NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kena Batunya

Di dekat sebuah gubuk tua, Kang Jaka menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaos oblong yang sudah belel.

Ia baru saja selesai menjelaskan rencananya pada sang istri, Mira.

Napasnya masih sedikit memburu, tapi matanya berbinar jenaka.

"Bulik Rini itu kan hobinya pura-pura sakit biar kita yang repot," ucap Jaka sambil tersenyum miring.

"Ya sudah, kita manfaatkan saja sandiwara itu. Biar dia kena batunya sekalian. Kalau dia sibuk ngurusin 'masalah' yang dia buat sendiri, dia nggak bakal sempat ngerjain kita lagi."

Jaka menatap istrinya dengan tatapan yang mendadak ragu.

"Dik Mira... apa menurutmu Akang ini terlalu jahat?"

Jaka sedikit cemas.

Seumur hidup, ia dikenal sebagai pemuda desa yang lurus, penurut, bahkan sering dianggap terlalu lembek.

Ide ini terasa sedikit... nakal.

Mira menatap wajah suaminya yang penuh kekhawatiran itu, lalu tertawa kecil.

Suara tawanya renyah memecah kesunyian hutan.

"Kok jahat sih, Kang? Kang Jaka melakukan ini kan demi melindungi aku, melindungi harga diri kita."

Di mata Mira, Jaka hari ini tampak berbeda.

Bukan lagi Jaka yang nrimo ing pandum sampai rela diinjak-injak, tapi Jaka yang berani pasang badan.

Jantung Mira berdegup kencang, persis seperti suara tabuhan bedug lebaran. Ada rasa bangga yang mekar di dadanya.

Saat pandangan mereka bertemu, pipi Mira merona merah, tersipu di bawah remang cahaya sore.

Ia menunduk malu-malu.

"Kang Jaka ternyata pinter banget. Aku malah nggak kepikiran sampai ke situ."

"I-itu... tiba-tiba saja muncul di kepala," Jaka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah dipuji istri sendiri.

"Abah pernah bilang, niat jahat itu nggak boleh dipelihara. Tapi kalau orang lain mau nyelakain kita, ya jangan diam saja kayak kerbau dicocok hidung. Sekalinya mbales, harus cantik mainnya."

Jaka tersenyum lebar.

Dadanya membusung bangga.

Karena hari semakin gelap, mereka memutuskan untuk mengganjal perut sebelum turun gunung.

Jaka mengeluarkan beberapa butir telur ayam kampung dan ubi yang sempat ia 'amankan' dari dapur Bulik Rini pagi tadi.

"Lumayan, Dik. Akang nyomot dikit dari lumbung belakang," bisik Jaka sambil nyengir.

Di atas bara api kecil, ubi dan telur itu dipanggang.

Meski sederhana, rasanya nikmat luar biasa karena disantap berdua di tengah hawa pegunungan yang dingin.

Setelah kenyang, Jaka bangkit dan mengambil goloknya.

"Dik, kamu duduk manis di sini saja. Akang mau cari kayu bakar dulu," kata Jaka.

Jaka tidak asal mengambil kayu.

Ia memilih dahan-dahan kayu jati dan akasia yang lurus dan kering.

Di desa mereka, kayu jenis ini sangat spesifik fungsinya. Selain untuk kayu bakar tungku besar saat hajatan, batang yang lurus biasa dipakai untuk tiang tenda darurat.

Dalam tradisi desa, urusan kematian itu sakral.

Tetangga yang punya dendam kesumat pun biasanya akan melunak dan datang membantu jika bendera kuning sudah berkibar.

Jaka mengumpulkan kayu seolah-olah Bulik Rini benar-benar sudah akan tiada. Ia ingin sandiwara ini meyakinkan.

Saat matahari sudah benar-benar tenggelam, Jaka sudah mengikat satu bongkok besar kayu bakar.

Cukup untuk memasak nasi berhari-hari bagi para pelayat.

Mereka pun turun gunung.

Suara seretan kayu di jalan setapak berbatu menimbulkan bunyi grak-grak-grak yang menarik perhatian di kesunyian malam desa.

Beberapa warga yang sedang duduk di pos ronda menoleh.

"Lho, Kang Jaka? Bawa kayu banyak bener malam-malam begini. Siapa yang mau hajatan?" tanya Pak RT yang kebetulan lewat.

Jaka memasang wajah paling sedih yang bisa ia buat.

Ia menghela napas panjang, dramatis sekali.

"Pak RT... Itu lho, Bulik Rini... mendadak sakit keras," suara Jaka bergetar, terdengar putus asa.

Badannya ambruk, sudah empat hari nggak masuk nasi sebutir pun.

Tadi kami tengok, kondisinya makin memprihatinkan. Kayaknya... ya, mungkin tinggal nunggu waktu, Pak.

Pak RT dan warga yang mendengar terlonjak kaget.

"Innalillahi... Si Rini mau lewat? Kok mendadak banget? Perasaan kemarin masih teriak-teriak marahin tukang sayur."

