Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
" Tidak ada lagi hal yang harus kita sembunyikan, lagi pula Rehan sudah mengetahuinya," ucap Juna pada Vera.
" Itu artinya, apa aku bisa mengunggah foto pernikahan kita?" izin Vera pada Juna.
" Bahkan kau bisa memamerkan aku pada ayahmu. Tunjukan pada mereka kuli ini bukan kuli sembarangan," ucap Juna kemudian suami istri ini tertawa.
Juna membelai rambut Vera dengan lembut, dia lah perempuan yang harus ia bahagiakan. Karena sekarang Juna adalah tempat Vera berpulang.
" Makan siang di mall kali ini?" tanya Juna pada Vera
" Terserah, asal jangan di tempat kerja kakak saja, takutnya nanti Rehan masih mengikuti kita." ucapan Vera ada benarnya juga.
" Benar, jika dia tulus ingin meminta maaf pada Diana, bicarakan dia berusaha sendiri," sahut Juna
Vera menjawab dengan anggukan, keduanya merasa lega karena sekarang mereka tidak kucing-kucingan lagi dengan Rehan. Pergi ke salah satu restoran yang berada tidak jauh dari perusahaan ibu tirinya,sengaja Vera lakukan mana tau ketemu sama Ayahnya.
" Perusahaan dan pabriknya besar juga, tapi kenapa ayahmu tega menelantarkan kalian?"ujar Juna yang merasa heran pada jalan pikiran Indra.
" Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu," ucap Vera lalu memaksakan senyum.
" Tidak apa-apa, yang penting sekarang ada aku."
Keduanya pun memesan makanan, dalam hati vera ingin sekali bertemu dengan ayahnya agar ia bisa membanggakan Juna pada orang yang selama ini sudah menelantarkannya.
Deg'
Tubuh Vera menegang saat ia melihat sepasang suami-istri masuk kedalam restoran ini. Segera ia memberitahu Juna jika laki-laki dan perempuan yang baru saja masuk adalah ayah dan ibu tirinya.
Keduanya bersikap seolah tidak melihat, Juna dan Vera mengobrol dan bersikap seperti biasa saja.
" Vera," sapa Indra.
Indra, pria ini sebenarnya tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan anaknya di tempat ini. Sejak tadi ia mencoba memastikan jika yang ia lihat adalah Vera,dan ternyata benar.
" Ngapain kamu di tempat ini?" tanya indra membuat Vera tertawa.
" Pertanyaan yang sangat lucu sekali, tempat ini adalah restoran tentu saja aku akan makan di tempat ini," jawab Vera dengan senyum sinisnya.
" Apa dia suamimu?" tanya Yuni pada Vera.
" Jika bukan, mungkin dia kekasihku," ketus Vera.
Yuni memperhatikan Juna dari atas sampai bawah. Tidak ada tampang kuli pada pria ini, bahkan wajahnya saja tampak tidak asing. Sebagai seorang pengusaha, Yuni sudah pasti paham.
Dengan sengaja Juna mengulurkan tangannya, mengajak Indra untuk berkenalan.
" Arjuna Aditomo Gumilang," ucap Juna memperkenalkan diri.
Mata Yuni melebar, nama belakang itu jelas tidak asing bagi dirinya.
" Aku adalah anak dari pemilik PT Gumilang food. Pabrik mie instan dan beberapa makanan ringan yang cukup populer," ucap Juna dengan sengaja memberitahu siapa dirinya.
" Kau tidak bercanda kan? Sudah menikahi anakku?" tanya indra.
Ujar Vera yang tidak terima.
" Ekhem.... Anak yang mana ya?"
" Silahkan pergi, jangan ganggu makan siang kami." usir Juna setelah makan mereka datang.
Indra dan Yuni hanya diam, keduanya masih mencoba mencerna apa yang di lihat dan di dengar. Suami istri ini duduk tak jauh dari meja Vera dan juna, Yuni yang penasaran pada Juna langsung mencari tahu kebenarannya.
" Kenapa dia bisa menikah dengan Vera? Tidak mungkin, pasti mereka hanya bercanda," ucap Yuni dalam hati.
Panas hatinya saat ia tahu jika suami dari anak tiri yang sudah ia sia-siakan selama ini justru orang kayak raya.
" Percayalah padaku,andai Diana bisa menikah dengan Rehan. Tidak hanya ommu yang kepanasan bahkan ayahmu akan lebih panas lagi. Mereka pasti akan berusaha untuk menyingkirkan Diana," ucap Rehan dengan nada pelan.
" Haruskah, aku meminta kakakku menikah dengan Rehan, demi membalas dendam?" ujar Vera yang sedikit merasa kesal.
" Aku tidak memaksakannya!" seru Juna.
