sejujurnya, tidak ada fondasi cinta yang kuat sejak awal. Haruskah aku menyerah sekarang? pikirnya pahit.
Dimas berlutut di depan Zora, menggenggam tangan istrinya yang sedingin es.
"Aku bersumpah demi Tuhan dan demi martabatku sebagai suamimu, aku tidak pernah melakukan apa pun dengan Caroline. Kau adalah wanita yang pertama untukku, Zora. Semalam adalah bukti yang tidak bisa dibantah oleh foto mana pun," ucap Dimas dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Foto itu adalah jebakan yang dibuat Nesa beberapa tahun lalu. Dia ingin aku patuh, dia ingin aku mendukung rencananya merebut Bumi dari Kanaya. Dia menggunakan foto-foto sudut kamera ini untuk mengancam karirku sebagai dosen. Aku menyimpannya agar suatu saat bisa kujadikan bukti balik, tapi ternyata... Mira menemukannya lebih dulu."
Dimas menatap Zora dengan tatapan memohon. "Zora, jangan biarkan rencana busuk yang sudah lama mati ini membunuh pernikahan kita yang baru saja dimulai. Aku bersumpah, hanya kau pemilik sah hati dan ragaku."
"Untuk kali ini... aku memilih untuk percaya padamu," bisik Zora. Suaranya masih terdengar rapuh, namun ada ketegasan di dalamnya. "Tapi ingat, kepercayaanku bukan barang murah yang bisa kamu beli berkali-kali. Jika satu saat nanti aku tahu kamu berbohong, aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menjelaskan apa pun lagi."
Dimas mengembuskan napas lega, seolah beban seberat gunung baru saja terangkat dari pundaknya. Ia merengkuh tubuh Zora, mendekapnya erat-erat seolah takut wanita itu akan menguap jika ia lepaskan. Dimas membenamkan wajahnya di ceruk leher Zora, menghirup aroma ketenangan yang hanya dimiliki istrinya.
"Terima kasih, Zora. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk menjaga janji ini," gumam Dimas. Ia melepaskan pelukannya sejenak, menangkup wajah Zora dengan kedua tangannya, lalu mendaratkan kecupan lama dan khidmat di kening istrinya.
Namun, Saat wajahnya tersembunyi di balik rambut Zora, sorot matanya yang tadi penuh permohonan berubah menjadi sedingin es.
Hati Dimas bergemuruh hebat, bukan oleh gairah, melainkan oleh amarah yang mendidih. Ia teringat wajah angkuh Mira yang dengan berani mengusik ketenangan rumah tangganya dan menyakiti harga diri Zora.
“Mira... kau sudah melangkah terlalu jauh. Kau pikir bisa menghancurkan hidupku dengan sampah-sampah masa lalu ini?” ucap Dimas dalam hati, suaranya bergema penuh ancaman.
Ia mengeratkan pelukannya pada Zora, namun pikirannya sudah menyusun rencana yang jauh lebih rapi dari sekadar konfrontasi lisan.
“Tunggu pembalasanku. Aku tidak akan memberimu ampun. Kau akan belajar bahwa menyentuh milikku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu,” batinnya tajam.
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