"Namanya umur nggak ada yang tahu, Pak," timpal Jaka, lagi-lagi sambil menghela napas berat.

"Kami juga baru dikabari kemarin, makanya buru-buru datang."

Mira, yang berjalan di belakang Jaka sambil memeluk seikat kecil ranting, ikut memasang wajah sembap dan mata berkaca-kaca.

Aktingnya sempurna.

"Mari Pak, kami harus buru-buru. Kasihan Bulik, takutnya nggak nututi," pamit Jaka.

Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar lebih cepat dari api membakar ilalang kering di musim kemarau.

"Bu Rini sekarat. Bu Rini kritis."

Dalam hitungan menit, separuh warga desa sudah tahu kabar burung itu.

Ibu-ibu tetangga yang tadinya sedang santai mendengarkan sandiwara radio, langsung kasak-kusuk, membungkus beras dan telur ke dalam besek atau rantang untuk dibawa melayat.

Jaka menyeret kayu itu masuk ke halaman rumah Pak Lik Darmo dengan suara gaduh.

Keributan itu memancing Siska keluar dari kamar.

Muka Siska pucat pasi saat melihat tumpukan kayu bakar yang identik dengan persiapan nyelameti orang ninggal di halaman rumahnya.

"Mbak Mira! Kamu ini doain Ibu mati ya?!" semprot Siska galak, telunjuknya mengarah ke wajah Mira.

Mira menggeleng pelan, air matanya menetes, akting kelas piala citra.

"Siska, kok kamu ngomong gitu? Mbak dan Kang Jaka melakukan ini demi kebaikan Bulik. Bulik kan katanya sudah empat hari nggak makan, kondisinya kritis. Kamu masih muda jadi nggak paham, tapi kami sebagai saudara harus siap-siap. Biar Bulik pergi dengan tenang dan layak."

"Siap-siap apa?! Ibuku nggak bakal mati!" jerit Siska, suaranya melengking.

"Ssttt, pamali ngomong gitu," potong Mira lembut tapi menusuk.

"Kain kafan sudah ada belum? Kalau belum, biar Mbak carikan ke Pak Modin."

"Nggak usah! Aku bisa cari sendiri!" Siska panik setengah mati.

Dalam kepercayaan desa, mencari kain kafan untuk orang yang masih hidup itu sama saja mendoakan orang itu cepat mati alias kualat.

Siska terjebak ucapannya sendiri.

"Ya sudah kalau kamu mau cari sendiri. Mbak cuma bantu doa," kata Mira santai.

Mira lalu melenggang ke dapur.

Ia mengambil dandang tembaga besar dari rak.

Itu adalah dandang peninggalan almarhum ayahnya Mira. Ia mengelus permukaan dandang yang mulai penyok itu. Matanya memanas, kali ini bukan akting.

Dulu, ayahnya adalah tukang kayu dan pandai besi yang hebat.

Rumah ini, perabot ini, sebagian besar hasil keringat ayahnya, tapi kini dikuasai oleh keluarga pamannya yang serakah.

"Dik, jangan nangis," Jaka menghapus air mata di pipi istrinya.

"Bapak dan Ibu pasti lihat kita dari atas sana. Mereka pasti doain kamu."

Mira mengangguk, menyeka air matanya.

Kesedihan itu segera ia ganti dengan kesibukan.

Ia mulai mencuci beras milik keluarga Rini, lalu mengukusnya di dandang besar. Aroma nasi yang mengepul harum segera memenuhi udara malam.

Tak lama kemudian, terdengar suara kulo nuwun dari halaman depan.

Para tetangga mulai berdatangan.

Ibu-ibu dengan kebaya lusuh dan selendang batik datang membawa rantang atau bakul berisi beras dan telur sumbangan.

Wajah mereka dipasang mode prihatin.

"Mbak Mira, yang sabar ya... Gimana kondisi Bu Rini? Sudah ditalkin belum?" tanya seorang ibu.

Mira menyambut mereka dengan mata sembap.

"Maturnuwun, Bu... Silakan duduk. Doakan saja yang terbaik buat Bulik. Beliau di dalam, belum sadar."

Suasana rumah itu seketika berubah menjadi seperti rumah duka.

Hening, syahdu, penuh bisik-bisik belasungkawa.

Di dalam kamar utama, Rini yang sedang pura-pura terbaring lemas mulai gelisah.

Kenapa di luar ramai sekali? Kenapa banyak suara orang mengaji pelan?

"Siska! Coba kamu cek di luar. Si Mira bikin ulah apa lagi?" desis Rini.

Kalau saja dia tidak sedang akting sakit parah, dia pasti sudah melabrak keluar.

Siska berjalan gontai keluar kamar.

Begitu sampai di ruang tengah, matanya melotot.

Ruang tamu penuh pelayat duduk di tikar!

"Lho, Siska... yang tabah ya, Nduk," ucap Bu RT sambil menepuk bahu Siska.

