Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Fauzan Arfariza
Herlambang Ahda terdiam kaku. Ia hanyalah seorang playboy tak berguna yang hidupnya dihabiskan dengan pamer mobil Ferarri, uang Rupiah, dan relasi palsu. Ia bahkan belum pernah mendengar apa itu Sembilan Jarum Kebangkitan. Namun satu gelar saja—Dekan Kehormatan Rumah Sakit Pengobatan Tradisional—sudah cukup membuat jantungnya serasa diremas tangan tak kasatmata. Apalagi ditambah fakta bahwa pemuda itu adalah Kakak Seperguruan Sanro Maega, tabib legendaris yang namanya disegani di seluruh Jakarta.
Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin seorang mahasiswa yang bahkan belum lulus bisa melompat begitu jauh, menempati singgasana kehormatan yang bahkan para tabib senior hanya bisa pandangi dari kejauhan? Dan bagaimana mungkin ia menjadi Kakak Seperguruan seorang guru tua yang rambutnya telah memutih dimakan usia?
Sebelum pikirannya sempat pulih dari keterkejutan, Fauzan Arfariza menoleh tenang kepada Ahmad Sudrajat Hutapea dan berkata dengan nada datar namun menusuk,
“Bapak Ahmad Sudrajat, bukankah semua yang hadir hari ini adalah mahasiswa peserta seleksi? Apakah orang lain bisa ikut masuk sesuka hati?”
Nada suaranya tidak meninggi, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat tekanan terasa berlipat ganda.
Alis Ahmad Sudrajat Hutapea terangkat. Ia langsung membalas dengan dingin,
“Kamu siapa? Dan bagaimana kamu bisa masuk ke sini?”
“Aku…”
Sekali lagi Herlambang Ahda kehilangan kata-kata. Ia masuk dengan memanfaatkan koneksi pamannya, Ir. Herlambang Ahda, seorang tokoh berpengaruh. Namun mana mungkin ia mengakuinya di hadapan dekan? Satu kata ceroboh saja bisa menyeret pamannya ke dalam masalah besar.
Tak menunggu jawaban, Ahmad Sudrajat Hutapea melambaikan tangan ke arah dua petugas keamanan bertubuh kekar yang berdiri tak jauh.
“Keluarkan dia.”
Tanpa basa-basi, dua petugas itu melangkah maju, mencengkeram kerah jas Herlambang Ahda, dan menyeretnya keluar dari ruang rapat kecil itu seolah ia hanyalah karung sampah tak bernilai.
Natasya Dermawan—yang sejak tadi berdiri di sampingnya—menyadari tak ada gunanya bertahan. Wajahnya pucat, ia segera menyusul keluar dengan langkah tergesa.
Mereka datang dengan penuh kesombongan, menertawakan Fauzan Arfariza sebagai orang tak berkualifikasi. Namun kini, mereka pergi dengan tangan kosong, sementara pemuda yang mereka hina justru berdiri di puncak kehormatan. Jurang perbedaan antar manusia benar-benar terasa kejam dan telanjang.
Seleksi selanjutnya berjalan tanpa hambatan.
Dengan ketelitian seorang tabib agung dan kejernihan Energi Murni yang mengalir di Dantian-nya, Fauzan Arfariza menyaring para mahasiswa. Dari sekian banyak peserta, hanya tiga yang ia pilih. Ronny Sasongko, yang sejak awal hanya hadir untuk melengkapi jumlah, secara alami tersingkir.
Usai seleksi, Ahmad Sudrajat Hutapea tersenyum dan berkata,
“Dokter Fauzan, Sanro Maega, kalian berdua sudah bekerja keras. Sekarang sudah waktunya makan siang. Mari kita makan bersama.”
Namun Fauzan Arfariza menggeleng pelan.
“Maaf, Pak Ahmad Sudrajat. Kakak saya masih menunggu. Kita jadwalkan lain waktu.”
“Baik,” jawab sang dekan. “Surat pengangkatan Dekan Kehormatan akan saya kirimkan dalam beberapa hari.”
Fauzan Arfariza dan Ronny Sasongko pun meninggalkan Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Kota Jakarta. Tak jauh dari sana, mereka menemukan sebuah rumah makan kecil khas Sichuan. Bir dipesan satu peti, dan percakapan mengalir bersama busa dan tawa.
Setelah menuangkan bir ke gelas masing-masing, Ronny Sasongko menatap sahabatnya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
“Kak Fauzan, kau ini benar-benar menyembunyikan diri terlalu dalam. Aku tak akan bertanya soal Sembilan Jarum Kebangkitan. Tapi sejak kapan kau jadi Dekan Kehormatan rumah sakit ini? Dan sejak kapan kau jadi Kakak Seperguruan Sanro Maega?”
Pertanyaan itu keluar dengan nada setengah tertawa, setengah tak percaya. Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Kota Jakarta adalah tempat impian. Banyak lulusan terbaik universitas mereka bahkan tak bisa menembus gerbangnya. Namun Fauzan Arfariza justru melompat langsung ke puncak.