" Makanlah setalah itu kita pulang. Oh, atau kau ingin kita jalan-jalan dulu?"
" Pulang saja, rasanya aku lelah berhadapan dengan kenyataan,"ucap Vera.
Juna mengiyakan, setidaknya mereka berdua sudah membuat Indra dan Yuni tidak tidur dengan tenang malam ini.
" Mas, dia benar anak pemilik PT Gumilang food. Bagaimana bisa Vera menikah dengan dia? Bukankah anakmu itu tidak memiliki pendidikan yang tinggi?" ujar Yuni yang tidak tau jika Vera adalah seorang sarjana.
" Aku akan menemanimu, Vera dan Diana. Mereka harus menjelaskan tentang masalah ini," ucap Indra yang tak tau diri.
Sudah terbiasa hidup satu satu atap dengan kedua anak tirinya bahkan segala limpahan kasih sayang semuanya indra berikan kepada anak-anak Yuni. Dimata kedua anak Yuni, indra adalah ayah sambung yang sempurna tapi tidak untuk kedua anak kandungnya.
*******
Di tempat yang berbeda saat ini, Rehan sedang merasa lelah. Karena sejak pagi ia terus mencari keberadaan Diana yang entah dimana ia temui. Bertanya pada Juna pun sangat percuma, karena pria itu tidak akan memberitahunya.
" Lampu merah yang kemarin, aku yakin jika perempuan yang aku lihat adalah Diana. Haruskah aku menunggu di jalanan itu?" ujar Rehan lalu membuang nafas kasar.
Isi kepalanya hanya ada Diana, pada akhirnya rehan memutuskan untuk pergi ke jalanan yang kemarin ia lewati. Rehan hanya mengandalkan keberuntungan entah lewat atau tidak, ia akan tetap menunggu di jalanan itu padahal tak jauh dari sana ada cabang restoran milik pak Adi yang Rehan sendiri tahu.
Lain pula dengan Lina, selama suaminya tidak ada ia terus mengajak Eka pergi jalan-jalan bahkan membelikan barang apapun yang Eka inginkan. Makan siang di restoran Natural Green milik pak Adi.
Tampa memiliki rasa sopan santun, Eka yang baru masuk langsung menghampiri Diana yang sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.
" Ternyata kau bekerja di tempat ini. Ya ampun, seumur hidup menjadi babu," cibir Eka Seketika membuat ekspresi wajah Lina tak nyaman di buatnya.
" Eka, apa kau mengenal dia?" tanya Lina yang penasaran.
" Dia keponakan papa yang tidak tahu diri, keluarganya sangat miskin. Ibunya sudah mati dan Ayahnya menikah lagi.Tante, lihatlah saudara sepupuku ini yang sangat menderita,"ucap Eka pada Lina.
" Tidak baik berkata seperti itu," tegur Lina yang tidak suka pada sikap kasar Eka.
" Setidaknya,aku tidak pernah menyusahkan hidup kalian. Meskipun aku pernah menumpang di rumahmu, tapi aku mengunakan tenaga sebagai balasannya," sahut Diana yang tidak mau kalah.
Mendengar ucapan Diana membuat Lina ingat jika dulu beberapa tahun yang lalu ia pernah melihat Diana di rumah Sera, hanya saja saat itu mereka berdua tidak saling memandang sebeb Diana menunduk saat itu. Di tambah lagi Lina yang sedang asyik mengobrol dengan Sera.
Diana berlalu begitu saja, entah kenapa pula Diana belum sadar jika perempuan itu adalah ibunya Rehan yang pernah ia lihat di rumah Hendra beberapa tahun lalu.
" Dia pernah jadi pembantu di rumah," ucap Eka memberitahu Lina.
" Oh, ya?"
" Iya Tante, masa Tante lupa kalau yang menyediakan minuman saat keluarga Tante datang kerumahku dulu?"
" Tante tidak memperhatikan dia karena tante asyik mengobrol dengan mamamu,"
" Intinya dia itu bodoh sampai di keluarkan dari sekolah dulu. Setelah ibunya meninggal, papa mengajaknya tinggal di rumah. Tapi, dia dan adiknya pemalas, rakus dan hanya makan tidur saja kerjanya," bohong Eka yang menjelekan nama Diana.
Lina diam, apa yang ia dengar barusan rasanya tidak seperti yang ia lihat. Karena Lina cukup mengenal Diana sejak beberapa tahun yang lalu saat bekerja di restoran pak Adi yang lain. Sikap Diana yang ramah dan juga sopan rasanya berbanding terbalik dengan apa yang di katakan Eka.
" Kok aku tidak percaya dengan ucapan Eka," ucap Lina dalam hati.
Lina hanya menggelengkan kepala saat ia mendengar ocehan eka yang jelas sekali menjelekan nama Diana.
?,
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.