"Ibumu ada pesan terakhir nggak? Bapakmu sama adikmu Bayu sudah dikabari?"

Siska merasa dengkulnya lemas. "Pesan... terakhir?"

Tiba-tiba, terdengar keributan di halaman depan.

"Minggir! Tolong kasih jalan!"

Warga yang berkumpul menyingkir, memberi jalan dengan wajah tegang.

Siska menoleh ke pintu depan dan jantungnya seakan copot.

Di sana, di ambang pintu, berdiri Bapaknya, Pak Lik Darmo, dengan wajah kusut penuh debu.

Dan di belakangnya, dibantu beberapa orang hansip, mereka memikul Keranda inventaris desa!

Di sebelahnya, Bayu, adik laki-laki Siska, menangis meraung-raung sambil memeluk bungkusan kain putih yang jelas-jelas berisi kain kafan.

"IBUUUUU! IBUUUU JANGAN TINGGALIN BAYU! HUAAAA!" raung Bayu, suaranya memilukan hati, memecah keheningan malam.

Pak Lik Darmo sendiri terlihat terpukul.

Kakinya gemetar saat memberi isyarat agar keranda diletakkan di teras.

Ia menatap Siska dengan mata merah. "Siska... Bapak sudah ikhlas. Ayo kita tuntun Ibumu."

Ternyata, kabar burung itu sampai ke tempat kerja Pak Lik Darmo dengan versi yang lebih mengerikan:

"Istrimu sakaratul maut, siapkan keranda dan pulang segera sebelum terlambat!"

Siska mematung.

Wajahnya pucat pasi seperti mayat sungguhan.

"P-Pak... i-ini..."

"HEH! KALIAN INI NGAPAIN BAWA KERANDA KE RUMAHKU?!"

Tiba-tiba, pintu kamar terbanting terbuka.

Rini berdiri di sana, berkacak pinggang, sehat walafiat, dengan wajah merah padam karena marah.

Tenaganya pulih seketika melihat peti mati di depan pintu.

"Siapa yang bawa barang sialan itu ke sini?! Aku belum mati! Dasar orang-orang gila!" jerit Rini melengking.

Sontak, seluruh tamu yang hadir terlonjak kaget.

Pak Lik Darmo melongo.

Bayu berhenti menangis dengan ingus masih menggantung panjang.

"Lho? Ibune? Kok... sehat? Kok bisa teriak?" Pak Lik Darmo bingung setengah mati.

Siska yang sudah terpojok dan malu luar biasa langsung menuding Mira yang berdiri di dekat dapur.

"Ini semua gara-gara Mbak Mira, Pak! Dia itu nyebar gosip kalau Ibu mau mati! Dia yang doain Ibu mati!"

Mira, yang berdiri di samping Jaka, langsung berakting kaget.

Ia menutup mulutnya, air mata buayanya menetes lagi dengan tepat waktu.

"Astaghfirullah, Siska... Kok kamu tega fitnah Mbak?" suara Mira bergetar, penuh luka.

"Kalian sendiri yang kirim surat lewat Yu Nah kemarin. Katanya Bulik sakit keras, sudah empat hari nggak makan, napasnya tinggal satu-satu. Kami ini jauh-jauh datang, ninggalin kerjaan, sampai sini langsung masak, nyiapin segalanya biar kalau ada apa-apa Bulik nggak telantar. Kok sekarang malah kami yang disalahkan?"

"Mbak Mira bohong!" teriak Siska.

​"Siapa yang bohong?!"

​Sebuah suara cempreng memotong perdebatan itu. Yu Marsih, tetangga sebelah yang terkenal sebagai 'corong berita' desa, berdiri dari kerumunan pelayat. Ia tidak terima namanya dan nama Bu Yati dijadikan kambing hitam.

​"Bu Rini, Siska, jangan asal nuduh ya!" Yu Marsih maju dengan berani, menyingsingkan lengan kebayanya.

​"Kemarin Siska sendiri yang lari ke dapurku sambil nangis-nangis bombay. Bilangnya Ibunya kritis, tiga hari nggak masuk nasi, takut nggak umur panjang. Karena aku nggak bisa ninggal masak, aku yang minta tolong Bu Yati buat lari ngabarin Mira di desa sebelah!"

​Yu Marsih menunjuk hidung Siska dengan geram.

"Siska, kamu berani sumpah pocong kalau kamu nggak ngomong gitu ke aku? Ayo sumpah! Kalau aku bohong biar aku disambar petir sekarang juga. Tapi kalau kamu yang bohong, biar mulutmu nggak bisa mingkem selamanya!"

Skakmat.

Wajah Siska pias.

Rini terdiam seribu bahasa, wajahnya berubah dari merah marah menjadi pucat malu.

Pak Lik Darmo menatap istri dan anaknya dengan tatapan tak percaya.

Keranda hijau di teras rumah itu kini tampak seperti monumen kebodohan mereka sendiri.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!