Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 – Di Ujung Harapan
Hujan mulai turun lagi, kali ini lebih deras. Dingin menggigit kulit, tetapi bukan itu yang membuat tubuh Defit gemetar. Jantungnya berdebar hebat, seperti dentuman drum yang terus menggema di dalam dirinya. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seolah beban dunia menumpuk di pundaknya. Di sampingnya, Maya berjalan dalam diam, matanya terpejam rapat, seakan mencoba menghindari kenyataan yang ada di depan mereka.
Mereka tidak tahu seberapa jauh lagi mereka harus melangkah. Setiap langkah terasa seperti perjalanan tanpa akhir. Setiap rintangan yang mereka lewati hanya membuka lebih banyak jalan yang tak mereka pahami. Mereka sudah jauh dari desa, jauh dari dunia yang dulu mereka kenal. Namun meskipun begitu, rasanya tidak ada tempat yang benar-benar aman. Tidak ada tempat yang benar-benar bisa mereka sebut sebagai rumah.
Maya menatap langit yang mulai gelap, air hujan mengalir di wajahnya. “Defit…” suaranya serak. “Apakah kita benar-benar akan berhasil? Semua yang kita tinggalkan… apakah itu akan berarti apa-apa pada akhirnya?”
Defit tidak langsung menjawab. Ia tahu apa yang Maya rasakan. Perasaan yang sama pernah ia alami rasa takut akan ketidakpastian, rasa takut akan kehilangan yang tak terhindarkan. Namun, kali ini ia merasa ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih besar yang mendorongnya untuk terus maju.
“Apa yang kita tinggalkan, Maya…” jawab Defit akhirnya, suaranya tenang, namun penuh keyakinan, “bukan hanya beban. Itu adalah pelajaran. Kita tidak bisa terus menghindarinya. Kita harus menghadapinya. Semua yang telah kita lalui tidak akan sia-sia. Kita sudah bertahan sejauh ini. Kita hanya perlu melangkah lebih jauh.”
Maya menunduk, menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang mulai membanjir. “Aku tidak tahu jika aku bisa, Defit,” katanya pelan. “Aku merasa seperti… aku telah mengecewakan semua orang yang pernah aku cintai. Dan sekarang aku merasa seperti kita hanya berlari dari kenyataan.”
Defit berhenti sejenak, menatap Maya dengan tatapan penuh pengertian. Ia menggenggam tangan Maya dengan lembut. “Maya, kita tidak melarikan diri. Kita tidak melarikan diri dari kenyataan. Kita hanya mencoba menemukan tempat di dunia ini di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri, tanpa rasa takut atau rasa bersalah.”
Maya menatap Defit dalam-dalam, matanya penuh kebingungan dan kecemasan. “Tapi kita tidak bisa kembali, kan?” tanyanya, suara penuh keraguan. “Tidak ada lagi tempat yang bisa kita sebut rumah. Tidak ada lagi keluarga yang menerima kita.”
Defit menggelengkan kepala. “Maya, rumah bukanlah tempat. Rumah adalah tempat di mana kita bisa merasa bebas, di mana kita bisa menemukan kedamaian, di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa dibebani oleh masa lalu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku tahu satu hal: selama kita bersama, kita akan menemukan tempat itu.”
Maya terdiam sejenak, kemudian mengangguk perlahan. “Aku ingin percaya itu,” katanya lirih. “Aku ingin percaya bahwa ada tempat seperti itu untuk kita.”
Defit tersenyum lembut. “Ada, Maya. Kita akan menemukannya.”
Mereka terus berjalan, langkah mereka kini lebih mantap. Namun, meskipun kata-kata Defit terdengar penuh harapan, ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hatinya. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa takut atau cemas. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, namun ia tahu itu ada di dalam dirinya, di dalam Maya, di dalam dunia yang mereka hadapi.
Mereka memasuki hutan yang lebih lebat, dan semakin dalam mereka berjalan, semakin gelap dan sunyi. Suara alam yang biasa mereka dengar kini tergantikan oleh bisikan angin yang seakan membawa sesuatu yang lebih berat sebuah perasaan yang lebih berat dari yang bisa mereka tanggung.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
“Defit… Maya…”
Keduanya terhenti, seketika rasa cemas mulai merayap di dalam dada mereka. Maya menoleh cepat, dan Defit dengan sigap berbalik, siap menghadapi apapun yang datang. Namun yang mereka temui bukanlah ancaman, melainkan seseorang yang mereka kenal.
Di antara pepohonan yang gelap, berdiri seorang lelaki tua yang mengenakan jubah hitam, wajahnya tampak kelelahan. Tangan kanannya memegang tongkat yang tampak penuh dengan simbol yang tak asing bagi Defit.
“Wuras…” bisik Defit.
Lelaki tua itu mengangguk, wajahnya tampak lebih kurus dari sebelumnya. “Aku tahu kalian akan datang. Waktunya sudah hampir tiba,” kata Wuras, suaranya pelan, penuh beban.
Defit mengerutkan kening. “Apa maksudmu, Wuras? Apa yang akan terjadi?”
Wuras menatap mereka dengan mata yang penuh kebimbangan. “Ada hal yang lebih besar dari yang kalian kira, Defit. Dan itu akan datang menuntut. Kalian tidak bisa lari lagi. Waktunya akan datang, dan kalian harus siap untuk menghadapi apa yang telah kalian pilih.”
Maya menatap Wuras dengan ketakutan. “Apa yang harus kami lakukan?” tanyanya cemas.
Wuras menghela napas panjang. “Yang harus kalian lakukan… adalah menghadapi kebenaran yang telah lama tersembunyi.”
Suasana di sekitar mereka menjadi semakin tegang. Hutan yang semula tenang kini seolah menutup rapat, memerangkap mereka di dalam kegelapan yang lebih dalam. Defit dan Maya saling bertukar pandang, tahu bahwa perjalanan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai. Apa yang mereka hadapi di depan jauh lebih besar dari apa yang pernah mereka bayangkan.
Namun, satu hal yang mereka tahu mereka tidak akan berhenti.
Karena di depan mereka, ada sebuah kebenaran yang harus mereka temukan, dan mereka tidak akan pernah mundur.
terus menarik ceritanya 👍