Dan Sanro Maega—nama yang sering dijadikan teladan oleh para dosen—kini justru menjadi Adik Seperguruan sahabatnya. Rasanya seperti mimpi yang terlalu berlebihan.
Fauzan tersenyum tipis.
“Hari ini aku hanya kebetulan membantu rumah sakit menyembuhkan tiga pasien. Mereka menilai keahlianku cukup, lalu menawariku posisi itu. Aku setuju.”
“Lalu soal Sanro Maega?” desak Ronny.
“Itu cerita panjang. Nanti saja.”
Ia tak mungkin menjelaskan warisan Leluhur Tua, tentang jalur kuno tabib yang menjaga Keseimbangan dan Kestabilan antara Energi Vital, Yin, dan Yang. Maka ia memilih menutupnya rapat.
Ronny mengangguk. Ia tahu setiap orang punya rahasia.
Lalu tiba-tiba, ia bertanya dengan nada aneh, “Kak Fauzan, kau percaya cinta pada pandangan pertama?”
Bir hampir menyembur dari mulut Fauzan.
“Kau jatuh cinta pada pandangan pertama?”
Ronny mengangguk mantap. “Setelah bertahun-tahun hidup dangkal, akhirnya aku bertemu seseorang yang kusukai.”
“Berhenti omong kosong. Menonton video pendek tiap malam itu bukan hidup romantis,” ejek Fauzan. “Siapa gadis sial itu?”
“Namanya Nora Ananta,” kata Ronny penuh semangat. “Primadona Fakultas Ekonomi Universitas Jakarta. Cantik, cerdas, berbakat.”
“Dan gadis sehebat itu menyukaimu?”
“Tentu! Aku kan wajah Universitas Kedokteran Jakarta,” kata Ronny tanpa malu. “Hanya saja… ada satu pria lain yang juga mengejarnya.”
“Jadi ini cinta sepihak,” Fauzan tertawa.
Ronny menggeleng keras. “Kami hanya selangkah lagi. Besok ulang tahunnya. Kau harus ikut. Bantu aku menjaga harga diri.”
Fauzan menepuk bahunya. “Baik. Aku ikut.”
Malam kian larut. Ronny tumbang lebih dulu. Fauzan mengantarnya pulang, lalu melangkah sendiri menuju barat Jakarta.
Pikirannya tertuju pada laporan Fatimah. Tiga kecelakaan dalam sebulan. Orang Kapal—wilayah itu—jelas bermasalah.
Menjelang tengah malam, ia tiba. Udara dingin menusuk. Energi Vital di sekitarnya kacau, tercemar Yin Sha yang pekat.
Fauzan menatap ke sekeliling. Tempat ini seharusnya kaya Energi Murni. Namun yang terasa justru hawa kematian.
Ia tahu—di balik keindahan ini, ada sesuatu yang bersembunyi di terdalam yang tersembunyi. Dan malam ini, ia akan mengungkapnya.
Malam telah menutup Wilayah itu dengan selimut kelam yang pekat, seolah langit sengaja merapatkan tirainya agar rahasia di bawahnya tetap tersembunyi. Tak satu pun jiwa tampak di sekitar kawasan perumahan Orang Kapal. Bangunan-bangunan berdiri bisu, cat dindingnya memudar diterpa usia dan kelembapan, jendela-jendela gelap seperti mata yang menolak menatap kenyataan. Angin berembus perlahan, membawa bau tanah basah bercampur sesuatu yang amis, membuat bulu kuduk meremang tanpa sebab jelas. Sejak serangkaian kejadian ganjil terjadi berturut-turut—orang-orang pingsan tanpa alasan medis, jeritan lirih yang terdengar di tengah malam lalu menghilang begitu saja, hawa dingin menusuk tulang seolah musim berganti secara paksa—penjaga tua yang biasanya setia berjaga di gerbang proyek telah lama mengundurkan diri.
“Aku sudah tua,” katanya gemetar pada malam terakhir ia berjaga, “aku masih ingin melihat cucuku tumbuh. Tempat ini… bukan untuk manusia.” Ia memilih keselamatan dirinya daripada mempertaruhkan nyawa menghadapi sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang bahkan doa pun terasa menggigil saat diucapkan. Sejak saat itu, kawasan ini berubah menjadi tanah terlarang, sunyi, dan penuh bisik-bisik tak terlihat, seakan setiap sudut menyimpan napas yang bukan milik dunia manusia.
Untuk menemukan jawaban, Fauzan Arfariza melangkah masuk. Langkahnya mantap, telapak kakinya menyentuh aspal dengan irama terukur, napasnya teratur dan dalam, seakan ia sedang menapaki halaman rumah sendiri, bukan wilayah yang dipenuhi Energi Vital yang menyimpang. “Tenanglah,” gumamnya pada diri sendiri, “kebenaran tidak akan lari.” Namun baru beberapa langkah, angin jahat berdesir tajam, menyapu wajahnya, menusuk kulit seperti jarum-jarum dingin. Lampu jalan berkedip satu per satu, lalu padam. Dari kegelapan, sebuah entitas transparan melesat, bentuknya samar, wajahnya terdistorsi oleh amarah, menerjang dengan kebencian yang pekat.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT