Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Gadis Berseragam Penuh Darah
Astrid segera ikut keluar dari mobil. Mengikuti Rangga dari belakang. Lelaki itu tampak mengetuk pintu rumah seseorang.
"Jadi yang mana rumahmu?" tanya Astrid.
"Itu, yang di depan mobilmu," jawab Rangga.
"Kenapa kau tidak membiarkanku tidur di rumahmu saja malam ini. Nggak enak ganggu te--"
"Halo, Dek Rangga!"
Ucapan Astrid terpotong, saat Septi membuka pintu. Perempuan itu langsung menyapa Rangga.
Dahi Astrid berkerut dalam saat melihat pakaian Septi. Bagaimana tidak? Wanita itu hanya mengenakan gaun tidur yang pendek dan memperlihatkan belahan dada. Septi menggerai rambut bahkan mewarnai bibirnya dengan lipstik merah menyala.
Astrid mendekatkan mulut ke telinga Rangga. "Kau ingin aku tidur serumah dengan makhluk ini?"
"Ini satu-satunya opsi. Kalau nggak mau, tidur saja di bawah jembatan." Rangga balas berbisik. Sementara baginya, penampakan Septi seperti itu sudah biasa, dan Rangga sama sekali tak tertarik.
"Kenapa nggak di rumah kamu aja sih?"
"Di rumahku? Kau mau kita digrebek warga?"
"Kok malah bisik-bisik sih. Ayo masuk!" sergah Septi. Menghentikan interaksi di antara Rangga dan Astrid.
"Makasih, Mbak Septi. Tapi kedatanganku cuman mau ngantar temanku aja. Dia lagi nyari tempat menginap. Seingatku kamar di rumahmu ada yang mau disewakan kan?" sahut Rangga.
"Iya, bener! Ayo masuk, Dek!" ajak Septi ramah. "Kamu nggak mau minum dulu, Dek Rangga," tawarnya.
"Enggak. Aku kebetulan ada jadwal jaga malam ini," tanggap Rangga. Dia segera meninggalkan Astrid. Cewek itu segera masuk ke rumah Septi sambil membawa tasnya.
Rangga memesan ojek online agar bisa kembali ke kantor. Tak perlu menunggu lama, ojek pun datang. Rangga segera beranjak pergi.
Kembalinya ke kantor, Rangga langsung mengerjakan laporannya lagi. Dia dan Beben bergantian tidur dalam semalaman.
Kala waktu menunjukkan jam 3 dini hari, Rangga dan Beben bertukar tugas. Dimana sekarang giliran Rangga yang berjaga, sedangkan Beben tampak sudah tidur di sofa ruangan kapolsek.
"Tolong... Tolong..." tiba-tiba terdengar suara lirih seorang gadis.
Rangga bergegas menemui gadis itu keluar. Betapa terkejutnya dia saat melihanya, Rangga melihat seorang gadis berseragam SMA berlumuran darah. Gadis itu jatuh terduduk ke lantai sambil menangis.
"Astaga! Apa yang terjadi padamu, Dek?!" tanya Rangga cemas. Dia segera membawa gadis itu masuk dan duduk ke dalam kantor.
Mendengar adanya keributan, Beben keluar dan memeriksa. Dia tentu kaget sekali menyaksikan gadis SMA itu.
"Ya ampun! Apa dia terluka?" tanya Beben.
"Apa kau terluka, Dek?" Rangga mengulang pertanyaan Beben.
Gadis itu menggeleng. Dia lalu menangis histeris sambil memeluk tubuhnya.
"Apa kau mau kami bawa ke rumah sakit?" tawar Rangga.
"Aku nggak terluka... Tapi Nadia dia sepertinya terluka cukup parah..." isak gadis itu dengan sesegukan. Tubuhnya menggigil, bibirnya biru, dan wajahnya pucat.
"Oke. Kau sebaiknya tenangkan diri dulu. Aku akan buatkan minuman hangat," ujar Rangga. "Jaga dia, Ben!"
Beben mengangguk. Dia mengambilkan selimut untuk gadis tersebut. "Siapa namamu?" tanyanya
"Fira, Om..." lirih Fira.
"Bicaralah saat sudah siap ya," tutur Beben.
"Aku akan bicara sekarang. Aku dan teman-temanku sudah bersalah. Kami merekam video tak senonoh Mirna. Kami bersalah, Om... Sepertinya gara-gara kami juga Mirna bunuh diri. Kami..." Fira bercerita sambil menangis.
Beben mengerutkan dahinya. "Jadi tujuanmu ke sini itu mau menyerahkan diri atau melaporkan orang?" tanyanya.
"Me-menyerahkan diri, Om... Aku lebih baik di penjara dari pada terus-terusan diteror sama hantu Mirna..." ungkap Fira.
"Hah? Hantu?" Beben semakin heran. Bersamaan dengan itu Rangga kembali sambil membawa segelas teh. Beben segera menceritakan semuanya pada Rangga terkait cerita Fira tadi.
Sama seperti Beben, Rangga juga bingung. Karena jika dilihat dari keadaan Fira, gadis itu sepertinya sudah disakiti oleh seseorang. Namun saat ditanya, Fira terus menyebutkan kalau semuanya ulah hantu Mirna.
"Kenapa ya kasus besar selalu datang bareng gini?" bisik Beben.
"Inilah resiko jadi polisi, Ben. Sama seperti dokter, kita nggak pernah tahu kapan seseorang memerlukan bantuan kita. Kita bisa selesaikan semuanya pelan-pelan seperti biasa. Aku yakin, gadis ini sedang dikerjai oleh orang yang mengaku sebagai arwah Mirna," balas Rangga.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